
Didalam kamar milik Kazza, Afna masih ditemani sang ibu.
"Sayang ... sarapan dulu, ya. Kasihan calon janin yang ada di rahim kamu, pasti sangat membutuhkan nutrisi dan juga asupan gizi dari kamu. Percayalah sama mama, suami kamu baik baik saja disana. Sekarang, kamu tidak lagi sendiri. Ada calon anak yang tumbuh di rahim kamu, yang akan menjadi buah hati kamu dan akan tumbuh besar." Rayu ibunya penuh harap, meski putrinya tidak meresponnya. Setidaknya dapat mendengarkan apa yang tengah ibunya ucapkan.
Sedangkan Afna sendiri masih saja diam, dirinya pun masih terasa berat untuk berucap walau sepatah kata lewat bibirnya.
"Afna ... apa yang dikatakan oleh mama kamu itu, benar. Hari ini, Papa akan mengajak kamu untuk menemui suami kamu. Tapi, Papa minta sama kamu untuk sarapan pagi terlebih dahulu. Kasihan dengan janin yang ada didalam kandungan kamu, pasti sangat membutuhkan nutrisi dan juga asupan gizi yang seimbang dari kamu. Percayalah dengan Papa, semua pasti dapat kamu lewati." Ucap sang ayah ikut menimpali.
Sedangkan Afna sendiri, sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari kedua orang tuanya. Afna masih saja diam, entah seperti apa rasa kekesalan Afna terhadap sang kakak. Sehingga membuat dirinya sulit untuk mengutarakan kekesalannya. Tanpa pikir panjang, Afna segera bangkit dari posisinya yang masih berbaring di atas tempat tidur sang kakak.
Dengan langkah kakinya yang pelan, Afna menuruni anak tangga dengan pikiran kacaunya. Sedangkan sang Ayah sendiri tidak lepas untuk mendampingi putrinya berjalan, sang ayah takut jika putrinya tidak lagi dapat menyeimbangkan langkah kakinya. Ditambah lagi menuruni anak tangga, benar benar menakutkan jika sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi terhadap putrinya sendiri.
Sesampainya di ruang makan, Afna duduk dengan tatapan kosong. Paginya benar benar hampa, tanpa ada senyuman yang ia dapatkan seperti pagi hari bersama suami yang dicintainya.
Kedua orang tua Afna pun ikut merasakan apa yang tengah dialami putrinya. Karena tidak ingin terjadi sesuatu kepada janin yang ada di dalam kandungan putrinya, sang ibu segera mengambil porsi sarapan pagi untuk putri kesayangannya, dan tidak lupa dengan susu khusus untuk wanita hamil dan vitaminnya juga. Berharap, kesehatannya tetap terjaga. Meski ujian berat tengah menguji kesabaran Afna sendiri dan juga suami tercintanya.
"Sayang ... ayo sarapan, Nak ... mama telah memasak masakan kesukaan kamu. Oh iya, ini ada susu dan vitaminnya, jangan lupa diminum. Agar calon anak kamu selalu sehat dan tidak kekurangan asupan gizi."
__ADS_1
Lagi lagi Afna hanya diam, dirinya sibuk dengan sarapan paginya. Kedua orang tua Afna hanya menatapnya sedih, Afna yang ceria kini seakan terlihat seperti boneka remot. Tidak bersuara, namun mendengarkannya.
Setelah selesai menghabiskan sarapan paginya, Afna segera meminum vitaminnya dan juga menghabiskan susu yang dibuatkan oleh ibunya. Kemudian, Afna langsung meninggalkan ruang makan tanpa berpamitan seperti biasanya. Namun, kini hanya diam tanpa bersuara. Seakan bibirnya benar benar sangat berat untuk berucap, meski hanya sepatah kata.
Afna yang merasa bingung harus berbuat apa, Afna memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Namun, saat dirinya hendak mau menapaki anak tangga, tiba tiba dirinya berpapasan dengan saudara kembarnya yaitu Kazza. Mau tidak mau, Kazza mengajak Afna untuk berbicara.
"Afna."
"Lepaskan!! aku bilang." Bentak Afna dengan tatapan kebencian. Kazza yang mendapati bentakan dari sang adik pun hatinya terasa sakit, dirinya sendiri sangat menyesalinya.
