
Afna masih terasa lesu dan juga tidak bersemangat, meski sang ibu berada di dekatnya.
"Afna, ayo kita pulang. Kamu kembali kerumah tante atau pulang kerumah orang tua kamu." Ajak sang tante memberi pilihan.
"Afna mau pulang ikut Mama, Tante. Lain waktu, Afna kerumah tante." Jawab Afna dengan lesu, mungkin bawaan hamil mudanya.
"Tidak apa apa, masih ada waktu lain untuk main ke rumah tante." Ucap ibunya Adelyn.
"Iya, Afna. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan kamu dan juga janin yang ada didalam kandungan kamu." Ucap Adelyn ikut menimpali.
"Kalau begitu, Afna pulang. Sampai ketemu hari dilain waktu ya, Tante, dan Adelyn." Ucap Afna berpamitan. Ibunya Adelyn langsung memeluk keponakannya, seakan tidak ingin melepaskan pelukannya. Sungguh, dirinya tidak tega jika Afna mengetahui masalah yang sebenarnya.
"Afna, jaga kesehatan kamu. Apapun itu, nomor satukan janin yang ada didalam kandungan kamu ini. Tante hanya bisa memberimu doa, dan menberikan penyemangat untuk kamu."
"Iya, Tante. Terimakasih atas perhatian Tante untuk Afna, dan yang pasti Afna menomor satukan calon anak yang ada dirahim Afna."
Setelah cukup lama, Afna dan ibunya segera pulang. Begitu juga dengan Adelyn dan ibunya pun ikut pulang, hanya saja tidak satu mobil.
Sedangkan di perjalanan, semua jalanan tengah macet. Membuat orang yang berkendara merasa kesal dan juga geram campur aduk menjadi satu. Tidak hanya itu, tuan Tirta dan juga tuan Alfan ikut geram dan sudah tidak sabar ingin cepat cepat sampai ditempat tujuan.
"Bagaimana ini, tuan Alfan. Aku benar benar mengkhawaritkan keadaan Zayen yang tertembak pada kedua kakinya, aku merasa sangat bersalah." Ucap tuan Tirta membuka suara.
"Bersabarlah, sebentar lagi kita akan sampai." Jawab tuan Alfan berusaha menenangkan.
"Bagaimana dengan pesan misterius yang mengirimu pesan tentang Adevin, apakah sudah ada titik terang?"
"Aku belum menemukan pelakunya, entahlah. Aku pasrah, meski aku sangat mengkhawatirkan putraku. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menebaknya." Jawabnya sambil fokus menyetir mobilnya, meski memiliki supir pribadi. Keduanya memilih mengendarai mobil tanpa supir, lebih nyaman untuk membicarakan sesuatu yang sifatnya pribadi dan rahasia.
"Semoga saja, bukan keluarga kamu sendiri pelakunya."
__ADS_1
"Maksudnya tuan Tirta, pelakunya keluarga Wilyam?"
"Aku hanya menebaknya hanya dengan pikiran bod*ohku. Jangan mempercayaiku 100%, bisa saja itu salah besar. Aku hanya teringat dimasa lalu keluarga Wilyam, bahkan tuan Ganan yang menjadi sasaran empuk."
"Aku bukan bagian keluarga Wilyam kalau itu, aku tidak mengerti."
"Kenapa kamu lupa, bahkan kamu sendiri penyelidiknya."
Alfan masih terus mengingat tentang masa mudanya yang menjadi kaki tangan tuan Ganan, tiba tiba ingatan tuan Alfan tertuju dengan saudara tuan Ganan.
"Aku tahu, tuan Dika. Dulu aku pernah menyelidikinya, tapi ... aku merasa bukan dia pelakunya."
"Kamu yakin, jika pelakunya bukan Dika?"
"Aku yakin, tuan Dika orangnya baik. Sampai sekarang masih tinggal di Amerika bersama istri dan anaknya, dan juga paman Galuh." Jawabnya sambil menyetir mobilnya.
"Lantas, kira kira siapa?"
Setelah memakan waktu yang cukup lama karena kemacetan diperjalanan, membuat keduanya terasa capek berada didalam mobil. Kini, telah sampai ditempat yang dimana Zayen akan tinggal.
Bayangan bayangan buruk tengah menghantui pikiran tuan Tirta akan nasib putri kesayangannya.
"Ayo, kita masuk." Ajak tuan Alfan sambil menepuk punggung tuan Tirta dengan pelan. Tuan Tirta pun mengikuti langkah tuan Alfan dari belakang.
