Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Tidak ingin mencurigai


__ADS_3

Seyn masih menatap wajah wanita yang duduk disampingnya.


"Perkenalkan, namaku Seyn." Ucap Seyn sambil mengulurkan tangannya.


"Namaku Neyla, panggil say Ney." Jawabnya, dan kemudian menerima uluran tangan dari Seyn.


Setelah itu, Neyla segera melepaskan tangannya. Sedangkan Seyn langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, kini Seyn fokus dengan setirnya dan pandangannya lurus kedepan.


"Katakan, dimana alamat rumah kamu." Tanya Seyn tanpa menoleh kearah Neyla.


Disaat itu juga, Neyla merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari Seyn. Neyla sendiri merasa enggan untuk menunjukkan alamat aslinya, namun dirinya tidak ingin berkata bohong. Sesekali dirinya mencari ide, berharap idenya tidak merugikan salah satu pihak.


"Hei, kenapa lama sekali kamu menjawabnya. Cepat katakan alamat rumah kamu, apa jangan jangan kamu sudah miliki modus dari Restoran tadi." Ucap Seyn mengagetkan.


"Ena saja, aku bukan orang yang suka modus. Kamu lurus saja, nanti belok kanan." Jawab Neyla membela diri.


'Lurus, terus belok kanan? yang benar saja. Bukankah itu rumah milik keluarga Wilyam, bahkan setelah belok sudah tidak ada lagi rumah selain rumah keluarga Wilyam. Apakah wanita ini bagian keluarga Wilyam? aku rasa sih bukan. Hem, palingan juga pelayan.' Batin Seyn mencoba menerka sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.


"Stop! sudah sampai, terima kasih atas kebaikan dari kamu yang sudah menolongku." Ucap Neyla, kemudian melepaskan sabuk pengamannya. Namun, tiba tiba Neyla kesusahan untuk melepaskannya.


Disaat itu juga, Seyn segera membantunya. Mau tidak mau, Neyla hanya nurut dengan apa yang dilakukan Seyn.


Seyn membungkukkan badannya, agar dirinya tidak kesusahan untuk melepaskan sabuk pengaman yang ada pada Neyla.


Seyn pun menatap wajah cantik milik Neyla begitu lekat, begitu juga dengan Neyla yang juga ikut menatap wajah Seyn yang terbilang tampan dan menarik perhatian. Keduanya terhanyut dalam lamunannya.


'Wanita ini, sangat mirip dengan Afna. Senyumnya, wajahnya. Ah, kenapa aku masih mengingat Afna.' Batin Seyn segera menepis pikiran kotornya.


'Kenapa detak jantungku berdetak sangat kencang sih, ada apa ini? kenapa aku serasa melayang layang.' Batin Neyla sambil mengontrol detak jantungnya yang terasa tidak karuan. Sedangkan Seyn sendiri tersenyum sambil menatap sosok wanita cantik saat melihat ekspresinya.


Tanpa keduanya sadari, ada sosok laki laki yang tengah mengintip dari luar.


"Keluar kamu Ney!! bentak dari luar sambil mengebrak gebrak jendela kaca mobil, seketika itu juga Seyn maupun Neyla kaget dibuatnya.


Dengan cepat, Seyn maupun Neyla segera keluar.

__ADS_1


"Kak Rey, ini semua tidak seperti yang kak Rey sangkakan." Ucap Neyla menjelaskan sambil memegangi kedua tangan milik sang kakak, sedangkan Seyn pun segera mendekatinya dan mencoba untuk menjelaskannya. Berharap tidak ada kesalahpahaman, dan berakhir dengan damai.


Namun, raut wajah milik Rey sudah menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sosok Seyn yang tengah berdiri dihadapannya.


"Sebelumnya aku minta maaf, bukan maksud aku untuk lancang kepada Neyla. Aku hanya menolongnya dan mengantarkannya saja, tidak lebih. Neyla pun masih aman, tidak ada kelecetan sedikitpun pada anggota tubuh milik Neyla." Ucap Seyn yang merasa bersalah atas dirinya yang tengah menatap wajah Neyla saat melepaskan sabuk pengaman yang dikenakan Neyla.


"Kamu pikir aku mau percaya begitu saja denganmu, hah! jangan harap aku bisa percaya dengan omongan kamu itu." Jawab Rey yang masih menunjukkan kekesalannya.


