
Setelah pelaku dapat ditahan oleh Viko, beberapa orang suruhan dari keluarga Wilyam maupun keluarga Danuarta tengah mendatangi lokasi tempat kejadian dan mengamankan pelaku sampai polisi datang.
Sedangkan Zayen, kini tengah berdiri dihadapan perempuan itu dengan tatapannya yang tajam setajam mata elang yang seperti ingin memangsa musuhnya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan ini semua? hah. Cepat! katakan, sekarang juga." Tanya Zayen dengan suara meninggi dan menatapnya tajam.
"Aku membencimu, iya! aku sangat membencimu. Hatimu seperti batu, bahkan kamu tidak mau membuka hatimu untukku sejak dulu." Jawabnya dengan terang terangan tanpa malu sedikitpun.
Begitulah cinta, terkadang dapat membawa malapetaka sendiri. Apapun yang diperjuangkan, belum tentu akan mau menerimanya. Karena soal hati dan perasaan tidak semudah membuka tirai jendela.
Zayen yang mendengarnya pun hanya membuang nafasnya kasar.
"Kamu ceroboh dengan perasaan kamu sendiri. Karena kecerobohan kamu itu, membuatmu banyak penyesalan. Sekarang kamu harus menerima akibatnya, semua tidak semudah yang seperti kamu hayalkan. Perbuatanmu, tetap akan dipertanggung jawabkan sesuai perbuatanmu." Ucap Zayen, kemudian langsung pergi begitu saja.
Zayen benar benar kecewa, berawal dari teman sekolah harus berujung permusuhan. Hanya karena cinta, membuat seseorang menjadi hilang akal sehatnya.
Karena sudah muak mendengar pengakuan darinya, Zayen langsung menyerahkannya pada yang berwajib untuk memberi hukuman sesuai perbuatannya. Apapun itu, Zayen tidak mengizinkannya untuk lepas begitu saja sebelum ada persetujuan darinya.
Sedangkan tuan Alfan dan tuan Tirta sama sama lega diantara keduanya, perasaannya pun kini tidak lagi takut dengan adanya sebuah ancaman. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah? siapa pelaku utamanya yang menyokongnya? pikir tuan Alfan yang masih mencurigainya.
"Tunggu." Tiba tiba tuan Alfan menghentikan langkah kaki Besannya, kemudian tuan Tirta menoleh kebelakang. Lalu, beliau hanya menatap besannya dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Sepertinya kita harus menemuinya lagi, saya masih penasaran dengan perempuan yang tengah menculik cucu kita." Ucap tuan Alfan meminta pendapat.
__ADS_1
"Papa tidak perlu menemuinya lagi, ini resmi masalah perasaan yang terbalaskan. Karena tidak hanya kak Zayen yang mendapatkan sebuah rasa cinta oleh perempuan itu, maksud Viko yaitu Merry. Viko sudah menyelidikinya, dan juga kebenarannya pun sudah terkuak." Ucap Viko untuk menghentikan niat ayah mertuanya itu.
"Maksud kamu itu apa, Vik? memangnya siapa laki laki itu yang pernah membuat si Merry menyukainya?" tanya tuan Tirta ikut menimpali dengan perasaan yang masih sedikit cemas.
"Siapa lagi kalau bukan pemuda sukses di tahun ini, Paman? kalau bukan Guntara Ganta. Sosok misterius yang kini tengah menjadi pesaing keluarga besar Wilyam." Jawab Viko yang sudah menyelidikinya.
"Guntara Ganta? aku tidak pernah mendengarnya. Mungkin saja, sosok misterius itu tidak menyukai publik." Ucap tuan Alfan yang tiba tiba penasaran, namun segera ia melupakan obrolannya. Tuan Alfan memilih untuk fokus dengan cucu pertamanya, ia tidak ingin peristiwa dulu kembali lagi pada putranya sendiri.
"Ah sudahlah, ayo kita temui Afna. Kasihan putriku, pasti sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan putranya." Ucap tuan Tirta, kemudian segera meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan tuan Alfan maupun Viko hanya mengangguk dan berjalan dibelakang tuan Tirta dengan santai. Namun, tiba tiba tuan Alfan menghentikan langkah kaki menantunya. Tuan Alfan meraih pundak Viko, dengan reflek Viko langsung berhenti dan menoleh kearah ayah mertuanya.
"Papa bangga dengan kamu, Vik. Terima kasih ya, berkat kamu, cucu papa dapat diselamatkan." Ucap ayah mertua sambil menepuk pundak milik menantunya itu.
