
Sesampainya diruang tamu, didapati seorang perempuan cantik dengan penampilan yang cukup menarik perhatian bagi para laki laki yang memandanginya. Namun tidak bagi Kazza, dimata Kazza sudah hal biasa melihat perempuan cantik.
"Sudah datang rupanya kamu, aku kira kamu tidak akan datang." Ucap Kazza dengan entengnya.
"Aku tidak ingin datang terlambat, soalnya aku tidak percaya diri untuk berangkat sendirian." Jawab Sera.
"Ada tamu, rupanya." Ucap ibunya Kazza mengagetkan.
"Selamat pagi tante, saya teman sekolahnya Kazza. Saya sengaja mampir, karena ada acara reuni bersama teman teman sekolah." Jawab Sera berusaha seramah mungkin.
"Pagi juga, ooh temannya Kazza. Tante kira siapanya Kazza, oh iya silahkan duduk." Ucap ibunya Kazza dengan ramah.
"Tidak perlu kok, Ma. Kita berdua mau langsung berangkat." Ucap Kazza langsung menimpali.
"Iya, Tante. Kita berdua mau langsung berangkat saja, takut terlambat." Ucap Sera yang sudah tidak sabar untuk segera pergi bersama Kazza.
"Ya sudah, hati hati diperjalanan." Jawab ibunya Kazza, sedangkan Kazza dan Sera hanya mengangguk. Kemudian, keduanya segera pergi setelah berpamitan.
Dalam perjalanan, Kazza lebih fokus dengan setirnya dan fokus pada pandangannya lurus kedepan. Sedangkan Vella sendiri merasa tidak nyaman ketika dirinya merasa dicuekin.
"Za, aku boleh bertanya tidak?" tanya Sera membuka suara.
"Tanya saja, aku tidak keberatan." Jawab Kazza dengan santai sambil menyetir mobilnya.
"Maaf ya Za, sebelumnya. Apakah kamu tidak kepikiran untuk menikah? padahal kamu bisa dikatakan sosok laki laki yang sempurna dan juga tidak ada kekurangan loh." Tanya Sera mencoba menyelidik.
"Kamu sendiri kenapa tidak secepatnya menikah? padahal loh ya, usia kamu sudah dewasa. Anna saja sudah mempunyai anak, dan usianya sudah lima tahun. Kalau aku jangan ditanyakan, aku seorang laki laki. Masih panjang untukku berstatus sendirian." Jawab Kazza balik bertanya.
"Aku masih menunggu seseorang yang mau menerima aku apa adanya, sampai sekarang aku belum menemukannya." Jawab Sera sedikit mencari perhatian. Namun sayangnya, Kazza tidak begitu merespon dengan ucapan dari Sera.
"Ooh, semoga segera dipertemukan dengan seseorang yang mau menerima kamu apa adanya. Aku hanya bisa menyemangatimu, serta mendoakan kamu." Ucap Kazza, kemudian ia menambah kecepatannya agar segera cepat sampai ditempat tujuan.
"Terima kasih, Za." Jawab Sera, kemudian ia kembali fokus dengan ponselnya. Alih alih ia mendapat pesan yang diharapkannya.
Sedangkan ditempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Raska Gantara. Ada sosok perempuan yang sedang sibuk dengan penampilannya, siapa lagi kalau bukan Vella Gantara. Putri dari tuan Raska Gantara yang memiliki kepribadian yang sederhana, Vella tidak pernah menunjukkan identitasnya. Ia lebih memilih identitasnya untuk disembunyikan, kedua anak tuan Gantara sama halnya seperti sang ayah. Tidak ada diantara kedua anaknya yang mempublikasikan statusnya.
Tok tok tok tok.
__ADS_1
Suara ketukan pintu tengah mengagetkan Vella yang sedang sibuk dengan penampilannya. Setelah itu, Vella membuka pintu kamarnya.
Ceklek.
Vella pun membuka pintu kamarnya, dan dilihatnya sang ibu sudah berdiri di hadapannya.
"Mama, ada apa?" tanya Vella sambil mengancing kerah bajunya.
"Vella, yang benar saja. Kamu mau pergi mengenakan pakaian kamu seperti ini? ganti pakaian kamu." Jawab sang ibu sambil memperhatikan penampilan putrinya yang masih terlihat biasa biasa saja.
"Sini, mama mau rubah penampilan kamu." Ucap sang ibu, kemudian menarik tangan putrinya.
"Mama, plis deh. Jangan membuat Vella terasa tidak nyaman, Vella lebih nyaman berpenampilan yang seperti ini." Jawab Vella yang merasa risih, ketika sang ibu yang akan merubah penampilannya.
"Sudah, kamu sudah protes. Kalau kamu protes terus, kasihan Zacky sudah menunggu kamu di ruang tamu." Ucap sang ibu sambil mengedipkan satu matanya, Vella yang melihat ekspresi sang ibu hanya bergidik ngeri melihatnya.
"Ma, Zacky bukan pacar Vella. Apaan sih, Mama ini. Jangan ikut ikutan berlebihan seperti kak Kazza dong, Ma." Jawab Vella yang semakin risih.
"Memang siapa yang menganggap Zacky oasti kamu, Mama hanya tidak ingin anak Mama ini dipandang rendah oleh teman teman Zacky." Ujar sang ibu.
