Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Penuh Perhatian


__ADS_3

Afnaya dan Adelyn sedang mengelilingi sebuah taman kecil yang berada di belakang rumah, keduanya nampak bahagia. Apa yang diharapkannya kini telah terwujud, kebagahagiaan yang benar benar nyata tanpa adanya rekayasa.


Adelyn yang melihat sosok saudara kembarnya, ia segera menyingkir dengan langkah kakinya pelan. Zayen tersenyum melihat saudara kembarannya, segera ia mendekati istrinya yang masih fokus dengan pandangannya ke arah kupu kupu yang berterbangan kesana kemari.


Deg!!! seketika itu juga, detak jantung Afna sulit untuk dikontrolnya.


"Bagaimana perasaan kamu dipagi ini, sayang? apakah kamu bahagia? katakanlah." Ucap Zayen berbisik didekat telinga istrinya yang sedang mengontrol detak jantungnya karena kedatangan suaminya yang tiba tiba mendadak memeluknya dari belakang.


Afna pun memutar posisi berdirinya, segera ia menatap lekat wajah suaminya yang semakin terlihat tampan dan menggodanya.


"Jangan macam macam ditempat yang terbuka seperti ini, tidak baik untuk dilihat." Ucap Afna yang takut dan juga malu pastinya, jika sang suami yang tiba tiba saja tengah mengambil kesempatan, dan kesempatan itu dapat dilihat oleh pelayan lainnya dan juga anggota keluarga suaminya.


"Kenapa? tidak ada anak kecil, 'kan?" jawab Zayen balik bertanya.


"Hem ... mau anak kecil, mau orang dewasa sekalipun. Kita harus bisa menjaga sikap kita, tidak baik untuk diperlihatkan." Jawab Afna menjelaskan.


"Kalau sekedar memeluk tidak apa apa, 'kan?" ucap Zayen dan tersenyum.


"Hem ... mulai ..." jawab Afna, Zayen pun menjapit hidungnya dengan gemas.


Zayen kembali memeluk istrinya, ia pun tidak dapat memungkiri akan rasa bahagia yang benar benar ia dapatkan sangatlah sempurna. Zayen sendiri merasa sangat bahagia karena dapat berkumpul dengan keluarganya yang sangat lama teepisah. Tiba tiba ia teringat dengan sosok laki laki yang belum ia temui sedari ia pulang, bahkan ia tidak merasa disambutnya. Kemudian, Zayen segera melepaskan pelukannya dengan pelan. Ia masih ada rasa penasaran dan ingin memecahkan rasa penasarannya itu.


"Sayang, apakah kamu tidak merasakan sesuatu?" tanya Zayen penasaran.


"Sesuatu? maksudnya apa? aku tidak mengerti maksudmu." Jawab Afna dan bertanya ia sendiri tidak mengerti yang dimaksudkan oleh suaminya.


"Kakek? kakek Zio dan Omma, hem." Ucap suaminya.

__ADS_1


"Oooh, kakek Zio? kata Adelyn sudah berada di kediaman keluarga Wilyam. Soalnya nanti malam kita akan kumpul bersama, menyambut kembalinya kamu di keluarga Wilyam." Jawab Afna menjelaskan.


"Hem ... begitu ya," ucapnya.


"Jangan sensitif, apalagi berpikiran buruk. Kakek Zio tidak bermaksud untuk menjauhimu, kakek Zio ingin menyambutmu bersama kakek Angga di kediaman keluarga Wilyam." Jawab Afna berusaha untuk meyakinkan suaminya.


"Iya, aku percaya kok sama kamu. Siapa lagi yang harus aku percayai duluan selain kamu, bukankah kamu adalah bagian hidupku seutuhnya. Aku jadi penasaran dengan sosok kakek Zio, seperti sesuatu yang spesial." Ucap Zayen yang tiba tiba ada rasa penasaran dengan kakeknya sendiri.


"Aku tidak mengetahui banyak tentang kakek Zio, hanya sebagian saja. Kakek Zio adalah anak angkat dari keluarga Wilyam, kakek Zio berasal dari panti asuhan bersama istri kakek Angga dan Omma Tiara yang tidak lain istri kakek Ferdi. Tidak tahunya sekarang menjadi keluarga, itu saja yang aku tahu. Tentang kisah hidupnya hanya Mama Zeil yang tahu, karena Mama adalah putrinya kakek Zio. Sedangkan Papa kamu adalah menantu dari keluarga Wilyam, itu saja yang bisa aku ceritakan denganmu. Selebihnya tanya saja pada kedua orang tua kamu, biar lebih jelas." Jawab Afna panjang lebar menjelaskannya.


Seketika itu juga, pikiran Zayen melancong kemana mana. Dirinya semakin penasaran untuk mengorek perjalanan kedua orang tuanya maupun kakek dan neneknya.