"Sudah dong, kak. Apa yang dikatakannya itu benar, dia tidak bersalah. Tadi itu, Neyla di tolongnya. Tadi waktu di Restoran Ney tidak membawa dompet. Akhirnya, laki laki ini yang membayarkannya. Tidak hanya itu saja, motor Ney mogok dijalan sepi. Kalau bukan pertolongannya, mungkin saja aku sedang tertimpa hal buruk malam ini." Ucap Neyla berusaha untuk menjelaskannya.


Tin tin tin tin.


Suara klakson mobil tengah mengagetkan, ketiganya pun minggir disudut pintu gerbang. Satpam yang berada didalam segera membukakan pintu gerbang, kemudian mobil pun masuk kehalaman rumah. Lalu, segera turun dari mobil dan menghampiri Rey, Ney, dan juga Seyn.


Sedangkan Seyn masih bersikap tenang, ia sudah mengetahui Siapakah Neyla yang sebenarnya, yang tidak lain putri dari keluarga Wilyam. Keluarga besar dari adiknya sendiri, yaitu Zayen.


"Seyn, benar kah bahwa kamu Seyn?" tanya sang kakek sambil menepuk pundak Seyn dan tersenyum. Rey maupun Neyla pun kaget dengan sikap kakeknya yang ternyata mengenal sosok Seyn.


"Benar kek, apa kabarnya?" jawab Seyn dan menyapanya.


"Kabar kakek, baik baik saja. Kenapa kalian bertiga masih ada di luar? apakah ada masalah?" tanya sang kakek sambil menoleh kesamping, tepatnya menoleh kearah cucu laki lakinya yaitu Reynan.


"Kurang ajar? maksudnya? ah, sudahlah. Neyla, ajak Seyn untuk masuk kedalam. Dan kamu Rey, kamu juga ikut masuk. Kakek penasaran dengan ucapanmu barusan, nanti jelaskan kepada kakek." Ucap sang kakek, kemudian segera masuk ke rumah.


Sedangkan Reynan kembali masuk kedalam mobil dan melajukannya sampai digarasi mobilnya.


Kini tinggal lah Neyla dan Seyn, keduanya terpaksa masuk kedalam mobil milik Seynan. Dikarenakan, jarak pintu gerbang dengan rumahnya lumayan cukup jauh. Mau tidak mau, Neyla ikut bersama Seynan.


"Oooh, jadi kamu cucunya kakek Angga. Pantas saja, kamu mirip keluarga Danuarta." Ucap Seyn asal menebak, seketika itu juga Neyla teringat dengan nama Seyn.


"Kamu ...."


"Iya, aku mantan kekasihnya Afna." Ucap Seyn memotong ucapan dari Neyla, disaat itu juga Neyla terdiam. Perasaannya pun tiba tiba ada sedikit rasa benci, ia benar benar tidak menyangka akan bertemu dengan sosok laki laki yang begitu kejam dan tidak mempunyai hati. Bahkan, sudah meninggalkan Afna dikala sedang terluka fisik dan batinnya.


"Kakek kamu maupun kedua orang tua kamu sudah mengetahui siapa aku yang sebenarnya, jadi tidak perlu kamu bingung untuk menilaiku. Aku tahu, kamu pasti kaget setelah mendengar pengakuan tentang siapa aku yang sebenarnya." Ucap Seyn kembali menjelaskan. Sebelum disangkanya buruk, Seyn lebih memilih untuk berkata jujur. Agar, orang yang ingin menjadi temannya maupun sebatas kenal tidak kecewa karena masa lalunya.

__ADS_1


"Ayo, turun. Kakek pasti sudah menunggu, aku tidak ingin mendapat hukuman dari kakek." Ajak Neyla yang tidak ingin membicarakan tentang sosok Seyn pada sang pemilik nama. Neyla pun segera keluar dan masuk kedalam rumah.


Seyn pun mengerti, segera ia keluar dari mobil dan mengikuti Neyla dari belakang.


Sesampainya di ruang tamu, Seyn disambut hangat oleh kedua orang tua Neyla maupun kakek Angga.


"Selamat malam Paman, Tante, Kakek ..." sapa Seyn seramah mungkin dan tersenyum. Tuan Ganan serta istrinya pun tersenyum.