"Sudah, jangan protes. Sini, ayo mama bantu merubah kamu menjadi sosok perempuan yang cantik dan anggun." Ucap sang ibu, kemudian memulai membenarkan penampilan putrinya.
Setelah itu, sang ibu membuka lemari pakaian Vella. Kemudian memilih baju yang kiranya cocok untuk putrinya. Senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibir ibunya, dan ditemukannya baju yang cukup anggun untuk dikenakan putrinya.
"Nih, ayo dicoba. Mama rasa ini sangat cocok untuk kamu kenakan." Ucap sang ibu, kemudian menyerahkan baju yang sudah dipilihnya.
Dengan berat hati, Vella meraih baju pilihan ibunya. Kemudian dengan terpaksa, Vella mengganti pakaiannya. Setelah mengganti bajunya, Vella berdiri tepat didepan ibunya.
Disaat itu juga, sang ibu takjub memandangi putrinya yang terlihat sangat cantik dan anggun.
"Kamu terlihat sangat cantik, sayang. Sini, Mama mau merubah penampilan kamu. Agar muka kamu tidak terlihat pucat, dan akan terlihat lebih cantik lagi." Ucap sang ibu, kemudian memulai memoles wajah putrinya untuk menyulapnya menjadi lebih cantik lagi.
Vella sendiri hanya pasrah, apapun caranya tidak akan pernah berhasil jika sang ibu sudah bersikukuh pada pendiriannya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, Vella telah disulap menjadi gadis yang sangat cantik dan anggun.
'Aku yakin bahwa Kazza pasti akan terpesona saat melihat Vella dengan penampilannya seperti ini. Maafkan tante, Kazza. Jika tante akan menguji perasaan kamu terhadap putri tante.' Batin ibunya Vella sambil menatap putrinya yang terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Ma, ini sangat berlebihan. Plis deh, Ma ... jangan membuat Vella merasa tidak nyaman. Vella lebih menyukai penampilan apa adanya." Ujar Vella terus memohon.
"Tidak, Vella. Kamu harus terlihat cantik, dan sudah saatnya kamu menemukan sosok laki laki untuk menjadi pendamping hidupmu." Ucap sang ibu.
"Terserah Mama saja, Vella nyerah dengan permintaan Mama." Jawab Vella yang sudah pasrah.
Sang ibu pun tersenyum mendengarnya, kemudian mengajak putrinya untuk segera keluar dari kamarnya.
Dengan sangat hati hati, Vella menapaki anak tangga. Kemudian segera menemui Zacky yang sudah menunggunya sedari tadi.
Disaat itu juga, Zacky maupun Gio sang kakak pun seperti tidak percaya ketika melihat penampilan Vella yang sangat berbeda dengan biasanya.
Penampilan Vella dan ayu wajahnya tengah menghipnotis Zacky yang tidak dapat dipungkiri jika Zacky sendiri sudah lama memendam perasaannya. Hanya saja, Zacky tidak mengetahui jika Vella adalah adik dari teman akrabnya.
Setelah berpamitan, Vella dan Zacky segera berangkat ke tempat tujuan.
Dalam perjalanan, keduanya terlihat merasa canggung. Namun, sebisa mungkin Vella untuk tetap bersikap seperti biasanya. Begitu juga dengan Zacky, ia selalu mengingat pesan dari teman akrabnya dan kedua orang tua Vella.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Vella dan Zacky telah sampai didepan hotel yang cukup mewah dan berkualitas tinggi.
"Vell, biasa saja ekspresi kamu. Nanti terlihat jelek, tau." Ucap Zacky membuka suara.
"Enak saja, aku risih nih! dandananku seperti ini. Sungguh sangat memalukan, tau." Jawab Vella dengan menunjukkan muka masamnya.
'Kamu sangat cantik Vell, hanya saja bukan aku pemiliknya. Kazza lah pemilik hatimu, bukan aku.' Batin Zacky sambil memperhatikan Vella yang tengah sibuk dengan penampilannya.
"Sudah, ayo kita turun. Kamu cukup menjadi temanku ketika didalam hotel, tidak perlu kamu mengakui kita memiliki hubungan." Ucap Zacky yang mencoba untuk mebuat Vella terasa nyaman saat berada di dekatnya.
Vella yang mengerti maksud dari Zacky, ia langsung mengangguk mengerti. Kemudian, keduanya segera melepas sabuk pengamannya. Lalu, Vella dan Zacky keluar dari mobil dan berjalan beriringan.
Semua yang sudah hadir dalam acara tersebut, semua memandangi penampilan Vella dengan terkagum kagum.
Disaat itu juga, ada sosok laki laki dan perempuan yang tidak asing dimata Vella. Seketika, Vella bertatap muka dengannya.
"Vella, Zacky? benarkah?" ucapnya lirih ketika melihat sosok Vella dan Zacky ketika berdiri berdekatan. Seketika, Kazza menarik nafasnya dengan berat. Kemudian membuangnya dengan kasar. Disaat itu juga, darahnya terasa mendidih dan menjalar sampai di ubun ubun kepalanya.
'Kazza, perempuan itu. Sialan, kenapa juga aku bertemu dengan perempuan itu. Eh, tunggu. Apakah perempuan itu benar benar kekasih Kazza? ah! kenapa otakku kembali memikirkan laki laki itu.' Batin Vella dengan perasaannya yang kembali tidak karuan.
__ADS_1