
Setelah sang ibu meninggalkan putrinya, kini tinggal lah sepasang pengantin baru didalam kamar tamu.
Dengan sangat hati hati, Seyn membantu istrinya untuk bersandar. Neyla tersenyum bahagia, ia seperti mimpi dengan seseorang yang ada dihadapannya sekarang. Ia masih benar benar tidak menyangkanya, jika dirinya telah menjadi seorang istri dari mantan kekasih saudara perempuannya.
Seyn meraih semangkuk bubur yang berada diatas meja, kemudian ia akan menyuapi istrinya.
"Aku suapin kamu, jangan menolak. Kamu harus secepatnya sembuh, aku tidak ingin melihatmu sakit." Ucap Seyn sambil menyendoki buburnya, lalu menyuapkannya pada istri yang baru ia nikahi.
Neyla mengangguk, dan tidak ada penolakan sedikitpun darinya.
"Terima kasih, kamu sudah memberiku perhatian. Maafkan aku yang sudah membuatmu kerepotan dihari pernikahan kita, aku akan menggantinya untuk membuatmu tidak terbebani." Ucap Neyla, kemudian meraih sendok yang ada ditangan Seyn. Kemudian ia memberi suapan bubur pada suaminya, Seyn pun menerimanya dan tersenyum.
"Bubur ini buat kamu, agar cepat pulih. Lalu, kenapa kamu menyuapiku? hem." Ucap Seyn, kemudian mengusap pada sudut bibir milik Neyla dengan ibu jarinya.
Disaat itu juga, Seyn dan Neyla saling bertatap muka dengan lekat. Membuatnya tidak dapat mengontrolnya, Seyn semakin mendekatkan wajah tampannya dekat pada istrinya dan mendaratkan ciu*mannya dengan lembut tepat pada bibir manis milik Neyla.
Seketika Neyla tercengang saat mendapatkan perlakuan lembut pada suaminya itu, kemudian Neyla pun membalasnya. Hingga keduanya hampir larut dalam hasr*atnya masing masing dengan suasana yang hanya berdua didalam kamar. Tangan Seyn pun mulai liar, pikirannya sudah dikuasai yang sudah menggebunya.
Tok tok tok tok.
Seyn langsung menarik nafasnya panjang, lalu membuangnya dengan kasar.
"Benarkan pakaian kamu, aku akan membuka pintunya." Ucap Seyn yang lupa dengan kondisi tangan istrinya yang masih terpasang infus.
"Bagaimana aku akan merapikan pakaianmu, apakah kamu tidak melihat kondisimu? hem." Jawab Neyla, kemudian mengerucutkan bibirnya. Seyn pun menoleh kebelakang, lalu kembali mendekati istrinya dan merapihkan pakaian istrinya. Setelah itu, Seyn segera membuka pintunya.
Ceklek.
__ADS_1
Dengan pelan, pintu terbuka oleh Seyn. Dilihatnya dua orang yang berada didepannya, siapa lagi kalau bukan pelayan rumah milik mertuanya dan seorang perawat yang diperintahkan untuk memeriksa kondisi istrinya itu.
"Maaf Tuan, saya mau memeriksa kondisi Nona muda. Apakah kami sudah diperbolehkan untuk masuk?" tanyanya memastikan.
"Boleh, silahkan masuk. Istriku sedang bersandar sambil bersantai." Jawab Seyn, kemudian mempersilahkannya untuk masuk memeriksa istrinya.
'Sialan, kenapa tidak aku biarkan saja dulu di depan pintu. Jika ternyata seorang perawat yang akan masuk. Lihatlah, aku yang semangat tiba tiba seperti tersedak.' Batin Seyn yang sedikit kesal saat apa yang sudah ia dapatkan harus terhenti begitu saja.
Setelah Neyla diperiksa oleh seorang perawat, akhirnya selang infusnya pun dilepaskan.
"Bagaimana dengan kondisi istri saya? apakah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya? dan ..." tanya Seyn yang tiba tiba ucapannya terpotong begitu saja.
Neyla pun melirik kearah suaminya, kemudian ia mencoba mencernanya. Seyn hanya tersenyum tipis setelah menghentikan ucapannya.
"Asalkan sudah tidak ada keluhan pada istri tuan, tidak ada larangan untuk Tuan dan Nona untuk melakukan ritual." Jawabnya yang mengerti akan maksud pertanyaan dari Seyn yang jelas jelas baru saja menjadi pengantin baru. Dan, tidak hanya itu saja yang dapat untuk menebaknya.
