
Disisi lain, Adelyn masih berada di Restoran sederhana. Dirinya sedang menikmati berbagai macam makanan yang ia pesan. Disaat itu juga, dirinya dikagetkan oleh satu orang laki laki yang tidak dikenalnya. Sedangkan dipojok sudut ruangan ada sosok laki laki yang juga mengikuti Adelyn, tanpa Adelyn sadari ada dua sosok laki laki tengah mengikutinya.
Dengan beraninya dan tanpa pikir panjang, sosok laki laki yang tidak dikenal Adelyn langsung mendekatinya dan duduk di hadapannya Adelyn. Sontak saja, Adelyn pun kaget dibuatnya.
Adelyn segera menarik nafas panjangnya, dan keluarkannya dengan kasar.
"Hei, kok sendirian, dimana teman kamu?" tanyanya basa basi. Adelyn masih diam dan tidak menjawabnya, baginya tidak penting menjawab orang yang sok dekat dan sok kenal.
"Kenapa diam, aku tanya baik baik loh? siapa tahu saja kita bisa berteman." Tanyanya yang terus mengajak Adelyn untuk bicara.
Adelyn masih terus sibuk menikmati makanannya, meski sebenarnya sangat kesal dan geram mendengarnya.
"Kamu adiknya Zayen, 'kan?" tanyanya terus memancing Adelyn untuk menjawab pertanyaannya.
Adelyn hanya menatapnya, dirinya pun masih tidak percaya jika yang berada di hadapannya adalah teman dari saudara kembarnya itu. Yang Adelyn tahu, Zayen hanya memiliki teman akrab hanya satu, siapa lagi kalau bukan Viko yang pernah diceritakan oleh kedua orang tuanya.
"Hei, kamu pelit sekali sih. Aku hanya butuh teman untuk aku ajak mengobrol." Ucapnya yang terus mengajaknya untuk mengobrol.
"Aku tidak mengenalmu, jangan ganggu aku." Jawab Adelyn dengan terpaksa.
"Aku teman sekolahnya, Ney dan juga Zayen. Wajar jika kamu tidak mengenalnya, karena kamu tidak pernah tahu itu." Ucapnya terus memberi alasan sambil menjatuhkan kunci mobil milik Adelyn yang tidaj jauh dari jangkauan tangannya.
'Sialan, laki laki ini benar benar reseh. Ngapain juga pakai acara menjatuhkan kunci mobilku." Batin Adelyn sedikit kesal.
Sedangkan laki laki tersebut segera menjatuhkan satu kapsul pada minuman milik Adelyn dengan lihai.
"Baiklah, jika kamu tidak mengenaliku. Aku akan duduk di sebelahmu, jangan khawatir." Ucapnya beralasan, kemudian segera pindah dari tempat duduknya.
__ADS_1
Adelyn segera menghabiskan makanannya, rasa haus pun telah menggoda tenggorokannya. Tanpa pikir panjang, Adelyn segera mengaduk minumannya. Kenudian, segera ia meminum minumannya hingga habis tidak tersisa.
Lambat laun, Adelyn mulai merasakan pusing pada bagian kepalanya.
"Kenapa tiba tiba kepalaku terasa berat dan sangat pusing, perasaan aku tidak masuk angin. Apakah aku banyak makan apa, ya." Ucapnya lirih sambil mencoba mengingat ingatnya.
Sedangkan sosok laki laki yang berada di pojok sudut ruangan masih memantau Adelyn. Lelaki yang berada di dekat Adelyn tersenyum penuh kemenangan.
Di lain tempat, tuan Alfan masih mengepali lembaran kertas yang remasnya dengan sangat kuat, sang istri segera mendekatinya.
"Apa isinya? apakah tertulis nama pelakunya?" tanya Sang istri penasaran. Begitu juga dengan Zayen maupun Afna yang juga ikut penasaran saat mendengarnya.
"Bacalah kembali, maka kamu akan mendapatkan jawabannya." Jawabnya sambil memberikan kertas yang sudah diremasnya, ibunya Zayen menerimanya dan membukanya dengan sangat hati hati. Takut, jika lembaran kertas tersebut akan robek.
Dengan seksama dan sangat teliti, istri tuan Alfan membacanya. Baris demi baris telah dibacanya dengan teliti dan tidak ada yang tertinggal satu kosa kata pun.
