
Neyla pun segera mendekati Seyn, meski harus membuang rasa malunya itu.
"Aku ikut denganmu, habisnya tidak ada cara lain selain nebeng dengan kamu. Jangan kepedean, ini hanya sebentar." Ucap Neyla sambil membuang rasa malunya itu.
Mau tidak mau, Neyla terpaksa mengalah dan menerima tawaran dari Seyn.
Sedangkan Seyn hanya tersenyum tipis saat mendengar Neyla yang menyerah begitu saja.
"Hem ...buruan naik, nanti kita terlambat." Perintah Seyn, Neyla pun segera menaiki motor.
"Pegangan, nanti kamu jatuh resikonya sangat besar. Tidak hanya kaki kamu yang cidera, tapi tanggung jawabku yang besar." Ucap Seyn mengingatkan, Neyla sendiri masih tidak memperdulikannya. Ia tetap meletakkan kedua tangannya diatas pa*ha kanan kirinya, Seyn hanya menggelengkan kedua tangannya.
Setelah itu, Seyn melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali Seyn mencari ide untuk membuat Neyla sedikit ketakutan, agar tidak lagi bandel ketika ia mengingatkannya.
Seketika itu juga, ide pun telah muncul begitu saja di pikiran Seyn. Tanpa pikir panjang, Seyn menambah kecepatannya tanpa ia hiraukan teriakan dari Neyla.
"Pegangan, jika kamu jatuh aku tidak akan bertanggung jawab." Ujar Seyn sambil mempercepat kecepatannya.
"Aaaaa!!!!" teriak Neyla mendadak kaget saat Seyn menghentikan motornya ketika semua pengendara memperlambat saat melajukan kendaraannya masing masing. Seketika itu juga, Neyla langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Seyn.
Dengan senyum mengembang, Seyn merasa berhasil dengan ulahnya itu. Sedangkan Neyla hanya menahan kekesalannya.
'Sial, laki laki ini pasti sengaja membuatku kesal. Hem, awas saja setelah sampai nanti. Aku akan mengerjainya, lihat saja nanti.' Batinnya ingin membalasnya.
Setelah jalanan sudah normal, Seyn kembali melajukan motornya sedikit menambah kecepatannya. Lagi lagi Neyla tidak lagi berpegangan pada Seyn, ia masih merasa tidak nyaman untuk berpegangan pada Seyn.
__ADS_1
Tanpa Pikir panjang, Seyn mendadak menghentikan motornya. Kemudian ia meraih kedua tangan milik Neyla dan melingkarkan nya di pinggangnya.
"Pegangan, jika kamu tidak terbiasa maka biasakan dari sekarang." Ucap Seyn, sedangkan Neyla hanya diam. Ia sendiri tidak tahu harus berkata apa, hanya bisa diam dan diam.
Mau tidak mau, Neyla hanya bisa nurut. Selama dalam perjalanan Neyla tidak berucap sepatah katapun, ia menikmati perjalanannya sambil menyandarkan kepalanya di punggung milik Seyn. Disaat itu juga, tiba tiba ia merasa nyaman. Bahkan, serasa berat untuk melepaskannya.
'Kenapa aku merasa nyaman dengannya, aku tidak lagi jatuh hati dengannya, 'kan? perasaan macam apa ini. Neyla, sadar kamu Neyla. Ini laki laki sudah pernah beristri, pasti sangat pintar dalam menaklukan perempuan.' Batin Neyla mengutuki dirinya sendiri.
'Apakah aku jatuh cinta dengannya? perempuan ini selalu menghantui pikiranku, sejak aku mengenalinya detak jantungku dan pikiranku tidak pernah sinkron. Selalu membuatku melayang layang saat aku memikirkan Neyla. Ingat Seyn, ingat! kamu ini duda. Bahkan semua perempuan akan bergidik ngeri saat mendengar keburukanmu.' Batin Seyn yang merasa hina akan masa lalunya.
Seyn masih terus melajukan motornya dengan kecepatan sedang sambil tersenyum penuh kemenangan. Meski dirinya sendiri tidak mengerti kemana arah perasaannya yang sebenarnya.
Berbeda dengan suasana dalam perjalanan para karyawan kantor milik Zayen, semua sedang sibuk membicarakan tentang pernikahan Viko dan Adelyn yang tidak ada henti hentinya. Bahkan, Sasa sendirierasa risih dan juga berisik mendengarnya. Namun mau bagaimana lagi, Sasa tidak bisa menanganinya dan lebih memilih untuk diam.
