Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Berprasangka


__ADS_3

Zayen masih menahan tawanya karena pikiran uniknya tentang Viko menjadi Vika.


"Bos, sudah dong ketawanya. Bikin perut kram saja, Bos." Ucap Viko menghentikan tawa Zayen.


"Habisnya, kamu aneh sih Vik. Cepat sedikit, nanti kita gagal melakukan pertemuan. Ucap Zayen yang sudah tidak sabar.


"Sabar dong, Bos. Ini juga sudah paling cepat, aku tidak mau mati sia sia. Aku belum menikah, Bos."


"Salah kamu sendiri, disuruh menikah tidak segera menikah. Kalau kita keburu masuk jeruji besi, bagaimana coba."


"Hus!! jangan ngomong seperti itu, Bos. Jangan sampai kita masuk jeruji besi. Aku benar benar tidak sanggup, aku belum bertobat."


"Tidak, tenang saja. Semua tidak akan terjadi, kita akan baik baik saja. Kita bukan pengedar Narkoba, kita masih aman. Kita tidak akan ditembak mati ditempat, tenang saja." Ucap Zayen dengan santai.


"Bos Zayen masih bisa santai, lah aku."


"Kenapa dengan kamu? apa masih kurang tabungan kamu."


"Bukan itu, Bos. Aku kangen kampung halaman, aku masih punya keluarga." Jawab Viko sedikit merasa bersalah karena telah membohongi Zayen.


"Kamu masih punya keluarga? kenapa kamu berbohong denganku, Vik." Tanya Zayen merasa kecewa.


"Maafkan aku, Bos. Jika aku tidak bohong, aku tidak akan mendapatkan pekerjaan dari Bos Zayen. Aku pun tidak akan menjadi kepercayaan Bos Zayen. Tapi jujur, aku tidak punya kebohongan lain selain ini."


"Awas saja kamu, Vik. Kalau sampai kamu ketahuan bermain api denganku, aku pastikan nyawamu sudah diujung tanduk."


"Iya, Bos. Aku serius, aku tidak pernah bohong. Aku memang sengaja menyembunyikan identitasku, aku takut akan ada yang berkhianat denganku. Karena aku sudah sangat percaya dengan Bos Zayen, maka aku berani berkata jujur." Jawab Viko berusaha untuk muluruskan masalah.


"Baiklah, aku percaya sama kamu."


"Terimakasih, Bos." Jawabnya, tidak lama kemudian Zayen dan Viko telah sampai pada tempat persembunyian barang barang yang dijadikan bisnis gelapnya selama ini. Bisnis yang tidak hanya satu bisnis, bahkan lebih dari satu bisnis dalam pekerjaannya.


Seorang Zayen tidak menyukai barang barang terlarang seperti Narkoba dan sejenisnya, dirinya tidak ingin mendapatkan dampak dari penjualannya. Meski hasilnya sangat menggiyiurkan, Zayen tidak pernah terpincut dengan pekerjaan yang dapat merusak generasi kedepannya. Zayen tetap pada pendiriannya, dan tidak mudah untuk tergiur dengan barang barang yang terlarang.


"Bos, sudah menelfonnya belum? bagaimana dengan barang barang ini semuanya. Apakah akan dikirim semuanya atau sebagian?"

__ADS_1


"Aku rasa semuanya, Vik. Karena besok malam akan ada pengiriman barang yang akan masuk ke gudang ini lagi. Kamu jangan khawatir, aku sudah mengarahkan anak buah untuk berhati hati." Jawab Zayen memberi penjelasan.


"Bos, yakin nih. Barang sebanyak ini akan kita jual semua."


"Yakin, Vik. Mana anak buah kamu, kenapa belum datang juga."


"Mungkin masih dalam perjalanan, Bos. Bersabarlah, nanti juga menghubungiku lagi kalau mereka sudah sampai di tempat yang dijanjikan."


Tidak lama kemudian, Viko mendapati panggilan dari seseorang yang tengah memesan barang tersebut. Tidak memakai waktu lama, Zayen dan Viko segera mempersiapkan barang pengirimannya dibantu anak buahnya. Setelah barang tersusun sangat rapi tanpa mencurigai, barang siap diantar kepada tuannya.


Senyum mengembang terlihat pada kedua sudut bibir Zayen dan juga Viko.


"Beres, Bos. Sekarang kita tinggal pulang, besok malam kita kembali lagi ketempat ini."


"Benar, Vik. Jangan lupa, kamu jemput aku seperti tadi. Karena aku yakin, kita berdua masih dalam pengawasan."


"Bos, kira kira ada yang dicurigai tidak, Bos?"


"Maksud kamu?"


"Ya, siapa tahu saja saudara laki laki kamu dan ayah kamu."


"Diingat ingat coba, Bos. Kalau mertuanya Bos sendiri, bagaimana?"