"Afna, maafkan kakak. Kakak mohon, Afna. Kakak benar benar menyesalinya, kakak mengaku bersalah. Apa yang sudah kakak lakukan kepada suami kamu sangatlah salah besar. Dengan cara apa, agar kamu mau memaafkan kakak." Ucap Kazza sambil bertekuk lutut dihadapan sang adik.
"Afna, tunggu! kamu mau kemana, Afna." seru Kazza memanggil sambil berlari mengejar Afna. Kedua orang tuanya pun ikut mengejar putrinya dengan perasaan yang cemas dan juga takut pastinya. Kedua orang tuanya pun cemas, jika terjadi sesuatu dengan putrinya yang tidak diinginkannya. Ditambah lagi dengan kondisi Afna yang sedang hamil muda, sungguh pikiran kedua orang tuanya bercampur aduk.
Disaat itu juga, tiba tiba Afna teringat dengan kondisinya sendiri yang tengah hamil, air matanya mengalir begitu deras. Afna merasa tubuhnya tidak dapat untuk berdiri dengan seimbang, dirinya memilih untuk jongkok sambil menangis sesunggukan. Seakan, begitu berat ujian yang harus ia terima.
"Aku benci ...!!!" begitulah teriakan Afna mewakilkan perasaannya saat ini.
__ADS_1
Kedua orang tua Afna ikut menitikan air matanya, sungguh putrinya benar benar sangat terluka hatinya. Bahkan, seakan kehilangan penyemangat hidupnya. Semua pupus begitu saja, tanpa harus bilang permisi. Afna masih terus menangis, dan menangis.
Kazza yang melihat kesedihan saudara kembarnya sendiri, hatinya ikut terluka. Dirinya benar benar menyesalinya atas perbuatannya yang telah memisahkan kebahagian saudara kembarnya.
Kazza sendiri tidak berani untuk mendekati saudara kembarannya, takut jika sang adik akan semakin membencinya. Sebisa mungkin, kedua orang tua Afna dan Kazza berusaha untuk membuat anak kembarnya kembali membaik dan tidak lagi ada kebencian diantara keduanya.
"Afna, ayo berdiri, sayang ... jangan kamu hukum dirimu sendiri dengan amarah kamu. Kasihan calon anak kamu, Nak ... pikirkan baik baik. Ada suami kamu yang sangat menyayangimu dan juga pastinya sangat menyayangi calon anakmu yang ada didalam kandungan kamu. Bersabarlah, anakku ..." Ucap sang ibu mencoba membantu putrinya untuk berdiri, kemudian menuntunnya untuk kembali masuk ke rumah.
"Kazza, sekarang kamu lihat sendiri, 'kan? bagaimana kondisi Afna yang sekarang?"
"Iya, Pa. Sepertinya Afna sangat membenci Kazza, dan terlihat jelas dari sorot Kedua matanya. Sedikitpun tidak ingin menatap Kazza, bahkan terlihat jelas kebenciannya kepada Kazza. Pa, Kazza mohon. Izinkan Kazza untuk mendonorkan darah ke Zayen, Kazza ingin menebus kesalahan Kazza yang sudah menghancurkan perasaan Afna dan juga Zayen." Jawab Kazza penuh penyesalan.
"Zayen sudah mendapatkan pendonor darah dari paman kamu, Ganan. Tidak hanya itu, Reynan dan juga Zakka ternyata satu golongan darahnya sama seperti kamu."
"Kenapa bisa sama, Pa. Bukankan kakek Zio adalah anak angkat dari keluarga Wilyam?"
"Apa kamu lupa, bukankah paman Ganan kamu adalah cucu dari kakek Danuarta? begitu juga dengan Reynan dan Zakka. Darah Danuarta telah mengalir pada keturunannya."
__ADS_1
"Kazza baru ingat, jika Reynan dan Zakka adalah bagian keluarga Danuarta. Kalau begitu, Kazza akan segera menemui Zayen untuk meminta maaf. Entah apa jawaban dari Zayen, Kazza siap menerimanya. Meski kebencian Zayen yang akan Kazza dapatkan, Kazza akan siap menerimanya." Jawab Kazza penuh penyesalan, dan tentu penuh kekhawatiran jika dirinya benar benar tidak akan mendapatkan kata maaf dari adik iparnya sendiri.