
Afna segera menghabiskan makanannya, begitu juga dengan Zayen.
Setelah keduanya selesai menikmati makan malamnya yang terakhir, Zayen kemudian membantu sang istri untuk berdiri menggunakan alat bantu penyangga.
"Kita temui papa dulu, setelah itu kita pamit pulang. Besok akan ada pemijatan kaki kamu, terpaksa kita harus pulang malam ini."
"Aku nurut saja, apapun keputusan kamu." Jawabnya berusaha untuk tersenyum, sedangkan Zayen masih memasang muka masamnya.
Dengan pelan, Afna melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Di lihatnya, Seyn yang kini sudah duduk santai tidak jauh dari ayahnya. Seyn menyilangkan kedua tangannya di dada bidangnya sambil bersandar disofa.
Berbeda dengan tuan Arganta, duduk santai sambil berjegang menonton acara di televisi.
Zayen dan Afna kini sudah berada di ruang tamu, Zayen masih berdiri disamping istrinya. Namun, setelah dipikir pikir Zayen mencoba untuk ikut duduk santai bersama keluarganya. Zayen membantu istrinya duduk di sofa, setidaknya istirahat sejenak sehabis makan malam. Meski sebenarnya sudah tidak sabar ingin pulang dan beristirahat.
Seyn yang menatapnya pun memasang raut wajah yang penuh kesal. Afna sendiri tidak berani menatap kearah siapapun, dirinya tetap fokus dengan posisinya.
Reina yang terpaksa ikut duduk santai bersama yang lainnya pun terasa tidak nyaman, ditambah lagi sikap suaminya yang tiba tiba dingin terhadapnya. Reina selalu memperhatikan suaminya sendiri, yang tidak henti hentinya memandangi wajah cantik mantan kekasihnya.
Zayen pun pura pura tidak mengetahui, jika sang kakak tidak ada henti hentinya memperhatikan istrinya.
"Nak Afna, malam ini kamu menginaplah di rumah papa. Karena papa sangat menginginkan kebersamaan dengan keluarga."
"Besok istriku akan ada kepentingan pa, sepertinya malam ini harus pulang. Maafkan kami berdua pa, menginapnya lain kali saja. Bukankah sebentar lagi pernikahan kak Seyn akan di selenggarakan, kita pasti akan datang dan menginap."
"Kenapa mesti menunggu pernikahanku, Zayen. Menginaplah, walau semalam." Ucap Seyn ikuy menimpali.
"Tapi, kak ... aku pun ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Zayen menoleh kesamping yaitu istrinya, seakan meminta keputusan dari sang istri. Sedangkan Afna sendiri bingung untuk memberi keputusan terhadap suaminya, dirinya takut akan ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Afna nurut saja dengan keputusan suami Afna, Pa."
"Bagaimana menurut kamu, Zayen. Menginap lah walau semalam, papa sudah siapkan tempat tidur untuk kalian berdua. Bukankah sejak menikah, kalian berdua baru pertama kalinya datang di rumah ini. Jadi, papa meminta untuk menginap di rumah papa."
"Baiklah, malam ini aku akan menginap dirumah papa." Jawabnya, sedangkan Reina sendiri terasa kesal. Pasalnya, suaminya akan banyak waktu untuk memperhatikan mantan kekasihnya. Mau tidak mau, Reina berpura pura untuk tersenyum.
"Iya, Afna. Sekali kali kamu menginap, lagian rumah ini adalah rumah mertua kamu sendiri. Aku pun sangat senang, jika kamu dan suami kamu menginap. Karena aku dan suamiku akan ada temannya, dan tidak terasa sepi." Ucap Reina ikut menimpali, sebenarnya sangar risih menerima kedatangan Afna dan juga Zayen.
"Iya, aku akan menginap." Jawab Afna berusaha untuk tidak menyinggung perasaan yang lainnya.
"Zayen, papa ingin berbicara dengan kamu dan Seyn. Tetapi tidak diruangan ini, tetapi di ruangan kerja papa." Pinta sang ayah memohon.
Kedua putranya hanya mengangguk, sedangkan Zayen harus mengantarkan istrinya untuk itirahat di dalam kamar.
"Pa, nanti aku menyusul di ruang kerja papa. Sekarang aku mau mengantar Afna masuk ke kamar, aku tidak ingin istriku kecapekan."
