Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kepergian


__ADS_3

Seketika itu juga, Viko langsung menoleh ke sumber suara. Dilihatnya sosok wanita yang tengah duduk dibawah anak tangga sambil memasang muka cemberutnya.


Tuan Alfan segera mendekati Viko, lalu mensejajarkan posisi berdirinya disebelah Viko.


"Jangan bohongi perasaan kamu, nanti kamu menyesal." Ucap tuan Alfan dengan terang terangan didekat Viko, kemudian menepuk nepuk punggungnya. Seakan mengerti apa yang sedang Viko rasakan, namun Viko tetap pada pendiriannya.


"Maaf Tuan, biarkan waktu yang akan menjawabnya. Saya tidak menyukai sesuatu yang terburu buru, dan saya sangat yakin dengan semua takdir." Jawab Viko mencoba untuk mencari ketenangan, tuan Alfan pun mengangguk dan mengerti apa yang dimaksudkan Viko.


"Itu hak kamu, aku tidak akan mencampurinya." Ucap tuan Alfan penuh yakin.


"Kalau begitu saya permisi untuk pamit pulang, Tuan ..." ucap Viko berpamitan.


"Tetaplah berangkat ke Kantor, karena Zayen sangat membutuhkan kamu. Dan, soal Adelyn tidak perlu kamu menjemputnya. Adelyn akan berangkat bersama Zayen." Jawab tuan Alfan mengingatkan.


"Soal Bos Zayen, saya akan tetap berangkat ke Kantor. Terkecuali saya sedang mendapatkan halangan yang tidak dapat saya tunda." Ucap Viko, tuan Alfan pun mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Adelyn masih terus memperhatikan Viko yang tengah berpamitan untuk pulang.


"Baiklah, aku serahkan semuanya pada kamu. Aku percaya dengan kamu, bahwa kamu memilki segudang cara untuk melakukannya." Jawab tuan Alfan mengerti apa yang Viko maksudkan.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak sudah memperlakukan sangat baik kepada Viko, maafkan Viko jika sudah banyak merepotkan keluarga tuan Alfan." Ucap ayahnya Viko merasa tidak enak hati.


"Tidak apa apa pak Bondan, putra bapak sudah sangat baik kepada putraku. Viko pun juga telah menyelamatkan nyawa putriku dan juga putraku dikala itu saat mendapatkan ancaman yang hampir saja saya kehilangan putra dan putriku." Jawab tuan Alfan yang terus mengingat akan semua kebaikan dari Viko. Bahkan bisa jadi, seluruh harta yang dimilikinya masih tidak ada apa apanya dengan keselamatan anak kembarnya.


"Kalau begitu saya pamit untuk pulang, Tuan." Ucapnya berpamitan.


"Hati hati dalam perjalanan." Jawab tuan Alfan.

__ADS_1


Setelah itu, Viko mendekati Adelyn yang masih duduk dibawah anak tangga.


"Nona, aku pamit pulang. Dan, mulai besok aku tidak lagi menjemput Nona, soal kerja di Kantor aku tetap berangkat. Jadi, tugasku sudah selasai hari ini. Bila tidak keberatan, mari aku bantu Nona untuk masuk ke dalam kamar. Jika Nona menolaknya, itu hak Nona." Ucap Viko sambil jongkok, sedangkan Adelyn masih belum berani menatap Viko. Justru Adelyn lebih memilih untuk mengalihkan pandangan kearah yang lain.


Viko yang mengerti maksud dari Adelyn, ia pun tidak memaksanya. Viko segera bangkit dari posisi jongkoknya dan pergi untuk pulang ke rumah.


"Kalau begitu aku pamit pulang, Nona. Jaga diri Nona baik baik, semoga dapat mencari pengganti untuk menjadi pengawal Nona." Ucap Viko, kemudian ia memutar balik badannya dan segera mengajak ayahnya untuk pulang.


Adelyn hanya menatapnya dengan perasaan campur aduk yang ia rasakan. Adelyn sendiri tidak dapat memberanikan diri walau hanya berucap satu kata.


Viko yang sudah berpamitan, kini tangah pergi meninggalkan rumah tuan Alfan bersama sang Ayah.


Kini, tinggal lah Adelyn yang masih duduk penuh penyesalan sambil memasang perasaan yang sangat dongkol. Sang ibu segera mendekati putrinya yang terlihat ingin mencurahkan perasaannya. Sedangkan sang ayah tidak ingin mencampuri urusan perasaan putrinya. Karena hanya sang ibu lah yang dapat menemani kegalauan putrinya.