Sungguh, benar benar tidak disangkanya. Jika pelakunya adalah seseorang yang tidak asing baginya, serasa tidak percaya apa yang sudah dibuatnya hingga harus menculik putranya. Butiran air matanya pun membasahi kedua pipinya, tuan Alfan segera mendekati istrinya dan memeluk istrinya begitu erat.
"Bersabarlah, semua akan segera teratasi. Aku akan segera menangkapnya, dan akan memenjarakannya sampai membusuk didalam tahanan. Lihat saja, akan aku pastikan dalam jangka dekat ini aku akan menemukannya." Ucapnya mencoba menenangkan istrinya.
"Pa, katakan pada Zayen. Siapa pelakunya, Pa." Tanya Zayen yang sudah tidak sabar ingin mengetahui dalang dibalik penculikan dirinya ketika masih bayi.
Prok!! prok!! prok!! suara tepukan tangan tengah mengagetkan tuan Alfan dan anak istri maupun menantunya.
Ada beberapa orang yang sudah berdiri tegak dan berpenampilan serba hitam, bahkan yang terlihat hanya kedua matanya.
Kedua orang mistrrius itu melangkahkan kakinya untuk mendekat, meski masih terbilang berjarak beberapa langkah.
__ADS_1
Zayen segera menghadang istrinya, Afna pun sangat ketakutan saat melihat beberapa orang berpakaian yang terlihat sangat menyeramkan. Afna langsung menyingkir, kemudian mengumpat dibalik tubuh suaminya.
"Tenangkan pikiran kamu, sayang. Jangan perlihatkan rasa ketakutanmu itu, justru mereka akan bertambah senang." Ucap Zayen didekat istrinya, berharap untuk tenang dan tidak tidak menunjukkan ketakutannya.
Afna terus mencengkram jaket milik suaminya, ia benar benar ketakutan saat melihat ada yang memegang pistol di tangan pria mistrrius itu.
tuan Alfan melangkahkan kakinya satu langkah sambil menggandeng istrinya dengan tatapan yang terlihat sangat tajam, bahkan mata elang kalah tajamnya.
"Tunjukkan siapa dirimu, sekarang juga. Jangan menjadi pengecut dibalik topengmu itu, kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu." Ucap tuan Alfan terang terangan, kedua lelaki itu sama tertawanya.
"Tidak penting aku menunjukkan siapa diriku, karena putramu tidak mengenaliku. Sekarang juga, aku akan melenyapkan kamu bersama anak dan istrimu. Bahkan, calon anak yang berada di kandungan menantumu itu." Ucapnya memancing amarah, Zayen maupun ayahnya semakin memuncak emosinya. Kedua tangannya sama sama mengepalkan begitu kuat, seraya ingin melayangkan tinjuannya.
Sedangkan Zayen tidak bisa berbuat apa apa, dirinya sendiri sama sekali tidak memegang senjata apapun. Ditangannya benar benar kosong, hanya ponsel yang ada pada dirinya.
"Selangkah saja kamu maju, ada bonus besar untukmu."
Prok!! prok!! prok!! suara tepukan seakan memanggil seseorang untuk segera menghadap kepadanya.
Dilihatnya oleh tuan Alfan maupun Zayen dan juga istri dan menantunya dengan seksama.
Dibukanya penutup hitam yang tengah menutup seseorang yang sudah terikat tangannya kebelakang.
"Adelyn!!!" teriak seorang ibu yang memanggil putrinya. tuan Alfan maupun Zayen dan Afna terbelalak saat melihat kondisi Adelyn yang sudah terikat tangannya dan juga mulutnya yang telah di sumpal pakai kain dan diikat dengan kuat, tubuhnya pun terlihat lemas.
"Lepaskan! putriku, dia tidak bersalah. Jika kamu normal, hadapi aku. Bukan anak anakku, kamu tidak lain adalah pecundang! ngerti." Ucap tuan Alfan dengan suara kerasnya. Dirinya pun bingung dengan posisinya sendiri harus berbuat apa, sedangkan dirinya dan putranya sama sekali tidak membawa sebuah pistol.
"Aku akan menjadikan putrimu sebagai tawananku, aku akan menjadikannya pelayan untukku." Jawabnya dan tertawa lepas, kemudian mengusap usap pistolnya dan meniupnya. Seakan akan telah berhasil telah membuat keluarga tuan Alfan berantakan.
__ADS_1
Zayen terus memutar otaknya, dirinya berusaha untuk mendapatkan ide agar bisa lolos dari serangan lawannya.