Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kenyataan


__ADS_3

Di tempat lain, seseorang sedang meluapkan kekesalannya.


"Bodoh! kalian semua. Menculik satu orang sakit saja tidak becus!!"


"Maaf Tuan, saya tidak mengetahui jika rumah sakit tersebut sedang diawasi oleh pemiliknya. Yang tidak lain adalah tuan Raska Gantara, yang tidak kalah pintarnya dengan tuan Alfan."


"Gara gara keto*lolan kalian! rencanaku gagal karena otak bod*oh kalian semua."


"Memb*unuh satu orang saja, kalian tidak bisa."


"Maaf Tuan, apa perlu saya habisi nanti malam." Ucap salah satu anak buahnya dengan gemetaran.


"Jangan! aku yang akan mencari cara lain untuk menghancurkan dengan tanganku sendiri." Jawabnya dengan mengepal kedua tangannya dengan sorot matanya yang tajam.


Sedangkan di rumah sakit sedang genting, tuan Raska pun akhirnya mengatakannya dengan jujur.


"Golongan darah Zayen sangat langka, dan susah untuk didapatkannya. Dokter mengatakannya, bahwa golongan dara milik Zayen adalah O-, sedangkan stok golongan dara O- tidak dapat menerima selain golongan itu sendiri." Jawab tuan Raska menjelaskan.


"Golongan darah O-, benarkah? tuan tidak bohong?" tanya tuan Alfan yang masih penasaran. Sedangkan tuan Tirta sendiri sangat lemas mendengarkannya.


"Golongan darahnya sama dengan tante Qinan dan juga papa, tapi sudah usia lanjut. Sedangkan golongan darahku tidak sama, sedangkan ayah Zayen dan Seyn juga sama terlukanya. Kazza ... iya Kazza golongan darahnya juga sama. Tapi ... apa mungkin dia mau mendonorkan darahnya untuk Zayen." Ucap tuan Tirta sedih.


"Golongan darahku O-, jangan khawatir. Aku akan mendonorkan darahku untuk Zayen, percayalah padaku." Jawab tuan Alfan meyakinkan tuan Tirta.


"Baiklah kalau begitu, sekarang aku mau melakukan transfusi darah. Aku tidak ingin semuanya terlambat, aku harus segera menolong Zayen." Ucap tuan Alfan penuh yakin.


Baru saja, tuan Alfan akan keluar. Seorang Dokter telah masuk kedalam ruangan untuk mengontrol kondisi Zayen, semua ikut tegang didalamnya.


"Maaf, apakah sudah menemukan pendonor darah untuk pasien?" tanya sang Dokter.


"Saya yang akan mendonorkannya, Dok." Jawab tuan Alfan penuh yakin.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu mari ikut saya." Ajak sang Dokter, tuan Alfan pun mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di ruangan, tuan Alfan berusaha untuk tenang saat diambil darahnya. Sedangkan tuan Tirta mencoba menghubungi putranya, untuk dimintai mendonorkan darahnya kepada Zayen.


"Halo, Kazza. Sekarang kamu ada dimana? apakah papa boleh meminta bantuanmu?"


"Bantuan apa, Pa? katakan."


"Papa sangat mohon sekali denganmu, Kazza. Tolonglah papa untuk kali ini saja, Papa minta sama kamu datanglah ke rumah sakit. Zayen membutuhkan pertolongan, hanya kamu yang bisa menolongnya. Datanglah ke rumah sakit untuk donor darah kepada Zayen, kasihan adikmu Afna. Jika sampai Zayen tidak dapat tertolong, papa mohon." Jawab sang ayah memohon.


"Tidak, Pa. Kazza tidak mau, cari pendonor lain saja." Tut tut tut tut ... sambungan telfon pun dimatikan begitu saja oleh Kazza. Entah setan mana yang kini tengah merasuki pikiran Kazza hingga sikapnya berubah begitu saja.


Tuan Tirta pun sangat sedih mendengarkanny, Kazza yang selalu peduli akan kesusahan orang lain menjadi hilang rasa simtinya. Tuan Tirta benar benar tidak menyangkanya, sungguh sangat kecewa terhadap putranya.


"Ada apa tuan Tirta? apa ada masalahkah dengan Kazza?" tanya tuan Raska penasaran.


"Iya, tuan Raska. Sekarang sikapnya kini telah berubah, bahkan sangat menbenci Zayen. Aku sendiri tidak mengerti dengan sikap Kazza yang sekarang ini, benar benar berubah." Jawab tuan Tirta sambil menarik nafas panjangnya, dan mengeluarkan dengan kasar.


