
Kazza pun akhirnya kembali masuk kedalam kamarnya, sang Ayah yang mengerti maksud dari putranya tidak mempedulikannya.
"Kazza dari dulu tidak pernah berubah, sifatnya sama seperti pamannya. Siapa lagi kalau bukan Ganan, yang suka menebak dan menyimpannya dalam kekesalannya. Ujungnya hanya penyesalan, dan akan menyesal sendiri." Ucap kakek Ferdi yang teringat cerita dari sang adik, bahwa keponakannya yang telah salah berprasangka buruk terhadap ayahnya sendiri.
"Biarkanlah, Pa. Nanti Kazza akan menyesali atas prasangka buruknya terhadap Zayen, adik iparnya."
"Benar, Tirta! yang terpenting jaga emosinya Kazza. Yang ditakutkan, jika Kazza bisa asal menuduh didepan Zayen."
"Iya, Pa. Kalau begitu, ayo kita makan siang."
"Mama mau panggil Afna dan Zayen, kamu panggil Kazza. Kamu ibunya, ajak Kazza dengan lembut." Ucap Nenek sambil menepuk nepuk bahu menantunya.
"Iya, Ma ..." jawabnya, kemudian segara masuk ke kamar Kazza beristirahat.
"Kazza ... buka pintunya, Nak ..." ucap sang Ibu sambil mengetuk ngetuk pintu.
Ceklek, Kazza membuka pintunya.
"Mama ... ada apa?"
"Makan siang, ayo kita makan siang bersama. Kakek, Nenek dan Papa sudah menunggu."
"Kazza belum lapar, Ma. Kazza ingin istirahat, Ma ...." tidak apa apa 'kan?"
"Kamu jangan bohongi Mama, kamu pikir Mama tidak tahu alasan kamu. Jangan bersikap seperti anak kecil, bersikaplah lebih dewasa. Mama mengerti, kamu sedikit tidak menyukai Zayen. Setidaknya, kamu pun juga harus bisa jaga emosi kamu. Jika memang Zayen seorang penghianat, seharusnya kamu juga harus pintar untuk mengimbangi Zayen. Tapi ... Mama rasa, Zayen bukan orang yang seperti kamu pikirkan. Sekarang, ayo kita makan siang bersama. Tidak baik menyembunyikan kekesalan, kamu belum menikah dan belum memberi Mama keturunan. Jadi ... pikirkan baik baik, Mama tidak ingin kamu menjadi mudah emosi." Jawab sang Mama berusaha untuk menasehati putranya.
"Baik, Ma. Sebentar lagi Kazza akan segera ke luar. Untuk sementara, Kazza mau mengganti baju dulu." Ucapnya, kemudian sang ibu Mengangguk dan segera ke luar dari kamar Kazza beristirahat.
Sedangkan Kazza tiba-tiba teringat dengan apa yang dikatakan Ibunya, Kazza mencoba mencerna dengan ucapan Ibunya.
"Benar kata Mama, Zayen saja bisa bersikap santai. Kenapa aku tidak mencoba untuk mendekatinya, bukankah cara seperti itu akan mudah mendapatkan hasilnya. Baiklah, mulai sekarang aku akan mencoba mendekatinya. Aku akan memulai rencanaku, aku harus bisa untuk mencari kebenaran." Ucapnya lirih sambil menyisir rambutnya di depan cermin.
__ADS_1
Setelah merasa sudah cukup, Kazza segera keluar dari kamar dan ikut makan siang bersama yang lainnya.
Dengan tenang, Kazza bersikap seperti biasa. Kazza duduk berhadapan dengan Zayen, sedangkan Zayen sendiri tetap bersikap tenang sambil menunggu sang istri yang sedang melayaninya untuk mengambilkan porsi makan siangnya.
"Ini pasti Nenek yang meracik bumbunya, Afna sudah dapat menebak aromanya." Ucap Afna membuka suara dan mencoba menebaknya.
"Wah ... sekarang kamu sudah bisa menebaknya, ya? tebakan kamu memang benar." Jawab sang Nenek dengan senyum lebar.
"Iya, dong. Siapa dulu, Afna ... kalau Mama jagonya bikin kueh."
"Kalau Afna?"
"Bilang saja, kakak mau mengejekku." Jawabnya dibuat cemberut.
"Afna pasti bisa, kakek percaya sama Afna. Hanya saja, Afna tidak mau menunjukkan kemampuannya." Ucap sang kakek ikut menimpali.
