
Pagi yang cerah, namun tidak secerah harapan Afna seperti yang diharapkannya. Kini, dirinya sungguh dilema. Saat ingin memberikan kejutan kepada suaminya, Afna harus bersabar untuk menunggunya pulang.
Di ruang kerja, tuan Tirta alih alih membuka laptopnya. Entah ada rasa penasaran apa, sehingga ada rasa ingin membuka akun media sosial boongnya.
JEDDUAR!!! seperti tersambar petir, saat melihat banyak berita yang memberitakan menantunya.
"Kazza!!" teriak tuan Tirta sangat kencang. Namun sayangnya, ruang kerja milik tuan Tirta memiliki penyadap suara. Meski berteriak kencang, tidak ada yang bisa mendengarnya.
Tanpa pikir panjang, tuan Tirta segera menemui putranya untuk berhenti melakukan perbuatan kejinya terhadap adik iparnya sendiri.
Brak brak brak brak, tuan Tirta menggedor gedor pintu milik Kazza tanpa berpikir ada Afna yang sedang menginap di rumahnya.
"Kazza! buka! pintunya, cepat!"
Brak brak brak brak brak, lagi lagi tuan Tirta terus menggedor gedor pintu kamar milik putranya. Kazza yang merasa terganggu, segera ia membuka pintunya.
"Ada apa sih, Pa? pagi pagi sudah heboh. Mau apa lagi? mau meminta Kazza untuk donor darah? tidak. Kazza tidak mau, cari yang lain saja." Tanya Kazza yang lupa akan berita yang disebarkan, hingga membuat sang ayah marah besar terhadapnya.
"Papa tidak butuh pendonor darah sepertimu, yang sombong dan juga angkuh. Katakan kepada papa, apa benar kamu yang menyebar berita tentang Zayen. Cepat! katakan dengan jujur, cepat! katakan." Tanya sang ayah diakhiri dengan bentakan tanpa perduli dengan yang lainnya.
"Iya! Kazza yang menyebar berita itu, biar Zayen jera. Bahkan, dirinya pasti sangat malu dan tidak berani menampakkan wajahnya lagi."
PLAK!!!!!! sang ayah langsung menampar putranya tanpa belas kasih. Kesabarannya sudah habis, meski sebenarnya tidak ingin melakukan kekerasan terhadap putranya sendiri. Namun, perbuatan dari Kazza sudah sangat kelewat batas. Hingga tanpa pikir panjang, sang ayah harus memberi pelajaran kepada putranya.
"Ooooh!! sekarang papa lebih percaya dan menyayangi Zayen, daripada putranya sendiri."
__ADS_1
"Yang kamu lakukan itu sangat salah, Kazza. Setan mana, sampai sampai bisa merasuki otakmu itu. Apa kamu tidak mikirkan adik kamu sendiri, bagaimana dengan jiwanya jika terguncang dengan berita yang kamu sebarkan itu."
"Bagus dong, pa. Berarti Afna mengetahui keburukan suaminya selama ini, dan tidakrepot repot kita menunjukkannya."
PLAK!! amarah tuan Tirta benar benar sudah memuncak kekesalannya.
"Kamu pikir semudah itu, Kazza. Dengan mudahnya kamu menunjukkan keburukan adik ipar kamu sendiri. Apa kamu tahu, Afna sedang mengandung anak dari adik ipar kamu. Apa yang akan kamu lakukan untuk Afna, apakah kamu akan menyingkirkan keponakan kamu itu."
"Bertobatlah, anakku. Jangan turuti omongan orang yang telah menghasutmu, kamu akan menyesal nantinya. Ingatlah, jangan ikut mencampuri urusan orang lain. Jangan sampai penyesalan kamu berkepanjangan,dan membuatmu malu pada diri kamu sendiri." Ucapnya lagi untuk mengingatkan putranya yang tengah dihasut oleh orang tidak bertanggung jawab.
"Tidak, pa. Kazza yakin, Zayen bukan laki laki baik seperti yang papa fikirkan. Zayen berhak menerima hukumannya, karena kesalahannya dia sendiri. Zayen telah membohongi kita semua, Pa. Zayen tidak pernah mengaku akan pekerjaannya, dia pantas di penjara. Jadi, papa jangan menyalahkan Kazza. Jika Kazza yang telah memenjarakan Zayen,Pa."
"Yang kamu lakukan tetap salah besar, Kazza. Seharusnya kamu itu berpikir lebih jernih lagi, jangan asal menuruti egomu. Ada Afna yang harus kamu jaga perasaannya, apa kamu lupa itu."