Sebuah bukti yang cukup jelas dengan tanda cinta di leher milik si empunya, hingga mudah untuk menebaknya tanpa harus bertanya.
Seketika itu juga, Neyla langsung menutup lehernya dengan tangan kanannya. Namun sayangnya sudah terlambat, karena sudah diketahui lebih duluan.
"Oh iya, jangan lupa obatnya diminum dengan rutin. Jangan sampai tidak, ini semua demi kesehatan Nona." Ucap seorang perawat mengingatkan, Neyla pun mengangguk dan tersenyum malu.
Setelah tidak ada lagi yang masuk kedalam kamar, Seyn mendekati istrinya.
"Kamu sangat rakus, sampai sampai leherku harus kamu tandai. Ini, pasti sangat memalukan jika mama dan papa maupun kak Rey dan kak Zakka tahu. Pasti akan menyangka kita sebagai pengantin baru yang tidak sabaran." Ucap Neyla, kemudian mengerucutkan bibir manisnya didepan sang suami.
Seyn hanya tersenyum saat melihat ekspresi dari istri yang dicintainya.
__ADS_1
"Aku akan memintanya lagi, siapkan dirimu. Entah diwaktu kapan, aku akan mengambil hakku." Bisik Seyn dekat di telinga milik istrinya, seketika Neyla kembali tercengang. Pikirannya pun langsung traveling kamana mana, kemudian ia geli sendiri membayanginya.
"Bagaimana kondisi kamu yang sekarang? apakah kamu mau pindah kamar? sudah hampir malam ini loh?" Tanya Seyn dibarengi meledek istrinya sambil mengedipkan satu matanya yang terlihat tengah menggoda Neyla.
"Hem ... pasti, iya ya aku percaya maksud kamu." Jawab Neyla, kemudian Seyn membantu istrinya untuk bangkit dari posisinya.
"Aku akan menggendongmu, tunjukkan saja dimana kamarmu. Jangan protes, apalagi menolak. Aku akan memelih pulang kalau begitu, bagaimana menurutmu?" ucap Seyn sedikit menakuti.
Neyla yang sudah berdiri didepan suaminya pun langsung memeluknya dengan erat, meski dengan penampilannya yang berantakan.
"Jangan pergi, aku tidak mau jauh darimu. Jikaa kamu mau pulang, jangan lupa aku diajaknya. Kemanapun kamu singgah, aku akan tetap bersamamu. Bukankah aku ini sudah menjadi istrimu? aku milikmu dan kamu milikku, seperti yang kamu ucapkan padaku." Ucap Neyla yang masih berada dipelukan suaminya.
Seyn mengusap pelan punggung istrinya, kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu, Seyn menatap lekat wajah istrinya.
"Aku percaya dengamu, sayang. Kalau begitu, ayo kita keluar dari kamar ini. Tidak baik kita berlama lama didalam kamar. Nanti semuanya curiga, bagaimana? tuh lihatlah tanda dileher kamu." Jawab Seyn, kemudian sambil menujukkan leher istrinya yang tengah membekas.
"Ini semua ulah dari kamu, aku harus bagaimana? hem ..." ucapnya sedikit lesu.
"Tenang saja, aku akan mengatasinya dengan benar. Sekarang juga, ayo kita keluar. Aku akan menggendongmu sampai ke kamar." Jawab Seyn, lalu segera menggendong istrinya dan segera keluar dari kamar tamu.
"Dimana kamar kamu?" tanya Seyn pada istrinya.
"Kita lewat tangga yang berada di ruang keluarga. Tepatnya saat kita dipersatukan dengan ikatan cinta yang sakral." Jawab Neyla sambil menatap suaminya.
"Oooh, baiklah. Diingat baik baik, sayang. Nanti kita salah kamar, lagi. Takutnya jadi pelupa ketika sudah berubah statusnya pengantin baru." Ledek Seyn sambil berjalan dengan menggendong istrinya.
"Cie ... yang sudah sah, semangat pastinya." Ledek dari seorang kakak pada adiknya saat akan duduk bersama yang lainnya. Neyla yang mendengarnya pun langsung menatap tajam pada saudara kembarnya itu.
__ADS_1
"Makanya kak Zakka buruan menikah, dan jangan berebutan." Sindir Neyla pada kakaknya, tanpa ia sadari sudah ada sosok kakak pertamanya yang sudah duduk didekat ayahnya. Seketika, Neyla langsung membukam mulutnya dan menenggelamkan pandangannya pada dada bidang suaminya.
'Mam*pus aku, rupanya sudah ada kak Rey yang menakutkan itu dengan tatapan dinginnya.' Batin Neyla merasa takut.