Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Ayam geprek yang menggoda


__ADS_3

Tidak hanya Zayen yang mendengarkan ucapan dari seorang preman, kedua orang tua Afna maupun istri Zayen sendiri pun tengah mendengarkan ucapan yang tidak enak untuk didengar.


Tuan Tirta langsung menoleh ke sumber suara, dilihatnya seorang laki-laki yang baru saja berucap soal mengenai menantunya.


"Papa, jangan dilayani. Laki laki itu memang begitu, orangnya suka berbicara semaunya. Zayen sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu, bagi Zayen tidak penting." Ucap Zayen mencoba untuk menenangkan ayah mertuanya, agar tidak terjadi beradu argumen.


"Kamu yakin, tidak sepantasnya laki laki itu mengatakan yang tidak baik tentang kamu. Biar papa yang akan memberi pelajaran untuknya, agar orang itu jera dan tidak menghinamu lagi."


"Zayen sudah terbiasa, Pa. Zayen sudah sering mendapatkan cacian maupun hinaan, Zayen tidak merasa kesal dibuatnya." Ucap Zayen berusaha untuk meyakinkan ayah mertuanya.


"Iya, nak Zayen. Orang seperti dia harus diberi pelajaran, agar tidak mengulangi kesalahannya." Ucap ibu mertuanya ikut menimpali.


"Yang dikatakan suami Afna ada benarnya, Pa. Afna pun sudah pernah melihat suami Afna sering diremehkan orang lain. Bagi Afna tidak perlu membalasnya, suatu saat akan menyadarinya sendiri. Mungkin bukan kita yang menyadarkan, tetapi lewat orang lain akan menyadari atas semua kesalahannya kepada orang orang yang sudah dibuatnya kesal." Ucap Afna yang sependapat dengan suaminya.


"Cie.... yang sudah satu pendapat." Ledek sang ayah tersenyum, sedangkan orang orang yang memperhatikannya pun semakin penasaran.


Tidak lama kemudian, ibu Marni membawa 4 porsi ayam geprek dan minuman teh hangat nya dibantu salah satu pekerjanya.


Saat ibu Marni akan menaruh ayam gesreknya dimeja, tiba tiba tercengang saat melihat siapa yang datang di warung makannya. Tubuhnya pun gemetaran saat melihat sosok laki laku paruh baya yang masih terlihat tampan duduk di warungnya beserta istrinya.


"Ibu Marni, kenapa gemetaran. Apakah ada perampok di rumah ibu Marni?" tanya Zayen penasaran sambil membantu ibu Marni meletakkan 4 porsi ayam gepreknya. Ibu Marni sendiri masih terdiam, merasa tidak percaya dengan seseorang yang ada didepannya.


Sedangkan Afna dan kedua orang tuanya pun ikut heran dengan ibu Marni yang tiba tiba gemetaran.

__ADS_1


"Sini, biar saya bantu." Ucap ibunya Afna sambil meraih gelas yang sudah berisi teh hangat yang ada di tangan salah satu pekerja ibu Marni. Tidak hanya itu, pekerja ibu Marni pun ikut kaget saat melihat seseorang yang ada didepannya.


Semua yang berada di sekelilingnya pun memperhatikan dengan penuh keheranan, preman yang baru saja menghina Zayen juga ikut menoleh ke tempat Zayen duduk bersama istrinya dan juga kedua mertuanya.


"Ibu Marni, kenapa masih bengong."


"Eh! anu, maaf. Ibu hanya kaget saja, nak Zayen." Jawabnya yang masih berdiri kaku sambil meremas remas pakaiannya.


Zayen yang memperhatikannya pun penasaran akan ekspresi ibu Marni yang tiba tiba terlihat aneh dan pastinya membuat Zayen penasaran.


"Katakan saja, Bu. Ada apa? siapa tahu Zayen bisa membantu ibu." Tanya Zayen yang masih penasaran.


"Tidak ada apa apa kok, nak Zayen. Ibu hanya kaget saja, tiba tiba ada tamu istimewa datang ke warung ibu. Ditambah lagi satu meja dengan kamu, apakah kedua orang besar ini adalah Bos kamu?" jawab ibu Marni merasa tidak enak hati. Sedangkan Zayen hanya tersenyum, dirinya belum siap untuk mengatakan yang sejujurnya. Tetapi jika mertuanya yang mengatakannya sendiri, Zayen tidak berani untuk mencegahnya.


