
Waktu yang tinggal beberapa hari menuju hari bahagia, kini tibalah hari yang dinanti nanti oleh sepasang calon pengantin.
Pernikahan yang cukup Mewah, semua para tamu undangan berdatangan hingga memenuhi ruangan.
Calon mempelai perempuan kini tengah bersiap siap dengan baju istimewanya, baju yang hanya ingin sekali dikenakan dalam seumur hidupnya. Vella begitu terlihat cantik nan juga anggun, baju yang dikenakan sangat cocok dengan warna kulitnya serta muka ovalnya.
Setelah selesai dan sudah benar benar siap, sang kakak mendekatinya. Perasaan bahagia, kini telah dirasakan oleh sang kakak. Yang dimana tanggung jawabnya sebagai kakak, hanya menunggu menunggu beberapa jam kemudian akan berpindah tanggung jawabnya pada sang suami Vella nantinya.
Setelah keduanya saling berhadapan, Vella dan Gio pun menunjukkan ekspresi masing masing. Gio yang tersenyum melihat saudara perempuannya, sedangkan Vella mencoba menahan buliran air matanya takut membasahi kedua pipinya.
Nafasnya pun mulai terasa sesak saat hari terakhir tinggal bersama dalam satu atap, kenangan demi kenangan akan terbalut kerinduan yang begitu dalam.
Meski berat, Vella mencoba untuk kuat dan setegar sang kakak yang sedikitpun dapat menyembunyikan sesuatu yang harus pergi.
"Akhirnya, penantian kamu telah kamu terima dengan penuh kebahagiaan. Kakak sangat bahagia melihatmu yang akan menyempurnakan status kamu dan pengabdian kamu terhadap suami kamu. Kakak hanya bisa mendoakan kamu, semoga setelah pernikahan kamu ini akan kamu dapat banyak hal baik pada diri kamu. Kebahagiaan, dan ketentraman dalam rumah tangga." Ucap sang kakak pada adiknya, Vella pun tidak kuasa mendengar ucapan sekata demi sekata dari mulut kakaknya.
"Terima kasih atas doa yang kakak berikan untuk Vella, maafkan Vella yang mendahului kakak. Bukan niat Vella untuk menyakiti perasaan kakak, tidak. Sebenarnya Vella menginginkan kak Gio yang lebih dulu menikah, karena kakak yang paling tua. Maafkan Vella, kak Gio." Ucap Vella yang tidak kuasa menahan buliran air matanya yang menganak sungai. karena sesak didada, akhirnya tangis Vella puji pecah. Gio segera memeluknya, kemudian mengusap punggung sang adik berulang ulang dengan lembut. Lalu melepaskannya kembali, dan menghapus air matanya.
"Sudah lah, kamu tidak perlu menangis, seharusnya kamu itu tersenyum bahagia. Karena apa? karena sebentar lagi kamu akan segera menjemput kebahagiaan kamu bersama calon suami kamu, Kazza. Jangan kamu campurkan tangismu dihari bahagiamu, kakak pasti akan segera menyusulmu." Ucap sang kakak sambil menatap lekat wajah saudara perempuannya, Vella sendiri masih terdiam. Ia bingung untuk berucap, hanya mengangguk pelan pada sang kakak.
"Loh, kenapa kalian berdua seperti main sinetron? Vella, kamu menangis?" tanya sang ibu kaget melihat kedua anaknya yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Vella tidak menangis kok, Ma. Vella hanya merasa sedih, karena Vella harus mendahului kak Gio." Jawab Vella sambil mengusap air matanya.
"Jodoh, kita semua tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha untuk mencarinya sambil memperbaiki diri, karena kita sendiri tidak tahu siapa jodoh kita dan kapa akan dipertemukan nya. Jadi, kita hanya seperti menunggu giliran. Sudahlah, jangan menangis lagi. Nanti wajah cantik kamu tidak lagi terlihat cantik, justru akan terlihat sembab." Ucap sang ibu mengingatkan, Vella pun mengangguk.
"Nah, gitu dong. Jangan menangis, kakak saja tidak bersedih. Seharusnya kamu itu menunjukkan ekspresimu itu dengan senyum bahagia, bukan menangis." Ucap sang kakak menimpali.
__ADS_1
"Bagaimana ini? apakah kamu sudah siap?" tanya sang ayah yang juga tiba tiba datang menemui putrinya.
"Papa ..." seru Vella memanggil sang ayah dan memeluknya, kemudian sang ayah melepaskan kembali. Belia tidak ingin suasana sedih akan menyelimuti perasaannya, sang ayah pun mencoba untuk menunjukkan ekspresi bahagia. Agar putrinya tetap tersenyum, dan terlihat bahagia.
