Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Mencurigai


__ADS_3

Kini, semua dalam keadaan panik dan tegang. Tidak hanya itu saja, tidak ada satupun yang bersuara. Seakan semuanya tengah heningkan cipta dan menunduk sambil berduduk. Berbeda dengan Zayen, sedari tadi ia hanya mondar mandiri dengan gusar. Bahkan, rasa sabarnya terasa sudah habis.


"Tenangkan pikiran kamu, Zayen. Jangan kamu satukan dengan emosimu. Saat ini, cukuplah berdoa, biarkan sang Dokter yang berusaha. Tidak baik jika kamu terus terusan mondar mandir seperti ini. Percayalah, semua akan baik baik saja. Istrimu, dan juga buah hati hatimu akan hadir di dunia ini dan disambutmu dengan hangat." Ucap ayah mertua yang tiba tiba sudah berada disebelahnya sambil menepuk nepuk punggung milik menantunya.


Zayen pun menoleh kesamping, dan dilihatnya seorang laki laki paruh baya dengan auranya yang terlihat teduh dan tenang. Bahkan, tetap bersikap tenang menghadapi situasi yang sangat genting.


"Papa, maafkan Zayen. Semua ini salah Zayen, seharusnya Afna tidak ditinggal pergi begitu saja. Zayen telah gagal menjaga seorang ibu dari anak Zayen." Jawab Zayen sambil menunduk penuh sesal dan merasa sangat bersalah. Bahkan, seketika dirinya tidak berani untuk menunjukkan wajahnya dihadapan ayah mertuanya.


"Sudahlah, tidak perlu kamu menyalahkan diri kamu sendiri. Doakan saja, semoga Afna dan buah hati kalian selamat tanpa adanya hal buruk apapun." Ucap ayah mertua, kemudian menepuk punggungnya kembali.


"Lihat lah Papa, tidak perlu kamu menghukum diri kamu sendiri dengan cara menyalahkan diri kamu sendiri. Sekarang, cuci lah muka kamu. Papa yakin bahwa semuanya akan baik baik saja." Pinta sang ayah mertua untuk menenangkan menantunya.


Zayen hanya bisa nurut, kemudian Viko menemaninya setelah mendapatkan kode dari ayah mertua Zayen.


"Bos, bersabarlah. Semua akan baik baik saja, maafkan semua yang ada di rumah. Kita benar benar kecolongan tanpa memperhatikan istri Bos, karena aku pikir sedang bersama yang lainnya." Ucap Viko sambil berjalan beriringan, sedangkan Zayen sendiri masih diam dan tidak merespon Viko yang tengah berbicara.


'Apakah Bos Zayen sedang marah denganku? sampai sampai tidak menanggapi omonganku tadi.' Batin Viko yang tidak lagi menginginkan untuk berbicara lagi, ia takut bila tidak ditanggapinya dan hanya akan diabaikan.


Zayen masih terus berjalan, dan sampailah ditempat yang dituju. Kemudian segera masuk dan mencuci mukanya. Sedangkan Viko sendiri menunggunya di dekat pintu.


Saat bersandar dengan santai, tiba tiba Viko tertuju pada salah satu sosok yang menurutnya sangat ia curigai. Seketika itu juga, Viko langsung mencari ide untuk segera melacak seseorang yang sangat di curiganya.

__ADS_1


"Kamu kenapa gelisah? apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya Zayen yang tiba tiba seperti mengintimidasi anak buahnya.


"Gelisah? tidak lah, Bos. Aku hanya merasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku, itu saja." Jawabnya berusaha untuk terlihat tenang.


'Tidak mungkin, jika aku memberitahunya sekarang soal orang yang terlihat misterius tadi. Ini pasti bisa membuatnya semakin emosi, biarlah ia tumpahkan kekesalannya padaku. Mungkin itu yang lebih baik, dari pada menumpahkan kekesalannya pada yang lainnya.' Batin Viko, lalu segera mengejar langkah Zayen dengan gesit.


Zayen masih saja diam, otaknya terasa buntu untuk berpikir. Pikirannya kini telah bercampur aduk dengan apa yang sedang ia pikirkan.


Setelah berada di sekeliling keluarga, sang ibu meminta putranya untuk segera duduk. Berharap, Zayen dapat menyikapinya dengan tenang dan berkepala dingin. Meski yang sebenarnya sangat menyakitkan untuk ia terima.


