Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Melepas rindu


__ADS_3

Masih dengan posisinya, Afna berdiri tidak jauh dari pandangan suaminya. Keduanya sama sama menatap lekat dalam pandangannya satu sama lain, Zayen yang tidak sabar segera mendekati wanitanya yang terlihat berbeda penampilannya.


Afna terlihat cantik dan juga anggun dengan penampilannya, Zayen pun semakin tidak sabar ingin meluapkan beban rindu yang teramat dalam. Dengan pelan, Zayen maupun Afna sama sama melangkahkan kakinya untuk sama mendekat.


Posisi pada keduanya kini benar benar sangat dekat, hanya tinggal selangkah lagi keduanya dapat melepaskan rasa rindu yang begitu berat disangkanya.


Zayen langsung merentangkan kedua tangannya, ia sudah tidak sabar untuk memeluk wanitanya yang sangat ia cintai dan juga yang sangat ia rindukan selama perpisahan waktu yang tengah menghalanginya. Kedua mata Afna pun berkaca kaca hingga menganak sungai, dan meneteskan air matanya pada kedua pipinya. Tanpa pikir panjang, Afna langsung memeluk suaminya sangat erat. Serasa berat dan benar benar tidak ingin melepaskannya, Afna pun menangis sesenggukan dipelukan suaminya.


Tidak hanya itu, Zayen yang terbilang preman pun ikut menitikan air matanya saat memeluk istrinya. Seakan seperti mimpi ketika memeluk sang istri, sungguh menyakitkan rasanya untuk berpisah dengan wanita yang sangat ia cintainya.


Zayen masih membiarkan istrinya berada dipelukannya, berusaha untuk memberi kenyamanannya. Dengan pelan, Zayen mengusap punggung istrinya berulang ulang. Berharap dapat menenangkan perasaan sedihnya karena rasa rindu yang terpendam.


Semua yang melihat Afna dan Zayen ikut terharu akan pertemuan mereka berdua. Zayen yang tidak ingin membuat yang lainnya merasa iri, dengan berat hati melepaskan istrinya yang berada pada pelukannya.


Kedua matanya kini saling menatap satu sama lain, Zayen mengusap air mata istrinya dengan pelan. Begitu juga dengan Afna, ikut mengusap air mata suaminya yang tengah membasahi kelopak matanya. Keduanya saling menguatkan satu sama lain, berharap untuk sama sama bersabar dalam melewati ujian yang tengah dijalaninya.


Dengan lembut, Zayen mencium kening milik istrinya. Kemudian, ia tersenyum didepan istri tercintanya.


"Aku sangat merindukanmu, sungguh mencintaimu." Ucap Zayen berbisik didekat telinga istrinya, seketika itu juga Afna tersenyum bahagia mendengarkannya.


"Aku pun sangat merindukanmu, bahkan aku sangat takut kehilangan cintamu." Jawab Afna sambil menatap lekat wajah suaminya, kemudian langsung mencium pipi kanan milik suaminya. Zayen pun ikut tersenyum bahagia, ia benar benar merasa terobati rasa rindunya yang sudah terpendam.


"Bagaimana kabar kamu dan calon buah hati kita? baik baik saja, 'kan?" tanya Zayen sambil mengusap bagian perut milik istrinya.

__ADS_1


"Kabar kita berdua baik baik saja, sayang. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?" jawab Afna dan balik bertanya sambil menatap lekat pada suaminya. Zayen tersenyum sambil memegangi kedua lengan milik istrinya.


"Kabarku seperti yang kamu lihat, bahwa aku baik baik saja. Oh iya, ayo kita temui mama dan Papa." Jawab Zayen dan mengajak istrinya untuk menemui kedua orang tuanya yang tengah berdiri bersama ayah mertuanya. Zayen pun lamgsung menggandeng tangan milik istrinya sambil berjalan menuju kedua orang tuanya.


Setelah di hadapan kedua orang tua suaminya, Afna mencium punggung tangan milik mertuanya.


"Afna, bagaimana kabarnya kamu, sayang?" tanya ibu mertua dan memeluknya. Afna pun segera melepas pelukannya, kemudian menatap wajah ibu mertuanya.