"Iya, Kek. Afna memang bisa, dan tidak mau menunjukkan kemampuannya pada kita. Karena kemampuannya yaitu menghabiskan ayam geprek level super pedas. Cie .... cie ..." ledek Kazza yang teringat saat ibunya bercerita tentang Afna yang menyukai ayam geprek saat makan malam bersama kedua orang tuanya.
Zayen yang melihat kakak beradik sedang bersenda gurau, membuatnya rindu saat dirinya masih akrab dengan sang kakak. Tidak seperti yang sekarang, hanya perdebatan dan ancaman yang ia dapati. Sejak Zayen dapat menyelesaikan pendidikannya di perkuliahan, Zayen mulai mendapati pengakuan dari orang tuanya. Yang tidak lain adalah bukan anak kandungnya, melainkan anak ancaman.
'Kenapa aku bod*oh sekali, kenapa aku tidak melakukan penyelidikan siapa diriku ini. Bukankah aku ini anak terbuang, dan jadikan sebuah ancaman. Sangat sulit untukku melakukannya, aaah! perse*tan kamu Arganta. Andai saja bukan kamu yang merawatku dari kecil, aku sudah membu*nuhmu.' Batin Zayen yang tiba tiba dirinya teringat akan kekesalannya.
"Sayang, dimakan. Kenapa kamu melamun, aku suapin, ya?"
"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri." Jawab Zayen yang kemudian langsung menyuapi mulutnya sendiri.
'Ada apa dengan Zayen, kenapa dia melamun. Apa ada sesuatu yang sedang direncanakannya?' batin Kazza yang memperhatikan Zayen.
'Kazza kenapa memperhatikan Zayen, pasti dia sedang menduga duga. Anak itu, jika sudah kesal dengan seseorang pasti akan dikupas tuntas. Benar benar tidak jauh beda dengan Ganan, pamannya sendiri.' Batin kakek Ferdi yang tiba tiba menangkap sorot mata Kazza kearah Zayen.
"Zayen, jangan pernah sungkan berada di rumah kakek. Kamu sudah menjadi bagian keluarga Danuarta, jadi jangan merasa canggung." Ucap sang kakek.
__ADS_1
"Iya, Kek. Terimakasih sudah menerima Zayen menjadi bagian keluarga Kakek." Jawabnya dan tersenyum. Sedangkan Kazza tersenyum sinis, dirinya tetap masih terlihat kesal dengan sosok Zayen yang membuatnya merasa curiga.
"Sudah sudah ... ngobrolnya nanti lagi, kita nikmati dulu makan siangnya." Ucap sang Nenek mengingatkan.
"Kakek, ada motor tidak?" tanya Afna tiba tiba.
"Ada, kenapa?"
"Afna ingin jalan jalan dikampung ini, Kek ..." jawabnya sambil menikmati makan siangnya.
"Oooh, memangnya kamu bisa naik motor?" tanya sang kakek penasaran.
"Suami Afna, Kek ... hari hari Afna selalu menaiki motor. Suami Afna tidak mempunyai mobil, tetapi Afna merasa nyaman dengan suami Afna. Meski hanya sebuah motor, tetapi membuat Afna merasa lebih dekat dan nyaman." Jawabnya dan tersenyum.
"Cie ... nyaman sambil memeluk nih .." ledek Kazza mencoba untuk tidak memperlihatkan jika dirinya mencurigai adik iparnya.
"Iya dong, kak .." jawab Afna dan tersenyum mengembang.
Sedangkan Zayen masih fokus dengan makanannya, hingga tidak terasa piringnya sudah disapu bersih. Zayen tidak begitu merespon apa yang sedang dibicarakan istrinya dengan keluarganya.
Setelah menikmati makan siang, dilanjut menikmati buah yang sudah dihidangkan dijadikan sebagai cuci mulut.
"Kakek, kunci motornya di mana?" tanya Afna sambil mengulurkan tangannya.
"Kunci motornya ada di lemari ruang tamu, hati hati jika berkendara di daerah sini. Ada jalan yang sedang diperbaiki, dan jangan kebut kebut." Jawab sang kakek mengingatkan, sedangkan Afna langsung bangkit dari tempat duduknya dan segera mengambil kunci motornya.
"Afna, Kakak ikut. motornya ada lagi, kan Kek?"
"Ada, kakek sudah siapkan dua motor untuk kalian."
"Kalau begitu, Zayen pamit keluar dulu ya, Kek .. Permisi, Ma, Pa, Nenek, dan Kakek. Zayen pamit .." Ucap Zayen berpamitan.
__ADS_1