
Afna masih dengan diamnya, dengan pelan ia mendekati sang suami. Zayen masih menatap lekat wajah istrinya, kedua tangannya direntangkan. Berharap, sang istri menerima pelukan untuk mengobati kerinduannya.
Hampir mendekat, kedua mata Afna sudah tidak lagi dapat terbendung. Bulir bulir air matanya kini tengah membasahi kedua pipi mulusnya, entah rasa apa yang harus Afna tuangkan disaat bahagia dan bersedih harus terbungkus menjadi satu. Sungguh, perasaannya sangat sulit untuk menerimanya.
Afna berusaha untuk kuat dan tegar dihadapan sang suami, meski dirinya ingin sekali berteriak sekencang mungkin. Namun, tidak dapat ia lakukan. Dengan lekat, Afna memandangi suaminya dari wajahnya hingga kedua kakinya yang terbalut oleh perban. Disaat itu juga, Afna teringat ketika melihat luka pada kedua kaki milik sang suami, membuatnya teringat ketika dirinya tidak lagi bisa berbuat apa-apa.
Zayen masih dengan posisinya, yang masih merentangkan kedua tangannya. Dirinya masih berharap, sang istri tidak ada lagi penolakan untuk dipeluknya.
"Sa-yang," panggil Afna, kemudian ia menerima pelukan dari suaminya.
Perasan yang begitu sakit, kini telah hilang begitu saja. Dengan mesra, Zayen memeluk istrinya. Kemudian, ia mencium kening istrinya dengan sangat lembut. Kekhawatirannya yang sudah menghantui pikirannya, kini telah terobati dengan kedatangan sang istri yang masih menerimanya dengan kondisinya penuh masalah. Hampir saja, Zayen akan prustasi bila mana sang istri tidak lagi memaafkannya.
"Kamu jahat, kenapa kamu membohongiku. Kamu anggap apa, aku ini? musuh dalam selimutmu? bahkan, aku hampir gila karenamu." Ucap Afna masih dengan perlakuannya yang tidak berubah sambil menangis sesenggukan.
"Maafkan aku, sayang. Aku hanya takut, jika kamu akan membenciku dan meninggalkanku begitu saja. Bahkan, aku tidak lagi mendapatkan maaf darimu. Bukankah aku pernah bilang, aku akan berhenti dari pekerjaanku setelah mendapat kabar bahagia darimu. Dan ternyata, ucapanku terkabul. Meski dengan kondisiku yang seperti ini, mungkin ini tamparan keras untukku." Jawabnya sambil mengusap usap punggung milik istrinya.
Afna pun segera melepaskan pelukannya, keduanya saling beradu pandang dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku dengar, bahwa kamu adalah putra dari paman Alfan dan tante Zeil. Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya kepadaku, jika kamu bukanlah saudara kandung Seyn."
"Aku hanya tidak ingin dikasihani banyak orang. justru aku merasa bangga jika ada yang mempertanyakannya kepadaku, putra siapa kamu?" jawabnya menjelaskan dan tersenyum sambil menjapit hidung milik istrinya dengan gemas.
"Sayang, bagaimana kabar calon anak kita? baik baik saja, 'kan? maafkan aku, jika aku sudah menjadi pengacau kondisimu saat ini." Ucapnya penuh penyesalan.
"Tidak, aku tidak menyalahkan kamu sepenuhnya. Aku yakin, semua yang kamu lakukan pasti ada sesuatu yang tidak mampu untuk kamu jelaskan kepadaku. Meski aku kesal mendengarnya, namun tiada gunanya jika aku membencimu. Pastinya, aku akan kehilangan penyemangat hidupku untuk memperjuangkan calon buah hati yang berada didalam rahimku." Jawab Afna penuh yakin, berharap suaminya akan menyesali akan perbuatannya selama ini.