'Apa perlu, aku meminta Papa dan Mama untuk menceritakan masa lalunya. Tapi ... apakah aku sopan melakukannya, takut sih. Tetapi jika aku tidak mengorek masa lalu Papa dan Mama, mana bisa aku menyelidiki penculikan seorang Adevin ketika masih bayi. Aaah, kenapa aku jadi detektif diri sendiri.' Batin Zayen sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Hem ... kutuan?" Ucap Afna penuh heran dengan suaminya.


"Sudah matang supnya? wah ... pasti sangat menggugah selera nih, aku sudah tidak sabar."


"Sudah siap saji semuanya, tinggal menikmatinya." Jawab Zayen, kemudian menggandeng istrinya masuk kedalam rumah menuju ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, Zayen dan Afna segera duduk berdekatan.


"Selamat pagi, Pa ..." sapa Afna pada ayah mertuanya ramah.


"Pagi juga, Afna. Bagaimana pagimu hari ini?" jawab sang ayah mertua dan menyapanya balik pada menantunya.


"Sangat bahagia, Pa ... benar benar sempurna kebahagiaan yang Afna dapatkan." Jawab Afna dan tersenyum mengembang.

__ADS_1


Dengan telaten penuh perhatian, Zayen mengambilkan sup buat istri tercintanya. Afna sendiri merasa tidak enak hati diperlakukan begitu penuh perhatian dari sang suami, kedua orang tua Zayen maupun Adelyn tersenyum bahagia melihat kemesraan Zayen pada istrinya.


"Aku bisa mengambilnya sendiri, aku sedang tidak sakit." Ucap Afna merasa tidak enak hati didepan mertuanya dan adik iparnya.


"Tidak apa apa, aku ingin memberikan perhatian penuh untuk kamu dan calon buah hati kita. Sesuai janjiku padamu setelah aku bebas dari hukumanku, maka aku tidak akan mengingkari janjiku sendiri kepadamu. Aku akan membuatmu spesial dalam hidupku, dan tidak akan tergantikan selamanya." Jawab Zayen sambil meletakkan mangkok yang berisi sup kesukaan istrinya.


Afna semakin kikuk dibuatnya, ditambah lagi ucapan suaminya yang membuat hatinya meleleh seketika. Tidak hanya itu, kedua orang tua suaminya dan juga sang adik yang terlihat jelas berada dihadapannya.


'Suamiku benar benar nih, kenapa dia tidak kira kira menyuguhkan ucapan manisnya padaku. Mana ada Mama Zeil dan Papa Alfan lagi, ini lagi ada Adelyn.' Batin Afna merasa kikuk dibuat suaminya.


"Sudah dong, sayang. Aku malu sama Papa, Mama, dan Adelyn." Ucap Afna merasa malu.


"Tidak apa apa, dulu Mama dan Papa juga pernah mengalaminya masa masa seperti kalian saat ini. Bahkan sulit untuk digambarkan maupun untuk diceritakan, begitu sempurna kebahagiaan yang didapatkan." Ucap sang ibu mertua ikut menimpali menantunya.


"Apa yang dikatakan Mama ada benarnya, jangan malu. Sebuah ungkapan itu tidak menjadikan masalah, terkecuali sesuatu yang dilakukan jauh dari kesopanan itu tidak baik." Ucap sang ayah mertua kepada menantunya, Afna hanya tersenyum malu.


"Sudah sudah, ayo kita sarapan pagi. Nanti keburu semuanya dingin, dan bisa membuat selera makan kita berkurang." Ucap sang ibu, semuanya pun menjawab dengan serempak.


Sambil menikmati sup daging sapi yang tinggal suapan terakhir, sesekali Zayen memperhatikan istrinya yang sedang menikmati sup buatannya. Terlihat begitu menikmatinya, Zayen meraih mangkok yang ada didepan istrinya.


"Biar aku yang akan menyuapimu, jangan protes." Ucap Zayen sambil meraih mangkoknya, Afna pun sedikit menahannya.


"Aku bisa menyuapinya sendiri, aku masih bisa melakukannya. Aku sedang tidak sakit, serius. Lebih baik kamu menyuapi diri kamu sendiri, ya." Jawab Afna seakan memberi kode dengan tatapannya.


"Aku sudah selesai, lihatlah mangkoknya. Sudah habis, 'kan?" ucap Zayen sambil memperlihatkan mangkok yang sudah kosong miliknya. Lagi lagi Afna tidak dapat menolak permintaan suaminya, mau tidak mau tetap menurutinya.


Kedua orang tua Zayen hanya tersenyum melihat putranya yang begitu sempurna memperlakukan istrinya. Berbeda dengan Adelyn yang tiba tiba status jomlonya meronta ronta.

__ADS_1


'Kapan ya, aku mendapatkan laki laki yang sempurna seperti kak Zayen. Semoga saja, nasibku seberuntung Afna.' Batin Adelyn penuh harap.


__ADS_2