"Malam juga Seyn, ayo silahkan duduk." Jawab tuan Ganan mempersilahkan.


"Neyla, kamu juga duduk." Perintah sang kakek, Neyla pun kembali duduk didekat saudara kembarnya yaitu Reynan.


'Ada apa lagi sih? males banget deh berhadapan dengan laki laki penjahat seperti Seyn.' Batinnya berdecak kesal sambil melirik kearah Seyn.


"Rey, katakan dan jelaskan kepada kakek soal yang kamu katakan tadi diluar sana." Ucap sang kakek pada cucu laki lakinya.


Reynan sendiri hanya menoleh kearah Seyn dengan tatapan benci, ia merasa seakan akan Seyn akan mendapat pembelaan dari sang kakek maupun kedua orang tuanya.


"Memangnya ada apa dengan Reynan, Pa?" tanya tuan Ganan pada kakek Angga.


"Itu, tanyakan saja pada putramu. Aku saja belum mengerti, apa maksud ucapannya tadi didepan pintu gerbang? seperti ada sesuatu." Jawab sang kakek sambil menunjuk pada cucu laki lakinya. Mau tidak mau, Reynan pun menjawabnya dengan jujur.


"Tadi Rey melihat Seynan seperti mau mengambil kesempatan untuk mencium Neyla, aku melihatnya dari luar dengan cara mengintipnya." Jawab Reynan sambil melirik kearah Seynan.


Semua yang ada disekeliling Seynan pun menoleh kearahnya, seperti percaya dan tidak percaya.


"Tidak kok, Kek ... tadi itu si Seynan mau membantu Neyla untuk melepaskan sabuk pengamannya. Tiba tiba kak Reynan mengintip, jelas saja dikira mau mencium. Tapi kita tidak ciuman kok, Kek..." ucap Neyla menjelaskan, tentunya untuk membela diri agar terhindar dari hukuman sang kakek. Sedangkan Seyn masih saja diam, ia tidak berani untuk memotong pembicaraan orang yang lebih tua sebelum ia diberi pertanyaan. Selagi tidak ada yang menyudutkannya dengan keburukan, Seyn lebih memilih untuk berdiam diri.


"Oooh ... begitu." serempak tuan Ganan dan kakek Angga, sedangkan istri tuan Ganan hanya tersenyum.


"Lalu, kenapa kalian berdua bisa satu mobil?" tanya sang kakek penasaran.


"Ceritanya begini kek, tadi Neyla lupa membawa tas untuk pergi ke Restoran. Sesampainya di Restoran, Neyla tidak bisa membayarnya. Selain tidak membawa dompet, Neyla juga tidak membawa ponsel. Neyla hampir saja mendapat amukan dari para pengunjung Restoran itu, dan tiba tiba Seyn ada di Restoran itu. Kemudian menolong Neyla, kek. Setelah itu, Neyla segera pulang. Namun sialnya motor Neyla mogok, lagi lagi ada Seynan yang menolong Neyla. Mau tidak mau, Neyla ikut pulang bersamanya. Memang salah, ya? jika Neyla ikut pulang bersamanya. Soalnya tadi itu jalanan sangat sepi, Neyla takut." Jawab Neyla menjelaskan panjang lebar.


"Rupanya begitu ceritanya, terima kasih sudah menolong cucu kakek. Justru kakek kira kalian berdua ada hubungan spesial." Ucap sang kakek dan tersenyum, kedua orang tuanya pun ikut tersenyum saat mendengar ucapan dari kakek Angga.

__ADS_1


"Kakek, jangan berlebihan. Saya baru mengenal Neyla waktu di Restoran, tidak ada hubungan yang spesial." Jawab Seyn menimpali.


"Seyn, maafkan aku. Terima kasih, ya. Kamu sudah menolong Neyla, sekali lagi maafkan aku yang sudah menuduhmu yang tidak tidak. Kalau begitu, aku mau masuk ke kamar. Badanku sudah terasa gerah, karena aku baru saja pulang bersama Kazza dari Restoran." Ucap Reynan meminta maaf, ia tidak ingin mencurigai sesuatu yang akan berakibat fatal seperti Kazza pada adik iparnya sendiri.


__ADS_2