
Setelah dirasa sudah cukup mengobrol dengan sang kakak, Vella memilih untuk segera pulang dan beristirahat.
"Kak Gio, aku pulang duluan, ya?" ucapnya memohon.
"Mau ngapain kamu pulang? mau balap?" tanya sang kakak penuh selidik.
"Hem, tidak ada balap. Aku mau ke tempat Asrama milik Papa, itu saja." Jawabnya beralasan.
"Nanti sama kakak saja, jangan protes." Ucap sang kakak.
"Ih, kelamaan. Aku tidak mau, titik. Kemana mana selalu dibuntuti kakak, emangnya kakak tidak ada pekerjaan lain selain mengikutiku?" jawab Vella dibuat cemberut.
"Hem, kakak hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada diri kamu." Ucap sang kakak melarangnya.
"Kak, ayolah izinkan aku. Sekali ini saja, tidak lebih." Pinta Vella terus berusaha memohon.
"Ya sudah, ayo kakak temani kamu ke Asrama anak anak. Setelah itu, aku antarkan kamu pulang." Jawab sang kakak dengan pendiriannya yang sulit untuk dirubah.
"Ya sudahlah, terserah kakak saja. Lagian juga aku mau kemena, pacar aja tidak punya." Ucap Vella dengan enteng, sedangkan sang kakak langsung menatap lekat adiknya.
"Kamu bilang apa tadi, tidak mempunyai pacar? kamu tidak lagi mengigau, 'kan? seharusnya kamu itu sudah menikah. Kurangnya Kazza itu apa, coba? tampan, kehidupanmu juga terjamin, Kazza bukan pria kaleng kaleng. Entahlah, laki laki seperti apa yang kamu cari." Jawab sang kakak, kemudian menggelengkan kepalanya karena bingung dengan jalan pikiran adik perempuannya sendiri.
Vella hanya terdiam, ia sendiri sulit untuk mengomentari sosok Kazza yang pada dasarnya tidak ada yang buruk pada diri Kazza.
"Ah! jangan dibahas itu lagi, ayo temani aku ke Asrama anak anak." Ucap Vella, kemudian langsung keluar dari ruangan yang akan menjadi tempat kerjanya.
Sedangkan sang kakak hanya menarik nafasnya dalam dalam, dan membuangnya dengan kasar.
"Sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini, Vella. Padahal dulu kalian berdua itu sangat lucu, apalagi melihat sikap Kazza pada kamu. Hanya karena perjodohan, kalian seperti tidak ingin saling mengenal." Ucap Gio dengan lirih, lalu mengejar langkah Vella yang sangat gesit.
Dalam perjalanan, Vella hanya menatap luar sambil melamun. Sang kakak merasa kasihan melihat sang adik yang terlihat murung.
__ADS_1
"Vella, kita makan siang dulu di Restoran Merpati Jaya, bagaimana?" ajak sang kakak.
Seketika, Vella langsung menoleh kearah sang kakak yang posisinya sedang fokus dengan pandangannya lurus kedepan.
"Aku tidak mau, pasti akan ada modusnya." Jawab Vella, kemudian kembali pada posisinya menatap luar lewat jendela kaca mobil.
Gio yang melihat ekspresi sang adik hanya tersenyum, lalu menambahkan kecepatannya.
"Kak, jangan ngebut ngebut. Aku pingin menikmati perjalanan dengan santai." Ucap Vella sambil menatap tajam pada sang kakak.
"Agar cepat sampai, kakak sudah lapar." Ujar sang kakak tanpa perduli dengan kecepatannya. Vella sendiri hanya menunjukkan muka masamnya.
Setelah memakan waktu yang tidak begitu lama, Vella dan sang kakak telah sampai disebuah warung makan cukup besar.
"Tempat apa ini? sepertinya bukan restoran." Ucapnya sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Benar, sekali. Ini warung makan milik teman kakak. Ya, walaupun lebih tuaan pemilik warung ini. Tapi, kakak mengenalnya cukup baik." Jawab sang kakak sambil melepas sabuk pengamannya.
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ayo, buruan turun." Perintah sang kakak, kemudian keduanya segera turun dari mobilnya. Lalu, Vella maupun sang kakak langsung masuk ke sebuah warung yang cukup besar.
"Gio," seru seorang laki laki tengah memanggil Gio dan menghampirinya.
