Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Menahan rasa sakit


__ADS_3

Afna yang terbawa suasana dalam perjalanan, hingga dirinya tidak menyadari jika sudah sampai didepan rumah. Afna sendiri masih merasa nyaman saat menyandarkan kepalanya ke punggung suaminya. Tiba tiba dirinya tersadar dari lamunan panjangnya.


"Kenapa kita masih berada dimotor, ayo turun ..." ajak Afna yang sudah tersadar dari lamunannya.


"Tin tin tin ........!! suara klakson mobil sengaja dikeraskan, agar bisa mengganggu Zayen dan Afna yang belum juga turun dari motornya. Keduanya sama sama menoleh kebelakang, tepatnya pada suara mobil yang sudah masuk ke pekarangan rumah milik Zayen.


"Viko!!" awas kamu, bikin jantungku mau copot saja." Ucap Zayen berdecak kesal.


"Mungkin Viko hanya meledek, jangan kamu perpanjang masalah. Ayolah bersahabat dengan situasi seperti apapun." Ujar Afna berusaha untuk mengingatkan.


Tidak berselang lama, Viko dan ibu tukang pijat segera turun dari mobil dan tiba tiba Zayen langsung membuang rasa kesalnya.


'Kamu masih beruntung, Viko. Andai saja kamu datang tidak membawa tukang pijat, sudah aku pastikan kamu akan aku beri hukuman.' Batin Zayen dengan kesal pastinya.


"Bos!! jadi pijat, 'kan?" tanya Viko sambil melihat Afna yang masih melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Zayen.


'Sepertinya Bos Zayen berhasil memikat hati nona Afna, dan begitu juga dengan Nona Afna yang sudah merasa nyaman dengan Bos Zayen. Percayalah, Nona ... bahwa Bos Zayen tidak akan pernah mengecewakan Nona.' Batin Viko sambil melamun.


"Viko!! mes*um kamu, Ya! Kemana larinya bola mata kamu itu! hem!!" Teriak Zayen memanggil Viko yang ketangkap basah saat sorot kedua mata Viko tertuju pada istrinya.


Viko pun langsung gelagapan saat Zayen memergokinya. Begitu juga dengan Afna, tiba tiba Afna kaget dibuatnya. Ingin rasanya segera meredamkan emosi suamiaminya yang sering kambuh jika emosinya terpancing.


"Maaf, Bos. Aku hanya terbawa suasana saja, hingga aku kurang fokus." Jawab Viko beralasan dan merasa sedikit takut dengan tatapan tajam dari seorang Zayen.


"Awas saja jika kamu ulangi lagi, Viko. Akan aku kirimkan kamu ke ujung gunung merapi." Ancam Zayen sambil menajamkan kedua matanya.


Sedangkan Afna sendiri bingung dengan tingkah keduanya, yang menurut Afna sangatlah Aneh dengan sifat pada suami dan juga Viko. Yang pasti, Afna masih belum mendapat jawaban yang menurutnya jelas dan akurat antara mana yang Bos dan mana yang anak buah. Ditambah lagi dengan fasilitas yang dimiliki oleh Zayen sama Viko sangatlah berlawanan jika harus terbalik dengan posisi keduanya.

__ADS_1


Zayen yang sudah melihat kedatangan tukang pijat, dirinya segera menggendong istrinya untuk masuk kedalam rumah.


"Viko! tangkap! cepetan buka pintunya." seru Zayen panggil Viko sambil melemparkan kunci rumah miliknya.


"Baik, Bos!" jawab Viko sambil menangkap kunci yang dilemparkan Zayen.


Lagi dan lagi, Afna pun masih bingung jika melihat Viko yang begitu nurut akan semua perintah dari Zayen. Tetapi, jika dilihat dari penampilan Viko lah yang terlihat lebih mewah dan rapi. Tetapi kenyataannya seperti dunia terbalik.


'Aku semakin penasaran dengan sosok Viko, tampan dan sukses. Tetapi kenapa begitu nurut dengan suamiku, apakah suamiku mamang benar benar preman kelas kakap. Hingga bisa memperalat Viko yang terlihat polos gitu, kasihan sekali.' Batin Afna dengan posisi yang digendong suaminya.


Setelah Viko membuka kunci pintu rumah, Zayen langsung masuk dan diikuti oleh tukang pijat dan Viko dari belakang. Sesampainya diruang tamu, Viko maupun Ibu tukang pijat duduk dengan santai sambil menunggu Zayen keluar dari kamarnya.


