Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Jatuh


__ADS_3

Begitu fokusnya Seyn dan Zayen mengobrol, tanpa disadari ada seseorang yang sudah berdiri tegak disekitarnya.


"Ayen! benarkah kamu Ayen?" tanya seorang laki laki seumurannya.


Seketika itu juga, Seyn mendongakkan pandangannya pada sosok laki laki gagah seperti dirinya. Seseorang yang tidak kalah suksesnya, dan pastinya hampir setara akan kekayaannya.


"Guntara ... benarkah kamu Guntara?" tanya Zayen seperti tidak percaya dengan teman sekolahnya yang kini terlihat sukses.


"Banar sekali, rupanya kamu masih mengingatku." Jawabnya seperti tidak percaya.


"Tentu saja, bagaimana kabarmu? apakah kamu sudah menikah?" tanya Zayen bertegur sapa.


"Sudah, aku sudah menikah. Tapi ..." jawabnya terhenti.


"Tapi kenapa? maaf, jika pertanyaanku membuatmu tersinggung. Aku tidak berniat untuk mengejekmu." Ucap Zayen tidak enak hati dan merasa bersalah atas pertanyaan yang ia lontarkan pada temannya itu.


"Tidak apa apa, hanya saja aku teringat dengan putriku yang tidak lagi dapat diselamatkan." Jawabnya menjelaskan.


"Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Serius, aku tidak bermaksud menyudutkan kamu." Ucap Seyn merasa bersalah.


"Tidak perlu meminta maaf, sekarang istri aku sudah hamil lagi. Itu Istriku, kamu pasti mengenalnya." Jawab Guntara sambil melambaikan tangannya mengisyaratkan memanggil sang istri.


Karena merasa dipanggil, istri Guntara pun segera mendekati.


"Elima, 'kan? wah ... rupanya kalian berdua berjodoh. Selamat ya, untuk kalian berdua. Oh iya, ini kakak aku. Kebetulan aku ada kepentingan mendadak, dan aku tidak bisa berlama lama. Sampai ketemu dilain waktu, jika kamu ingin datang kerumahku cukup hubungi aku dengan nomor ponselku yang unik itu yang tidak pernah aku rubah." Ucap Zayen, kemudian segera pergi meninggalkan temannya yang baru saja bertemu.


Kemudian, Seyn hanya mengikuti langkah sang adik dari belakang. Sedangkan Guntara dan sang istri hanya menggelengkan kepalanya saat melihat sosok Zayen yang tidak pernah berubah sikap dinginnya dari dahulu.


"Kira kira Ayen sudah menikah atau belum, ya? laki laki dingin sepertinya aku rasa masih bertahan dengan kejombloannya." Ucap Guntara asal menebaknya.


"Padahal dia itu tampan, tapi dinginnya mengalahkan es batu. Bahkan, Merry sendiri yang dari dulu mengagumi Ayen hanya mendapatkan angan angannya saja. Malang benar nasibnya Merry, sudah kamu tolak. Eee ... giliran mengenal Ayen juga tidak pernah tersampaikan." Jawab sang istri sambil mengingat memory saat masa masa sekolah berseragam abu abu bersama teman temannya disekolah.


"Sudahlah, jangan ngomongin orang lain. Lebih baik kita perbaiki diri kita sendiri." Ucap sang suami mengingatkannya.

__ADS_1


Sedangkan di kediaman keluarga tuan Alfan, semua sedang sibuk dengan aktivitasnya masing masing, termasuk Afna yang sedang berolahraga jalan jalan disekitaran taman belakang ditemani adik iparnya yaitu Adelyn.


Viko sendiri masih bersiap siap untuk berangkat ke Kantor, meski tidak di bantu sang istri, Viko dapat memakluminya. Ditambah lagi dengan kondisi kakak ipar yang tengah hamil besar dan butuh perhatian penuh dari banyak orang, termasuk sang suami sendiri pastinya.


"Adelyn, ayo kita masuk ke rumah. Aku rasa kita sudah cukup untuk berolahraga mengendurkan otot otot kaku dan terasa digebukin saru RT." Ajak Afna pada adik iparnya, Adelyn hanya bisa nurut dan mengangguk mendengarkannya.


"Afna, kamu duluan saja. Aku mau menemui Mama dan Omma." Ucap Adelyn yang lupa jika Viko Sabondan belum juga berangkat ke Kantor. Kemudian, Adelyn sendiri segera ia menemui kedua orang tuanya, ia ingin berbagi cerita tanpa mengingat dengan semua yang telah dilewatinya.


"Iya, tidak apa apa. Kalau begitu, aku mau beristirahat. bujuknya terdengar jelas pada kedua tangannya.