"Kabar Afna baik baik saja, Ma. Mama sendiri bagaimana kabarnya? maafkan Afna yang tidak pernah main kerumah Mama." Jawab Afna dan balik menyapa.


"Kabar Mama juga baik baik, sayang. Oh iya, calon cucu Mama baik baik juga 'kan?" tanya ibu mertua.


"Baik baik juga, Ma. Oh iya, mana Adelyn? Afna tidak melihatnya." Jawab Afna, kemudian teringat dengan sosok wanita yang sangat ia kenali.


"Sayang, aku pamit sebentar. Ada sesuatu yang penting yang harus diselesaikan, ini demi kamu dan buah hati kita." Ucap Zayen ikut nimbrung obrolan istrinya bersama sang ibu.


"Ia, aku tidak melarangnya. Semoga berhasil, dan banyak kemudahan untuk menyelesaikannya." Jawab Afna, kemudian tersenyum.


"Zayen nitip Afna ya, Ma. Doakan kita semua agar bisa menyelesaikannya dengan mudah, dan kita dapat berkumpul kembali." Ucap Zayen pada ibunya.


"Semoga berhasil, Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Semoga rencana yang sudah tersusun dengan rapi dapat membantumu, dan kamu tidak lagi harus bertahan ditempat terku*tuk ini." Jawab sang ibu memberi semangat untuk putra kesayangannya.


Tidak lama kemudian, Viko dan Kazza telah datang dengan tepat waktu sesuai perjanjian yang sudah direncanakan.

__ADS_1


"Loh, kok ada kak Kazza dan Viko?" tanya Afna seperti tidak percaya.


"Iya, sayang. Viko dan Kazza memang sudah janjian untuk datang dan membantu memecahkan masalah untuk menambah laporan agar semakin akurat, meski harus mengorbankan Seyn." Ucap sang ibu mertua tertunduk sedih, meski sebenarnya tidak tega. Namun, mau bagaimana lagi kalau bukan Seyn yang harus menjadi korban demi sang adiknya terbebas dari hukumannya.


"Apa? Seyn? maksud Mama bahwa Seyn yang harus menjadi korban itu apa, Ma?" tanya Afna yang masih belum mengerti.


"Seyn tidak akan bisa bebas sebelum dalang penculikan Zayen dapat ditemukan, Seyn akan menetap didalam tahanan ini sampai terkuak semua siapa dalangnya selama ini. Kita semua tidak mempunyai cara lain selain itu, mau tidak mau kita harus siap menerima kenyataan ini demi terkuaknya kejahatan yang sudah menyakiti keluarga Wilyam." Jawab ibu mertua sambil menatap menantunya yang terlihat bersedih.


"Jadi ... seperti itu, Ma ... Afna tidak bisa berkomentar. Afna tahu, Seyn ikut bagian dari kejahatan itu. Maka, Seyn pun yang harus menjadi korban kebia*daban orang yang tidak bertanggung jawab." Ucap Afna yang terlihat lesu, sang ibu mertuanya pun mengangguk pelan.


"Duduklah, tidak baik seorang wanita hamil muda terlalu banyak berdiri." Ucap sang ibu mertua mengingatkan, Afna mengangguk dan langsung duduk dikursi sebelahnya.


"Ma, Afna tadi pesan ayam geprek. Kok belum datang ya, Ma." Ucap Afna heran.


"Kamu tidak salah memberi alamatnya, 'kan?" tanya sang ibu mertua mengingatkan.


"Tidak kok, Ma. Apa mimgkin macet di jalan apa ya, Ma? perasaan tidak jauh dari sini." Jawab Afna, tidak lama kemudian ada salah satu petugas tengah menghampiri Afna.


"Maaf, apakah Nona yang memesan ayam geprek?" tanya salah satu petugas.


"Benar Pak, apakah orangnya sudah datang?" jawab Afna dan balik bertanya.


"Sudah, sekarang ayam gepreknya berada didalam ruangan saya. Kalau begitu, akan saya bawa kemari." Ucapnya, kemudian segera pergi dan mengambil pesanan milik Afna.

__ADS_1


"Terimakasih banyak ya, Pak. Semoga kebaikan bapak selalu mendapat keberuntungan." Jawab Afna, setelah itu juga Afna menberikan beberapa porsi untuk beberapa petugas yang menjaga para tahanan.


__ADS_2