Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kedatangan saudara perempuan


__ADS_3

Tuan Tirta kini sudah sampai di halaman rumahnya, dengan langkahnya yang terburu buru ingin segera masuk kedalam rumah.


Setelah memasuki ruang keluarga, tuan Tirta segera masuk kedalam kamarnya.


Ceklek, tuan Tirta membuka pintu kamarnya dan segera masuk kemudian langsung mengunci pintunya. Dilihatnya sang istri sedang menyisiri rambutnya.


"Eh, papa... sudah pulang toh.."


"Bagaimana keadaan Afna, ma."


"Keadaan Afna masih seperti biasa, sekarang sedang bersama Kazza. Besok sudah ada yang menemani Afna, Kazza sudah mencarikan teman untuk Afna. Agar putri kita memiliki teman dan tidak lagi kesepian."


"Siapa? masih muda atau sudah tua, ma." tanya tuan Tirta sambil melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan baju santai.


"Kazza belum mengatakannya, hanya saja akan ada yang menemani Afna setiap waktunya. Hanya saat sore orangnya akan pulang, karena masih memiliki keluarga." Terangnya sambil merapihkan penampilannya.


"Semoga saja Afna tidak menolaknya, papa takut jika Afna akan menjadi murung dan tidak lagi bersemangat." Ucapnya lalu merebahkan tubuhnya agar penat yang singgah dikepalanya segera hilang. Nyonya Nessa pun ikut berbaring didekat sang suami seperti masih muda, sambil bercerita dan menatap langit langit.


"Bagaimana keputusan dari keluarga Seyn, pa. Apakah ada jawaban yang baik untuk putri kita, Afna."


"Papa sudah mendatangi tuan Arganta, katanya sih mau mempertanggung jawabkan. Kita tinggal menunggu waktu yang sudah ditentukan. Papa berharap akan ada jalan keluarnya, kasihan Afna jika tidak ada yang mau menikah dengannya. Di tambah lagi papa sudah menyebar undangan dan juga sudah di tentukan tanggal pernikahan putri kita."


"Mau bagaimana lagi, kenyataannya memang seperti ini yang terjadi. Kita tidak bisa menolak dengan apa yang sudah di takdirkan untuk putri kita."


"Iya, ma. Papa akan terus berusaha demi kesembuhan Afna, dan papa tidak akan membiarkan Afna terus terusan bersedih." Ucapnya lalu bangkit dari tempat tidurnya.


"Papa mau kemana?" tanyanya sang istri yang juga langsung bangkit dari tidurnya dan duduk disamping sang istri.


"Papa mau pergi sebentar, papa ada urusan dengan teman kerja. Lebih baik kamu temani Afna, hibur putri kita agar tidak merasa sendiri. Besok kita akan pergi bersama Afna untuk kontrol, papa ingin melihat perkembangannya. Apakah bisa dilakukan operasi atau tidak. Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu." Jawabnya, lalu segera pergi.

__ADS_1


Sedangkan nyonya Nessa juga ikut keluar dari kamar untuk menemui Afna sekaligus menemani dan menghibur putrinya.


Ceklek, nyonya Nessa membuka pintu kamar milik putrinya. Dilihatnya Afna yang sedang bersandar dan membaca buku untuk menghilangkan kepenatan yang ada didalam pikiranannya.


"Afna, sayang. Kamu sedang apa, nak?" ucapnya memanggil putrinya yang sedang sudah berada didekatnya.


"Afna sedang membaca buku, ma. Kak Kazza yang membelikannya, buku tentang motivasi hidup." Jawabnya berusaha tersenyum, sang ibu yang melihat perubahan sang putri pun merasa bahagia yang tidak terhingga perasaannya.


"Lalu, kakak kamu sekarang ada dimana? apa sudah pergi lagi." Tanyanya merasa penasaran.


"Kak Kazza bilang ada urusan dengan tamannya, tetapi Afna tidak mengetahuinya. Karena kak Kazza terlihat sangat buru buru tadi." Jawabnya menjelaskan.


"Bagaimana kalau kamu temani mama membuat kueh, buat cemilan nanti malam bersama kakak dan juga Papa." Ajaknya berusaha untuk menghibur putrinya dari kejenuhan dan semangat yang berkurang.


"Boleh.. tetapi bagaimana caranya agar Afna bisa sampai di dapur, Ma."


Tiba tiba Afna dan ibunya dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamarnya. Afna pun merasa heran dan penasaran, begitu juga dengan sang ibu yang juga ikut penasaran atas semua yang sudah ditutupinya oleh Afna.


"Selamat sore, Nona muda.. permisi, nyonya." Sapanya sebaik mungkin didepan majikannya.