"Zacky, apa kabarnya?" sapa Gio dengan ramah.
"Vella!! kamu Vella, 'kan?"
"Iya, kamu Zacky?" tanya Vella penasaran. Sedangkan sang kakak bingung dibuatnya.
"Kalian berdua suami istri?" tanya Zacky dan menebaknya.
"Bukan, kita kakak beradik." Jawab Gio dan tersenyum.
__ADS_1
"Wah, kenapa kamu tidak pernah bilang jika memiliki adik perempuan. Eh, maksudku Vella. Oh iya, ayo kita masuk. Aku akan mentraktir kamu, ayolah cepetan masuk." Ucap Zacky dan mengajaknya untuk segera masuk kedalam. Gio maupun Vella mengikuti langkah Zacky menuju ruangan khusus untuk orang tertentu.
Sesampainya didalam ruangan, Gio dan Zacky begitu asik menikmati obrolannya. Sedangkan Vella hanya menjadi pendengar setia sambil menikmati minumannya.
"Vella, tambah kalem saja kamu sekarang." Ucap Zacky sambil tersenyum.
"Biasa saja, aku masih seperti dulu. Akupun masih menyukai balap, itupun kalau tidak ketahuan kak Gio." Jawabnya sambil melirik kearah sang kakak.
"Oh iya Gio, kebetulan nih. Besok aku ada acara reuni dengan teman teman sekolahku dulu, bagaimana kalau aku ajak adik kamu untuk menemaniku? boleh 'kan? tanya Zacky penuh harap.
"Kamu tenang saja, aku tidak macam macam dengan adik kamu. Bukankah kamu sudah tahu siapa aku? jangan khawatir." Ucap Zacky dengan serius.
"Bukan aku tidak percaya dengan kamu, aku sangat menyayangi adikku. Aku tidak mengizinkannya keluar dengan siapapun selain dari keluarga." Jawab Gio menjelaskan.
'Tidak mungkin aku membiarkan Vella untuk dekat dengan Zacky, bisa bisa Vella akan jatuh hati dengannya. Apalagi sikap Zacky yang sangat mudah mencari perhatian pada perempuan. Tidak, tidak akan aku biarkan Vella dekat dengannya.' Batin Gio merasa tidak nyaman, ketika sang adik sudah mengenal temannya sendiri.
"Kirain, aku diberi izin sama kamu. Padahal acaranya hanya sebentar, tidak lebih." Ucap Zacky penuh harap, sedangkan Vella sendiri hanya bisa diam dan diam. Ia tidak ingin dipandang buruk didepan sang kakak, dan Vella lebih memilih untuk diam. Meski sebenarnya ia sudah tidak sabar untuk bersenda gurau bersama teman akrabnya, yaitu Zacky yang sudah dikenal dekat oleh Vella.
Tiba tiba ponsel milik Gio tengah bergetar, menandakan bahwa ada pesan masuk di ponselnya. Gio segera membuka layar ponselnya, lalu dibukanya pesan yang tengah masuk.
Dengan teliti, Gio menbacanya dengan seksama. Seketika, ia terbelalak saat membaca pesan masuknya.
'Jadi, Kazza dan Zacky adalah teman sekolah. Baiklah, semoga rencanaku ini berhasil. Seperti apa reaksi Kazza ketika melihat Vella bersama Zacky. Disitulah, aku harus mengirimkan beberapa banyak orang suruhan untuk mengintainya. Mungkin disitulah akan terlihat seberapa rasa cemburunya Kazza, dan semoga dapat mengungkapkan perasaannya dengan jujur.' Batin Gio penuh harap dengan melakukan idenya itu.
"Kamu kenapa senyum senyum begitu, Gio? kamu tidak lagi kesambet demit seksi, 'kan?" ledek Zacky.
"Enak saja, mana ada demit seksi mau mendekatiku." Jawab Gio sambil tertawa kecil.
Sedangkan Vella hanya mengaduk aduk minumannya dengan rasa kekesalannya itu.
"Gio, ayo lah izinkan aku untuk mengajak Vella ikut denganku dalam acara reunian." Ucap Zacky terus merayu Gio.
__ADS_1
"Tanya sendiri saja dengan Vella, aku tidak lagi melarangnya." Jawab Gio sambil menoleh kearah Vella, sedangkan Vella masih sedikit ragu.