
Sedangkan Seyn masih dengan posisinya yang duduk santai sambil menikmati makanannya. Saat tinggal beberapa suapan, Seyn teringat sosok Nayla yang tengah menghantui pikirannya.
"Apakah kamu Seyn?" tanya seorang paruh baya dihadapannya. Seyn langsung menghentikan suapannya, lalu mendongakkan pandangannya keatas.
Dan dilihatnya sosok yang tidak begitu asing dipenglihatannya.
"Pak Reno, silahkan duduk." Ucap Seyn, kemudian meletakkan piringnya.
"Tidak perlu sungkan, habiskan saja dulu makanannya." Jawab pak Reno, kemudian duduk didepan Seyn bersama seorang gadis cantik.
"Tidak apa apa, saya sudah kenyang kok, pak. Oh iya, Pak Reno dapat undangan juga?" ucapnya dan bertanya.
"Iya, saya mendapatkan undangan dari tuan Alfan. Saya mengenalinya saat melakukan kerja sama disaat tuan Alfan berada di Amerika. Oh iya, perkenalkan ini putriku. Namanya Zoya, putri semata wayang. Ngomong ngmong kamu sendirian?" jawabnya dan balik bertanya.
Seketika itu juga, Neyla sudah duduk disebelah Seyn. Bahkan posisi duduknya sangatlah dekat, Seyn pun kaget dibuatnya.
"Oooh, kamu sudah beristri?" tanya pak Reno dan melirik ke arah Neyla. Sedangkan Seyn masih diam, ia bingung harus menjawabnya.
Karena tidak ada jawaban dari Seyn, dengan kuat Neyla menekan kaki milik Seyn dan membuatnya menahan rasa sakit karena injakan dari Neyla yang terlihat kesal.
"Iya, pak. Ini istri saya, namanya Neyla." Jawab Seyn dengan tenang, sedangkan Neyla masih dengan diamnya.
"Ooh, rupanya sudah beristri. Kalau begitu, saya mau pamit pulang. Sampai ketemu lagi, Seyn." Ucap pak Reno, kemudian segera bangkit dari posisi duduknya. Begitu juga dengan Seyn dan Neyla yang ikut bangkit dari posisi duduknya.
__ADS_1
Kemudian, Seyn dan pak Reno berjabat tangan. Setelah itu Pak Reno dan putrinya segera pergi meninggalkan tempat.
Kini, tinggal lah Seyn dan Neyla yang masih berdiam diri.
Tanpa pikir panjang, Seyn menarik tangan milik Neyla dan membawanya kesuatu tempat yang lumayan sepi. Namun, Neyla terus menolaknya. Sedangkan Seyn sendiri tidak memperdulikannya, ia terus menariknya. Bahkan, ia tidak peduli dengan orang orang yang tengah memperhatikan keduanya.
"Seyn, lepaskan tanganku. Aku mohon, lepaskan tanganku. Aku bisa jelasin semuanya, aku minta maaf." Ucap Neyla berkali kali, berharap Seyn akan melepaskannya. Namun sayangnya, Seyn terus menariknya dan menuju ke suatu tempat yang sekiranya lumayan sepi.
Dan, sampai lah ke suatu tempat yang menurut Seyn tidak begitu ramai oleh para tamu undangan. Kemudian, ia melepaskan tangannya yang tengah memegangi tangan milik Neyla. Lalu, Seyn menatapnya dengan lekat.
"Mau kamu itu apa? katakan dan jelaskan setiap kamu menganggapku itu pasangan kamu. Apa kamu ingin membuatku tidak laku? dan akan terus menduda sampai kamu mendapatkan suami? katakan sejujurnya." Tanya Seyn dengan menatap lekat wajah Neyla dengan serius.
Disaat itu juga, Neyla bingung harus menjawabnya. Sebisa mungkin, ia menjelaskannya pada Seyn.
"Sudahlah, lupakan saja. Mau kamu apa sekarang? aku mau pulang."
"Tidak ada yang aku mau. Sekarang pergilah, jika kamu mau pulang. Sekali lagi, maafkan aku." Jawab Neyla penuh sesal akan ulahnya yang membuat Seyn menjadi kesal. Kemudian, segera ia pergi lebih dulu dari Seyn dan meminggalkannya.