Afna yang merasa tubuhnya terasa lelah dan juga capek, Afna langsung masuk ke dalam kamar. Tanpa Afna sadari, ia terus berjalan tanpa beban melewati tangga yang sudah lama tidak ia lewati.


Sejak kehamilannya yang sudah mendekati usia tujuh bulan, perut miliknya semakin terlihat membesar. disetiap waktunya pun terus terjaga dengan sangat ketat. Bahkan, Afna selalu mendapatkan teguran dari sang suaminya sendiri, jika sang istri nekad menapaki anak tangga sampai didalam kamar.


Hingga kini tanpa disadarinya, Afna sudah berada dianak tangga paling bawah. Tanpa mengingat nasehat dari sang suami, Afna menapaki anak tangga tanpa disadarinya terlebih dahulu.


Langkah demi langkah, ia melangkahkan kakinya dengan sangat hati hati untuk menapaki anak tangga paling awal.


"Aaaaaaaaaaa!!!!!!"


"Afna!!!!!!!!!!" teriak Viko dengan sangat kencang, hingga seluruh dalam rumah tengah kaget mendengarnya. Semua segera menuju ke sumber suara.


Dengan cepat, Viko segera memberi pertolongan. Sedangkan yang lainnya berlarian menuju suara teriakan yang mengagetkan.


"Afna!!!!!" teriak semuanya serempak dan menghampirinya.


Semua panik tidak karuan, tangis pun pecah pada kedua mata milik omma Serly dan juga Adelyn maupun sang ibunya sendiri yaitu Nyonya Zeil.


Sedangkan dalam perjalanan pulang, Seyn dan Zayen kembali membicarakan permasalahan yang belum tuntas untuk dibahasnya.


"Zayen, kita mau kemana sekarang?" tanya Seyn penasaran.


"Aku sendiri bingung, kita sudah mengerahkan banyak anak buah. Ke Kantor pun aku merasa tidak tenang, ditambah lagi sulit untuk mengungkapkannya." Jawab Zayen sambil menyilangkan kedua tangannya pada dada bidangnya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Seyn, yang posisi duduknya juga sama persis seperti sang adik. Setelah memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan, pak supir hanya mutar mutar disekitaran jalan yang sedari tadi ia lewati karena permintaan sang majikannya.


Saat sedang sibuk dalam lamunannya, tiba tiba Zayen dikagetkan dengan deringan ponselnya.


"Nomor baru? siapa pemiliknya?" ucapnya, namun masih dapat ditangkap oleh Seyn dengan jelas.


"Nomor baru? maksud kamu, apa Zayen?" tanya sang kakak penasaran.


"Iya kak, nomor baru, masih terus menghubungiku."


Seyn yang merasa tidak sabaran, ia langsung merampas ponsel yang berada ditangan Zayen.


"Katakan! siapa kamu, hah!!" karena kesal, akhirnya Seyn membentaknya sangat kencang.


"Aku Viko, kak Seyn." Jawab Viko dari seberang yang sudah paham akan suara Seyn.


Zayen yang mendengar sang kakak memanggil nama Viko, dengan cepat langsung menyambar ponselnya itu.


"Viko! sialan, rupanya kamu. Kenapa kamu mengganti nomor kamu? ada kabar apa? katakan sekarang juga. Kenapa kamu menghubungiku? apakah kamu sudah mendapat kabar baru?" tanya Zayen cukup khawatir setiap mendapatkan panggilan atau pesan masuk dari ponselnya.


"Istri kamu, Bos. Sekarang dalam perjalanan ke Rumah sakit."


JEDDUAR!!!!


Seketika tubuhnya mendadak lemas, pikiran berubah menjadi tidak karuan, otaknya pun seakan tidak mampu untuk berpikir lagi. Nafasnya terasa sesak di dada, seluruh tubuhnya menjadi lemas tidak berdaya. Bahkan, detak jantungnya sendiri serasa terhenti begitu saja. Air matanya pun tengah membasahi kedua pipinya. Zayen benar benar prustasi memikirkannya. Bahkan, ingin bernapas dengan lega saja begitu kesulitan. Zayen benar benar seperti seseorang yang hilang akal saat mendengarkan kabar yang seperti peluru dihempaskan oleh sang pelatuk.


"Kamu kenapa? ada apa denganmu, Zayen?" tanya sang kakak yang semakin penasaran.


"Afna jatuh dari tangga, kak ..." jawabnya lirih.


"Pak berhenti," perintah Seyn pada pak supir.


"Iya, Tuan." Jawabnya, kemudian segera menepikan mobilnya dipinggir jalan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Seyn langsung menggantikan posisi pak supir untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di tempat tujua yaitu rumah sakit.


__ADS_2