"Kamu tahu? Zayen adalah Adevin, saudara kembar Adelyn. Sebelum tuan Arganta menghembuskan nafas terakhirnya, disaat itu juga mengutarakan kejujurannya. Bahwa Zayen adalah putra dari paman kamu, Alfan. Keluarga Wilyam, golongan darahnya pun sama. Tanda lahirnya pun sama dengan Adelyn."
JEDDDUUUAAR!!!! terasa tersambar petir di siang bolong, Kazza maupun Afna yang sedang berdiri diambang pintu kamar Kazza.
"Apa!!!!!!" teriak Afna sekencang mungkin, tubuhnya gemetaran dan juga lemas. Kedua matanya pun berkaca kaca dan mengenak sungai hingga membasahi kedua pipi mulusnya. Isakannya seakan membuat tubuhnya tak mampu untuk digerakkan, nafasnya pun ikut terasa sesak. Afna hanya berdiam diri sambil mematung, pikirannya tiba tiba kosong. Pandangannya tiba tiba kabur begitu saja, tubuhnya jatuh lemas terkulai.
"Afna .....!!!!" teriak Kazza dan sang ayah, kemudian segera mengangkat tubuh Afna. Sang ibu pun segera mendatangi kamar putranya dengan cepat.
"Afna! bangun, sayang. Maafkan Papa, yang tidak bisa berkata lirih."
"Afna! kenapa dengan Afna, jangan bilang ini semua gara gara Kazza. Cepat panggilkan Dokter, cepat!" ucap sang ibu dengan membentak.
__ADS_1
Kazza segera menghubungi Dokter pribadi keluarga Danuarta.
Berkali kali sang ibu dan ayahnya memberi pertolongan kepada Putrinya, berharap akan segera sadarkan diri.
Sedangkan Kazza sedari tadi hanya mondar mandir, pikirannya semakin kacau sendiri.
"Papa tidak akan memaafkan kamu, jika Afna kenapa napa. Lihatlah, adik kesayangan kamu telah kamu hancurkan perasaannya. Dimana otak kamu itu si sisipkan, hah! jangan sampai penyesalanmu terlambat." Ucap tuan Tirta sambil mencengkram baju yang dikenakan putranya sangat kuat penuh kekesalan.
Kazza hanya berdiam tanpa berucap sepatah katapun.
Tidak menunggu lama, Dokter pun telah datang tepat waktu. Kemudian, Afna segera diperiksanya.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya sang ibu penuh kekhawatiran.
"Putri nyonya tidak kenapa kenapa, hanya shok. Mungkin karena kondisinya yang sedang hamil. Saya sarankan, untuk tidak banyak pikiran dan hindari perdebatan atau semacam mengganggu pikirannya. Karena ada janin didalamnya, dan sangat dianjurkan untuk mendapatkan perhatian yang cukup." Jawab Ibu Dokter menjelaskan.
"Terimakasih, Dok."
"Kalau begitu, saya permisi." Ucap ibu Dokter, kemudian segera pergi meninggalkan rumah tuan Tirta.
Kini, ada Afna yang terbaring lemas diatas tempat tidur milik Kazza dan ditemani sang ibu disampingnya. Sedangkan Kazza masih tertunduk, dirinya tidak berani menampakkan wajahnya didepan orang tuanya sendiri. Sedangkan sang ayah masih berdiri dihadapan putranya, seakan sedang menghakimi putranya.
"Lihatlah, lihat kondisi adik kesayangan kamu yang sedang berbaring lemas diatas tempat tidurmu tanpa suami yang mendampinginya. Setega itukah kamu memisahkan kebahagiaan adik kamu, Afna yang sering kamu sebut adik kesayanganmu. Kini, kamu hancurkan perasaannya dan impiannya. Dan ingatlah, mau ditaruh dimana harga diri kamu di depan paman kamu, Alfan. Saat putranya membutuhkan pendonor suka rela, sedangkan kamu menyombongkan dada kamu itu dengan bangga." Ucap sang ayah dengan panjang lebar, mencoba menyadarkan putranya yang tiba tiba berubah total akan sikap dan prilakunya.
Kazza masih terdiam membisu, bibirnya terasa berat untuk berucap. Berkali kali Kazza berusaha untuk mencerna ucapan dari sang ayah, pikiran Kazza semakin tidak karuan. Antara benci, kesal, kasihan, malu, dan menyesal tercampur aduk menjadi satu. Kazza semakin prustasi sendiri, dirinya tidak dapat membayangkan jika adik kesayangannya akan membencinya dan keluarga Wilyam akan murka terhadapnya. Sungguh, Kazza dilema akan semua itu.
__ADS_1