"Sekali lagi, saya mau minta maaf. Jika pelayanan dari kami tidak sebagus dengan pelayanan Restoran tuan besar." Ucap ibu Marni merasa malu terhadap orang tua Afna.


"Kenapa ibu bicara seperti itu, saya sama seperti ibu. Ibu tidak perlu merasa sungkan terhadap kami, kita sama sama pedagang. Tidak ada yang lebih, begitu juga dengan ibu Marni." Jawab ibunya Afna mencoba bersikap untuk tenang, agar tidak membuat orang merasa kecil hati.


"Tapi Nyonya jauh lebih sukses dari saya, dan kesuksesan saya tidak ada satu jengkal dengan nyonya."


"Ibu Marni, kita sama. Jangan merasa minder karena kadar rizki yang berbeda, semua sudah ada takarannya masing masing. Namun pada hakikatnya kita sama sama berjuang." Ucap Afna ikut menimpali.


"Lebih baik kita melanjutkan makan malamnya, dan untuk ibu Marni lebih baik kembali ke belakang. Masih banyak tamu yang berdatangan, kasihan pekerja ibu Marni keteteran." Ucap Zayen dengan terpaksa, karena tidak ingin makan malamnya bersama mertuanya dan sang istri menjadi hambar hanya karena obrolan yang menurut Zayen tidak penting.

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya itu saja maksud Zayen sengaja menghentikan obrolannya bersama ibu Marni. Zayen hanya tidak ingin statusnya sebagai menantu dari keluarga Danuarta akan terbongkar, Zayen sengaja menutupinya karena alasannya yang belum siap untuk menjadi heboh.


"Kalau begitu, saya permisi Tuan, dan Nyonya. Selamat menikmati makan malamnya, semoga tidak kecewa dengan penyajian kamu yang sangat sederhana."


"Tidak apa apa kok, Bu. Saya lebih suka kesederhanaan dari pada kemewahan." Jawab ibunya Afna meyakinkan. Ibu Marni hanya tersenyum dan kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sedang Afna dan Zayen maupun kedua orang tuanya Afna kini sedang menikmati ayam geprek yang lumayan cukup menantang rasa pedasnya.


"Sangat pedas, benar benar menggugah selera. Mantap! ayam gepreknya." Ucap sang ayah sambil menyambar tissu yang ada didekatnya untuk mengusap ingusnya yang terus keluar seperti anak kecil yang sedang pilek. Tidak hanya sang ayah yang menyambar tissu, sang istri dan Afna pun ikut menyambarnya.


Berbeda dengan Zayen yang tanpa merasa kepedasan, bahkan Zayen sendiri dengan nikmatnya untuk menikmati ayam gepreknya yang terbilang cukup pedas.


Kedua orang tua Afna menatap menantunya penuh kehewanan saat menikmati ayam gepreknya.


'Jangan jangan ayam gepreknya ketukar lagi, kenapa aku merasa sangat pedas. Bahkan lidahku terasa sangat panas, sedangkan Zayen terlihat santai.' Batin ayah mertuanya sambil memperhatikan menantunya yang sedang menikmati ayam gepreknya.


"Zayen, ayam geprek kamu masih ada tidak?" tanya sang ayah mertua tanpa canggung.


"Masih ada kok, Pa. Tetapi sudah berlumuran dengan sambal, dan sangat pedas." Jawab Zayen dengan serius sambil mengunyah ayam gepreknya yang sudah terlanjur dimasukkan ke mulutnya. Sedangkan Ayah mertuanya masih tidak percaya dengan rasa pedas milik menantunya, yaitu miliknya Zayen.


'Aku tidak percaya, pasti punya kamu rasanya tidak terlalu pedas.' Batinnya yang masih percaya dirinya seorang tuan Tirta.


"Begini maksud papa, ayam gepreknya kita tukaran saja. Papa juga ingin merasakan ayam geprek punya kamu, sepertinya punya kamu sangat menggoda lidah papa." Ucap sang ayah mertua dengan nekad tanpa ada rasa malu dengan menantunya sendiri.

__ADS_1


"Papa yakin, nanti kalau kepedesan bagaimana? Zayen pesankan lagi ya, Pa ..." jawab Zayen merasa tidak enak hati.


"Tidak perlu, tenang saja." Jawabnya dengan enteng, sedangkan Zayen sendiri sedikit ragu. Karena ayam gepreknya terlalu pedas untuk mertuanya. Dengan berbagai alasan apapun tetap saja tidak dapat menggoyahkan pikiran ayah mertuanya.


__ADS_2