Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Di rumah sakit


__ADS_3

Setelah bertanya mengenai menantunya, tuan Tirta maupun tuan Alfan terkejut mendengarnya.


"Maksudnya?" tanya Tuan Tirta yang tidak percaya.


"Benar, saat ini Zayen berada di rumah sakit sedang ditangani luka pada kakinya yang cukup serius pada tulang kakinya. Tidak hanya itu, baru saja Dokter telah menghubungi kami. Bahwa Zayen kekurangan banyak darah akibat memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan yang ditempuh. Baru saja kami akan menghubungi keluarganya, ternyata tuan datang lebih dulu sebelum kami menghubunginya.


"Kalau begitu, kita berdua permisi untuk pamit pergi ke rumah sakit." Jawabnya dengan pikirannya yang begitu cemas akan keselamatan menantunya.


"Silahkan. Jangan lupa, rumah sakit xxx" Ucapnya, sedangkan tuan Tirta dan Tuan Alfan segera pergi meninggalkan tempat.


"Kita tidak mempunyai banyak waktu, kita harus cepat cepat sampai di rumah sakit." Ucap tuan Tirta yang sudah tidak sabar sambil tergesa gesa melangkahkan kakinya.


"Bersabarlah, semua akan bisa atasi." Jawab tuan Alfan yang juga dengan langkah kakinya yang lebar.


Sesampainya di parkiran, kedua mata tuan Alfan tertuju pada ban mobil miliknya yang tiba tiba saja bermasalah.


"Sial! sepertinya memang sudah direncanakan untuk membuat kita kehilangan waktu." Ucap tuan Alfan semakin geram dibuatnya, begitu juga dengan tuan Tirta yang tidak kalah geram dan kesal dengan peneror.


"Aku yakin, laki laki tadi yang aku curigai. Siapa lagi, ini pasti ada hubungannya dengan Zayen." Ucap tuan Tirta yang berusaha menebaknya.


Tuan Alfan pun langsung menghubungi anak buahnya untuk mengecek Zayen yang sedang berada di rumah sakit tersebut dan memintanya untuk menjaganya dari orang asing. Kemudian, tuan Alfan meminta salah satu anak buahnya untuk menjemputnya.


"Bagaimana? apakah kamu sudah meminta anak buah kamu untuk segera memeriksa Zayen dan menjaganya?" tanya tuan Tirta yang juga ikut cemas akan nasib pada menantunya.


"Sudah, sepertinya ada yang ingin mencelakai Zayen. Aku sangat yakin, pelakunya akan memb*unuh Zayen." Jawab tuan Alfan berusaha menebak dengan akal sehatnya.


Tidak lama kemudian, anak buah tuan Alfan telah sampai. Tidak pakai lama, kini tuan Alfan yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Apakah kamu membawa pistol?" tanya tuan Alfan, karena takut yang akan dihadapinya bukan orang sembarangan.


"Saya membawanya, Tuan. Seperti yang tuan perintahkan dari dulu."


"Bagus, tapi ingat! jangan ceroboh. Aku hanya takut saja, jika Zayen dijadikan sasarannya untuk menjadi korban." Ucap tuan Alfan semakin meninggikan kecepatannya tanpa melihat sisi kanan kiri maupun depan dan belakang.


"Jangan kebut kebutan, tuan Alfan. Resiko sangat besar, jika kita mengalami kecelakaan. Aku tahu, mudanya kamu seperti ini pekerjaan kamu. Aku jujur, aku sangat takut." Ucap Tuan Tirta dengan cemas, dirinya belum siap untuk mati dengan tragis.


"Tenang saja, aku sudah terbiasa mengendarainya." Jawabnya sedikit menurunkan kecepatannya, dirinya tidak enak dengan saudarany sendiri. Ditambah lagi sudah sama tuanya, pikir tuan Alfan.


Dengan kecepatannya yang tidak kalah dengan pembalap, tuan Alfan telah sampai didepan rumah sakit.


"Kamu tetap berada di mobil ini, aku dan tuan Tirta akan segera masuk kedalam. Kamu mengrti? ingat, pesanku." Ucap tuan Alfan memberi perintah kepada anak buahnya sambil melepas sabuk pengamannya. Kemudian, tuan Alfan dan tuan Tirta segera turun dari mobil dan menemui Zayen.


Dengan langkah kakinya yang begitu gesit, tuan Alfan dan tuan Tirta telah sampai di depan ruangan yang dimana Zayen dirawat.