"Sa, kenapa kamu diam? pasti kamu kepikiran dengan pesta pernikahan Adelyn. Iya, 'kan? jujur saja deh. Kamu tidak perlu takut, jika Adelyn mau pinjam uang sama kamu tinggal bilang sama kita kita. Nanti kita semua yang akan membantumu untuk menjauh dari Adelyn." Ucap salah satu karyawan yang masih berprasangka buruk terhadap Adelyn.
"Aku tidak percaya sama kalian, aku tahu siapa Adelyn. Dia tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang jauh dari kapasitasnya." Jawab Sasa yang masih terus membela sahabatnya.
"Kamu itu memang susah jika dinasehati, selalu berdalih dan masih membela Adelyn. Nanti giliran dimanfaatkan Adelyn, kamu baru tahu rasa loh." Ucapnya yang masih terus mengancam, Sasa hanya diam. Apapun komentar dari orang lain tidak ia respon, hanya sekali jawab itu sudah lebih cukup, pikir Sasa.
Karena merasa sama sekali tidak mendapat respon dari Sasa, beberapa orang yang tidak suka Adelyn berdecak kesal sambil menggerutu dan masih menjelekkan sosok Adelyn.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini mobil yang tengah dinaiki oleh para karyawan perempuan maupun laki laki tengah berhenti didepan gedung yang menjulang tinggi dan megah.
Semua karyawan terkagum kagum melihatnya, ditambah lagi dengan penjagaan yang begitu ketat telah berdiri dengan rapi didepan pintu masuk.
__ADS_1
Semua karyawan merasa minder dengan penampilannya masing masing, sungguh benar benar tidak menyangkanya.
Tidak hanya itu, Sasa pun serasa ingin pingsan saat melihat Gedung yang begitu megah. Ia baru pertama kalinya akan menginjakkan tempat yang begitu megah dan juga istimewa, Sasa masih terasa mimpi dibuatnya.
"Serius nih? kita tidak lagi salah alamat, 'kan? aku tidak bisa membayangkan berapa modal yang harus di keluarkan." Tanya salah satu karyawan yang merasa tidak percaya.
"Sepertinya kita salah alamat, mana mungkin ini acara pernikahan Adelyn. Mungkin ini pernikahan pemilik kantor kita, hanya saja namanya sama." Jawab yang satunya mencoba menebaknya.
"Memangnya ini pernikahan siapa? Adelyn siapa? aku masih belum mengerti." Tanya pak Ardi, yang tidak lain perjaka tua.
"Adelyn yang sudah kamu pecat itu, Adelyn OB." Jawab Sasa dengan ketus dan juga merasa kesal. Akibat ulah ketidaksukaannya itu, hingga tega membuat Adelyn kehilangan pekerjaannya, pikir Sasa sambil menatap pak Ardi penuh kesal.
"Apa? Sasa OB? hem, aku rasa kita salah alamat. Coba aku akan bertanya kepada salah satu diantara mereka. Sebenarnya ini pernikahan siapa, Adelyn atau bukan." Ucap pak Ardi terkejut, namun segera ia ingin memastikannya.
Sedangkan yang lainnya masih berdiri didepan gedung yang megah nan juga besar. Pak Ardi pun telah berada didepan orang orang yang akan menyambut setiap tamu undangan datang.
"Maaf, bolehkah saya bertanya?" tanya pak Ardi dengan tenang. Sebisa mungkin untuk bertanya dengan sopan dan sebaik mungkin.
"Boleh, silahkan jika ingin bertanya." Jawabnya dengan sopan, pak Ardi pun mulai menenangkan pikirannya dan mengatur pernapasan mnya agar tidak terlihat gugup.
"Benarkah di dalam gedung ini adalah acara pernikahan Adelyn?" tanya pak Ardi sesopan mungkin.
"Maksud bapak, Nona Adelyn?" tanyanya balik.
"Nona Adelyn? siapa lagi, Nona Adelyn? maksud saya Adelyn yang pernah menjadi OB di perusahaan milik Bos Zayen. Yang bakal menjadi suaminya yang bernama Viko, dia sekretaris Bos Zayen." Jawab pak Ardi sedetail mungkin.
__ADS_1