Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Tersedak


__ADS_3

Adelyn segera masuk ke kamarnya, ia masih dihantui dengan sosok Viko yang dingin akan selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi. Sesampainya di kamar, Adelyn langsung menjatuhkan tubuhnya dan rebahan sambil menatap langit langit kamarnya.


"Benarkah Mama akan kembali ke Amerika bersama Papa? ah, kenapa meninggalkan aku di rumah ini. Mana kak Zayen sudah beristri, sedangkan aku jomlo ngenes kek gini. Kenapa juga harus pria batu itu, benar benar seperti detektif kejam." Gerutu Adelyn sambil berdecak kesal mengingat sosok Viko super dingin. Bahkan, Adelyn sendiri menamainya pria batu.


Karena merasa gerah, Adelyn langsung bangkit dari tempat tidurnya. Segera ia membersihkan dirinya dengan berendam, berharap sesuatu buruk akan menjauh darinya.


Sedangkan Zayen dan Viko pindah tempat yang menurutnya cocok untuk mengobrol bersama. Keduanya kini hanya duduk berdua sambil menikmati kopi pahit ditemani kueh buatan Adelyn.


"Kuehnya sangat enak, apakah ini buatan istri kamu?" tanya Viko sambil mengunyah kueh buatan Adelyn.


"Bukan, yang membuat kueh Adelyn."


"Apa!" ucap Viko kaget.


"Nih, diminum. Biasa saja kali, tidak usah sekaget gitu kamunya. Sampai sampai tersedak begitu, hem ... tanda tanya." Jawab Zayen sambil memberikannya air putih yang ada didekatnya, sedangkan Viko lebih memilih minuman kopinya.


"Das*ar aneh kamu, Vik. Sudah tau tersedak, eee ... minumnya minum kopi lagi. Cocok kamu sama Adelyn, sama sama anehnya, serius." Ucap Zayen meledek, Viko hanya melotot didepan Zayen.


"Hem ... mulai, ya." Jawab Viko, kemudian meraih gelas berisi air putih yang diberikan dari Zayen.


"Sepertinya setelah ini kita langsung menjemput kak Seyn, bagaimana menurutmu?" tanya Zayen sambil menyeruput kopi pahitnya.


"Boleh juga, karena nanti malam aku ingin istirahat." Jawab Viko yang mulai terasa capek dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu ada masalah? katakan saja, Vik. Aku lihat kamu seperti tidak biasanya, jujur saja." Tanya Zayen yang mulai menaruh rasa curiga dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tidak apa apa, aku hanya merindukan kedua orang tuaku saja. Sejak aku datang ke kota ini dan ikut bekerja denganmu, aku tidak pernah kirim kabar kepada keluarga." Jawabnya sambil tertunduk.


"Jadi, selama ini kamu tidak pernah kirim kabar kepada keluarga kamu? tega sekali kamu." Tanya nya lagi.


"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin kedua orang tuaku mengetahui pekerjaanku sekeras ini." Jawab Viko merasa bersalah.


"Sekarang kamu bisa hubungi kedua orang tuaku, katakan saja yang sebenarnya. Bahwa kamu sekarang menjadi sekretaris, dan bekerja di Perusahaan Xxx. Aku yakin, kedua orang tuamu pasti tidak akan mempermasalahkannya. Ajaklah untuk datang ke Kota, atau kamu yang akan pulang ke rumah orang tua kamu." Ucap Zayen mengingatkan.


"Akan aku pikir pikir lagi, mungkin aku menghubunginya dulu. Berharap, kedua orang tuaku akan memaafkan aku yang sudah lama tidak memberinya kabar." Jawab Viko penuh sesal.


"Percayalah denganku, orang tua kamu tidak akan pernah memarahimu. Justru sangat bahagia saat mendengar suara kamu, meski hanya lewat ponsel. Jika kamu tidak percaya, maka cobalah." Ucapnya meyakinkan.


"Iya, aku juga merasa seperti itu. Oh iya, kita berangkat sekarang saja. Kasihan Seyn, pastu sudah tidak sabar ingin segera lepas dari tahanan." Jawab Viko, kemudian mengajaknya untuk menjemput seyn yang sedang berada didalam sel tahanan.


"Kalau begitu, kamu tunggu saja di ruang tamu. Aku mau berpamitan terlebih dahulu dengan istriku, aku tidak ingin membuat istriku khawatir." Jawabnya, Viko pun mengangguk dan keduanya segera bangkit dari posisi duduknya.


