
Setelah cukup lama mengobrol, Afna segera menghampiri suaminya. Dirinya tidak ingin mengecewakan suaminya, Afna menyadari bahwa dirinya yang sudah mengajak suaminya untuk ikut dalam acara keluarga.
"Tante Zeil dan paman Alfan, apa kabarnya?" sapa Afna ramah.
"Kabar kita berdua sangat baik, kamu sendiri?" jawab tantenya, dan balik menyapa.
"Kabar Afna juga baik, tante. Oh iya, nanti kalau mau bulan madu di Amerika. Sekalian liburan di tempat tante, bagaimana?"
"Afna tidak janji, tante."
"Iya, dong ... kapan lagi coba, mumpung masih jadi pengantin baru." Ucap sang paman ikut menimpali sambil meledek.
"Iya, tante. Afna usahain, tapi tidak janji."
"Iya, tidak apa apa. Bulan madu di tanah air juga sama saja, iya kan?"
"Kalau begitu, Afna pamit untuk menemui yang lainnya ya, tante ... paman."
"Permisi, paman dan tante ..." ucap Zayen berpamitan.
Setelah Zayen dan Afna tidak lagi mengobrol dengan kedua orang tua Adelyn, Afna mengajak suaminya untuk menemui yang lainnya.
Sedangkan kedua orang tua Adelyn merasa ingin banyak mengobrol dengan suaminya Afna.
"Sayang, aku sangat merindukan putraku. Pasti putra kita sudah sebesar Zayen, suami dari Afna. Kapan, kita akan dipertemukan dengan putra kita. Aku benar benar sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putra kita, Adevin. Siapa yang sudah berani memisahkan Adevin dengan kita. Sayang ... aku benar benar sangat merindukannya. Bertahun tahun kita mencarinya, namun kita tidak pernah dipertemukan." Ucapnya sambil bersandar pada pundak suaminya.
"Kamu yang sabar, semua akan ada waktunya untuk kita dapat bertemu dengan putra kita. Percayalah padaku, kita akan segera menemukannya." Jawab sang suami berusaha untuk menenangkan istrinya yang sangat merindukan buah hatinya.
"Sabar ya, tante Zeil ... Adevin pasti dapat ditemukan. Bukankah paman Alfan sangat handal dalam penyelidikan." ucap keponakan berusaha ikut menenangkan tantenya.
"Tante sudah sangat bersabar, Ney ..."
"Iya, Ney. Mamaku sudah sangat bersabar, bahkan mama dan papa akan bertahan untuk tinggal di Tanah Air. Mulai hari ini dan seterusnya, mama dan papa akan melakukan pencarian lagi untuk mencari keberadaan kak Adevin."
"Semoga cepat terungkap semuanya ya, tante. Semoga Adevin segera ditemukan, pasti sangat tampan seperti paman Alfan."
__ADS_1
"Cie ... kamu naksir? jangan! dilarang keras jika kamu sampai menaksir kakakku." Ledek Adelyn dengan senyum manisnya.
"Sudah sudah ... kalian berdua sangat kompak jika saling meledek. Dan kamu Ney, apakah kamu sudah bertemu dengan Afna?" tanya tante Zeil.
"Belom tante, dari tadi Ney sibuk dengan kak Kazza dan kedua kakak kembarnya Ney."
"Hanya Adelyn yang tidak beruntung, kalian mempunyai kembaran yang bisa dijadikan teman. Sedangkan Adelyn ..." ucapnya yang tiba tiba terhenti.
"Adelyn masih punya Ney dan kak Kazza, kak Rey, dan kak Zakka." Jawab Neyla, kemudian langsung memeluk Adelyn saudaranya.
Setelah itu, Neyla melepas pelukannya dan menghapus air mata Adelyn.
Sedangkan Afna sedang memperkenalkan suaminya kepada keluarganya.
"Kak Rey, kak Zakka. Apa kabarnya? perkenalkan ini suami Afna, namanya Zayen.
"Aku Rey, saudara Afna dan Kazza." Ucap Rey memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
"Zayen, suami Afna." Jawabnya dan mengulurkan tangannya, keduanya pun berjabat tangan.
"Aku Zakka, saudara kembarnya Rey." Ucapnya yang juga mengulurkan tangannya.
"Aku Neyla, saudara kembarnya kak Zakka dan kak Rey. Kami bertiga tidak ada kemiripan, jangan curiga." Ucapnya yang tiba tiba mengagetkan, dan kemudian mengulurkan tangannya.
"Aku Zayen, suami Afna." Jawabnya singkat.
"Tunggu! sepertinya aku pernah mengenalmu. Tapi dimana, ya!"
"Jangan sok kenal kamu, Ney. Kebiasaan buruk kamu, Zayen sudah menjadi suami Afna. Ingat, Ney ... ingat." Ucap Rey mengingatkan, Rey mengerti akan sifat adik perempuannya yang sangat berani dengan siapapun.
