Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Tidak disangkanya


__ADS_3

Masih dalam perjalanan, Neyla masih menikmati kekesalannya. Tiba tiba motor Seyn mendadak berhenti begitu, Seyn pun berdecak kesal saat sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi.


"Hei, kenapa dengan motor kamu?" tanya Neyla merasa ada sesuatu yang menghambat perjalanannya.


"Mana aku tahu, mungkin saja bannya bocor." Jawabnya, kemudian mematikan mesin motornya.


"Turun, aku mau memeriksa ban belakang." Perintah Seyn, kemudian keduanya turun. Dan dilihatnya ban motornya benar benar bocor, Seyn pun celingukan mencari tambal ban.


"Sial banget sih, hari ini. Sudah jalanan macet total, ini lagi ban motornya bocor." Ucap Neyla menggerutu, Seyn langsung menoleh kearah Neyla. Seketika itu juga, Neyla membuang mukanya ke sembarang arah.


"Oooh, kamu pikir kamu yang sial. Aku pun juga sama, aku sial dua kali lipat. Satu, bertemu denganmu. Kedua, menolongmu. Kamu tahu? gara gara membonceng kamu, ban motorku mengalami kebocoran. Jadi, kamu harus bertanggung jawab sampai aku merasa puas." Jawab Seyn yang tidak mau kalau dengan Neyla. Dengan geram, Neyla menatap Seyn dengan tajam.


"Kamu pikir, aku takut dengan kamu, gitu? aku tidak peduli siapa kamu. Aku tidak takut dengan keluarga kamu, karena aku yang benar." Ucapnya Seyn dengan tatapan seriusnya, Neyla sendiri hanya menelan salivanya dengan susah payah.


Dengan terpaksa, Seyn menuntun motornya sampai ia menemukan bengkel motor. Perjalanannya pun memakan waktu yang cukup melelahkan, Neyla sendiri masih terlihat biasa biasa saja. Seyn pun heran melihatnya, biasanya seorang perempuan akan mengeluh dan bersikap manja jika merasa lelah dan juga bosan. Namun tidak bagi Neyla, rasa capek pun tidak terlihat padanya.


'Ah iya, bukankah ini perempuan jago bela diri. Pantas saja, rasa capek pun tidak nampak pada dirinya.' Batin Seyn sambil menuntun motornya.


"Tunggu," seru Neyla menghentikan Seyn. Sedangkan Seyn menoleh kebelakang.


"Ada apa? capek? istirahatlah, nanti kita lanjutkan lagi." Tanya Seyn, dan mengajaknya untuk istirahat.


"Aku tidak capek, aku rasa itu ada bengkel motor." Jawabnya, kemudian menunjuk kearah bengkel motor yang ia maksudkan. Kedua bola mata Seyn pun mengikuti arah jari telunjuk yang ditunjukkan oleh Neyla.


"Kamu benar benar jeli rupanya, terima kasih." Ucapnya, kemudian kembali menuntun motornya dan menuju bengkel yang ditunjukan Neyla.


'Tumben sekali mengucapkan terima kasih, biasanya juga cuek begitu saja.' Batin Neyla sedikit heran.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Seyn dan Neyla telah sampai di bengkel motor. Rasanya pun lega, dan tidak lagi harus menuntun motornya sampai jauh.


Neyla yang sudah tidak sabar, segera ia mengmbil ponselnya didalam tas kecilnya.


"Kamu mau ngapain?" tanya Seyn yang mengerti maksud dari Neyla. Kemudian Seyn melihat ada satu motor yang terlihat nganggur, ia pun merasa lega.


"Aku mau meminta suruhan Papa untuk menjemputku, aku tidak ingin terlambat." Jawabnya.


"Tidak perlu, kita akan berangkat sekarang juga." Ucap Seyn, lalu segera bangkit dari posisi duduknya.


"Bang, saya pinjam motornya. Jaminannya motor saya ini, jangan takut." Ucap Seyn pada pemilik bengkel tersebut.


"Tapi, motor saya buntut. Apa kamu yakin? mau membawa pasangan kamu ini dengan menaiki motor buntut seperti ini? aku akan menggantinya ban baru, dan aku pastikan tidak akan lama." Jawabnya merasa tidak enak hati.


"Aku tidak suka sesuatu menunggu, berikan kunci motornya padaku." Ucap Seyn yang sudah tidak lagi sabar untuk menunggu, walau hanya berapa menit saja.