Ceklek.


Zayen membuka pintu kamarnya, dilihatnya sang istri yang sedang rebahan diatas tempat tidur. Zayen pun segera mendekati sang istri dan duduk disebelahnya.


Dengan pelan, Zayen mendekatkan dirinya pada siang istri. Dengan lekat, Zayen menatap istrinya. Afna pun merasa kikuk dibuatnya, ditambah lagi sang suami memasang senyum pada kedua sudut bibirnya. Membuat Afna semakin salah bertingkah dan bingung harus berbuat apa, Zayen pun langaung mengunci kedua tangan milik istrinya. Hingga Afna tidak bisa berkutik sedikitpun.


"Aku mau pergi sebentar, aku mau menjemput kak Seyn untuk pulang. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa meminta tolong Adelyn atau mama, atau juga pelayan di rumah ini." Ucap Zayen berpamitan.


"Iya, aku tidak melarangmu. Apakah aku boleh meminta sesuatu? jika kamu tidak bisa, maka aku tidak akan memaksamu." Jawab Afna dengan menatap suaminya dengan lekat, dan terlihat memohon.

__ADS_1


"Katakan saja, apa yang kamu inginkan? aku akan melakukannya untuk kamu dan calon buah hati kita." Tanya Zayen.


"Aku menginginkan buah mangga yang sangat muda, dan bijinya belum keras. Dan masih ada lagi, aku menginginkan ayam geprek. Tapi ada yang berbeda, sambal ayam gepreknya diberi perasan lima buah jeruk nipis. Apakah kamu mau mencarikannya? aku sangat menginginkannya. Jika memang tidak bisa kamu dapatkan, aku tidak memaksanya." Jawab Afna penuh harap, Zayen pun tersenyum mendengarkannya.


Dengan lembut, Zayen mendaratkan ciuma*nnya dikening milik istrinya. Setelah itu, Afna pun segera mengambil kesempatan pada suaminya. Afna sendiri langsung mencium pipi kanan milik suaminya itu, perasaan pada keduanya pun benar benar terasa sangat bahagia.


Zayen kembali berdiri dan langsung menyambar jaket yang berada di atas sofa.


Zayen masih seperti yang dulu, ia tetap berpenampilan sebagaimana dari dulu yang menurutnya merasa nyaman. Bahkan, Zayen tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Zayen sendiri lebih menyukai kesederhanaan, dan tidak berlebihan.


"Hati hati diperjalanan, jangan ngebut ngebut. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, karena aku selalu mengkhawatirkanmu." Ucap Afna, kemudian memeluk suaminya dengan erat.


Sejak Zayen lepas dari tahanan, Afna semakin sensitif, apapun itu yang berhubungan dengan suaminya. Bahkan, Afna merasa berat jika harus ditinggal keluar oleh sang suami. Afna selalu memeluknya, dan serasa tidak ingin melepaskannya.


"Kalau dipeluk terus, kapan aku berangkatnya, sayang ... kasihan Viko yang sudah menunggu lama. Ditambah lagi masih jomblo, apa kamu tidak kasihan?" jawab Zayen sambil mengingatkan akan status Viko yang masih sendiri.


"Ah iya,ya. Aku sampai lupa, kalau Viko tadi datang ke rumah." Ujar Afna yang baru menyadari adanya Viko didalam rumah.


"Hem ... kalau begitu, aku pamit mau berangkat. Jangan pergi kemana mana kalau bukan denganku, atau mendapat izin dariku." Ucap Zayen berpamitan.


"Iya, sayang. Aku tidak akan pergi kemana mana, lagian jika aku pergi tanpa ada kamu terasa asam."


"Aw! geli, sayang. Sudah mulai berani nih ceritanya, awas nanti malam loh." Ucap Zayen kemudian memutarkan tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang istrinya.


"Kamu memang paling bisa membuatku gila, bahkan lebih dari gila." Bisik Zayen didekat telinga istrinya, membuat bulu kuduknya berdiri.

__ADS_1


"Sudahlah, sayang. Kamu sudah ditunggu loh sama Viko, kasihan dia." Jawab Afna sambil melepaskan pelukan dari suaminya, keduanya kembali saling menatap satu sama lain.


"Aku berangkat." Ucap Zayen mengulang kalimat berpamitan dengan sang istri, kemudian menciumnya kembali kening milik Sang istri. Afna pun tersenyum, dan mengangguk.


__ADS_2