"Ngaco kamu, tidak mungkin lah. Aku rasa mertuaku biasa biasa saja, dan tidak menunjukkan kecurigaan terhadapku."


"Terus siapa dong, Bos? kakak ipar?"


"Hem! aku rasa juga bukan, dia orangnya masa bodoh."


"Bos! orang pintar itu pakai akal, dan tidak menunjukan tanda tanda kebencian. Contohnya saja Bos sendiri, keluarga istri Bos tidak ada yang tau pekerjaan Bos Zayen seperti ini 'kan?"


"Pendapat kamu masih belum aku percaya, aku harus menimbangnya kembali."


"Bos ... Bos, bukankah keluarga mertua kamu orang yang sangat kaya raya. Bahkan besannya keluarga Danuarta yang juga tidak kalah pintarnya dalam penyelidikan."

__ADS_1


"Hebat sekali kamu, Vik. Kamu bisa hafal dengan keluarga besannya Danuarta.


"Bagaimana aku tidak tahu, kedua orang tuaku pernah menginjakkan kakinya di rumah keluarga Wilyam."


"Sebagai apa?"


"Teman dalam bekerja."


"Apa, teman dalam bekerja? maksud kamu?"


"Ah, sudahlah. Tidak penting, Bos. Sekarang yang lebih penting adalah keselamatan kita."


"Ya sudah, ayo kita pulang." Ajak Zayen yang sudah tidak sabar ingin segera pulang.


"Iya, Bos. Aku juga sudah sangat ngantuk, rasanya ingin cepat cepat pulang dan tidur." Jawabnya, dan keduanya segera masuk ke dalam mobil. Viko kembali melajukan mobilnya dengan kecepata tinggi, dirinya benar benar sudah tidak sabar ingin segera pulang dan beristirahat. Begitu juga dengan Zayen, rasanya ingin segera memeluk istrinya dan tidur dengan nyenyak.


Sedangkan Afna sendiri masih tertidur pulas, mungkin karena lelah dalam perjalanan pulang. Hingga membuatnya tidak menyadari bahwa sang suami sudah pergi berangkat bekerja, dan meninggalkannya sendirian dirumah.


Saat ingin mengganti posisi tidurnya, Afna mencoba menepuk nepuk sebelah samping kiri dan kanan untuk memeriksa keberadaan suaminya. Namun, Afna tidak mendapati sang suami berada diatas tempat tidur. Dengan perasaan takut, Afna langsung membuka kedua matanya untuk mengeceknya.


Benar, apa yang dicarinya benar benar sudah tidak ada lagi didekatnya. Afna celingukan disetiap sudut kamarnya, tetap saja tidak ada sosok suaminya didalam kamar.


Tiba tiba kedua mata Afna tertuju sebuah lembaran kertas putih yang bertuliskan pesan untuknya. Afna segera merainya, meski dalam keadaan terbalut selimut tebal.


Dengan teliti Afna mencoba membacanya, dan ekpresi wajahnya terlihat seperti menahan rasa kesalnya. Dengan kasar, Afna meletakkan kertas tersebut ditempat semula. Tanpa Afna sadari, bahwa suaminya sedari tadi memperhatikan istrinya yang menyimpan kekesalan.


'Maafkan aku, sayang ... sebenarnya aku pun sudah tidak ingin melakukan pekerjaan ini. Tetapi, mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur terjun, dan tidak mudah untukku memutuskan pekerjaanku. Aku berjanji, setelah kamu hamil nanti aku akan berhenti melakukan pekerjaan ini. Aku akan kembali menjalani kehidupanku yang normal, bukan dalam kehidupan ini yang penuh ancaman. Percayalah padaku, aku sangat mencintaimu. Bahkan, aku sangat takut kehilangan kamu.' Batin Zayen merasa bersedih dan merasa sangat bersalah atas perbuatannya selama ini.


Dengan pelan, Zayen mendekati istrinya.


"Sayang, kamu sudah bagun? maafkan aku, ya. Aku sudah membuatmu kesal, aku akan berusaha untuk tidak meninggalkan kamu sendirian di rumah." Ucap Zayen mengagetkan.


"Eeemmm .... tidak apa apa, aku hanya kaget saja. Saat aku bangun, ternyata kamu sudah pergi." Jawab Afna beralasan.


"Kamu tidak marah, 'kan? aku takut jika kamu marah dibelakangku."

__ADS_1


"Tidak, sayang. Namanya juga perempuan, pikiran buruk datang silih berganti."


"Percayalah, aku diluar sana tidak bermain dengan wanita lain. Karena aku sudah memiliki kamu, yang lebih dari segalanya. Lantas untuk apa aku mencari wanita lain, jika istriku ini sudah sangat sempurna untukku. Aku hanya mencintaimu, selamanya." Ucap Zayen dengan mesra, kemudian langsung memeluk sang istri dan mencium keningnya dengan lembut.


__ADS_2