"Maksudnya?" tanya sang ayah mertua penasaran.
"Paman Ganan mengingatkan, jika kamu mendapat kabar dan kamu menemui kabar itu. Maka jangan kamu datangi tempat yang dimana kabar itu berada. Tetapi datanglah ke tempat dimana letak yang sebenarnya. Apabila yang ditargetkan tempat A, maka kamu datangi tempat A. Begitu Pa, maksud dari paman Ganan. Maka dari itu, Viko teringat saat pesan masuk dari salah satu petugas yang diperintahkan dari keluarga. Viko langsung teringat akan pesan dari paman Ganan." Jawab Viko menjelaskannya.
'Kenapa aku begitu ceroboh, bahkan aku sendiri telah menasehatinya dulu. Waktu dimana pernah mendapatkan masalah dengan keluarga Tuan Galuh.' Batin tuan Alfan mengingat memory nya dimasa lalunya.
"Ya sudah, ayo kita temui istri Zayen. Semoga tidak terjadi apa apa dengannya." Ajak tuan Alfan .
Sedangkan didalam ruang rawat, Afna sedang berada dalam pelukan suaminya. Semua menatapnya penuh haru.
__ADS_1
"Sayang, aku ingin bertemu dengan anak kita. Aku ingin memastikan, bahwa bayi kita baik baik saja." Pinta Afna yang tidak lagi sabar ingin bertemu dengan sang buah hati.
Zayen langsung melepas pelukannya, kemudian menatapnya dengan lekat wajah istri yang dicintainya. Zayen mengusap kembali air matanya yang tengah membasahi kedua pipinya.
"Iya, nanti aku akan antarkan kamu untuk menemui putra kita. Sekarang, tenangkan dulu pikiran kamu. Percayalah denganku, putra kita baik baik saja. Suara pistol tadi, seseorang yang tidak dapat berpikir jernih. Hingga membuat orang orang berteriak histeris." Jawab Zayen berusaha untuk menenangkan sang istri. Zayen tidak ingin apabila jiwanya terguncang, ia sudah cukup trauma saat berada di dalam ruangan tertutup ketika berada di rumah ayah asuh suaminya yaitu mendiang tuan Arganta.
"Kalau begitu, aku mau meminta suster untuk menggantikan pakaian kamu ini. Tapi ... apa kamu yakin dengan kondisi kamu. Aku takut, kondisi badan kamu masih belum stabil." Ucap Zayen lagi, dirinya masih tidak tega melihat kondisi istrinya itu.
Namun, mau bagaimana lagi. Dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya, mau tidak mau Zayen menuruti permintaan istrinya.
"Turuti saja permintaannya, Zayen. Mungkin dengan melihat bayinya akan menyalurkan hal yang positif untuk istrimu dan bayi kalian." Ujar ibunya.
Zayen yang mendengar penuturan dari sang ibu, ia pun tidak dapat menolaknya. Zayen sendiri pun berharap, pertemuan anak dan ibu akan menyalurkan hal positif dalam kesehatan istrinya maupun putranya.
Setelah sudah cukup mengobrol dengan sang istri, Zayen segera menelan tombol untuk memanggil salah satu suster untuk membantu istrinya mengganti pakaiannya. Kemudian meminta izin untuk menemui sang buah hati yang masih berada di dalam ruangan NICU.
Saat semua sudah siap, Afna duduk di kursi roda. Kedua orang tua Afna maupun dan Adelyn berpamitan untuk pulang. Sedangkan sang ibu meminta untuk menemani anak dan menantu dan juga cucunya yang masih berada di rumah sakit. Kemudian, Seyn dan Viko serta tuan Alfan segera pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan soal mengenai kejahatan dari Merry.
Sedangkan Zayen dan sang ibu menemani Afna untuk menemui putranya. Dengan pelan, Zayen mendorong kursi rodanya sampai didepan ruang NICU. Kemudian, seorang suster tengah menunjukkan inkubator yang didalamnya ada sosok bayi yang sangat dirindukan oleh Afna.
Zayen mendekatkannya semakin dekat, senyum dan tangis bahagia tengah ditunjukkan melalui mimik wajah seorang ibu yang baru melahirkan buah hatinya.
Bulir bulir air matanya tengah membasahi pipi mulus milik Afna, setelah itu Zayen mengusapnya kembali dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah bohong, 'kan? anak kita baik baik saja. Sekarang, giliran kamu untuk menyehatkan diri. Agar kamu dan bayi kita segera pulang, dan kita akan merawatnya bersama." Ucap Zayen, kemudian mengecup keningnya dengan lembut.