
Zayen masih pada posisinya, menatap luar sambil menyilangkan kedua tangannya pada dada bidangnya.
Afna yang merasa capek dengan posisinya, akhirnya Afna memilih untuk menatap kedepan. Sesekali menoleh kesamping, yang tidak lain kearah suaminya sendiri, Afna dan Zayen sama sama menoleh kearah satu sama lain. Zayen pun meringis sambil meninggikan satu alisnya terlihat sedang menggoda.
Afna sendiri sama sekali tidak ikut tersenyum, dirinya tetap memasang muka masamnya. Karena semakin gemas, Zayen menggeser tempat duduknya hingga posisinya sangat dekat. Bahkan, Afna kesulitan untuk mengatur pernapasannya.
"Hemmm ... kamu kenapa diam? sedang berpuasa? maksud aku marah?"
"Tidak, aku hanya ingin diam saja. Kenapa, kamu curiga?"
"Tidak, untuk apa curiga, bukankah kamu sudah tergila gila denganku?"
"Kepedean,"
"Sama istri sendiri kenapa tidak. Oh iya, rumah kakek kamu masih jauh?"
"Tidak, sebentar lagi juga sampai."
"Oooh! kenapa tidak tinggal bersama kedua orang tua kamu?"
"Kakek dan Nenek tidak mau, katanya bosan tinggal di Kota. Semua kenangan sudah dimiliki, sekarang lebih memilih untuk tinggal di desa. Berbeda dengan kakek Angga dan Omma Qinan. Mereka tetap tinggal bersama dengan anaknya dan juga ketiga cucunya."
"Kakek Angga, siapa dia? banyak sekali keluarga kamu."
"Istri kakek Angga adalah adik dari kakek Ferdi, yang pernah hilang lebih dari dua puluh tahun. Dan kini harus terulang kembali dengan anaknya tante Zeil, yang juga entah kemana keberadaannya. sudah lebih dari dua puluh tahun, tetapi anak laki lakinya yang telah hilang. Namanya Adevin, kembarannya Adelyn. Tetapi keluarga memanggilnya dengan sebutan nama Devin, kata mama sih mau dijodohkan dari kandungan. Tetapi ternyata jodohku adalah kamu, yang tidak akan bisa tergantikan." Jawabnya menjelaskan, kemudian bersandar pada pundak suaminya.
"Rumit sekali perjalan kehidupan keluarga kamu, untung saja aku tidak ada tugas hafalan anggota keluarga kamu. Kalaupun iya, aku nyerah."
"Jangan salah. Besok dalam acara keluargaku kamu akan diperkenalkan begitu banyak dalam keluargaku. Aku yakin, kamu pasti dapat menghafalnya." Ucap Afna dan tersenyum.
"Ah! malas sekali harus menghafalnya, bukan typeku untuk menghafal anggota keluarga." Jawabnya santai, sedangkan Afna sudah terlelap dari tidurnya dan bersandar pada suaminya.
__ADS_1
'Bukan aku tidak mau, aku sendiri tidak tahu keluargaku itu siapa. Lantas untuk apa aku menghafal siapa siapanya keluarga yang tidak penting untukku." Batinnya teringat segala sesuatunya dengan keluarga Arganta.
Setelah menempuh waktu yang lumayan cukup jauh dan lama dalam perjalanan, kini telah sampai dihalaman rumah kakek Ferdi. Afna masih dalam posisi tidurnya, sedangkan Zayen tidak ingin membangunkan istrinya yang terlihat sedang tidur pulas dengan posisi bersandar pada suaminya.
"Zayen, ayo turun. Kita sudah sampai didepan rumah kakek." Ucap Ibu Mertua sambil ketuk ketuk kaca jendela mobil, Zayen sendiri langsung membuka pintunya.
"Afna sedang tidur, Ma. Sebentar lagi kami akan segera turun."
"Oooh, Afna sedang tidur. Jika kamu tidak keberatan, kamu gendong Afna sampai ke didalam kamar ya, nak Zayen."
"Iya, Ma ..."
Karena permintaan dari ibu Martua, Zayen segera menggendong istrinya sampai kedalam. Afna sendiri masih dalam posisi tidur pulasnya, hingga dirinya tidak sadarkan diri jika sudah sampai di rumah kakeknya.
Dengan hati hati, Zayen menggendong istrinya hingga sampai kedalam kamar yang sudah disiapkan. Pelan pelan Zayen menurunkan istrinya diatas tempat tidur, kemudian segera membenarkan posisi istrinya dengan benar.
