Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Merasa sangat malu


__ADS_3

Dengan cepat, Zayen segera menapaki anak tangga. Dilihatnya sang istri yang sudah tidak tahan menyangga tubuhnya dengan satu kakinya sebelah kiri.


"Afna!!" teriak Zayen sekencang mungkin, dirinya segera menangkap tubuh istrinya yang akan terjatuh ke lantai.


BRUK!! Zayen menangkap tubuh istrinya hingga terjadi seperti tabrakan. Afna meringis kesakitan, dirinya langsung mencengkram lengan suaminya dengan kuat.


Sekarang giliran Zayen yang meringis kesakitan, akibat ulah istrinya yang mencengkram lengannya.


"Kamu sudah bosan hidup? hah!" Ucap Zayen sedikit membentak.


"Maafkan, aku." Jawab Afna merasa bersalah.


Tanpa pikir panjang Zayen langsung menggendong istrinya untuk masuk ke kamar. Kemudian Zayen menurunkan istrinya kembali ke tempat tidur. Afna masih berdiam diri, tatkala merasa ketakutan saat suaminya membentaknya. Afna pun tidak pernah menyangka, jika suaminya bisa membentaknya.


Afna masih teringat saat Reina mendapat bentakan dari Seyn, dan sekarang gilirannya yang mendapat bentakan dari suaminya.


Afna masih bersandar dan sambil memeluk bantal, Zayen yang melihatnya istrinya murung langsung segera duduk didekatnya.


"Kenapa kamu murung, kamu marah?" tanyanya sambil menatapnya dengan serius.


"Tidak, aku hanya takut saja."


"Apa yang kamu takutkan, suara pistol? iya." Tanya Zayen penasaran dengan sikap istrinya yang tiba tiba terlihat bersedih.


"Tidak hanya itu, bahkan lebih." Jawabnya yang membuat Zayen belum bisa menebaknya.


"Aku masih belum mengerti dengan yang kamu ucapkan, katakan saja dengan jelas. Aku bukan peramal yang dengan entengnya kamu memberikan jawaban yang tidak dapat aku mengerti." Ucapnya masih merasa bingung dengan penuturan dari istrinya.


"Apa kamu yang menggunakan pistolnya? aku dengar kamu memukul tengkuk leher kakak kamu. Apa yang kamu lakukan, katakan dengan jujur." Tanya Afna yang masih mencurigai suaminya.


"Yang kamu tanyakan, sama sekali bukan aku yang menggunakan pistol. Tetapi kak Seyn, aku terpaksa memukul tengkuk lehernya dan menepis pistol yang berada di bawah daguku."


"Ada masalah apa, hingga kamu berantem begitu seramnya." Tanyanya masih penuh selidik.


"Itu urusanku dan kak Seyn, tidak ada hubungannya dengan kamu. Sudah larut malam, tidurlah. Aku tidak ingin kondisi fisikmu menurun, tidak baik seorang wanita bergadang."

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa? memikirkan Seyn?" tanyanya menahan kekesalan terhadap istrinya.


"Bukan! aku merasa aneh denganmu, itu saja."


"Aneh denganku? yang benar saja, lucu sekali kamu."


"Kenapa kamu berucap seperti itu, apa aku boleh bertanya sesuatu denganmu? aku tidak memaksa."


"Katakan saja, selagi aku bisa jawab akan aku jawab dengan benar."


"Jika kamu tidak bisa menjawab, maka kamu akan menjawab dengan kebohongan?" tanya Afna yang masih penasaran dengan sosok suaminya.


"Kenapa kamu begitu mudahnya vonis aku seperti itu, terlalu burukkah diriku ini dimata kamu, hah? jawab."


"Kenapa Seyn bisa memiliki pistol? katakan." Tanya Afna mendesak.


"Karena kak Seyn hobinya bermain pistol, bukankah kamu mantan kekasihnya kak Seyn. Seharusnya kamu itu sudah mengetahuinya dari dulu, lantas selama kamu menjalin hubungan dengannya kamu dijadikan apa sama kak Seyn?" jawab Zayen berusaha mengalih pembicaraannya.


"Kamu tidak perlu takut, dan juga cemas. Hanya sebuah pistol, bagiku tidak ada apa apanya." Ucap Zayen berusaha meyakinkan, dirinya tidak suka jika di interogasi. Meski yang bertanya istrinya sendiri, Zayen tetap lebih menyukai menyimpan segala keluh kesahnya.