Sesampainya di dalam, tuan Tirta melihat sosok bayangan yang seperti tidak asing dalam penglihatannya. Dengan cepat, tuan Tirta segera mengejar bayangan seseorang yang menurutnya sangat tidak asing.
"Sial! menghilang, lagi. Aku yakin, bayangan tadi adalah sosok yang tengah menghasut putraku." Ucapnya dengan kesal, dan segera kembali menemui tuan Alfan.
Saat tuan Alfan menengok kebelakang, bayangan tuan Tirta pun tengah menghilang.
__ADS_1
"Kemana perginya? apa kembali ke mobil? aku rasa tidak mungkin." Ucapnya lirih sambil celingukan mencari sosok tuan Tirta yang tiba tiba menghilang begitu saja.
"Dari mana saja, kenapa tiba tiba menghilang?" tanya tuan Alfan keheranan.
"Aku mengejar seseorang, namun tidak dapat aku kejar. Langkah kakinya yang begitu lebar, sepertinya seseorang yang tengah menghasut putraku."
"Ciri cirinya, pakaian apa yang dikenakannya."
"Serba hitam, dan memakai kaca mata hitam pula. Aku rasa, orang tersebut adalah yang menghasut putraku. Yang aku lihat, orangya seperti kaget dan ketakutan."
"Sekarang yang lebih penting, kita lihat kondisi Zayen. Bayangkan, tembakan pada dua kakinya. Pasti terasa sangat sakit, dan mengeluarkan banyak darah." Ucap tuan Alfan yang sudah tidak sabar ingin melihat kondisi suami keponakannya, yaitu Afna.
Setelah cukup lama membicarakan orang misterius, tuan Alfan dan tuan Tirta segera menemui Zayen.
Tuan Tirta dan tuan Alfan segera meminta izin untuk menemui Zayen, setelah mendapatkan izin segera menemuinya.
"Aku merasa sangat bersalah terhadap menantuku. Gara gara kecerobohan Kazza, putriku harus merasakan kekecewaan." Ucapnya sambil berjalan dengan pelan.
"Semua sudah terlanjur, lebih baik kita mencari cara untuk kebaikan Zayen dan Afna." Jawab tuan Alfan berusaha menenangkan.
Saat akan memasuki ruangan ke ruangan satunya, tiba tiba tuan Tirta dikagetkan dengan getaran pada ponselnya. Dengan cepat, tuan Tirta segera merogoh ponselnya dan membuka kunci pada layar ponselnya.
Dengan seksama, tuan Tirta membaca pesan yang telah masuk.
Putri kita, Afna tengah hamil anaknya Zayen. Sampaikan kabar bahagia ini kepada menantu kita, Zayen. Agar rasa sakitnya sedikit terobati, dan apapun kenyataannya yang terjadi, kabar bahagia ini adalah milik Zayen.
Begitulah pesan yang diterima, seketika itu juga wajah tuan Tirta terlihat sangat murung dan juga terlihat bersedih.
"Kenapa terlihat sedih? ada kabar apa?" tanya tuan Alfan semakin penasaran. Tidak biasanya tuan Tirta menangis di depannya, tuan Alfan bingung dibuatnya.
__ADS_1
"Putriku sedang hamil anaknya Zayen, aku tidak bisa membayangkannya. Betapa remuknya hati Afna, jiwanya pasti akan tergunjang, jika mengetahui semua masalah ini. Disaat kabar bahagia datang, kini suaminya harus berada dalam sel tahanan, dan semua ini sang kakak lah awal mula yang membuat suami Afna terkurung didalam jeruji besi. Tidak hanya hancur perasaannya, namun kesehatannya pun akan terganggu. Ditambah lagi, Afna yang sedang hamil muda. Pastinya butuh seseorang yang dicintainya ada didekatnya, dan juga sangat membutuhkan perhatian yang cukup. Tidak hanya itu jika Afna sedang ngidam, dan menginginkan ini dan itu, siapa yang akan memberi perhatian penuh untuknya kalau bukan suaminya. Dan pastinya akan ada banyak hal perubahan pada diri putriku, itu semua tidak mudah." Pikir tuan Tirta yang tidak sanggup membayangkan posisi putrinya saat ini.
"Aku mengerti akan posisi kamu, pasti sangat sulit. Percayalah, semua akan baik baik saja. Selamat ya, sebentar lagi akan menjadi kakek." Ucap tuan Alfan berusaha untuk menenangkan.