Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Terbawa suasana


__ADS_3

Zayen masih terlelap dari tidurnya, begitu juga dengan sang istri yang ikut pulas dalam tidurnya.


Tanpa keduanya sadari, Afna sudah dalam dekapan sang suami. Zayen memeluknya dengan penuh mesra, Afna pun merasa nyaman saat berada di pelukan suaminya. Merasa sudah cukup dalam tidur pulasnya, Afna mulai menggerakkan jari jemarinya. Dengan pelan, Afna sedikit mencoba membuka kedua matanya.


"Tidaaaak!!!" teriak Afna sekencang mungkin. Dengan sigap, Zayen langsung membungkam mulut istrinya. Zayen kini sudah berada diatas Afna dengan posisi tubuhnya sedikit terangkat, Zayen menyangga tubuhnya dengan siku kirinya sambil menatap serius wajah istrinya yang sangat polos. Keduanya masih dalam balutan satu selimut, Afna sendiri tidak dapat berkutik. Ditambah lagi dengan kondisi kakinya yang masih terasa sedikit sakit.


Sudah menjadi kebiasaan pada keduanya, Afna dan Zayen masing masing ketika bangun dari tidur sama sama reflek ketika terbangun dari tidurnya. Afna yang selalu berteriak ketika bangun dari tidurnya, begitu juga dengan Zayen yang selalu sigap membungkam mulut istrinya.


Kebiasaan Afna yang selalu memeriksa keadaannya pun sambil menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya.


"Ngapain kamu periksa segala, lucu sekali. Memangnya kamu pikir aku ini siapa? buaya darat, maksud kamu? hem!" ucap Zayen lebih dekat.


"Bukan begitu maksudku." Jawab Afna singkat dan sedikit gugup.


"Lalu maksudnya menyilangkan kedua tangan kamu itu, apa? hem!"


"Gerak reflek, iya! gerak reflek." Jawabnya beralasan.


"Cepat bangun, hari ini kita akan segera pulang. Aku merasa tidak nyaman tinggal di tempat orang tua kamu, aku serasa begitu rendah ketika menginap dirumah ini. Seperti neraka menurutku, aku lebih nyaman tinggal di rumahku sendiri. Meski penuh kekurangan, tetapi aku merasa nyaman karena milikku sendiri dari jerih payahku." Ucapnya sambil melepaskan selimut yang tengah membalut tubuhnya sendiri.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku tidak akan lama, setidaknya kita ikut sarapan pagi bersama dengan papa dan mama." Jawabnya yang juga ikut melepaskan selimut yang membuatnya susah untuk bergerak.


Sedangkan Zayen kemudian ikut membantu Afna mengenakan tongkat penyangga miliknya.


"Hari ini akan ada jadwal pemijatan kaki kamu, dan kita tidak memiliki waktu yang lama. Secepatnya kita harus segera pulang, setidaknya setelah sarapan pagi. Aku pun ada urusan dengan pekerjaanku, mau tidak mau kita harus segera pulang."


"Baiklah, aku akan segera mandi."


"Cepetan mandinya, akupun ingin segera mandi. Badanku sudah terasa tidak nyaman, bahkan aku merasa sangat gerah." Ucap Zayen beralasan, agar sang istri segera mempercepat waktu mandinya. Zayen paling tidak suka jika melihat orang yang suka membuang buang waktu, karena baginya waktu luang adalah banyak manfaatnya.

__ADS_1


Setelah melakukan ritual mandinya di dalam kamar mandi, Afna segera keluar. Karena setelah Afna selesai mandinyq, kemudian tinggal giliran Zayen yang juga harus melakukan ritual mandinya.


Sedangkan Afna kini sedang memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan di badannya. Berkali kali Afna mencobanya, namun dirinya merasa tidak pantas untuk memakai pakaiannya sendiri.


Entah kenapa, sejak menjadi istri Zayen sikap Afna mulai berbeda dengan sosok Afna yang dulu. Bahkan sekarang Afna benar benar sudah berubah dari segi cara berpikir, dan kini sekarang Afna sudah tidak lagi menjadi sosok yang manja pada penilaiaan lorang lain. Afna hanya memakai baju yang dulu dipakainya, kini dirinya merasa lucu untuk mengenakannya.


Berkali kali Afna terus mencoba memutar tubuhnya didepan cermin. Setelah itu, Afna segera mengeringkan rambutnya kemudian selesai mengeringkan langsung menyambar sisir yang berada di dekatnya untuk menyisir rambut panjangnya.


Zayen yang selalu mendapati istrinya sedang bercermin, dirinya melangkahkan kakinya dengan pelan agar tidak bersuara.


Tanpa Afna sadari, suaminya kini sudah berada didekatnya. Tepatnya dibelakangnya sambil membungkukkan badannya, Afna pun belum menyadarinya. Dirinya tetap fokus dengan sisir rambutnya.