"Aku hanya tidak ingin, jika kamu ikut ikutan menggunakan pistol dengan cara yang salah. Aku sangat membenci laki laki yang suka menggunakan pistol, karena identik dengan kejahatan."


Zayen yang mendengarnya pun berusaha untuk tenang dan tidak terlalu gelisah, dirinya sendiri menganggap ucapan dari istrinya adalah sebuah nasehat untuk kepribadiannya.


Sedangkan Afna masih menunggu jawaban dari sang suami yang masih menatap lekat pada dirinya sendiri.


"Bayangkan saja, jika suami kamu bukan orang baik. Maka apa yang akan kamu lakukan untuk suami kamu, apakah kamu akan membencinya ataupun akan tetap bersama suami kamu, hah? katakan." Ucap Zayen mencoba memancing istrinya untuk memberi jalan keluarnya.


Afna masih terdiam, dirinya bingung mendapati pertanyaan dari suaminya yang begitu rumit.


"Aku akan menasehatinya, dan aku tidak akan membiarkan suamiku terjun dalam dunia gelapnya." Jawabnya berusaha berucap dengan sebaik mungkin.


"Sudah lah, sekarang sudah waktunya untuk tidur. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit, karena besok pagi kita harus bangun pagi untuk mengajakmu pulang. Aku sudah bosan di rumah ini, dan secepatnya kita akan pergi dari rumah ini."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan usahanya Viko yang sedang mencarikan tukang pijat yang handal? sangat disayangkan."


"Jangan khawatir, Viko sudah mendapatkan tukang pijat yang handal untuk menyembuhkan kaki kamu." Jawabnya meyakinkan, agar sang istri lupa akan pembicaraannya tentang mengungkit masalah pribadinya dengan sang kakak.


"Benarkah?" tanyanya antusias.


"Benar, untuk apa aku membohongi kamu."


"Terimakasih ya, kamu susah payah melakukan semua ini untukku."


'Tadi mencurigaiku, sekarang memujiku. Setelah ini, apa lagi yang akan dilontarkan kepadaku.' Gumam Zayen sambil menggaruk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Setelah dirasa sudah cukup untuk mengobrol, rasa kantuk pun tengah di rasakan oleh Zayen dan Afna. Keduanya benar benar tidak dapat menahan rasa kantuknya.


"Besok lagi ngobrolnya, sekarang istirahatlah. Tidak bagus tidur lewat jam tengah malam, dan juga bangun kesiangan. Tidak baik untuk kesehatan." Ucap Zayen menghentikan obrolannya.


"Baiklah, aku akan segera tidur." Jawabnya kemudian memposisikan badannya miring dan membelakangi suaminya.


Sedangkan Zayen masih seperti semula saat dirinya tidur. Sebelum rasa kantuk benar benar mengganggu kedua matanya, Zayen menatapi langit langit kamarnya sambil melamun.


Setelah rasa kantuk tengah mengundang, Zayen maupun Afna sama sama sudah tertidur pulas. Keduanya tidur tanpa menggunakan pembatas, Afna sendiri tidak begitu takut dengan suaminya. Karena Afna yakin, bahwa suaminya tidak akan melakukan pemaksaan.


****


Pagi yang masih petang, Afna terbangun dari tidurnya. Dengan pelan, Afna membuka kedua matanya sambil menguceknya. Dan dilihat di sampingnya kini sudah tidak ada sosok suaminya, Afna pun celingukan kesana kemari. Tetapi, Afna tidak mendapatkan suaminya di kamar.


Afna segera bangun dari tidurnya, dan duduk sambil meregangkan otot otot pada leher dan kedua tangannya. Setelah merasa sudah cukup, Afna meraih tongkat penyangganya. Meski masih menahan rasa sakit, Afna berusaha untuk tidak selalu mengeluh. Afna terus berusaha untuk kuat dan tegar dengan kondisinya yang memprihatinkan.


Akhirnya, Afna dapat berdiri meski dengan alat bantu. Afna berjalan menuju kamar mandi, dirinya ingin membersihkan badannya yang terasa lengket dan juga risih.


Ceklek, Afna membuka pintunya dan nyelonong masuk kedalam kamar mandi. Seketika itu juga, Afna membelalakan kedua bola matanya dan tercengang cukup lama.


"Tidak .........!!!" teriak Afna sekencang mungkin, dan dengan sigap Afna menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.


Betapa malunya akan perbuatan atas kecerobohannya.

__ADS_1


__ADS_2