
Zayen mengusap punggung istrinya pelan, kemudian melepas pelukannya.
Diusapkannya air mata istrinya dengan jari jemarinya, Zayen tersenyum melihatnya. Kemudian, Zayen mendaratkan ciumannya pada kening milik istrinya dengan lembut.
"Maafkan aku sudah mengagetkanmu yang kedua kalinya, dan membuatmu hampir jantungan. Bagaimana perasaanmu, setelah aku benar benar nyata didepanmu. Tidak hanya itu, mulai sekarang aku akan memulai kehidupan kita yang baru. Aku akan selalu berada disampingmu, memberikan perhatian penuh untukmu dan calon buah hati kita." Ucap Zayen sambil menatap lekat wajah istrinya.
Afna pun tersenyum bahagia, ia mengangguk dan kembali memeluk suaminya. Afna merasakan bahagia yang tidak ternilai.
"Janji ya, kamu tidak akan lagi meninggalkanku dan calon buah hati kita ini. Aku pun akan berusaha untuk menjadi istrimu yang lebih baik lagi. Kamu tahu? aku sangat bahagia memiliki suami sepertimu, bahkan saking bahagianya aku bisa gila tanpa ada kamu disampingku." Jawab Afna, kemudian ia segera melepaskan pelukannya dan menatap kembali wajah suaminya dengan lekat.
Kemudian, Afna segera memegangi kedua tangan milik suaminya. Senyum mengembang sangat terlihat jelas pada keduanya, terlihat seperti rembulan tanpa tertutup awan yang menghalanginya.
Setelah cukup beradu pandang, Zayen maupun Afna segera bangkit dari posisinya yang masih berada diatas tempat tidur.
"Sudah pagi rupanya, aku kira masih tengah malam. Tidak tahunya sudah jam lima pagi, rupanya benar benar pulas tidurku semalam." Ucap Afna sambil mengucir rambutnya yang tergerai.
Zayen kembali mendekati istrinya, kemudian memeluknya dari belakang.
"Aku hampir gila karenamu, sayang. Tidak ada sosok yang aku cintai didekatku, bahkan otakku bisa konslet tanpamu." Ucap Zayen didekat telinga istrinya sambil meletakkan dagunya diatas pundak istrinya.
Afna segera melepas pelukannya, kemudian membalikkan badannya dan membuat keduanya kembali menatap satu sama lain.
"Aku percaya denganmu, sayang." jawab Afna, kemudian ia kembali memeluk suaminya. Tiba tiba Afna merasakan ada rasa mual pada perutnya dan juga terasa pusing pada bagian kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa? sakit?" tanya Zayen sambil memegangi kedua lengan milik istrinya.
__ADS_1
Tanpa menjawabnya, Afna langsung menuju kamar mandi. Zayen pun segera ikut masuk menyusul istrinya dengan perasaan yang cemas.
Huwek huwek huwek.
"Sayang, kamu kenapa? kita ke Dokter, ya." Tanya Zayen sambil mengusap punggung milik istrinya dengan cemas.
"Tidak perlu, nanti juga membaik lagi. Aku tidak tahan dengan AC, rasanya tidak nyaman di badanku." Jawab Afna dengan jujur, Zayen baru menyadarinya.
"Maafkan aku, sayang. Aku benar benar tidak tahu jika kamu tidak menyukainya, semalam aku merasa gerah saat memasuki kamar. Kemudian hujan deras, dan aku lupa mematikannya." Ucap Zayen yang merasa sangat bersalah.
Tubuh Afna pun mendadak lemas, ditambah lagi mengeluarkan lendir yang sangat pahit. Membuat Afna semakin tidak karuan rasanya, wajahnya pun berubah terlihat pucat.
Zayen yang melihat kondisi istrinya semakin bingung, tanpa pikir panjang langsung menggendong istrinya sampai ditempat tidurnya.
"Tunggu sebentar, sayang. Aku mau mengambil air hangat, agar rasa mual pada perut kamu sedikit membaik." Ucap Zayen, sedangkan Afna hanya mengangguk.
Sesampainya di dapur, Zayen langsung mengambil air minum yang hangat.
"Zayen, kamu sudah bangun?" tanya sang ibu mengagetkan.
"Sudah Ma, tadi perut Afna mual mual hingga muntah dan mengeluarkan lendir yang kuning. Hingga terasa pahit dibagian mulutnya, Zayen sendiri tidak tega melihatnya." Jawab Zayen dengan cemas.
