
Afna masih dengan posisinya yang sedang menutup kedua matanya dengan telapak tangannya, Afna sendiri takut untuk membukanya.
Sedangkan Zayen tetap bersikap santai tanpa perduli dengan keberadaan sang istrinya yang ketakutan saat mendapati suaminya sudah berada dikamar mandi.
Zayen segera menyambar handuknya, kemudian segera keluar dari tempat ritual mandinya. Zayen langsung mendekati istrinya yang masih pada posisinya, diperhatikannya sang istri yang sedang menahan rasa malu dan juga takut.
"Kenapa kamu masih menutup kedua mata kamu, bukankah kita ini suami istri. Lalu, kenapa kamu tidak berani berkutik. Bukalah telapak tanganmu, jangan takut." Ucapnya, kemudian segera melepaskan tangan milik istrinya yang sedang menutupi kedua matanya.
Afna pun hanya pasrah, kini keduanya saling beradu pandang. Zayen menatapnya dengan lekat, serasa ingin melahap istrinya selahap mungkin. Namun, Zayen segera menepis pikiran kotornya.
"Cepat bersihkan tubuhmu, apa perlu aku yang memandikanmu."
"Tidak, aku bisa sendiri." Ucapnya sedikit was was dan juga gugup.
"Kamu harus bertanggung jawab, kedua mata kamu sudah mencuri barang berharga milikku. Ucap Zayen sedikit mengecilkan suaranya, agar Afna merasa geli untuk mendengarkannya."
Wajah Afna seketika itu juga langsung berubah seperti udang rebus, dan Afna sendiri pun bingung untuk menjawabnya.
'Apa dia sudah gil*a, aku harus bertanggung jawab. Yang benar saja, apa maksud dari semua perkataannya. Dia tidak lagi meminta haknya, 'kan? sungguh aku belum siap.' Gumam Afna bergidik ngeri membayangkannya.
Afna masih memandangi suaminya hanya mengenakan handuk yang menutupi setengah badannya. Afna yang melihat postur tubuh milik suaminya pun semakin tidak karuan pikirannya.
"Hei, kenapa kamu melamun? apa kamu tidak berani bertanggung jawab, hemm." Ucap Zayen sambil melambaikan tangannya lagi lagi membuyarkan lamunan sang istri.
"Kenapa tidak berani, aku orang yang bertanggung jawab. Apapun kesalahanku, yang pasti aku akan bertanggung jawab." Jawabnya tanpa mengoreksi ucapannya sendiri, hingga dirinya tercengang karena ulahnya sendiri yang asal berucap tanpa menyaringnya.
"Aku tunggu setelah kamu selesai melakukan ritual membersihkan tubuhmu." Bisik Zayen, kemudian segera keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Afna yang mendengarnya pun bergidik geli, bulu kuduknya ikut berdiri. Afna segera mengunci pintunya, setelah itu langsung memulai ritual membersihkan diri. Dengan pelan, sedikit demi sedikit Afna membasahi tubuhnya dengan air hangat.
Afna merasakan kesegaran pada badannya yang terasa pegal pegal, air hangat yang tengah mengguyurnya serasa melakukan terapi pada seluruh badannya.
Afna segera menyelesaikan ritual mandinya, tiba tiba dirinya teringat akan ancaman dari suaminya. Afna sendiri bingung harus bertanggung jawab yang seperti apa, agar suaminya tidak lagi menekan maupun mengancamnya.
Lagi lagi, Afna lupa membawa baju ganti. Afna hanya memakai handuk kimono, sedangkan pakaiannya pun belum di siapkan karena terburu buru untuk masuk ke kamar mandi. Afna berkali kali menggigit bib*ir bawahnya sambil berdecak kesal, tatkala sang suami yang tengah mengancamnya hingga rasanya ingin segera mengumpat dan tidak dapat ditemukan.
Afna terpaksa keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk kimono milik suaminya. Dengan pelan, Afna melangkah menuju lemari untuk mengambil baju ganti. Tanpa Afna sadari, bahwa dirinya kini berasa di kamar suaminya.
Zayen mengernyitkan dahinya, tatkala Afna sedang membuka lemarinya.
Afna sendiri dengan percaya dirinya membuka dan segera mengambil bajunya.
"Ah! iya, ini kan bukan lemari bajuku. Bukankah ini rumah suamiku? ah, sialan." Gerutunya yang terdengar jelas oleh Zayen, suaminya.
Zayen yang mendengarnya pun tersenyum tipis dan langsung mendekati istrinya sambil memberikan pakaian lengkap untuk Afna.