'Lebih nyaman tinggal di Desa rupanya, selain damai juga sepertijya sangat nyaman.' Batinnya sambil menatap luar jendela.
Ceklek, Zayen membuka pintu kamarnya dan segera menuju dimana sumber suara terdengar.
"Selamat siang Kakek, Nenek ...." sapa Zayen kepada kakek dan nenek seramah mungkin untuk tersenyum. Kemudian mencium punggung tangan keduanya.
"Siapa nama kamu, Nak? kakek lupa."
"Zayen, Kek .."
"Kamu mirip dengan seseorang yang kakek kenal, senyummu dan keramahan kamu."
"Mungkin hanya kebetulan, kek."
"Iya, ya ... banyak orang orang memiliki kemiripan, meski tidak ada ikatan darah sekalipun."
__ADS_1
"Memang mirip siapa, Kek? tanya Kazza yang penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan kakek Zio, perhatikan senyumnya, mirip bukan?"
Kazza dan kedua orang tuanya mencoba memperhatikan wajah Zayen dengan lekat, sedangkan Zayen sendiri merasa risih dengan tatapan dari kedua mertuanya dan kakak iparnya.
'Heran deh, memangnya tidak pernah melihat kemiripan. Mukaku pasaran amat ya! sudah dikata preman, ini ada yang berasumsi mirip keluarganya. Besok pergi ke pasar disangka mirip penjual ayam.' Batinnya sambil garuk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Sepertinya tidak mirip kakek Zio, melainkan mirip tuan Arganta. Lihatlah, mukanya sama seperti Seyn." Ucap Kazza dengan serius.
"Ah! sudahlah, papa mau istirahat. Dan kamu Zayen, jika kamu capek beristirahatlah." Ucap sang ayah mertua.
"Iya, nak Zayen. Jika kamu mau istirahat, istirahatlah di kamar temani Afna. Ibu dan Nenek mau pergi ke dapur, dan lihat lihat dibelakang rumah." Ucap Ibu Mertua menimpali.
"Benar, nak Zayen. Kamu pasti capek melakukan perjalanan yang cukup jauh dari kota. Istirahatlah bersama istri kamu, jangan pernah sungkan berada di rumah ini." Ucap Nenek ikut menimpali.
"Iya, Ma ... Nenek ... Zayen ingin mengobrol bersama kakek."
"Iya, nih. Kalian datang, tiba tiba langsung istirahat. Kakek jadi kesepian, serasa dicuekin." Ucap kakek Ferdi sambil duduk santai, sedangkan Zayen tersenyum.
"Zayen, minumlah. Kamu pasti haus, jika kamu mau istirahat, istirahatlah."
"Iya, Kak. Aku ingin menemani kakek mengobrol. Sudah terbiasa untuk menempuh perjalanan jauh, bagiku ini tidak seberapa. Apalagi di daerah pedesaan. Sepertinya rasa lelah pun terbayar, saat sampai ditempat yang terbilang masih Asri. Zayen pun ingin seperti kakek, yang menikmati hidup dengan kesederhanaan." Jawab Zayen sambil mengambil air minum yang ada didepannya.
"Iya, benar kata kamu Nak Zayen. Hidup kesederhanaan sangat nyaman dan tenang, seperti tempat tinggal kamu di kota. Bukankan kamu juga menikmati hidup dengan kesederhanaan?"
"Benar, kek. Maafkan Zayen yang serba kekurangan dalam memberi nafkah untuk Afna dan memberi fasilitas yang kurang memadai. Zayen lebih menyukai kesederhanaan, kek."
"Tidak apa apa, kakek maupun ayah mertua kamu tidak memaksa kamu untuk memanjakan Afna. Justru dengan sikap kamu yang sederhana, kakek lebih tenang. Afna benar benar beruntung memiliki suami seperti kamu, nak Zayen. Begitu juga kami sekeluarga, sangat beruntung memiliki menanti seperti nak Zayen. Ayah mertua kamu tidak salah memilih suami untuk putrinya." Ucap sang kakek memuji, sedangkan Zayen merasa malu dan merasa sedih saat dirinya dipuji.
'Kakek salah memujiku, aku tidak sebaik yang kalian kira. Bahkan aku ini adalah seorang pecundang, tidak pantas mendapatkan pujian dari keluarga kakek.' Batin Zayen, kemudian meminum air putih hingga habis satu gelas.
__ADS_1