Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Mengobrol


__ADS_3

Zayen berusaha untuk memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu hal, meski dirinya saja masih merasa ragu untuk bertanya kepada orang tuanya sendiri. Mau tidak mau, Zayen tetap melakukannya.


"Katakan saja, sayang. Apa yang ingin kamu tanyakan." Ucap sang ibu yang semakin penasaran.


"Maksudnya, bahwa Zayen ingin menanyakan masa lalu Papa dan Mama, dikarenakan Zayen sendiri penasaran akan kisah Mama dan Papa di masa mudanya. Zayen hanya ingin mengorek tentang penculikan Adevin, itu saja." Jawab Zayen sedikit kaku, ia menyadari bahwa dirinya baru pertama kalinya tinggal bersama kedua orang tuanya. Bahkan masih merasa canggung untuk bersenda gurau maupun bertanya.


Kedua orang tuanya kini saling menatap satu sama lain, seketika itu juga teringat akan masa lalunya yang terbilang unik seperti tommy and Jerry.


"Maksud kamu ada seseorang yang telah menaruh dendam dengan Papa?" tanya sang ayah mencoba menebaknya.


"Iya, Pa. Zayen rasa seperti itu, apakah Papa pernah berantem merebutkan Mama? atau ... yang lainnya. Pesaing bisnis Papa contohnya, pesaing dalam keluarga sendiri misalnya. Atau .. ada hal yang lainnya yang membuat orang lain sakit hati." Jawab Zayen menjelaskan, kedua orang tuanya pun mulai berpikir dan mengingat masa lalunya.


Berkali kali mengingat masa lalunya, tuan Alfan sendiri bingung untuk mencerna pada setiap kejadian.


"Dulu Papa pernah menjadi kaki tangan paman kamu, Ganan. Papa harus menjadi penyelidik sejak Papa duduk dibangku SMA, mau tidak mau itu pekerjaan Papa. Sebenarnya bukan perintah dari tuan Angga, melainkan paman kamu, Ganan. Kamu tahu? Papa kamu ini hanya anak dari seorang supir pribadi keluarga Wilyam, Papa kamu dapat berdiri tegak seperti ini pun berkat keluarga Wilyam. Papa diperlakukan sangat baik oleh tuan Besar Wilyam dan tuan Angga yang tidak lain kini telah menajadi keluarga Papa." Ucap sang ayah menjelaskan, Zayen pun masih belum bisa mencerna ataupun beranggapan.


Seketika itu juga, Zayen penasaran dengan kata menjadi penyelidik.


"Papa menjadi kaki tangan paman Ganan? tentang hal apa itu, Pa?" tanya Zayen semakin penasaran.


"Tentu saja, tentang balas dendam dari turun temurun." Jawab sang ayah.

__ADS_1


"Balas dendam? maksud Papa itu, apa?" tanya Zayen terus menyelidik.


'Gile aku ini, menyelidik seorang penyelidik. Konyol bener nih duniaku, ampun.' Batinnya sambil menarik nafas pelan, dan dibuangnya pelan.


"Iya, balas dendam dari keluarga anak asuh karena harta warisan. Dan dendamnya pun turun temurun sampai ke anak cucu." Jawab sang ayah menjelaskan, Zayen sendiri masih bengong. Dirinya pun masih bingung untuk mencernanya, seperti tidak percaya apa yang tengah didengarnya.


'Rumit sekali rupanya, satu kasus masa lalu saja turun temurun. Bagaimana dengan kisah asmara dari kakek Zio dan Papa, oooh tidak. Sungguh pusing aku memikirkannya, bahkan pusingnya hutang saja kalah pusingnya dengan masalah yang sedang aku selidiki. Aku tidak akan menyerah untuk menyelidiki kasus ini, secepatnya harus aku ungkap. Aku harus menyuruh Gio untuk melakukan penyelidikan, aku tidak mungkin untuk melakukannya sendiri.' Batin Zayen yang semakin kacau pikirannya, antara menyelidik tentang asmara dan balas dendam turun temurun.


"Kenapa kamu diam, Nak? pusing?" tanya sang ibu sambil memperhatikan putranya yang terlihat gelisah.


"Tidak kok, Ma. Zayen hanya penasaran saja dan mencoba mencerna dari setiap kata yang Papa ucapkan, itu saja." Jawab Zayen beralasan, ia tidak ingin terlihat pusing maupun cemas sekalipun.


