Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Merasa ada yang aneh


__ADS_3

Di kediaman keluarga Wilyam, kini nampak wajah yang berseri seri pada putri tuan Ganan. Yang tidak lain adalah cucu kakek Angga.


"Cie ... yang sebentar lagi akan ada resepsi." Ledek sang kakak sambil menarik kursi di meja makan.


"Apa apaan sih, kak Zakka. Makanya, buruan cari istri. Biar tidak jadi bujang lapuk, sayang 'kan?" Jawab Neyla ikut meledek saudara kembarnya itu.


"Kamu tenang saja, kakak nunggu kak Rey." Ucap Zakka sambil menoleh kearah saudara kembarnya, yaitu Reynan.


"Kalau kamu sudah ada pilihan, nikahi saja wanita yang kamu suka. Kamu tidak perlu menungguku, perjalananku masih panjang." Ucap Reynan sambil menatap saudara kembarnya, yaitu Zakka.


Zakka yang mengerti maksud dari sang kakak, ia langsung segera menghabiskan sarapan paginya. Ruang makan tiba tiba berubah menjadi sunyi, bahkan tidak terdengar Zakka dan Reynan maupun Neyla berucap.


Kedua orang tuanya maupun sang kakak dan Omma Qinan hanya menghela nafasnya ketika melihat kedua putranya yang seperti menyimpan sesuatu.


Setelah selesai sarapan pagi, Zakka langsung pergi meninggalkan ruang makan lebih dulu tanpa berpamitan. Tiba tiba yang tadinya meledek saudara perempuannya, kemudian berubah menjadi diam saat sang kakak menimpali pembicaraannya bersama Nayla saudara kembarnya. Semua heran dengan sikap Zakka yang tidak seperti biasanya. Namun tidak untuk Rey, ia tetap bersikap santai dan tidak ada sesuatu masalah.


"Ada apa dengan adik kamu, Rey?" tanya sang ibu menatap heran pada putranya.


"Tidak ada apa apa kok, Ma ... mungkin Zakka sedang murung, atau ... mungkin saja ingin menyusul Neyla menikah. Kalau begitu, Rey pamit untuk berangkat ke Kantor." Jawab Reynan beralasan, kemudian segera ia bangkit dari posisi duduknya dan pergi meninggalkan rumah. Sedangkan Neyla masih berada di ruang makan bersama kedua orang tuanya, sedangkan sang kakek dan Ommanya telah kembali ke kamarnya.


"Ney, sebenarnya ada apa dengan kedua kakak kamu? kenapa Rey dan Zakka terlihat dingin? beritahu Papa." Tanya sang ayah penasaran.


"Kak Rey dan kak Zakka menyukai perempuan yang sama, tetapi perempuan itu menyukai pria lain." Jawab Neyla menjelaskan.


"Apa? menyukai perempuan lain yang mencintai laki laki lain? yang benar saja kamu, Ney. Apa kedua kakak kamu itu sudah tidak war*as?" tanya sang ayah yang sulit untuk mencernanya.


"Kalau soal itu, Ney tidak mengetahuinya. Kalau Papa penasaran, Papa bisa menyelidiki perempuan itu." Jawab Neyla.

__ADS_1


"Permisi, Tuan." Suara dari pelayan tengah mengagetkan tuan Gadan yang sedang mengobrol bersama putrinya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Di ruang tamu sudah ada calon suami Nona Neyla, sekarang sedang menunggunya." Jawabnya, sedangkan tuan Ganan hanya mengangguk.


"Sudah ada Seyn, temui dia dan langsung berangkat saja. Papa dan Mama mau menemui kedua kakak kamu, katakan pada Seyn jika Papa sedang ada urusan dengan Zakka dan Reynan." Ucap sang ayah pada putrinya, Neyla mengangguk dan segera menemui Seyn terlebih dahulu.


Sesampainya di ruang tamu, dilihatnya Seyn yang sedang duduk dengan tenang.


"Maaf, kalau aku sudah membuatmu menunggu lama." Ujar Neyla yang sudah berdiri di hadapan Seyn, senyum mengembang terlihat jelas oleh keduanya. Neyla segera duduk dan menatap calon suaminya tidak seperti biasanya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Seyn sambil menautkan kedua alisnya ketika calon istrinya menatapnya seperti sedang mengintimidasinya.


