
Vella sendiri masih terus memperhatikan sosok Kazza dengan lekat. Ia masih merasa takut, jika yang ada dihadapannya itu hanyalah sebuah mimpi. Berkali kali Vella terus menepuk pipinya untuk memastikan kebenarannya, jika dirinya tidak lagi bermimpi.
Tidak lama kemudian, mobil pun telah berhenti di depan rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Kazza langsung menggendong Vella menuju ruang pemeriksaan.
"Aku mohon lepasin aku, jangan membuatku malu." Ucap Vella berusaha untuk melepaskan diri dari gendongan Kazza.
"Diamlah, jangan banyak protes." Jawab Kazza yang terus berjalan tanpa peduli ketika Vella terus memberontaknya. Mau tidak mau, Vella hanya bisa pasrah. Ia sendiri takut terjadi sesuatu pada dirinya jika terus memberontaknya.
Tidak memakan waktu yang lama, kini Vella sedang berada didalam ruangan pemeriksaan untuk ditanganinya. Takut, ada sesuatu hal buruk pada diri Vella.
Kazza sendiri memilih menunggunya di luar, berkali kali ia mondar mandir ketika menunggu pemeriksaan. Setelah selesai dilakukan pemeriksaan, sang Dokter pun segera keluar dari ruangan tersebut.
Perasaan Kazza pun masih terus mengkhawatirkan keadaan Vella, ia sendiri terus mondar mandir sambil memikirkan keadaan Vella.
"Bagaimana keadaannya, Dok? baik baik saja kan, Dok? " tanya Kazza sedikit panik dan cemas tentunya.
"Keadaan pasien baik baik saja, Tuan. Hanya saja, pasien mengalami shock. Namun, masih dapat untuk ditanganinya dengan baik. Tapi, lain kali jangan sampai terulang kembali kejadian yang seperti Tuan katakan. Jangan sampai lengah ketika sang istri tidak ada didalam rumah, jangan dibuatnya semakin trauma. Kasihan jika sampai terguncang jiwanya." Jawab sang Dokter memberi saran. Setelah itu, sang dokter segera pergi dan kembali ke ruang kerjanya.
Kazza pun segera masuk untuk menemui Vella. Dilihatnya sosok perempuan yang pernah menjadi asistennya itu sedang bersandar sambil membenarkan posisi duduknya ketika Kazza tiba tiba masuk kedalam ruangan, yang dimana dirinya baru saja melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan kamu, Vell?" tanya Kazza yang sudah berada didekatnya.
"Keadaanku seperti yang kamu lihat, aku masih normal dan waras." Jawabnya sambil menatap lurus kedepan, Vella sendiri belum bisa memberanikan diri untuk menatap sosok Kazza yang berada didekatnya itu.
__ADS_1
Dengan sangat hati hati, Kazza mencoba duduk disebelah Vella. Sedangkan Vella sendiri sedikit menggeser posisinya.
"Syukurlah kalau begitu, aku sangat mengkhawatirkan kamu. Maakanya, buruan segera menikah. Agar ada yang selalu menemani kamu tanpa lengah, dan tidak sampai terjadi sesuatu hal buruk pada diri kamu." Ucap Kazza yang ikut bersandar disebelahnya dan sama sama menatap lurus kedepan.
"Kamu bilang apa? menikah? hem, calon suami saja aku tidak punya. Dan kamu bilan, menikah? yang benar saja, Za. Calon suami saja aku pun tidak ada, apalagi seorang pacar. Ada ada saja kamu, Za. Sedangkan kamu sendiri kenapa tidak segera menikah? bukankah kamu sudah mempunyai pacar baru?" Jawab Vella yang masih menatap lurus kedepan dan belum dapat memberanikan diri untuk menatap Kazza yang posisinya sudah duduk disebelahnya.
"Hem ... terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas aku tidak mempunyai pacar maupun calon istri. Oh iya, aku mau keluar sebentar, jangan kemana mana." Ucap Kazza yang masih belum dapat percaya dengan penuturan Vella.
Vella sendiri hanya mengangguk, ia masih dengan posisinya seperti semula. Kazza sendiri langsung keluar, ia ingin mencari makanan untuknya dan Vella.
Saat keluar dari ruangan, kedua orang tua Vella dan sang kakak maupun Zacky kini telah sampai di rumah sakit. Tepatnya dimana Vella tengah mendapati pemeriksaan.