"Sudah, jangan bohong. Kamu sedang bingung untuk mencari tahu siapa dalang penculikannya, 'kan? jujur saja. Papa sudah menyelidikinya, bukan dari keluarga Burhan yang dulunya menjadi anak asuh dari keluarga Wilyam. Kehidupan paman kamu yang bernama Dika sudah bahagia di Amerika, sedikitpun tidak ada kecurigaan terhadapnya." Ucap sang ayah menjelaskan.


Kedua orang tua Zayen saling menatap satu sama lain, keduanya pun tertawa lepas saat melihat ekspresi putranya sendiri yang terlihat salah tingkah.


"Lucu sekali, seorang anak terang terangan ingin menyelidiki orang tuanya sendiri." Ledek sang ibu, lalu tertawa kecil melihat putranya.


"Mau bagaimana lagi, Ma. Kalau ternyata hanya itu jalan satu satunya." Jawabnya dengan lesu sambil menyangga kepalanya dengan satu tangannya.


"Jangan khawatir, Papa yang akan menyelidiki kakek kamu, dan kamu ..."

__ADS_1


"Menyelidiki Papa, adil seadil-adilnya." Jawab Zayen langsung menyambar kalimat dari ayahnya, kemudian ia tertawa kecil diikuti sang ibu yang justru tertawa puas mendengarnya. Sang ayah hanya menelan salivanya susah payah.


"Ternyata bukan dendam saja yang turun temurun, menyelidiki pun ikutan turun temurun. Yang benar saja mencari ide seperti ini, ada ada saja." Ucap Zayen yang masih kacau dengan pemikirannya.


"Kenyataannya memang harus seperti ini, ya seperti inilah kehidupan. Terkadang kita sibuk mengoreksi orang lain, tanpa kita sadari bahwa diri kita sendiri sedang dikoreksi orang lain juga. Kamu tidak perlu berambisi untuk mencari kebenarannya, suatu saat nanti pelakunya akan menampakkan batang hidungnya sendiri. Sekarang kamu fokuskan saja pada istrimu dan juga calon anakmu, itu yang paling penting." Ucap sang ayah berusaha untuk meyakinkan putranya, berharap tidak mengganggu pikirannya yang sedang fokus pada calon buah hatinya dan juga istrinya.


"Ada benarnya kata Papa, Zayen akan bersikap santai namun tetap mencari jalan untuk selalu siap siaga untuk keselamatan keluarga." Jawab Zayen berusaha untuk terlihat tenang.


"Nah, begitu lebih baik. Oh iya, nanti malam kita akan ada acara makan malam bersama keluarga. Acaranya di kediaman keluarga Wilyam, sekaligus menyambut kedatangan kamu di keluarga Wilyam." Ucap sang ibu menjelaskan.


"Kenapa pakai acara disambut segala sih, Ma. Zayen tidak menyukainya, terkesan berlebihan." Jawab Zayen sedikit risih mendengarnya.


"Karena kamu bagian dari keluarga Wilyam. Meski kita dari keluarga asuh, keluarga Wilyam tetap bersikap adil. Tidak pernah membedakan siapa siapanya, tetap sama perlakuannya." Ucap Sang ibu mencoba meyakinkan putranya.


"Sama saja, Ma. Justru Zayen merasa risih jika diperlakukan yang berlebihan."


"Sudah sudah, jangan diteruskan. Oh iya, katanya hari ini kamu mau mendatangi rumah Papa Arganta. Bagaimana? jadi, 'kan?" ucap sang ayah menimpali dan bertanya pada putranya.


"Iya Pa, Zayen pun masih penasaran dengan rumah Papa Arganta. Seperti ada sesuatu yang tertinggal didalamnya, semoga saja ada titik terangnya. Hanya itu yang bisa Zayen harapkan, tidak lebih." Jawab Zayen yang tiba tiba berubah sedih saat membicarakan tentang ayah asuhnya.


Sang ibu segera bangkit dari posisi duduknya, kemudian mendekati putranya.

__ADS_1


"Jangan larut dalam kesedihan, semoga ucapan kamu benar adanya. Bahwa dirumah papa asuh kamu masih ada yang tersisa untuk mencari titik terang." Ucap sang ibu sambil menepuk nepuk punggung putranya untuk memberi semangat kepada putranya.


__ADS_2