
Seyn yang melihat mantan kekasihnya hanya bisa menunduk penuh penyesalan. Namun, tidak membuatnya untuk membencinya. Hanya penyesalan yang Seyn rasakan atas perbuatannya selama ini.
Zayen masih pada posisinya yang memeluk erat sang istri, berusaha untuk memberi ketenangan agar tidak larut dalam kesedihannya.
Kazza maupun Vella hanya berdiam diri saat menyaksikan sepasang suami istri yang tengah saling melepas rasa rindu.
"Vella, ikut aku untuk menjauh dari hadapan Afna dan juga Zayen. biarkan mereka berdua melepaskan rasa rindunya, Afna sedang hamil. Aku tidak ingin mengganggunya, aku ingin keduanya dapat meluapkan meg udahannya masing masing." Perintah Kazza, Vella pun hanya mengangguk dan mengikuti langkah Kazza yang menyingkir dari hadapan sang adik.
Kini tinggal lah Zayen yang masih memeluk sang istri yang tidak jauh pandangannya dari Seyn dan tahanan yang lainnya.
Afna masih menitikan air matanya, begitu berat untuknya menahan sesak pada nafas beratnya. Berkali kali Zayen mengusap punggung milik istrinya, berharap akan reda kesedihannya. Namun apa dayanya yang masih hamil muda, pastinya sangat membutuhkan perhatian dari suami tercintanya.
Zayen mencoba melepaskan pelukannya, dan ditatapnya wajah sang istri yang tengah menangis sesenggukan. Dengan pelan, Zayen mengusap air matanya dan tersenyum. Namun tetap saja, Afna tidak dapat untuk tersenyum walaupun hanya sekilas.
"Kenapa kamu menangis? lihatlah suami kamu ini, masih sehat 'kan?" tanya Zayen dan menunjukkan bahwa dirinya baik baik saja didepan sang istri, dan tentunya tidak menunjukan jika dirinya sedang menahan rasa sakit pada kedua kakinya. Sebisa mungkin, Zayen menunjukkan dirinya baik baik saja tanpa ada keluhan sedikitpun.
"Aku benar benar tidak tega melihat penampilan kamu yang sekarang ini, ingin rasanya aku membawamu untuk segera pulang. Aku bisa gila tanpamu, sayang. Aku sangat membutuhkan perhatianmu, aku kesepian." Jawabnya sambil menatap lekat wajah sang suami yang kini tengah dirindukannya, Afna membali memeluk tubuh suaminya. Afna kembali menitikan air matanya hingga kedua matanya terlihat sangat sembab.
"Sudah, kasihan yang lainnya. Hanya bisa melihat tingkah kita ini, mereka mereka pun juga ikut merindukan seseorang yang dicintainya." Ucap Zayen didekat telinga sang istri dan mengingatkannya, kemudian segera ia melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Zayen kembali menatap istrinya, kedua tangannya memegangi bahu milik istrinya. Kemudian ia segera mencium lembut pada kening milik istri tercintanya yang kini tengah dirindukannya. Lagi lagi Seyn hanya bisa menatapnya, meski sebenarnya ada rasa iri dan juga penyesalan tentunya. Namun, segera ia menepis pikiran buruknya.
'Andai saja, aku tidak menuruti kemauan Papa. Mumgkin sekarang sedang bahagia bersamanya dan hidup normal tanpa haus kekuasaan. Bodohnya aku yang kurang bersyukur memiliki wanita seperti Afna, sudah baik dan dari keluarga baik pula.' Batin Seyn penuh sesal akan perbuatannya selama ini.
"Dimana kak Kazza dan Vella? sepertinya aku tadi melihatnya, kenapa tiba tiba menghilang." Tanya Zayen sambil celingukan.
"Mungkin sedang keluar sebentar, atau ada keperluan yang lainnya. Oh iya, aku membawa beberapa porsi makanan untuk kamu dan juga yang lainnya. Aku ingin menemanimu makan dan juga mendapatkan suapan darimu, jika kamu tidak keberatan." Jawab Afna dengan tatapan memohon.
"Tapi ... bagaimana dengan kak Seyn? aku merasa tidak enak untuk makan berdua denganmu. Sedangkan kak Seyn hanya bisa menjadi penonton, mau bagaimanapun dia itu kakakku. Bukannya aku menolak, tapi kak Seyn pernah singgah dihatimu." Ucapnya sedikit takut menyakiti perasaan istrinya, mau tidak mau Zayen mengatakannya.