"Boleh aku temani Afna?" tanya Reina yang tiba tiba ucapannya mengagetkan.
"Tidak, aku tidak ingin istriku terganggu. Biarkan istriku istirahat dengan tenang, aku tidak ingin istirahatnya di ganggu. Istriku bisa anak ABG lagi, sekarang sudah menjadi istriku. Karena istriku sendiri tidak memiliki hak atas kemauannya sendiri."
"Baiklah. Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Sedangkan Seyn hanya diam sambil menatap Afna tanpa berkedip, Reina yang melihat arah tujuan pandangan suaminya pun langsung menarik tangan suaminya untuk segera bangkit dari tempat duduknya.
"Lepaskan!" bentak Seyn dengan sorot kedua matanya yang tajam.
Afna yang mendengar sekaligus melihatnya pun sangat shok dan kaget, Seyn yang dikenalnya sangat lembut dan sangat perhatian tiba tiba seperti amukan singa yang tidak terkendali.
Reina yang mendapati bentakan dari suaminya lsngsung meninggalkan ruangan tersebut, Reina segera kembali ke kamar karena merasa kesal dan terasa sakit dipermalukan oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
Reina pikir, dirinya bisa membuat Afna terbakar api cemburu. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan rencana dan harapannya. Justru dirinya yang harus melihat keharmonisan Afna dengan Zayen di rumah mertuanya.
Afna segera menoleh kearah suaminya, sedangkan Zayen masih duduk pada posisinya.
"Seyn, seharusnya kamu jangan membentak istrimu. Lihatlah, istrimu pasti bersedih. Temuilah istrimu, dan minta maaf lah dengannya. Kasihan istrimu yang sedang mengandung anakmu, cepat temui istrimu." Perintah sang ayah, agar suasana tidak menjadi lebih gaduh. Ditambah lagi, Seyn masih terlihat ada rasa dengan Afna. Namun, Seyn tidak mengakuinya. Dirinya hanya menunjukkan rasa cemburunya dengan cara melampiaskan amarahnya dengan yang lainnya.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Seyn segera pergi meninggalkan ruangan keluarga. Bukan pergi untuk masuk ke kamar, Seyn memilih menyambar kunci mobil yang berada digantungan.
"Seyn! mau kemana kamu." Bentak sang ayah berusaha menghentikan langkah kaki milik putranya.
"Tidak penting." Jawab Seyn singkat, kemudian langsung pergi begitu saja.
Zayen yang melihat sang kakak yang terlihat sedang kacau, Zayen segera ikut pamit untuk mengejar sang kakak. Zayen takut akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap sang kakak. Meski Seyn begitu membenci sang adik, Zayen tetap menganggapnya seorang kakak. Walaupun keserakahannya yang selalu menjadikannya kambing hitam.
"Papa tidak perlu khawatir dengan kak Seyn. Aku tahu kemana kak Seyn pergi, aku yang akan menyusulnya."
"Ikuti, kemana perginya Seyn." Perintahnya sedikit kesal terhadap puteranya sendiri.
"Afna. Ayo, aku antar kamu ke kamar." Ajak Zayen sambil membantu Afna untuk bangkit dari tempat duduknya.
"Jangan protes, aku akan menggendongmu." Afna yang merasa tidak bisa berbuat apa apa terhadap dirinya sendiri, Afna hanya bisa nurut dengan apa yang akan dilakukan suaminya sendiri.
Setelah sampai di dalam kamar, Dengan pelan, Zayen menurunkan istrinya ke tempat tidur.
"Istirahatlah dengan nyaman, aku tidak akan lama. Aku usahakan secepatnya untuk pulang, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ini kamarku, kamu bebas untuk tiduran semau kamu. Kamu tidak perlu mengunci kamar ini, biar aku kunci dari luar. Kamu jangan takut, ini kunci yang satunya kamu pegang." Ucapnya sambil memberikan kunci cadangan, kemudian dirinya segera keluar dari kamar.
Setelah kepergian suaminya, Afna celingukan disetiap sudut ruang kamar milik suaminya itu.
Tiba tiba kedua bola mata Afna tertuju pada suatu tempat yang membuatnya penasaran. Afna ingin memastikannya, dengan pelan Afna meraih tongkat penyangga tubuhnya untuk membantu dirinya bisa berdiri.
__ADS_1