"Sore juga, tumben kamu datang kemari. Itu apa yang kamu bawa, Gio?" tanya nyonya Nessa penasaran dengan sesuatu yang dibawa sekretaris Gio. Tepatnya yang sedang di pegangnya.


"Oooh ini.. kursi roda untuk Nona Afna, nyonya." Jawabnya sambil membongkar barang yang masih terbungkus kardus.


Afna menatap sebuah barang yang sedang di buka oleh sekretaris Gio. Perasaan hancur tatkala melihat barang yang benar benar tidak disangkanya.


Afna berusaha menahan nafasnya yang sudah terasa panas pada tenggorokannya. Sebisa mungkin, Afna tidak lagi menitikan air matanya.


Nyonya Nessa yang melihat perubahan pada raut wajah pada putrinya merasa sedih.

__ADS_1


"Sayang, ini hanya sementara. Mama yakin, tidak lama lagi kamu akan segera sembuh. Percayalah terhadap mama, kamu harus kuat. Buanglah rasa takut kamu, jangan biarkan kesedihan yang menguasai jiwa kamu." Ucap sang ibu berusaha untuk menyemangati putrinya dan meyakinkan.


"Iya, ma. Afna mengerti maksud dari ucapan mama, Afna tidak akan lagi menangisi kondisi Afna yang sekarang ini. Mungkin Afna sedang di uji oleh Tuhan. Doakan Afna, semoga Afna segera sembuh ya, ma." Jawabnya berusaha tersenyum, meski sebenarnya ingin menjerit sekencang mungkin.


"Sudah siap, Nona. Apakah Nona ingin berkeliling di taman belakang, biar saya temani." Ucapnya dan mengajaknya.


"Boleh, tapi apa kamu tidak keberatan. Tugas kamu bukannya selalu berada di dekat kak Kazza. Kalau ketahuan kak Kazza, bagaimana?" jawabnya sedikit ragu.


"Jangan khawatir, Nona. Tuan Muda sudah memberikan tugas ini untuk saya, sementara waktu untuk saat ini saya yang akan menjaga Nona. Selebihnya untuk besok sudah ada yang akan menjadi temannya Nona, seorang wanita cantik, baik dan juga cerdas. Nona pasti sangat betah untuk berteman dengannya." Ucapnya meyakinkan.


"Benarkah? baiklah kalau begitu, aku akan menuruti apa yang kak Kazza perintahkan." Jawabnya berusaha untuk tersenyum apapun itu, pikirnya.


"Kalau begitu, Mama akan pergi ke dapur untuk membuat kueh dan memasak masakan kesukaan kamu. Agar kamu lebih bersemangat untuk sembuh, dan tidak lagi dalam kesedihan terus menerus. Masa depan kamu masih panjang, jangan sia siakan." Ucap sang ibu menimpali.


"Terimakasih ya, ma. Afna janji, akan terus bersemangat." Jawabnya, setelah itu sekretaris Gio membantu Afna untuk duduk di kursi roda.


Nyonya Nessa sedang disibukkan di dapur ditemani beberapa pelayan untuk membantunya membuat kueh kesukaan putrinya. Sedangkan Afna ini berkeliling taman ditemani sekretaris Gio.


Tidak lama kemudian, Afna dikejutkan kedatangan saudara perempuannya. Yang tidak lain adalah Neyla putri dari tuan Ganan dan nyonya Maura.


"Afna... bagaimana kabar kamu? maafkan aku yang baru bisa menjenguk kamu. Aku baru pulang dari Amerika, maafkan aku." Ucapnya lalu langsung memeluk saudara perempuannya. Sedangkan sekretaris Gio segera menjauh dari kedua gadis sama cantiknya.


"Kabar aku seperti yang kamu lihat, kakiku mendapati luka yang cukup serius. Aku tidak tahu, apakah aku bisa sembuh atau tidak." Jawabnya tertunduk sedih.


"Kata siapa tidak bisa sembuh, apa kamu lupa? kakek Angga juga pernah mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Buktinya bisa sembuh setelah menikah." Ucapnya, tanpa menyadari bahwa Afna akan segera menikah hanya menghitung hari. Namun, pihak laki laki telah membatalkan pernikahan yang sudah jauh hari di rencanakan.


"Maafkan aku, Afna. Bukan maksudku untuk menyindir kamu, aku benar benar lupa." Ucapnya lagi merasa tidak enak hati.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, aku sekarang tidak memikirkan pernikahanku. Aku pasrah dengan pernikahanku, karena Seyn telah membatalkan pernikahan yang di tentukan." Jawabnya berusaha untuk tegar dan terlihat kuat.

__ADS_1


__ADS_2