Afna pun menyadarinya, bahwa tindakannya kini dapat membuat orang lain terpancing emosinya. Disaat itu juga, Afna masih diam dan bingung untuk menjawabnya. Sedih? pastinya, sesuatu yang sangat diharapkan kini harus terhalang.
Karena tidak ingin membuat sang istri kecewa, Zayen berusaha merayu petugas berbagai macam cara agar dapat memanjakan istrinya. Dengan mudahnya, Zayen dapat merayu petugas untuk memenuhi permintaannya.
"Sayang, berikan kepadaku beberapa porsi untuk yang lainnya." Pinta Zayen.
"Ini, aku membawanya ada lima porsi. Masih kurang ya? soalnya ibu yang menyiapkannya." Jawabnya takut ada yang kurang.
"Tidak, jumlah porsinya cukup kok." Ucap Zayen dan tersenyum, Afna pun menyerahkan tas kecil yang berisi lima porsi makanan. Zayen pun menerimanya, kemudian membagikannya kepada teman dalam satu ruangan yang juga ada Seyn kakaknya.
__ADS_1
"Afna membawanya untuk kita, terima lah." Ucap Zayen sambil memberikan satu porsi untuk kakaknya, Seyn pun sedikit berat untuk menerimanya. Ingin menolaknya, namun takut menyinggung perasaannya. Begitu juga ingin menerimanya, Seyn pun merasa malu dan tidak enak hati. Sungguh sangat memalukan, pikir Seyn.
"Terimakasih Zayen, maafkan aku yang sudah merepotkan kamu." Jawab Seyn sambil menerimanya, Zayen pun hanya tersenyum.
"Aku mau menemani Afna sebentar, maaf jika aku tinggal sebentar." Ucap Zayen dan berpamitan pergi meninggalkan Seyn yang duduk bersama kedua temannya.
"Mari pak, antarkan saya ke tempat yang akan bapak tunjukan kepada saya." Ucap Zayen kepada salah satu petugas, kemudian segera ditunjukkannya tempat yang dimaksudkan.
Kini tinggal lah Zayen dan Afna didalam ruangan kecil, namun cukup untuk istirahat sejenak.
Dengan telaten, Afna membuka satu porsi makanan yang ia bawa. Zayen pun meraihnya dan segera menyuapi sang istri sesuai permintaannya.
"Sini, biar aku saja yang menyuapi kamu. Bukankah kamu menginginkan suapan dariku? kamu diam saja." Ucap Zayen membuka suara, kemudian menyuapi istrinya, tiba tiba Afna menahannya.
"Aku maunya dengan tanganmu yang tidak lain jari jemarimu itu untuk menyuapiku, bukan dengan sendok ini." Jawab Afna yang terlihat penuh harap, Zayen pun teringat akan kehamilan muda istrinya. Sesuatu yang diinginkannya akan berubah berubah, Zayen berusaha untuk menutupi rasa bersalahnya. Meski sangat sakit untuk melewatinya, sebisa mungkin untuk bersabar dengan seiringnya waktu.
"Baiklah, jika maunya dengan jari jemariku. Aku akan mencuci tanganku agar tidak lengket, sebentar." Ucap Zayen dan segera mencuci tangannya.
Dengan telaten, Zayen menyuapinya penuh perhatian. Afna pun tersenyum mengembang saat menerima suapan dari suami yang ia cintai. Tidak hanya itu, keduanya pun saling bergantian menyuapinya. Begitu lembut dan perhatian suaminya membuat Afna tidak ingin jauh dari sang suami, Afna masih ingin selalu bersamanya.
__ADS_1
'Maafkan aku, sayang. Aku berjanji, secepatnya aku akan meninggalkan tampat ini. Aku benar benar tidak tega melihatmu bersedih dan pastinya sangat sulit untuk kamu lewati masa masa hamil mudamu seorang diri tanpa ada aku disampingmu. Semoga saja, masalah ini akan cepat terselesaikan dan tidak harus mengulur ngulur waktu. Aku pun sudah tidak sabar untuk meninggalkan tempat terku*tuk ini.' Batin Zayen sambil menikmati makan bersamanya dalam satu wadah.