"Tidak, kamu terlihat berbeda saja." Jawab Neyla tersenyum tipis.


"Papa dan Mama sedang ada perlu dengan kak Zakka dan kak Rey, mungkin sedang membicarakan pernikahan mereka yang akan segera menyusul kita." Jawab Neyla beralasan.


"Oooh, kirain kemana."


'Cih! aku kira mau bertahan dengan kejombloannya. Rupanya sudah kebelet.' Batin Seyn menebak.


"Ah, sudahlah. Tidak perlu membicarakan kak Zakka maupun kak Rey, sekarang ayo kita berangkat." Ucap Neyla dan mengajak Seyn untuk segera pergi.


"Baiklah, ayo kita berangkat." Ajak Seyn yang kini tidak lagi segan dan merasa canggung pada Neyla.


Seyn memang berbeda dengan Zayen yang lebih dingin dari sang kakak. Sedangkan Seyn mudah untuk akrab dengan siapapun. Bahkan ketika mengenal Afna pun langsung mudah untuk akrab dan mengajaknya untuk menikah.

__ADS_1


Sesampainya didepan rumah, Neyla celingukan mencari keberadaan mobil Seyn. Namun, tidak ia temukan. Justru yang ia dapati ada sebuah motor besar dan terlihat gagah untuk dinaiki seorang laki laki berbadan tinggi dan berisi seperti Seyn.


"Kamu tidak bawa mobil?" tanya Neyla memastikan, Seyn pun tersenyum.


"Benar, aku hanya membawa motor. Bukankah kamu menyukai motor? bahkan kamu suka balap motor, bukan?" jawabnya dan meninggikan satu alisnya terlihat menggoda.


"Itu dulu, ketika usiaku masih belasan dan belum genap dua puluh tahun. Ketika aku kuliah, Papa mengirimkanku bersama kedua saudara kembarku ke Amerika. Aku mulai merubah diriku untuk tidak jatuh terlalu dalam didunia balap motor, kalau soal latihan bela diri masih aku pelajari." Jawab Neyla menjelaskan.


"Syukurlah, kalau kamu merubahnya. Ayo kita berangkat, nanti terlambat." Ucap Seyn, kemudian dengan reflek Seyn menarik tangan calon istrinya menuju motor. Seketika itu, Neyla menatap tangannya yang tengah Seyn pegang.


"Kamu calon istriku, dan kamu tidak perlu setegang itu." Ujar Seyn membuyarkan lamunan Neyla yang terlihat begitu fokus menatap tangannya yang tengah Seyn pegang.


Neyla tiba tiba terdiam, bahkan dalam pikirannya pun berkecamuk tidak karuan, rasanya seperti diaduk dengan berbagai macam permasalahan.


"Kenapa kamu diam?" tanya Seyn semakin heran.


"Aku tidak ingin keluar, aku takut terjadi sesuatu pada diri kita. Pernikahan kita tinggal menunggu beberapa hari lagi, tidak sampai satu bulan lagi." Jawabnya yang tiba tiba berhenti.


"Kamu kenapa sih? apa aku ada salah denganmu? katakan, jangan kamu pendam seperti itu." Tanya Seyn yang semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Neyla.


"Aku terbayang bayang sesuatu yang buruk akan terjadi denganku atau bisa juga pada diri kamu." Jawabnya yang tiba tiba terlihat seperti ketakutan.


"Ney, kenapa kamu terlihat pucat? kamu sakit?" tanya Seyn sambil mengecek suhu badan milik Neyla.


"Aku tidak apa apa, kita batalkan untuk pergi keluar. Soal baju pernikahan, biar aku meminta suruhan Papa untuk membawa beberapa stel pakaian untuk mengantarnya kerumah. Nanti kita bisa mencobanya dirumah dan kita pilih yang pas dan juga yang cocok, tentunya." Jawabnya Neyla yang terus terbayang sesuatu yang buruk akan menimpanya.


"Baiklah, aku antar kamu masuk. Mungkin itu akan membuatmu tidak lagi tegang dan pikiran kamu akan jauh lebih tenang." Ujar Seyn, kemudian berjalan beriringan dengan Neyla sampai didalam rumah.

__ADS_1


Neyla sendiri terasa lunglai pada kedua kakinya, seakan tidak lagi dapat menopang tubuhnya untuk berdiri.


__ADS_2