"Ingat, jangan bersedih. Hari ini adalah hari bahagiamu bersama pasangan kamu, hari yang dimana sudah kamu dan calon suami kamu dinanti nantikan sebelumya.Jadi, tersenyumlah dan bahagia." Ucap sang ayah menatap putrinya dan tersenyum.
Sedangkan Vella akhirnya pun tersenyum dan menunjukkan senyum bahagianya didepan sang ayah maupun ibunya dan sang kakak.
Sedangkan calon mempelai laki-laki kini tengah dalam perjalanan menuju gedung pernikahan, begitu banyak rombongan keluarga mempelai laki laki dari keluarga Wilyam dan Danuarta. Keduanya adalah keluarga yang sangat erat hubungannya dari awal sang pemilik nama hingga pada keturunan keturunannya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa telah sampai didepan sebuah gedung yang sangat besar serta menjulang tinggi. Gedung tersebut adalah kepunyaan keluarga Wilyam, yang selalu dipakai oleh keluarga maupun teman dekat yang memiliki acara khusus dan istimewa.
Kazza sendiri masih fokus dengan pandangannya keluar jendela, ia tidak menyadari jika dirinya telah sampai didepan gedung yang didalamnya terlihat sangat istimewa.
Semua para tamu undangan tengah memadati ruangan pesta pernikahan Vella Gantara dan Kazza Danuarta.
Kazza pun kaget dibuatnya, segera ia menyadarkan diri dari lamunannya itu.
"Mama, kita sudah sampai?" tanya Kazza seperti mimpi.
"Memangnya yang kamu lihat ini, kita ada dimana Za? apa iya, kita sedang berada didepan kantor? mimpimu terlalu jauh, dan dudukmu terlalu miring." Jawab sang ayah ikut menimpali.
"Dih, Papa sudah kaya anak muda aja bicaranya. Sampai sampai mengatai Kazza duduknya terlalu miring lah, mimpinya terlalu jauh lah, hem." Ucap Kazza, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Sudah sudah, ayo kita turun. Jangan sampai kita membuat mereka mereka menunggu lama, kasihan para tamu undangan." Ajak sang ibu pada sang suami dan putranya, Kazza pun hanya mengangguk dan segera melepaskan sabuk pengamannya seperti kedua orang tuanya.
Setelah keluar dari mobil, Kazza berdiri tegak dan menatap gedung yang cukup besar dan menjulang tinggi dihadapannya. Dirinya seperti mimpi jika hari ini adalah hari pernikahannya.
__ADS_1
Kazza kembali memeriksa penampilannya sendiri, dan ia baru menyadari bahwa dirinya tidak lagi sedang bermimpi. Setelah itu, Kazza tersenyum membayangkannya. Tanpa disadari, Kazza yang sedari senyum senyum tidak jelas tengah diperhatikan yang lainnya.
PUK!!
"Kak, senyumnya dilanjutkan nanti lagi. Sekarang, ayo kita masuk." Ajak saudara kembarnya setelah menepuk punggung kakaknya yang tengah melamun dan sambil senyum senyum tidak jelas, Kazza pun langsung menoleh kesamping.
Dilihatnya saudara kembarnya yang sudah berdiri disebelahnya.
"Hem, iya ya." Jawab Kazza, kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam gedung.
Langkah kaki Kazza beriringan dengan kedua orang tuanya, sedangkan saudara kembarnya dengan sang suami mengikutinya dari belakang.
Kehadiran mempelai laki laki serta pengiringnya disambutnya begitu hangat, sapaan senyum yang diberikan maupun yang diterimanya.
Sesampainya didalam ruangan khusus mengucapkan kalimat sakral, Kazza dan Vea dipertemukan nya didalam ruangan tersebut.
Kedua matanya saling menatap satu sama lain, keduanya sama sama kikuk dibuatnya. Sebisa mungkin, Kazza maupun Vella berusaha untuk tenang.
Ketika kalimat sakral akan diucapkannya, semua para saksi dan yang lainnya seketika hening.
Disaat itu juga, kalimat demi kalimat sakral telah terucap dibibir Kazza. Semua haru mendengarnya, kebahagiaan yang sudah dinanti nantikan oleh sepasang insan, kini telah terkabul dan menjadi nyata.
Kini, keduanya tidak lagi memendam perasaannya masing masing. Sebuah pengakuan dan bukti telah diperlihatkan nya. Hingga keduanya mencapai kebahagiaannya dalam sebuah ikatan yang bernama pernikahan.
Hei readers setia ... kalian semua dapat undangan loh, dari Kazza dan Vella. Ayo ayo kita datangi acara pernikahan mereka berdua. Jangan lupa, bawa pasangannya. Jika tidak punya pasangan, masih ada babang Gio loh
😃😃
__ADS_1