"Aku rasa, Kazza telah dihasut untuk dijadikan kambing hitamnya. Tapi, aku sendiri tidak tahu siapa pelakunya. Aaah iya, aku sendiri belum melihat keadaan tuan Arganta dan Seyn." Jawabnya, kemudian teringat akan keadaan besannya sendiri yang juga mendapatkan tembakan.


"Silahkan, jika tuan ingin melihat kondisi besan tuan sendiri. Aku yang akan menjaga Zayen, pergilah jangan khawatir." Ucapnya meyakinkan.


"Baiklah, aku akan menemuinya sekarang. Aku titipkan menantuku kepada kamu. Semoga saja, tuan Arganta juga dirawat di rumah sakit ini." Jawabnya, kemudian segera mencari tuan Arganta di rawat.


Saat hendak mencari keberadaan tuan Arganta, tuan Tirta berpapasan dengan tuan Alfan.


"Tuan Tirta, mau kemana?" tanya tuan Alfan penasaran.


"Aku mau menemui mencari keberadaan tuan Arganta di rawat. Aku yakin, pasti dirawat di rumah sakit ini." Jawabnya penuh yakin.


"Apakah aku boleh ikut? tapi ... Zayen dengan siapa?"

__ADS_1


"Zayen dijaga oleh tuan Raska, dan aku sudah berpamitan untuk mencari keberadaan tuan Arganta di rawat."


"Baiklah, jugaan aku sudah memerintahkan anak buahku untuk berjaga jaga jika ada orang asing yang ingin mencelakai Zayen." Pungkasnya.


"Mari, ayo kita mencari keberadaan tuan Arganta." Ajak tuan Tirta.


Setelah mendapati ruang rawat tuan Arganta, tuan Alfan dan tuan Tirta segera menemuinya.


"Semoga ini benar ruang rawatnya, ayo masuk." Ajak tuan Alfan sedikit takut, jika tuan Tirta akan bertambah emosi melihat besannya itu.


Ceklek, dengan pelan tuan Alfan membuka pintunya. Kedua matanya pun terbelalak saat melihat tuan Arganta sedang dibekap dengan sebuah bantal oleh seseorang dengan penampilan yang serba hitam, menggunakan topeng dan juga menggunakan sarung tangan.


BUG!!! tuan Alfan melayangkan tinjuannya kearah orang tersebut.


"Aw!!" brengsek!" ucapnya dengan spontan, kemudian mendorong tuan Alfan dengan kuat, hingga tubuhnya terpental mengenai kursi.


BUG!!! tuan Tirta ikut melayangkan tinjuannya. Namun tidak disangka juga, laki laki asing tersebut tenaganya jauh lebih kuat. Tuan Tirta dibuatnya jatuh ke lantai, dan orang tersebut kabur begitu saja.


Dengan cepat, tuan Alfan segera menekan tombol untuk memanggil sang Dokter.


"Tuan, sabar tuan. Aku mohon bertahanlah, sebentar lagi Dokter akan segera datang." Ucap tuan Alfan mencoba menenangkan, sedangkan nafas tuan Arganta semakin sesak kembang kempis.


"Tuan Tir-ta, ma-af. Tu-an Al-fan, a-ku min-ta ma-af." Ucap tuan Arganta terbata bata, sedangkan tuan Alfan sendiri bingung dibuatnya, dirinya tidak mengerti dengan ucapan tuan Arganta yang bisa mengetahui namanya.


Tuan Tirta maupun tuan Alfan sama sama saling melempar pandangan, keduanya saling menggelengkan kepalanya dan benar benar heran dengan tuan Arganta yang tiba tiba menyebut nama tuan Alfan.


"Katakan, kenapa tuan Arganta bisa mengenal nama saya." Tanya tuan Alfan semakin penasaran.


"Za-yen, di-a bu-ka-n put-raku. Tap-pi pu-tra-mu." Jawab tuan Arganta terbata bata dengan nafasnya yang begitu berat.


"Apa!!!!!! katakan, siapa kamu. Siapa yang menyuruhmu! tuan. katakan! cepat! katakan." Ucap tuan Alfan sambil menggoncangkan tubuh tuan Arganta, berharap akan jawaban selanjutnya siapa dalang dari semuanya. Tanpa disadari, saat kalimat terakhirnya tuan Arganta, disaat itulah tuan Arganta telah menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


Tuan Alfan maupun tuan Tirta seperti tidak percaya saat mendengar penuturan dari tuan Arganta. Sangat disayangkan, saat tuan Arganta berkata jujur, disaat itu juga tuan Arganta menghembuskan nafas terakhirnya. Tuan Alfan tertunduk sedih, bercampur bahagia. Kedua matanya pun menganak sungai, tubuhnya terasa lemas.


__ADS_2