Tidak terasa jam operasi telah memakan waktu yang cukup lama. Semua semakin cemas dibuatnya, tidak hanya para orang tua. Adelyn tentunya, ia masih dihantui rasa penyesalannya dan rasa bersalahnya atas insiden kakak iparnya yang telah jatuh dari anak tangga.


Sedangkan Seyn dan Viko telah pergi meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan kepada tuan Alfan dan tuan Tirta tanpa sepengetahuan Zayen. Viko maupun Seyn telah menyadari kondisi Zayen dengan keadaan yang sangat terluka hatinya.


"Kak Zayen," panggil Adelyn dengan lirih.


Zayen yang merasa dipanggil namanya, ia langsung menoleh kesamping.


"Apa?" tanya Zayen singkat.


"Maafkan Adelyn, Kak. Adelyn telah lalai memperhatikan kak Afna, Adelyn benar benar ceroboh. Adelyn siap menerima hukuman dari kakak, tapi mohon maafkan Adelyn." Jawab Adelyn penuh sesal dan merasa bersalah atas kecelakaan kakak iparnya yang telah jatuh dari anak tangga.

__ADS_1


Zayen hanya tersenyum tipis sambil menatap lekat pada saudara kembarnya.


Adelyn pun tercengang melihatnya, bukannya kesal atau bersedih, justru Zayen tersenyum padanya. Adelyn bingung untuk menilainya, senyum mengejek atau hinaan yang lainnya, pikir Adelyn menebak.


"Aku tidak menyalahkan siapapun, benar kata Mama. Semua akan menyalahkan diri sendiri, termasuk kamu dan suami kamu. Bahkan yang lainnya juga, mungkin. Sudahlah, doakan saja kakak ipar kamu. Semoga keduanya baik baik saja, ibu dan anaknya." Ucap Zayen berusaha untuk tenang dan mencoba mengendalikan emosinya.


"Terima kasih ya, kak. Adelyn akan terus berdoa untuk kak Afna dan juga buah hatinya, semoga keduanya selamat tanpa ada suatu hal buruk yang menimpanya." Jawab Adelyn yang merasa lega, jika sang kakak tidak marah dan tidak membencinya.


Tidak lama kemudian, seorang Dokter tengah keluar dari ruangan Operasi. Semua mendadak tegang dan gelisah dibuatnya.


Zayen yang melihat sosok Dokter yang tengah berdiri tidak jauh dari pandangannya, segera ia bangkit dari posisi duduknya. Kemudian mendekati sang Dokter dengan perasaan was was.


"Bagaimana keadaan istri dan buah hati saya, Dok?" tanya Zayen dengan cemas.


"Istri Tuan baik baik saja. Hanya saja,"


"Hanya saja apa, Dok? ayo katakan yang sebenarnya Dok. Cepat! katakan, Dok." Tanya Zayen dengan nada yang cukup tinggi sambil menatap tajam pada sang Dokter karena begitu mencemaskan keadaan sang istri dan buah hatinya.


"Hanya saja, buah hati Tuan harus lahir dengan prematur. Istri dan anak Tuan tidak ada yang bermasalah, semuanya baik baik saja. Kondisi anak Tuan juga tidak memiliki masalah apapun. Sebelumnya, saya ucapkan selamat atas kelahiran Putra Tuan yang terlahir dengan selamat." Jawab sang Dokter dengan tenang.


Seketika, senyum mengembang dan bahagia terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya. Semua yang mendengar perkataan dari sang Dokter ikut tersenyum bahagia. Semua berucap puji syukur atas keselamatan Afna dan putranya tanpa adanya hal buruk yang tengah menghampirinya.

__ADS_1


"Maaf, jika ingin melihat si bayi, ada di ruangan NICU. Dikarenakan kondisi bayi yang terbilang kondisinya yang masih lemah karena lahir dengan prematur." Ucap sang Dokter, kemudian setelah itu kembali dengan tugasnya seorang Dokter.


Sedangkan Zayen maupun yang lainnya sudah tidak lagi sabar untuk melihat buah hati Zayen dan Afna yang telah lahir dengan usia kandungan 7 bulan dengan kondisi selamat dan sehat.


__ADS_2