
Sasa sendiri tidak bisa berbuat apa apa selain menyemangati Adelyn sahabatnya itu.
"Adelyn, kamu mau kemana?" tanya salah satu temannya sesama OB.
"Aku tidak lagi kerja disini, aku mau mencari pekerjaan lain." Jawab Adelyn beralasan.
"Bilang saja sih, jika kamu itu di pecat kerja di Kantor ini." Ucap seseorang tiba tiba menyambar ucapan salah satu teman OB Adelyn.
"Kamu itu, kalau tidak tahu permasalahannya itu lebih baik kamu diam. Jangan sampai kamu menyesal dengan tuduhan kamu itu." Ucap Sasa yang tidak Terima jika Adelyn selalu dipojokan.
"Memang benar ucapan kamu itu, jika aku memang di pecat. Lalu, apa urusan kamu menudingku dengan seenaknya kamu bicara." Jawab Adelyn yang mencoba untuk membela diri, agar orang yang dengan mudah menghakimi segera mendapat jera dan juga malu.
"Kasihan, pasti karena kerja kamu tidak bagus. Dan pastinya kamu tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di Kantor berikutnya. Aku yakin dengan tujuan kamu ke Kantor lain pasti akan ditolaknya juga." Ucapnya dengan bangga, sedangkan Adelyn tidak memperdulikannya.
"Heh, kamu kalau ngomong itu hati hati. Sebentar lagi Adelyn akan segera menikah dengan sekretaris Viko, dan pastinya juga Adelyn tidak harus bekerja juga kebutuhannya terpenuhi, secara gaji sekretaris Viko jauh lebih dari cukup." Ucap Sasa yang semakin geram mendengar ucapan dari teman akrab yang pernah menghina Adelyn dikala itu.
"Aku yakin dengan pasti, lama lama Viko juga bosan menjadi suami Adelyn. Sudah miskin, tidak mempunyai gaji bulanan. Yang ada juga tabungan Viko semakin berkurang, aku pastikan itu." Ucapnya yang membuat Sasa dan Adelyn semakin geram dibuatnya.
"Sudah sudah, aku mau pamit pulang. Aku tunggu dihari pesta pernikahanku, ya. Nanti kalian akan aku perkenalkan keluargaku, bukankah kalian semua sangat penasaran denganku? datanglah. Oh iya, kalian tidak perlu membawa sebuah kado untukku. Aku sudah mendapatkan kado yang istimewa di hari pernikahanku nanti." Ucap Adelyn sedikit membalas ucapan dari seorang perempuan yang ada dihadapannya.
"Ok, akan aku datang di hari pernikahan kamu. Aku pastikan jika kamu akan mendapat malu sendiri, secara kamu buka orang ningrat pada umumnya. Mentang mentang dapat gratisan dari keluarga pemilik perusahaan Garuda Mandiri, kamu sudah sombong." Ucapnya yang ikut geram saat mendengar ucapan Adelyn yang tidak membutuhkan sebuah kado, dan pastinya yang akan memperkenalkan kedua orang tuanya.
Adelyn hanya tersenyum saat mendengar ejekan demi ejekan oleh karyawan maupun yang lainnya, Adelyn begitu menikmati permainan drama yang begitu menghiburnya. Dan, pastinya dapat melihat dan menilai mana karyawan benar benar baik dan mana yang buruk.
__ADS_1
"Sa, aku pamit pulang. Sampai ketemu dihari pernikahanku besok, jangan lupa datang. Eh lupa juga, jangan lupa bawa pasangan kamu." Ucap Adelyn berpamitan sambil meledek sahabatnya itu.
"Awas, kamu. Aku tidak mempunyai pacar, semoga saja bisa bertemu di acara pernikahan kamu." Jawabnya ikut bergurau, Adelyn maupun Sasa tertawa kecil bersama. Setelah itu, Adelyn segera pergi meninggalkan Kantor yang membuatnya mengerti seperti apa orang orang yang ada didalam Kantor milik saudara kembarnya itu.
Sesampainya didepan Kantor, Adelyn menghirup udara yang bercampur aduk. Segar atau tidaknya, Adelyn menghirup udara kelegaan dengan cara menutup kedua matanya. Tanpa ia sadari, dihadapannya sudah ada sosok laki laki yang telah membuatnya tergila gila dengan cinta.