Sedangkan Seyn masih diam mematung, ia mencoba mencerna apa yang ia rasakan atas perasaannya sendiri.
Neyla masih terus melangkahkan kakinya, hingga ia sendiri lupa untuk berpamitan dengan saudaranya. Neyla terus berjalan, hingga ta pa ia sadari sudah berada didepan gedung milik keluarganya.
Seyn yang kepikiran dengan wanita yang selalu menghantui pikirannya, segera ia mengejarnya.
__ADS_1
Dengan kasar, ia mengusap kasar wajahnya.
"Ney, kamu mau kemana?" tanya Seyn dengan khawatir. Neyla segera menoleh kebelakang dan memutar badannya dan menatap Seyn dengan lekat. Keduanya pun saling berhadapan tanpa ada ekspresi senyum dari Seyn maupun Neyla. Keduanya nampak serus saat beradu pandang.
"Kenapa kamu mengikutiku? bukankah sudah aku meminta maaf. Apakah kata maaf dariku tidak cukup? katakan saja, dengan cara apa agar aku bisa menebus kesalahanku." Jawab Neyla dan balik bertanya.
"Aku hanya khawatir denganmu, itu saja." Jawab Seyn sambil menatap lekat wajah Neyla yang terlihat murung.
"Oooh, itu. Memangnya aku siapanya kamu? sampai sampai kamu mengkhawatirkan aku. Aah, sudah lah. Jangan membuatku besar kepala, pergilah! dan masuk lah kedalam gedung. Titipkan salamku pada Adelyn, maafkan aku yang tidak sempat untuk berpamitan." Ucap Neyla, kemudian segera ia pergi meninggalkan acara pernikahan saudara perempuannya.
Seketika itu juga, Seyn menghentikan langkah kaki Neyla dengan meraih tangannya. Neyla kembali membalikkan posisinya hingga menghadap ke arah Seyn.
Dengan lekat, Neyla memandangi tangannya yang telah diraih oleh Seyn.
"Aku akan melepaskannya jika itu yang kamu mau, dan aku akan terus menggenggamnya jika kamu tetap ingin bertahan." Ucap Seyn yang sulit untuk berterus terang.
Neyla terus berusaha untuk mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibir Seyn, namun ia takut jika dikatakan Seyn akan berbeda arti dengan yang dimaksud Neyla sendiri.
"Aku masih belum mengerti apa yang kamu katakan, aku takut menjawab salah. Maka, jelaskan lah apa yang kamu maksudkan atas ucapan dari kamu itu." Jawab Neyla yang ingin memastikan pertanyaan dari Seyn. Ia tidak ingin terlihat memalukan atas jawaban yang akan diberikan untuknya.
"Aku menyukaimu sejak pertama aku menemukan siapa pemilik gelang itu. Ah, lupakan saja ucapanku barusan. Aku hanya seorang pecundang, yang sulit untuk berterus terang. Tidak perlu kamu pikirkan jika tidak penting, anggap saja angin ribut yang sudah mengganggu pendengaranmu. Oh iya, jika kamu mau pulang, silahkan. Aku tidak akan menghentikan langkahmu, itu hak kamu. Jika kamu tidak keberatan, aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap Seyn yang sulit untuk berterus terang, ia sadar diri akan statusnya yang kini menjadi duda. Bahkan pernah menggagalkan pernikahannya sendiri, Seyn merasa kerdil soal perasaannya.
Sedangkan Neyla sendiri serasa tidak percaya, jika Seyn berterus terang akan perasaannya. Neyla tidak tahu harus menjawabnya, ia sendiri dilema akan perasaannya. Ditambah lagi dengan setatusnya Seyn yang sudah menduda, dan juga pernah meninggalkan Afna dalam keadaan sakit. Neyla masih sedikit takut akan masa lalu yang dimiliki Seyn, terus dan terus ia menimbangnya kembali.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, jangan terlalu kamu pikirkan. Aku sadar diri, masa laluku sangat buruk. Bahkan aku merasa kerdil jika aku bisa memilikimu, jadi mustahil bagiku untuk mendapatkan cinta darimu." Ucap Seyn kembali yang sedikit menyesal akan ungkapannya yang terlalu cepat untuk berterus terang.