Zayen pun langsung mengambil sisir yang masih dipegang istrinya, kemudian segera menyisiri rambut gondrongnya. Afna hanya membelalakan kedua bola matanya, ketika sang suami tiba tiba merebut sisir rambut yang berada pada tangannya.


Tanpa perduli, Afna langsung memasang muja masamnya. Zayen yang melihat ekspresi istrinya hanya tersenyum tipis, Afna hanya bisa melihatnya lewat cermin.


"Rambut gondrong kamu sudah rapi, menggeserlah sedikit. Aku ingin menguncir rambutku dengan leluasa, aku mohon." Ucap Afna membuka suara.


Dengan lembut, tiba tiba Zayen mengecup pipi mulus Afna. Sedangkan Afna sendiri tercengang saat Zayen mengambil kesempatan yang tidak pernah menduganya.


Setelah mengambil kesempatan, Zayen langsung mengenakan jam tangannya dan memakainya. Afna sendiri masih bengong sambil memegangi pipi mulusnya, karena kecupan lembut dari suaminya. Zayen yang melihat ekspresi Afna hanya tersenyum tipis.


Tanpa harus berpikir panjang, Zayen langsung mengangkat istrinya kemudian menggendongnya. Afna sendiri kaget dibuatnya, dirinya baru tersadar dari lamunannya.


"Lepaskan, aku masih bisa berjalan sendiri."


"Aku tidak sabar menunggumu berjalan mengenakan tongkat penyangga, lebih baik sekarang kamu peganglah tongkat penyangganya. Kita akan segera keluar dari kamar ini, dan segera pulang kerumah kita."


"Maafkan aku, yang selalu merepotkan kamu. Aku akan terus bersemangat untuk sembuh dan bisa berjalan. Agar aku tidak terus terusan menyusahkan kamu setiap harinya."

__ADS_1


"Diamlah, kalau kamu masih banyak bicara nanti kita bisa jatuh ditangga ini." Ancam Zayen untuk menakuti istrinya.


Dengan pelan, Zayen menuruni anak tanggan. Sedangkan Afna memegangi tongkat penyangganya.


Setelah sampai di ruang makan, Zayen menurunkan istrinya untuk duduk ditempat duduknya. Kemudian Zayen ikut duduk di sampingnya.


Tidak lama kemudian, kedua orang tua Afna pun ikut duduk diruang makan.


Dilihatnya makanan untuk sarapan pagi yang kini sudah disajikan oleh diantara salah satu pelayan dirumahnya tuan Tirta Danuarta.


Saat melihat makanan dimeja makan, Afna merasa tidak berselera untuk makan, entah kenapa saat melihatnya membuat Afna merasa tidak berselera makan.


"Kamu kenapa? sakit? wajah kamu kenapa tiba tiba terlihat pucat. Kamu sakit? katakan, aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit untuk berobat."


"Tidak perlu, aku baik baik saja seperti yang kamu lihat saat ini. Percayalah denganku, aku baik baik saja. Jangan mengkhawatirkanku, kamu tidak perlu mencemaskanku.


"Yang dikatakan suami kamu itu benar, Afna. Katakan saja, nak. Kamu jangan membuat papa dan mama cemas, katakan saja. Atau... sekarang kita sarapan dulu, agar energi kamu terisi. Mari nak Zayen, sarapan terlebih dahulu. Setelah itu, kamu antarkan istri kamu ke Dokter."


"Iya, Ma ... Pa. Setelah sarapan pagi, Zayen akan mengantar Afna ke Dokter."


'Afna tidak sakit, Ma. Afna hanya takut, kenapa mama menyuguhkan kami makanan seenak ini, meski hanya nasi goreng. Tetapi penyajiannya aku rasa terlalu berlebihan, Ma ... Pa. Afna sudah terbiasa makan ala kadarnya seperti orang orang sederhana lainnya. Afna takut, jika suami Afna merasa tersinggung. Suami Afna bukan orang kaya seperti papa.' Gumam Afna bercampur aduk rasanya.


Afna masih saja terdiam dan bengong, sedangkan kedua orang tuanya dan juga suaminya kini sudah mengambil porsi sarapan pagi. Zayen yang melihat istrinya pun merasa bingung, tidak ada pilihan lain selain menyuapinya.


"Buka mulut kamu, akan aku suapin. Aaak ...."


Afna kaget dibuatnya, tiba tiba sudah ada satu sendok nasi goreng didepan mulutnya. Mau tidak mau, Afna membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya.


Malu sih malu, tapi mau bagaimana lagi. Afna tidak mungkin untuk menolaknya.

__ADS_1


'Kenapa dia tetap berselera makan, bahkan dengan nikmatnya menikmati sarapan paginya. Aaah! iya, kenapa aku bisa terbawa suasana kesederhanaannya. Bukankah Orang tuanya juga orang berpunya, makanan seperti ini juga pastinya pernah dinikmatinya.' Gumam Afna yang baru menyadarinya.


__ADS_2