"Za, bagaimana keadaan Vella?" tanya Zacky dengan perasaan cemas serta merasa sangat bersalah.
Gerak reflek yang disertai kekesalan karena emosinya yang memuncak, Kazza langsung melayangkan tinjuannya tanpa berpikir panjang.
Zacky yang mendapat serangan dari Kazza, dirinya hanya meringis kesakitan sambil memegangi pada sudut bibirnya.
"Za! hentikan." Ucap sang ayah yang tiba tiba sudah berada dihadapannya.
"Papa ..." ucap Kazza dengan lirih.
"Zacky tidak bersalah, Jangan kamu teruskan emosimu itu." Ujar sang ayah mencoba menenangkan putranya yang sedang dikuasi emosinya.
__ADS_1
"Lebih baik Papa tidak usah ikut urusan Kazza. Papa itu tidak tahu yang sebenarnya, ini laki laki pacar baru Vella benar benar tidak bertanggung jawab." Jawab Kazza sambil menunjuk kearah Zacky yang sedang menahan rasa sakit pada sudut bibirnya itu.
"Justru kamulah yang tidak tahu yang sebenarnya, minta maaf lah pada Zacky." Ucap sang ayah meminta.
"Minta maaf? salah Kazza, apa? tidak salah nih jika Kazza meminta maaf dengannnya. Yang bawa Vella ke tempat reunian juga siapa? justru Kazza lah yang sudah menolong Vella. Jika saja datangnya terlambat, entah lah apa yang terjadi." Jawab Kazza yang terus membela diri, karena pada dasarnya Kazza tidak mengetahui awal mulanya Vella ikut dengan Zacky untuk datang diacara reunian di hotel milik keluarga suami saudara kembarnya sendiri yaitu Afnaya istri Zayen.
Kazza masih mengatur pernafasannya, sorot matanya yang tajam pun masih tertuju pada Zacky. Sedangkan Zacky sendiri langsung mendekati Kazza yang masih terlihat dengan tatapan kesalnya, bahkan terlihat membencinya. Namun, Zacky tetap meluruskan permasalahannya itu hingga berujung damai.
"Maafkan aku ya, Za. Gara gara aku mengajak Vella untuk menemaniku, hingga Vella harus menjadi korban dari orang yang tidak bertanggung jawab. Aku siap mendapat hukuman dari kamu, aku tidak akan menghindar dari hukuman yang kamu berikan untukku." Ucap Zacky dengan tatapan seriusnya.
Kazza sendiri masih menatap Zacky dengan penuh amarahnya, sedangkan Gio segera mendekati Kazza maupun Zacky. Berusaha untuk melerai permasalahan yang disalah artikan.
"Za, jangan kamu benci Zacky. Sebenarnya yang salah itu aku, akulah yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Kamu tahu? andai saja, aku tidak mengizinkan Vella ikut dengan Zacky, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Sebenarnya aku dan kedua orang tuaku lah yang sedang menguji perasaan kamu dan Vella untuk saling jujur, jika kamu dan Vella sebenrnya saling menyukai. Hanya saja, gengsi kamu dan juga Gengsi Vella sama kerasnya. Mau tidak mau, aku mengambil kesempatan ini untuk membuat kalian berdua mengakui perasaan kalian masing masing. Sekali lagi, maafkan aku dan kedua orang tuaku yang tengah ikut campur akan dirimu." Ucap Gio yang berusaha untuk menjelaskan sedetail mungkin.
JEDDDUUAR!!!
Seketika, Kazza terasa tersambar petir mendengarnya. Seakan dirinya telah diselidiki hingga sampai ke perasaannya itu.
Disaat itu juga, Kazza tercengang. Kemudian, ia menarik nafasnya dalam dalam. Setelah itu, membuangnya dengan kasar.
"Apa!!!!" suara yang terdengar kencang tengah mengagetkan Kazza maupun yang lainnya. Semuanya pun langsung menoleh ke sumber suara, tepatnya diambang pintu yang terlihat sosok perempuan yang sedang berdiri mematung.
"Vella," seru semuanya memanggil dengan reflek. Kazza pun langsung mendekatinya, Vella sendiri masih terdiam membisu tanpa berucap sepatah katapun.
__ADS_1