
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk kembali ke rumah, Kazza dan istri serta kedua orang tuanya telah sampai di halaman rumah.
Kemudian, Kazza dan Vella segera turun dari mobil. Saat Vella hendak membuka pintu mobil, tiba tiba Kazza menahannya.
"Kenapa?" tanya Vella.
"Diamlah, dan tetap duduk dengan posisi yang semula." Jawab Kazza dengan isyarat anggukan kepala.
"Memangnya ada apaan sih? kenapa kamu melarangku untuk turun, apakah kita akan putar balik?" tanya Vella yang masih belum mengerti.
Tanpa pikir panjang, Kazza segera turun dan membukakan pintu mobil pada istrinya. Vella sendiri merasa aneh akan sikap suaminya itu, tidak biasa biasanya menunjukkan perhatiannya. Biasanya saat belum menjadi suami istri, sikap Kazza yang selalu cuek dan juga dingin. Vella yang mendapat perlakuan dari suaminya itu pun langsung turun dan membenarkan penampilannya, takut akan ada yang terlihat kurang rapi.
Tanpa berkata apa pun pada istrinya, Kazza langsung menggendong istrinya sampai didalam kamarnya. Kazza tanpa memperdulikan rasa lelah maupun yang lainnya.
"Lepaskan, malu dilihat Papa dan Mama." Ucap Vella sambil mencoba melepaskan diri dari suaminya. Kazza semakin mengeratkan tangannya, dan berusaha untuk tidak menurunkan sang istri dari gendongannya. Vella yang biasanya jago membela diri, kini tenaga suaminya jauh lebih kuat darinya.
"Tenang, mama dan papa pernah muda dan juga pernah melewati hari bahagianya." Jawab Kazza yang terus berjalan menuju kamarnya.
"Iya, tapi aku malu. Lihatlah, mama dan papa tertawa kecil melihat kita yang seperti anak kecil yang sedang bermain." Ucap Vella yang terus merayu, Kazza tetap tidak memperdulikannya hingga akhirnya sudah berada didepan pintu kamar pengantin yang sudah terbuka dengan lebar.
"Ayolah, turunkan aku sekarang juga." Perintah Vella yang tidak menyadarinya, jika dirinya sudah berada didepan kamar pengantin.
Tanpa pikir panjang, Kazza langsung membungkamnya dengan sentuhan lembut pada bibir ranum milik istrinya.
Seketika, Vella tercengang dibuatnya. Kazza yang begitu menikmatinya, segera ia masuk ke dalam kamar. Kemudian mengunci pintunya, Vella semakin gugup dan berdebar debar detak jantungnya.
__ADS_1
Perasaan takut maupun was was tengah menghantui pikirannya, dirinya berusaha untuk tidak membayang hal hal yang membuatnya melanglang buana.
Dengan pelan, Kazza menurunkan istrinya sambil menatap lekat diatas tempat tidur. Keduanya saling beradu pandang satu sama lain. Kemudian, Kazza segera melepaskan sesuatunya yang menempel pada kedua kaki milik sang istri maupun miliknya.
Vella masih gugup dan bercampur aduk dalam perasaannya, bahagia dan juga rasa malu tentunya.
Kazza yang sudah terbuai akan suasana didalam kamar, otaknya pun sulit untuk berpikir jernih. Dalam pikirannya hanya sebuah kebahagiaan bersama istri tercintanya. Semakin menatap wajah istrinya, semakin tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Kazza yang sudah tidak lagi dapat mencegahnya, ia mencoba membisikkan sesuatu di dekat telinga sang istri.
"Maafkan aku, jika aku memintanya untuk melakukannya sekarang. Apakah aku diizinkan untuk meminta hak ku sepenuhnya? katakan." Ucap Kazza lirih dan bertanya, Kazza takut akan adanya rasa keterpaksaan ketika ia memintanya.
Vella mengangguk, ia mengerti akan kewajibannya. Apapun itu keadaannya, selagi dirinya mampu, Vella tidak akan menolaknya.
Saat Vella yang tengah berbaring pun, kini tidak bisa berbuat apa apa ketika apa yang sudah menjadi hak suaminya tidak dapat lagi untuk dicegahnya. Vella pun menikmatinya setiap perlakuan dari sang suami padanya. Hingga pada akhirnya, Vella dan Kazza sama sama menikmatinya tanpa adanya rasa keterpaksaan.