"Selamat sore, tuan Tirta." Sapa seseorang yang tidak asing dimata tuan Tirta.


"Tentu saja, apa Zayen menantumu?"


"Benar, dia mengalami luka tembak yang cukup serius."


"Zayen masih selamat, aku tahu dia menjadi tahanan sekarang. Hampir saja, ada seseorang yang akan menculiknya. Kebetulan, seharian ini aku sedang mengontrol rumah sakitku. Aku mendapatkan orang orang yang mencurigai, akhirnya aku yang menjaganya."


"Sebelumnya, aku ucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari kamu. Tapi, kenapa kamu mengenal menantuku?"


"Menantumu selalu memberi donasi di tempat anak anak asuhku, aku pun pernah menyelamatkan Zayen waktu dalam kejaran polisi. Aku hanya menyangka dia hanya anak anak muda lainnya, yang suka tawuran dan lain sebagainya." Jawab tuan Raska menjelaskan.

__ADS_1


"Terimakasih, atas kebaikan tuan Raska." Ucap tuan Tirta merasa tidak enak hati.


"Aku ikut prihatin, atas musibah yang tengah datang pada keluarga tuan Tirta. Semoga masalahnya segera teratasi, dan dapat berkumpul kembali tanpa masalah seperti yang saat ini terjadi."


"Semoga, aku hanya bisa berharap dan berusaha."


"Perkenalkan, saya Alfan. Saya saudara dari tuan Tirta." Ucap tuan Alfan memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Raska, teman mudanya tuan Tirta." Jawab tuan Raska yang juga ikut memperkenalkan diri dan berjabat tangan keduanya.


"Aku dengar, kondisi Zayen sangat kritis. Zayen membutuhkan banyak donor darah, benarkah begitu?" tanya tuan Tirta memastikan.


"Benar sekali, Dokter mengatakan seperti itu kepada saya. Sedangkan stok golongan darah yang sama dengannya sedang kosong, ditambah lagi saya tidak memiliki nomor keluarganya, maka saya bingung untuk mencari alamat rumah milik Zayen." Jawab tuan Raska menjelaskan.


"Iya, waktu itu kamu tidak hadir dalam acara pernikahan putriku. Jadi, kamu tidak mengenalinya jika Zayen adalah menantuku."


Alfan yang sudah tidak sabar, dirinya segera masuk kedalam ruangan. Ingin memastikan kondisi keadaan Zayen.


"Tuan Tirta, tuan Raska, bagaimana kalau kita lihat kondisi Zayen sekarang. Saya sudah tidak sabar ingin melihat keadaanya, aku berharap golongan darahku dapat membantunya." Ajak tuan Alfan penuh harap dapat menolong suami keponakannya, yaitu Zayen.


"Mari ..." jawab tuan Raska, kemudian melangkahkan kakinya untuk segera masuk kedalam ruangan diikuti tuan Alfan dan tuan Tirta.


Sesampainya didalam ruangan, dilihatnya sosok laki laki yang tampan kini terbaring lemas dipembaringan. Sungguh, perasaan tuan Tirta maupun tuan Alfan benar benar sangat menyedihkan melihat kondisi Zayen yang terlihat begitu pucat.


Tuan Alfan sendiri teringat dengan ancaman dari peneror yang mengatakan bahwa putranya ada pada genggamannya, dan akan menghancurkan masa depan putranya. Sungguh, saat menatap wajah Zayen hatinya tuan Alfan ikut teriris.


Begitu juga dengan tuan Tirta, benar benar tidak tega melihatnya. Perasaannya pun campur aduk rasanya, kebahagiaan yang seharusnya didapati oleh Zayen dan putrinya. Namun, kebahagiannya seakan akan harus dibalas dengan kepedihan. Tuan Tirta sendiri merasa sangat bersalah, dirinya tidak dapat meredamkan emosi dari putranya yang ingin melaporkan menantunya.

__ADS_1


Tuan Tirta benar benar menyesali perbuatan dari putranya yang semena mena tanpa pikir panjang sebelum bertindak. Dengan pelan, tuan Tirta menarik nafas panjangnya dan kemudian melepaskannya dengan kasar.


"Apakah tuan Raska sudah mengetahui golongan darah Zayen?" tanya tuan Alfan yang sudah tidak sabar ingin menolong suami keponakannya itu.


__ADS_2