"Kita tidak mempunyai cara lain, ayo naik. Jangan lupa, pegangan. Karena aku akan menambah kecepatannya." Ucap Seyn, lalu menarik tangan Neyla. Seketika, Neyla fokus dengan tangannya yang tengah dipegang oleh Seyn. Begitu juga dengan Seyn, begitu lekat memandangi wajah cantik milik Neyla dan seakan ada sesuatu yang bergejolak di hatinya.


Secepat mungkin, Seyn menepis pikirannya. Ia tidak ingin terbawa oleh suasana yang membuatnya lupa akan sesuatunya.


"Maaf, bukan maksudku untuk lancang." Ucap Seyn, kemudian segera ia melepas pegangannya.


"Neyla," seru seorang laki laki sambil lari kecil mendekatinya. Seyn dan Neyla sama sama menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya seseorang yang tidak asing oleh keduanya.


"Kamu mau kemana?" tanyanya sambil memperhatikan penampilan Seyn dan juga Neyla.


"Aku mau menghadiri acara pernikahan saudaraku. Maaf Hen, aku buru buru." Jawab Neyla merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita berangkat." Ajak Neyla pada Seyn, tanpa ada rasa malu sedikitpun, Neyla langsung menggandeng tangan Seyn layaknya sepasang kekasih. Sedangkan Hendi tidak bisa berbuat apa apa, ia pun menyadari akan kesalahannya yang sudah dilakukan pada Neyla.


Dengan terpaksa, Seyn mengikuti apa yang diinginkan Neyla. Meski sedikit kesal, Seyn berusaha untuk tenang.


Setelah motor dapat melaju dengan kecepatan sedang, Neyla melingkarkan kedua tangannya pada pinggang milik Seyn. Tidak hanya itu, Neyla juga menyandarkan kepalanya pada punggung Seyn. Keduanya benar benar nampak serasi menyandang status suami istri, Hendi yang melihat kemesraan Neyla dan Seyn. Segera ia pergi meninggalkan tempat tersebut. Karena tidak ingin terus terusan dijadikan umpan, Seyn menepikan motornya dipinggir taman yang lumayan sepi.


"Hei, kenapa kita berhenti?" tanya Neyla mendadak kaget.


"Sekarang juga, cepetan turun." Perintah Seyn pada Neyla.


"Ada apa sih? kamu marah soal yang tadi?" tanya Neyla sambil turun dari motor.


"Kenapa kamu tidak jujur saja sama mantan kamu itu, kalau aku ini bukan pacar kamu maupun bukan calon suami kamu. Kenapa kamu mesti berbohong dengannya? apakah kamu takut dengannya?" tanya Seyn sambil menatap serius wajah Neyla.


"Maaf, aku sudah bersalah denganmu. Lain kali aku tidak akan memanfaatkan kamu, serius." Jawabnya sambil menunduk dan merasa malu dan juga tidak enak hati.


"Bukan begitu maksud aku, setidaknya kamu belajar untuk jujur. Sekali kamu bohong, selamanya akan terus berbohong. Asal kamu tahu, kamu sendiri yang akan sakit hati." Ucap Seyn mengingatkan.


"Iya, aku janji. Mulai hari ini aku tidak akan lagi berbohong dan tidak akan menyangkut pautkan denganmu lagi, aku janji." Jawabnya yang masih menunduk, Seyn pun menarik nafasnya dan mengeluarkannya dengan kasar.


"Kenapa kamu menunduk, tatap mukaku jika kamu tidak akan lagi pernah berbohong kepada siapapun, terkecuali itu hal yang darurat." Ucap Seyn yang terus mengingatkan perempuan yang ada dihadapannya, Neyla sendiri mengangguk dan Seyn pun tersenyum.


"Ayo kita berangkat, kita sudah terlambat." Ajak Seyn sambil melihat jam tangannya, Neyla sendiri hanya bisa nurut dan segera menaiki motor buntut milik tukang bengkel.


Selama perjalanan, Neyla hanya diam. Ia masih teringat akan semua ucapan dari Seyn, seakan dirinya dimintai untuk jujur akan perasaannya sendiri.


Dengan pelan, Seyn menarik tangan milik Neyla bergantian untuk berpegangan pada dirinya.

__ADS_1


"Berpeganglah, aku akan menambah kecepatannya. Aku tidak ingin terjadi apa apa denganmu, apalagi dengan kondisi motor yang seperti ini." Ucapnya, lagi lagi Neyla hanya bisa nurut dengan apa yang diperintahkan Seyn.


__ADS_2