"Aku tidak bohong. Aaaah! iya, aku ingat. Kamu teman sekolahku dulu, iya kan? Kamu Ayen?tambah jelek saja kamu. Rupanya kamu yang menjadi suami Afna. Selamat ya, sekarang kamu jadi saudaraku." Ucap Neyla yang ceplas ceplos.
"Iya, aku Ayen. Aku teman sekolah kamu, ternyata kamu bersaudara dengan istriku." Jawabnya datar.
Sedangkan Zayen sendiri tidak menyangka, jika Nayla adalah bagian dari keluarga Wilyam.
__ADS_1
'Bukankah Neyla ini anak tomboy yang terkenal arogan. Ternyata anak orang kaya raya, benar benar sangat berbeda dengan kehidupan di sekolahnya yang aku kenal. Tapi kenapa kenapa tidak satu sekolahan dengan kakaknya.' Batin Zayen yang tidak percaya dengan sosok Neyla yang dikenalnya.
Kazza yang sedari tadi hanya diam, bahkan tidak bersuara sepatah kata pun. Rey maupun Zakka pun sangat heran dengan saudaranya yang bernama Kazza, bahkan hanya diam saat adik iparnya berada di depannya.
'Kazza sedang tidak lagi sariawan, 'kan? kenapa dari tadi hanya diam. Bahkan sangat dingin, benar benar ini kakak ipar.' Batin Kazza sambil menggelengkan kepalanya.
"Hayo ... kalian sedang apa? sudah waktunya untuk makan siang nih, ayo semuanya pindah tempat. Buat kamu Afna, ajak suami kamu untuk bertemu dengan kakek Angga dan kakek Zio. Kamu belum menemuinya, 'kan?"
"Iya, Omma Qinan ... Afna akan segera menemui kakek Zio dan juga kakek Angga."
"Jadi, kamu belum menemui kakek?" tanya Rey pura pura kaget sambil bengong dan melotot pastinya.
"Tidak segitunya juga kali, kak! ekspresinya." Ucap Ney yang langsung mengusap wajah kakaknya.
"Aah! reseh kamu, Ney. Gangguin saja kamu,Ney. Aku itu sedang menakuti Afna, tau."
"Hem! kebiasan." Ucap Ney sambil mencubit pinggang sang kakak. Sedangkan Rey meringis kegelian.
"Kita berdua pamit dulu ya kak Kazza, kak Zakka, kak Rey, dan kamu Ney... aku dan suami mau pergi menemui kakek Angga dan kakek Zio." Ucap Afna berpamitan.
"Permisi ..." Ucap Zayen singkat. Selain tidak suka ngobrol, Zayen pun tidak suka banyak kosa kata yang terucap.
Setelah berpamitan, Afna mengajak suaminya untuk menemui kakek Angga dan kakek Zio.
Setelah sampai di dalam ruangan, Afna memasang senyum mengembang pada kedua sudut bibirnya.
"Kakek Angga ... kakek Zio. Apa kabarnya?" sapa Afna, kemudian mencium punggung tangan kakek Zio dan kakek Angga secara bergantian dengan suaminya.
"Kabar kakek sangat baik, begitu juga dengan kakek Angga yang juga kabarnya baik juga. Oh iya, apakah kamu suaminya Afna?" tanya kakek Zio. Dikarenakan, saat pernikahan Afna hanya dihadiri beberapa sanak keluarga. Sedangkan keluarga kakek Zio dengan posisinya yang masih berada di Amerika.
"Iya, kek. Saya Zayen, suami Afna." Jawabnya dan tersenyum.
"Kamu mirip dengan menantuku, dan kamu juga mengingatkanku dengan cucuku laki lakiku yang telah hilang lebih dari dua puluh tahun. Mungkin sekarang sudah sebesar kamu, dan tampannya pun tidak kalah jauh bedanya dengan kamu."
"Semoga cucu kakek segera ditemukan dan berkumpul kembali bersama keluarga, kakek pasti sangat merindukannya. Apakah kakek sudah melakukan pencarian?" Jawab Zayen dan balik bertanya.
__ADS_1
"Sudah, kami sekeluarga sudah mencari keberadaan cucu kakek yang bernama Adevin. Namun, sampai sekarang pun belum mendapatkan titik terangnya." Jawab kakek Zio dengan lesu dan sedih tentunya. Entah apa penyebabnya, cucu kesayangannya hilang begitu saja tanpa jejak.
"Apakah Zayen diperbolehkan untuk ikut menemukan cucu kakek?" tanya Zayen memberanikan diri, selain banyak anak buah. Zayen pun tidak kalah pintarnya dengan Alfan. Meski dirinya sendiri tidak dapat menemukan jati dirinya sendiri. Selain sangat sibuk, Zayen sudah pasrah akan asal usul dirinya. Sudah mendapatkan istri yang begitu mencintainya saja, Zayen sudah sangat bersyukur. Meski dirinya pun sangat merindukan seorang ibu dan sosok Ayah yang bisa dijadikan contoh.