
Hari pertama masuk sekolah, membuat Zicko kalang kabut. Lebih lagi harus membawa persyaratan untuk mengikuti ajaran baru di sekolah, tentu saja sibuk sendiri.
"Mam_pus, aku. Mana suruh bawa ini itu, lagi. Bodoh amat lah, mau kena marah kek, hukuman kek, masa bodoh." Gerutunya sambil mengenakan baju seragam sekolahnya.
Setelah siap dengan penampilannya yang menurutnya terlihat keren, langsung menyambar tasnya dan segera keluar dari kamar.
Sambil menuruni anak tangga, Zicko buru-buru karena takut kena komentar dan omelan dari kedua orang tuanya.
Sampainya di ruang makan, kedua orang tuanya memperhatikannya dengan serius. Pastinya membuat Tuan Zayen menggelengkan kepalanya saat mendapati penampilannya yang tidak bisa berubah, sudah seperti anak berandalan. Dengan baju yang tidak dimasukkan, juga dengan gaya rambutnya yang sok cool.
Ditambah lagi dengan dasinya, sama sekali tidak mencerminkan anak yang rajin.
"Lihat itu, putramu. Sudah seperti berandalan saja penampilannya. Jangankan untuk memasukkan bajunya, dasi yang dikenakan saja asal asalan." Ucap Tuan Zayen berkomentar soal penampilan dari Zicko.
"Sudahlah, biarin saja. Yang terpenting Zicko selalu menjadi peringkat di sekolahannya." Kata sang ibu yang justru membela putranya.
Tuan Zayen sendiri hanya menghela napasnya. Tidak dibuat jantungan saja sudah untung, pikirnya.
"Ingat ya, Zicko. Kalau sampai Papa kamu mendapat surat panggilan dari pihak sekolah, akan Papa kirimkan kamu ke asrama khusus murid bandel sepertimu." Ucap sang ayah memberi peringatan kepada putranya.
Soal kecerdasan, Zicko tidak lagi diragukan. Meski sering buat onar di sekolahan, untuk soal pelajaran ataupun kegiatan yang lainnya, Zicko selalu juaranya.
"Iya, Pa, tenang saja. Zicko udah tobat kok, palingan kalau kambuh lagi, ya mungkin amnesia dadakan." Jawab Zicko dengan entengnya.
"Zicko, duduk. Jika Papa berbicara dengan serius, dengarkan dan simpan sebagai nasehat." Timpal ibunya yang tidak melulu membela putranya.
Tuan Zayen dan juga Afnaya yang sama-sama mendidik anaknya dengan sebaik mungkin. Tidak ada yang melulu menjadi tempat mencari pembelaan, kedua orang tuanya sama saja memperlakukan putranya tidak ada perbedaan apapun.
__ADS_1
Jika salah, tetap akan mendapatkan konsekuensinya. Jika memang benar, Zicko mendapatkan keberuntungan, yakni tidak mendapat omel dan marah dari orang tuanya.
Zicko setiap mendapat nasehat, pun tidak pernah mengabaikannya. Meski terkadang terlihat cuek, tetap disimpan nasehat dari ayah maupun ibunya.
"Pa. Ma." Panggil Zicko sambil mengolesi roti tawarnya.
"Hem. Kenapa lagi?"
Tuan Zayen kini kembali serius menatap wajah putranya.
"Iya, Nak, ada apa?"
Ibunya ikut bertanya.
"Zicko sekolahnya naik motor ya, Pa."
Dengan raut wajahnya yang penuh harap, Zicko menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.
Seolah terasa lemas saat Papanya melarang dirinya untuk membawa motor ke sekolahan.
"Pa. Zicko udah besar. Tenang saja, aman. Zicko janji, langsung pulang deh. Juga, gak bakal mampir ke mana-mana."
"Terserah kamu. Tapi ingat, pulangnya tepat waktu. Kalau sampai berulah lagi, Papa tidak segan-segan memberi hukuman yang berat untukmu, ingat itu."
"Oke, Bos. Terima kasih ya, Pa, Ma. Tenang saja, Zicko gak akan berulah lagi, janji."
Tuan Zayen maupun istrinya sama-sama tidak menanggapi janji-janji dari Zicko yang selalu dijadikan alasannya agar dipercaya.