Saat Adelyn tengah membuka kedua matanya, dilihatnya seorang laki laki yang berdiri tegak dengan aroma parfum yang selalu membuatnya tergiur untuk dipeluk. Adelyn pun membelalakan kedua bola matanya saat ditatapnya.
"Selamat, sekali lagi selamat." Ucapnya, dan tersenyum lebar dengan Adelyn.
"Selamat? maksudnya? aku tidak mengerti." Jawabnya sambil menatap lekat.
"Bukankah kamu sudah dipecat?" tanyanya.
"Dipecat kok selamat, mendapat arti itu dari kamus mana. Baru dengar aku, yang ada itu merasa kasihan." Jawabnya sambil menggoyangkan bibirnya ke kanan dan ke kiri, Viko yang melihat ekspresi Adelyn hanya tertawa kecil melihatnya.
"Kak Zayen mau kemana? kok aku yang harus menggantikannya?" tanyanya lagi yang penuh rasa curiga.
"Pindah ke Kantor yang ditempati orang tua kamu, bukankah setelah kita menikah akan kembali lagi ke Amerika? hem." Jawabnya mengingatkan.
"Oooh iya, aku baru mengingatnya. Aku pikir, bahwa kak Zayen akan ikut pergi ke Amerika. Lalu, aku ditinggal di Tanah Air, tidak tahunya tidak sama sekali." Ucap Adelyn dan tersenyum.
"Sudah, ayo aku antar kamu pulang. Sekalian, hari ini kita akan mencoba gaun pengantin kita. Takutnya tidak cocok, dan membuat penampilan kamu tidak jadi Cinderella." Ajaknya dan sedikit bergurau.
__ADS_1
"Hem ... aku kan cantik, mau bagaimanapun pakaian yang aku kenakan tetap saja terlihat cantik." Jawabnya dengan percaya diri dan tersenyum lebar, sedangkan Viko tidak berpikir panjang lagi. Segera ia membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan calon iatrinya untuk segera masuk kedalam.
Adelyn pun nurut apa yang dimaksudkan calon suaminya itu.
Didalam perjalanan keduanya hening, Adelyn menyibukkan dirinya untuk melihat pinggir jalanan lewat jendela kaca mobil. Sedangkan Viko lurus pandangannya kedepan sambil menyilangkan kedua tangannya didada bidangnya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa keduanya telah sampai di depan butik dan salon yang terkenal. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Zayen, saudara kembar Adelyn.
"Wah ... benarkah ini butik milik kak Zayen?" tanyanya sambil memandang takjub butik yang terkenal itu.
"Hem ..." Viko yang hanya berdehem, Adelyn segera menoleh kesamping dan menatapnya dengan lekat.
"Kok, Hem sih." Ucapnya jutek, Viko pun tersenyum melihatnya.
"Sudah, ayo kita turun. Setelah ini aku akan memberimu kejutan, tentunya buang dulu muka cemberutmu itu." Ujar Viko sengaja membuat Adelyn semakin penasaran.
"Kejutan? serius? wah ... semakin tidak sabar aku menunggu kejutan dari kamu." Ucap Adelyn dan tersenyum lebar.
"Aw!! sakit, sayang." Ringik Viko menahan sakit karena kedua pipinya di cubit gemas oleh calon istrinya sendiri.
"Kamu lucu, ya. Baru saja, dicubit gemas sudah terlihat lucu. Apa lagi kalau ..." ucapnya yang tiba tiba tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Kalau apa? hem. Pasti pikiran kamu sudah menjalar kemana mana, hayo ngaku." Tanya Viko sedikit bergurau.
__ADS_1
"Hem ... tidak, serius. Maksud aku itu ... kalau kamu aku cubit yang lebih keras lagi. Pasti kamu akan guling guling dan berteriak meminta tolong." Jawab Adelyn sebisa mungkin untuk menjawabnya dengan baik dan dapat diterima dengan baik, meski calon suaminya itu tetap tidak percaya.
"Hem ... ah! sudahlah, ayo kita turun." Ajak Viko, kemudian keduanya segera melepaskan sabuk pengamannya.