"Mau ngapain kamu, pergilah dari hadapanku."
"Pergi, kamu bilang. Kalau aku pergi dari hadapan kamu, lantas sampai kapan aku harus menunggumu keluar dari kamar. Apa kamu akan memakai handuk kimono di rumah ini? yang benar saja." Jawab Zayen sambil menyembunyikan pakaian untuk istrinya yang berada di tangan Zayen.
"Maaf, aku lupa. Aku kira ini kamarku, jadi aku langsung membuka lemarinya untuk mengambil pakaian lengkapku."
Karena merasa kasihan dengan istrinya yang sudah dihantui rasa takut dan cemas, Zayen segera mengulurkan tangannya yang terdapat pakaian lengkap untuknya.
"Ini, pakaian lengkap untuk kamu. Pakailah, jangan banyak tanya." Ucap Zayen sambil memberikan pakaian lengkap untuk Afna.
__ADS_1
"Terimakasih, kamu sudah peduli denganku."
"Ingat, yang tadi. Kamu belum bertanggung jawab, jangan sampai lupa." Ucap Zayen sambil menakuti istrinya, Afna yang mendengarnya pun bergidik ngeri. Bulu kuduknya pun ikut berdiri, tatkala dirinya teringat sesuatu yang belum lama terjadi.
Afna langsung menyambar pakaian yang berada ditangan suaminya, dirinya segera kembali ke kamar mandi. Agar sang suami tidak melihatnya, pikirnya.
"Hei, kamu mau kemana, hah? ganti bajunya jangan di kamar mandi. Biar aku yang akan keluar dari kamar, aku beri kamu waktu lima belas menit." Ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan Afna yang masih berdiam diri.
Setelah Zayen keluar dari kamar, Afna baru tersadar dari lamunannya. Dengan cepat, Afna segera mengenakan pakaian lengkapnya dengan terburu buru. Dirinya takut jika akan dipergoki oleh Zayen saat mengenakan pakaiannya, pastinya sangat memalukan.
Setelah menurutnya sudah beres, Afna kembali ke kamar mandi untuk menaruh handuknya. Kemudian setelah itu, Afna segera menyisiri rambutnya.
Didepan cermin, Afna menatap lekat wajahnya sambil menyisir rambutnya. Tanpa disadarinya Zayen sudah berada dibelakangnya.
Zayen membungkukkan badannya, dan mendekati Afna yang tiba tiba tercengang saat sang suami sudah berada dengan jarak yang begitu dekat.
"Cepetan, semua sudah menunggu kita untuk sarapan pagi bersama." Ucapnya berbisik ditelinga istrinya, Afna hanya bisa mengangguk.
Zayen segera berdiri dan meraih sisir yang ada ditangan Afna, kemudian membantu istrinya untuk menyisiri rambutnya. Afna merasa malu, saat sang suami melakukan hal tersebut dari luar dugaannya.
"Sudah, jangan melamun. Ayo, kita segera turun. Aku gendong kamu, jangan protes." Ucap Zayen, dirinya langsung menggendong istrinya. Sedangkan Afna hanya nurut dengan apa yang suaminya lakukan.
Dengan pelan, Zayen menapaki anak tangga sambil menggendong istrinya sampai di ruang makan. Tuan Arganta maupun Seyn dan juga Reina menoleh kearah Afna dengan posisinya yang masih berada di gendongan suaminya.
Lagi dan lagi, Seyn hanya memasang raut wajah yang penuh kekesalan. Tanpa pikir panjang, Seyn langsung mengambil porsi makan yang begitu banyak. Kemudian segera menyuapinya sendiri, Seyn kembali terlihat kekesalannya. Semua yang melihatnya pun pura pura tidak tahu dengan apa yang tengah dilakukan oleh Seyn.
Sedangkan Zayen sendiri kini sibuk mengambilkan porsi makan untuk ayahnya dan juga istrinya. Seyn kembali kesal, rahangnya mengeras. Mengunyah makanan saja terasa hambar dan tidak begitu menikmatinya.
__ADS_1
Afna pun tidak perduli dengan Seyn yang menunjukkan rasa cemburunya terhadap suaminya, Afna tetap bersikap biasa dan menikmati sarapan paginya.
Berbeda dengan Reina, nafasnya pun terasa panas saat melihat Zayen yang juga begitu perhatian terhadap Afna. Reina mengira, bahwa Afna akan mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya karena Zayen terlihat seperti preman pasar. Karena Reina yakin dari penampilan Zayen yang arogan dan menakutkan, pikirnya.