__ADS_1
"Ya udah, habiskan dulu makananmu. Jangan kebut-kebutan, apa lagi main balap, kamu tidak akan Papa beri ampun sama kamu." Ucap Tuan Zayen berpesan, juga tak lepas memberi ancaman kepada putra kesayangannya.
Dengan perasaan lega karena mendapat izin, Zicko merasa jika dirinya seperti mendapatkan kebebasan. Karena tidak ingin terlambat, Zicko segera menghabiskan makanannya, dan berangkat ke sekolah.
Sedangkan Tuan Zayen bersama istrinya tengah berada di dalam kamar. Seperti biasa, Afnaya selalu memberi perhatian penuh kepada suaminya. Begitu juga dengan Tuan Zayen, sama halnya tidak lepas perhatiannya untuk sang istri.
Pertemuan diantara keduanya meski berawal dari keterpaksaan dalam menikah, tetapi mampu membangun rumah tangga bersama hingga tidak terasa putra semata wayangnya sudah besar, dan sebentar lagi akan menjadi penerus dari Kakek Alfan dan Oma Zeil.
"Kamu capek ya, Pa, menghadapi putramu si Zicko yang selalu membuatmu terpancing emosi, bersabarlah. Zicko memang sangat aktif dari kecil. Tapi, dia selalu menerima nasehat dari kamu, juga dariku. Kita sebagai orang tuanya harus banyak bersabar, dan tetap merangkul dan membimbing putra kita hingga menjadi sosok lelaki dewasa yang mempunyai sikap baik dan tanggung jawab yang besar." Ucap sang istri kepada suaminya.
Tuan Zayen duduk di tepi tempat tidur, ingatannya pun kembali dimasa mudanya. Masa muda yang tidak mendapatkan kasih sayang dari sosok lelaki yang dianggapnya sebagai ayahnya. Namun, tidak membuatnya menyerah. Bahkan, dirinya pun tidak jauh berbeda dengan putranya sendiri yang bisa dikatakan sulit untuk di atur, semuanya serba kemauannya. Apa yang menjadi keinginannya, tidak ada seorang pun yang menghalanginya.
"Aku tidak merasa capek, hanya saja aku tidak ingin putraku mengalami hal yang sama seperti ku."
"Hal apa memangnya, sayang?" tanya sang istri.
"Banyak isu miring tentangku. Aku terkenal berandalan, suka balap liar, dan masih banyak yang aku jalani. Aku hanya takut, jika Zicko salah pergaulan, dan terjun ke dunia hitam sepertiku." Jawab Tuan Zayen yang teringat masa kelamnya yang begitu pahit, dan berurusan dengan hukum.
Siapa orangnya yang tidak takut, jika putranya mendapat kebebasan dan salah dalam berteman, pikir Tuan Zayen.
"Berdoa saja, semoga putra kita tidak tergiur dengan pergaulan yang dapat merugikan dirinya." Ucap sang istri, Tuan Zayen mengangguk.
"Semoga saja. Kita hanya bisa berdoa dan melakukan sesuatu yang terbaik untuk anak kita. Ya udah ya, aku mau berangkat kerja. Kalau kamu tidak mempunyai kegiatan di rumah, kamu boleh main ke rumah orang tua kamu. Nanti aku jemput setelah pulang dari kantor. Soal Zicko, aku sudah menyuruh orang kepercayaan ku untuk mengawasinya." Jawab Tuan Zayen sekaligus berpamitan untuk berangkat ke kantor.
"Hati-hati di perjalanan. Nanti aku kabari kalau aku berada di rumah keluarga Danuarta. Soalnya kangen juga sama Mama." Ucapnya, Tuan Zayen langsung mengecup kening milik istrinya seperti kebiasaannya.
"Ya udah, aku berangkat dulu." Jawab Zayen dan pamit berangkat kerja. Sang istri mengantar suami sampai di depan rumah.
__ADS_1
Setelah Tuan Zayen berangkat, dan tidak terlihat bayangan mobilnya, Nyonya Afnaya masuk kedalam rumah. Kemudian, segera bersiap-siap untuk main ke rumah orang tuanya.
Sudah beberapa minggu lamanya tidak main ke rumah orang tuanya, kini mempunyai waktu luang untuk datang ke rumahnya. Seperti biasanya, yakni tidak berkabar kepada orang tuanya.