Dengan pelan, Zayen menurunkan Afna di atas tempat tidur. Afna tersenyum saat dirinya menatap wajah suaminya dengan posisi membungkukkan badannya. Zayen pun menatap lekat istrinya dengan seksama, dipandanginya wajah istrinya yang terlihat begitu manis dan cantik membuat Zayen terasa ketagihan.


Semakin mendekatkan wajahnya, Zayen menc*ium bib*ir ranum milik istrinya dengan lembut.


'Bagaimana aku tidak berpikiran kotor, kamu saja sudah membuat jantungku berdegup kencang.


Zayen kembali menatap istrinya dan tersenyum, kemudian segera keluar dari kamarnya untuk memanggil tukang pijatnya.


"Bu, silahkan masuk. Istri saya sudah menunggunya didalam, dan kamu Viko! tunggu di sini." Ucap Zayen sambil berdiri tegak, kemudian kembali masuk ke kamar untuk menemani istrinya saat melajukan pemijatan. Sedangkan ibu tersebut mengikuti langkah kaki Zayen dari belakang.


Sesampainya didalam kamar, Afna sudah duduk bersandar di atas tempat tidur dengan posisi kaki yang diluruskan. Zayen pun ikut duduk disamping Afna untuk menjadi pegangan istrinya dikala sedang menahan rasa sakit pada kakinya yang sedang dipijat.


"Selamat siang, Nona ... bagaimna kabar Nona, hari ini?" sapanya dengan ramah.


"Ibu Marna, kabar saya baik baik saja. Ibu Marna sendiri, bagaimana kabarnya?" jawab Afna dan menyapa balik.

__ADS_1


"Kabar Ibu, sama seperti Nona. Apaka Nona sudah siap? jika belum, jangan dipaksakan." Jawab ibu Marna bertanya kembali.


"Pastinya, saya sudah siap." Jawab Afna penuh percaya diri.


"Sukurlah, Nona. Akhirnya, keadaan Nona sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya." Ucapnya, kemudian ibu Marna segera mempersiapkan sesuatu yang akan digunakan untuk memijat Afna.


Sedangkan Zayen hanya menjadi pendengar setia istrinya dan juga ibu Marna.


"Ditahan ya, Non. Jangan tegang, nanti otot ototnya akan semakin tegang. Dibuat rileks jauh lebih baik, Non ...." pinta ibu Marna memberi saran.


"Iya, Bu.. Afna akan mencobanya.


Afna mencoba mengikuti saran ibu Marna, meski kenyataannya sulit. Ibu Marna kini memulai untuk memijat kaki milik Afna dengan pelan. Afna mulai merasakan sensasi nyeri pada kakinya, dan mencoba untuk menahannya. Tidak hanya itu saja, Afna meringis kesakitan dan mulai mencengkram lengan suaminya dengan kuat.


Zayen tetap menahannya, meski cengkraman dari istrinya lumayan cukup kuat.


"Aaaaw!! sakit! pelan pelan, Bu .... kakiku sakit .. aw! aduh! sakit ...." Rengek Afna berkali kali sambil mencengkram lengan suaminya.


"Sabar ya, Non ..... tidak lama, kok. Ditahan, Non. Jangan tegang, lemaskan kakinya." Pinta ibu Marna mencoba menenangkan Afna yang merengek menahan sakit.


"Masih lama ya, Bu. Aduh! sakit. Sudah dong, Bu ... sakit ... aduh! sakit banget, Bu ... kapan udahannya, Bu ... aaaaw!! sakit!" rengek Afna berkali kali menahan rasa sakit.


"Sudah, ditahan dulu. Bukankah kamu ingin bisa jalan kembali, sabarlah. Tidak lama lagi juga selesai, ditahan dulu. Kamu jangan khawatir, masih ada aku didekat kamu." Ucap Zayen mencoba menenangkan istrinya, sedangkan Afna tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan suaminya. Afna masih terus meringis menahan sakit.


"Sebentar, setelah ini selesai. Sabar ya, Non .... biar kaki Nona cepat sembuh dan bisa berjalan lagi." Udah ibu Marna yang terus menenangkan Afna yang masih terus menahan rasa sakit yang begitu hebat pada kaki kanannya.


"Sudah ..... bagaimana rasanya, Nona? coba digerakkan pelan pelan. Jangan dipaksakan jika masih nyeri maupun sakit yang hebat. Biarkan lemas dulu jika tidak kuat untuk digerakkan." Ucap ibu Marna memberi saran, Afna pun mengangguk.

__ADS_1


Dengan pelan, Afna mencoba menggerakkan kaki kanannya. Kedua mata Afna terbelalak, begitu juga dengan Zayen yang juga tidak menyangkanya. Senyum mengembang kini terlihat dari kedua sudut bibir Afna maupun suaminya.


__ADS_2