"Tanyakan pada istrimu, siapa tahu ada sesuatu yang dimintanya." Ucap sang ibu mengingatkan.
"Baik, Ma. Kalau begitu, Zayen mau masuk ke kamar lagi. Kasihan Afna yang sudah menunggu, Zayen benar benar tidak tega melihatnya." Jawab Zayen, kemudian segera kembali ke kamarnya. Sang ibu tersenyum mengembang saat melihat putranya begitu perhatian dengan istrinya.
__ADS_1
'Kamu tidak jauh dari papa kamu, Mama sangat beruntung memiliki putra sepertimu. Perhatianmu benar benar sangat besar terhadap istrimu, pantas saja istrimu begitu murung tanpa adanya kamu disampingnya. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, semoga kebahagian akan selalu menyelimuti rumah tangga kalian.' Batin sang ibu.
Zayen yang sudah berada didalam kamar, segera ia memberikan air minumnya pada sang istri. Afna sendiri segera meminumnya, ia pun berharap kondisi akan kembali membaik.
"Maafkan aku ya, sayang. Rupanya perjuangan kamu begitu besar untuk menjadi seorang ibu, sungguh kamu wanita hebatku. Aku tidak akan lagi meninggalkan kamu, apalagi dengan kondisimu yang seperti ini. Aku tidak sanggup membayangkanmu, aku akan terus berada disampingmu. Aku siap menjadi remot kontrolmu dua puluh empat jam, aku janji." Ucap Zayen sambil memegangi kedua tangan milik istrinya, kemudian mencium tangan kanannya dengan lembut.
"Terima kasih ya, sayang. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu, bahkan disaat aku tidak bisa berjalan kamu begitu sabar merawatku. Dan kini terjadi kembali kamu merawatku, maafkan aku yang sudah banyak merepotkanmu." Jawab Afna yang merasa mendapat perhatian yang sempurna.
"Jangan berlebihan, kamu sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Kamu sudah menjadi bagian dari hidupku saja aku sudah sangat bahagia dari apapun, karena kamu adalah nafasku sepenuhnya." Ucap Zayen, kemudian ia tersenyum. Begitu juga dengan Afna, dirinya merasa wanita yang paling beruntung mendapatkan seorang suami seperti Zayen.
"Oh iya, apakah ada sesuatu yang kamu inginkan? katakan saja. Aku siap melakukannya, demi kamu dan calon buah hati kita." Tanya Zayen mencoba menawarkan diri pada istrinya.
"Serius? kamu mau mengabulkan permintaanku?" tanya Afna dengan senyumnya yang mengembang.
"Hem ... memangnya aku ini kurang serius?" tanyanya balik.
"Entah kenapa, aku menginginkan sop daging sapi buatan kamu. Dan satu lagi, aku menginginkan roti panggang dan sosis bakarnya." Jawab Afna yang tiba tiba ia merindukan masakan suaminya saat tinggal dirumah yang cukup sederhana.
"Baik, Tuan Putri ... perintah Tuan Putri akan segera saya laksanakan." Ucap Zayen sambil senyum menggoda sambil mengedipkan matanya, Afna sendiri bergidik ngeri melihatnya.
"Kalau begitu, aku tinggal ke dapur. Jika kamu bosan, turunlah kebawah. Atau ... temui saja Adelyn, agar kamu tidak merasa jenuh.
"Aku mau membuatkan sup untukmu, sekalian menjadi koki dirumah ini." Ucapnya lagi, kemudian langsung mencium pipi kanan milik istrinya.
"Curang, dari tadi kamu selalu menciumiku. Sedangkan aku sama sekali belum menciummu. Aaah payah, kamu serakah." Jawabnya sambil memasang muka masamnya, Zayen teetawa kecil. Bukannya merasa bersalah, justru Zayen tertawa kecil mendengarkan penuturan dari istrinya.
__ADS_1
"Boleh juga nih kalau mau menciumku, dengan senang hati. Nih ... sebelah sini, apa sebelah sini, atau ... sebelah sini aku juga sangat menyukainya. Tidak hanya itu, aku sangat mengharapkannya." Ucap Zayen sambil menunjuk kedua pipinya dan terakhir pada bi*birnya sambil tersenyum lebar.