Adelyn belum dapat menjelaskannya, Adelyn lebih memilih bersandar pada pundak milik ibunya. Sang ibu mengusap lengan putrinya berulang ulang.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dari Mama, sayang? ayo ceritakan pada Mama. Mama siap untuk menjadi pendengar keluh kesah kamu dan Mama akan memberi solusi yang terbaik untuk kamu. Ayo, ceritakan saja sama Mama. Karena Mama juga pernah muda seperti kamu, hanya saja Mama tidak bisa untuk memendam sesuatu." Tanya sang ibu mencoba untuk mencairkan perasaan putrinya agar bisa berbagi keluh kesahnya.


"Ma, jatuh cinta itu seperti apa sih? kenapa tiba tiba perasaan Adelyn terasa sakit saat menatap wajah Viko. Bahkan, Adelyn tidak bisa memberontaknya. Adelyn seperti terpenjara dengan perasaan Adelyn sendiri." Jawab Adelyn sambil bersandar sambil bercerita.


Sang ibu pun tersenyum, kini telah terungkap akan masalah yang sebenarnya Adelyn sembunyikan.


"Itu namanya kamu jatuh cinta dengan Viko, sayang ... kenapa kamu tidak berterus terang saja dengan orangnya. Justru kamu akan lebih tenang setelah mendapatkan jawaban darinya, kamu tidak merasa terpenjara dengan perasaan kamu sendiri." Ucap sang ibu menjelaskan, Adelyn masih menyandarkan pada pundak milik ibunya.


"Benarkah? tapi ... akan sangat memalukan jika kenyataannya Viko tidak menyukai Adelyn. Adelyn akan disangka orang bodoh yang mudahnya mengutarakan perasaannya, ah! tidak."

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bisa menebaknya sendiri soal Viko, seharusnya kamu bisa menangkap sikap Viko terhadap kamu. Mama saja dapat mengetahuinya, meski Viko tidak berani berterus terang."


"Maksud Mama? Viko juga menyukai Adelyn maksud Mama?" tanya Adelyn yang terus mendesak untuk mendapatkan jawaban dari ibunya.


"Ah, sudahlah. Kamu tidak perlu risau untuk memikirkannya, serahkan saja pada pemilik hati. Kamu cukup berusaha dalam diam, jika kamu merasa malu. Tapi, tetap kamu tunjukkan perasaan kamu yang sebenarnya. Mama yakin dengan sangat pasti, bahwa diantara kamu dan Viko tidak ada yang tahan memenjarakan perasaan masing masing." Jawab sang ibu berusaha menjelaskannya, Adelyn sendiri hanya mengangguk. Meski sedikit sulit untuk mengartikan penjelasan dari ibunya.


"Adelyn, kamu sakit?" tanya Afna yang tiba tiba tengah mengagetkan adik iparnya dan juga ibu mertuanya.


"Iya, Adelyn sedang sakit perasaannya. Adelyn butuh dokter spesial." Jawab ibu mertuanya sambil menjapit hidungnya dengan dua jari, kemudian tersenyum.


"Mama, apa apaan sih. Nanti Afna bisa mengetahuinya, Adelyn malu." Ucap Adelyn, kemudian membenarkan posisi duduknya.


"Bilang saja, jika butuh Viko untuk menjadi dokter spesial." Sahut saudara kembarnya yang tiba tiba sudah berada didekatnya tanpa Afna mengetahuinya, jika sang suami sudah pulang.


"Kak Zayen, kenapa sih mesti buka rahasia segala. Seharusnya kamu tuh menutupinya Kak, aku ini saudara kembar kamu. Hem ... ya sudah lah, terserah kalian." Ucap Adelyn sambil menatap Afna dan Zayen secara bergantian, sedangkan sang ibu hanya tersenyum mengembang melihat kedua anaknya dan menantunya yang tengah meramaikan suasana rumahnya yang sudah lama tidak ada keceriaan anak-anaknya.


"Sayang, kenapa kamu sudah pulang?" tanya Afna penasaran.


"Karena aku sudah merindukanmu, sayang." Jawab Zayen dan mencubit pipi milik istrinya dengan gemas. Kemudian, tanpa pikir panjang langsung menggendongnya sampai didalam kamar.


Adelyn yang melihat kemesraan Zayen dan Afna pun teringat dengan Viko yang tengah menawarkan diri untuk menggendongnya sampai dikamar, namun Adelyn sendiri yang menolaknya.


"Hem ... kenapa kamu melihat kakak kamu seperti itu? ada sesuatu lagi kah?" tanya sang ibu sambil melambaikan tangannya tepat didepan muka Adelyn.


"Mama, apa apaan lagi sih? sudah deh jangan godain Adelyn. Sekarang lebih baik Mama bantu Adelyn untuk masuk ke kamar, kaki Adelyn sedikit nyeri." Jawab Adelyn dibuat jutek, sang ibu hanya tersenyum mendengar jawaban dari putrinya.

__ADS_1


__ADS_2