Karena rasa capek yang sudah menguasai anggota badannya, Vella sendiri kesulitan untuk menggerakkan kedua kakinya dan seluruh badannya ikut tegang pada otot ototnya. Begitu juga dengan Kazza, seluruh badannya terasa kaku dan tegang.
Kazza yang juga terbangun dari tidurnya, ia menyandarkan badannya dan meluruskan kakinya. Berharap, rasa sakit yang dirasakannya akan hilang dengan sendirinya.
Vella yang menahan rasa sakit, ia juga ikut bersandar pada dada bidang suaminya dengan balutan selimut.
Dengan lembut, Kazza membelai rambut milik istrinya dan mencium keningnya.
"Sayang, terima kasih atas mahkotanya untukku. Aku berjanji, aku akan menjagamu dengan baik. Aku akan selalu ada untuk kamu, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Maafkan aku yang sudah membuatmu sesakit ini." Ucap Kazza sambil melingkarkan kedua tangannya dipinggang istri tercintanya.
__ADS_1
"Ini sudah menjadi kewajibanku padamu, suamiku. Semoga, sekarang dan seterusnya kita akan terus bersama selama lamanya." Jawab sang istri, Kazza pun tersenyum dan mencium keningnya lagi.
Kemudian, karena badan terasa gerah dan tidak nyaman. Kazza dan Vella segera mandi bersama untuk membersihkan diri.
Sedangkan dilain tempat, yaitu di kediaman tuan Dana. Zayen dan sang ayah tengah duduk bersama, ketiganya sama sama sedang berpikir keras untuk memecahkan sebuah masalah yang menyangkut hubungannya dengan tuan Dana.
"Zayen, apakah kamu sudah mengingat soal sosok yang bernama Guntara?" tanya sang, kemudian menyeruput kopi panasnya.
"Iya, Zayen sudah ingat. Guntara, teman Zayen diwaktu sekolah. Dia pernah mengatakan, jika istrinya tengah menggugurkan kandungannya. Kemudian, istrinya hamil lagi. Soal istri kedua, Zayen tidak mengetahuinya." Jawab Zayen mencoba menjelaskannya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mempertemukan kamu dengan adikmu. Buat Zayen yang mendatangi Guntara, adikmu." Ujar tuan Alfan berkata pada tuan Dana.
"Aku sedikit ragu, jika Guntara mau mengakui aku sebagai kakaknya. Karena aku sendiri tidak pernah mencarinya dan tidak pernah menampakkan diriku dihadapannya." Jawab tuan Dana merasa pesimis.
"Aku mengenal Guntara cukup lama, semoga saja masih seperti yang dulu. Meski terkadang suka mengejek, namun itu semua hanya sebuah gurauan. Aku mengenalinya, dan aku akan mencoba mengatakannya dengan baik." Ucap Zayen berusaha untuk meyakinkan.
"Semoga, paman hanya bisa pasrah. Setidaknya, paman dapat bertatap muka langsung dengan seorang adik. Itupun jika masih bisa untuk bertemu, apalah aku yang sekarang ini." Sahut tuan Dana yang mulai merasa sedih akan perbuatannya yang pernah meninggalkan keluarganya.
"Jangan dibuat beban, semua akan ada waktunya untuk berkumpul bersama. Bersabarlah, itu kuncinya. Aku yakin jika adik kamu akan tetap bersikap baik dan akan menerimamu kembali." Ucap tuan Alfan menyemangati.
"Seandainya aku tidak memiliki rasa iri maupun cemburu berlebihan denganmu, mungkin aku tidak akan kehilangan orang orang yang aku sayangi. Aku menyesalinya, sungguh aku menyesal." Jawab tuan Dana, kemudian
beliau menitikan air matanya penuh penyesalan atas perbuatan kejinya selama ini.
Tuan Alfan segera mendekatinya, kemudian merangkulnya dan menepuk punggunggnya pelan.
__ADS_1
"Bersabarlah, semua akan baik baik saja. Yang lalu biarlah berlalu, jadikan semua itu pelajaran serta teguran." Ucap tuan Alfan meyakinkannya.