"Terimakasih, sayang. Kamu memang istriku yang benar benar aku banggakan, dan yang aku cintai untuk selamanya. Aku pun sangat bersyukur memeliki seorang istri yang begitu tulus mencintai dan mengerti akan kondisi suami kamu ini. Aku merasa malu, dan merasa tidak pantas untuk mendapatkan cintamu. Aku yang kotor, dan juga sangat hina untuk mendapatkan cinta darimu."
Disaat itu juga, Afna menempelkan telunjuk tangannya pada bibir suaminya.
Keduanya sama sama besar rasa cintanya, bahkan rasa kesal dan benci sekalipun tidak bersemayam dalam egonya. Afna begitu nyaman berada di dekat suaminya, membuatnya terasa sulit untuk berpisah. Namun kenyataannya, keduanya tetap akan berpisah dengan waktu. Hukum, tetaplah berlaku. Meski berat dan terasa tidak rela, Afna tetap harus bisa menerima keputusan yang berlaku.
Setelah merasa cukup melepas rasa rindu dan kecemasan, kedua orang tua Afna dan ibu mertuanya kembali masuk kedalam.
Dilihatnya sepasang suami istri yang terlihat malu malu setelah keduanya saling meluapkan beban yang telah singgah pada pikirannya masing masing.
__ADS_1
"Cie ... kak Zayen dan kakak ipar, sudah nih melepas rasa rindunya?" ledek Adelyn yang tiba tiba datang dan mengagetkan. Afna dan Zayen hanya senyum senyum mendengar Adelyn yang tengah meledak.
"Kamu dari mana? kenapa baru balik kesini, hem."
"Bukannya Adelyn sudah berpamitan beli bubur ayam ... nih, Adelyn beli tiga porsi." Jawabnya, kemudian menunjukkan bubur ayamnya.
"Kakak ipar, mau? jangan malu malu ah! kasihan calon keponakanku." Ucap Adelyn menawarkan bubur ayamnya ke saudara iparnya.
"Aku mau, tapi suapin." Jawab Afna sambil melirik ke arah suaminya, entah kenapa dengan perubahan Afna yang terlihat begitu manja. Mungkinkah karena perubahan dari perannya yang menjadi wanita hamil, sikap dan seleranya pun berubah ubah. Sedangkan suaminya sendiri semakin tidak sabar ingin segera cepat menyelesaikan masa hukumannya dan segera kumpul bersama kembali.
Adelyn segera memberikan satu porsi bubur ayamnya kepada saudara kembarannya. Dengan telaten, Zayen menyuapi istrinya dengan penuh perhatian. Rasa sakit pada kakinya pun terhalang dengan perasaan bahagia yang kini telah tercipta begitu sempurna. Meski dalam keadaan yang masih perlu untuk diselesaikan.
Kedua orang tua Afna maupun ibu mertuanya dan saudara kembar Zayen ikut tersenyum bahagia, mendapati anak dan menantunya terlihat begitu mesra dan bahagia. Keempatnya pun menatapnya dengan penuh haru.
Disaat itu juga, tiba tiba ibunya Afna dan ibu mertuanya menitikan air matanya. Pikirannya kembali ke masalah Zayen yang juga belum ada titik terang akan keputusan yang berlaku.
Kedua wanita yang bergelar sebagai ibu kandung dan ibu mertua kembali menatapnya sedih, seakan tidak menginginkan anak dan menantunya berpisah. Ditambah lagi dengan kondisi Afna yang tengah hamil muda, pastinya butuh penyemangat dan perhatian penuh dari sang suami.
__ADS_1
"Mama, kenapa kalian berdua menangis?" tanya Afna yang tiba tiba kedua matanya tertuju kearah ibunya sendiri dan ibu mertuanya.
"Tidak, kita semua bahagia sampai terharu. Melihat kekompakan kalian dalam menjalin hubungan suami istri, sungguh mama sangat kagum dengan kalian. Bahkan, Afna sendiri begitu tulus dan lapang menerima kenyataan semua ini." Jawab dari ibu mertuanya, kemudian tersenyum.