
Dengan tersenyum puas, Zayen sudah berada di depan pintu kamar mandi yang terbuka. Tanpa Afna sadari, kini Zayen sudah berdiri tegak di dekatnya. Afna masih menikmati aroma sabun mandi sambil berendam dengan air hangat dan memejamkan kedua matanya.
Tanpa pikir Zayen pun segera melakukan aksinya, Zayen pun langsung ikut berendam bersama sang istri.
"Tidak .....!!!" teriak Afna sekencang mungkin, dirinya benar benar shok dan kaget tentunya. Sedangkan Zayen langsung menutup mulut milik istrinya dengan cepat, agar Afna tidak lagi berteriak kencang. Karena kamar miliknya tidak memiliki penyadap suara, jika berteriak kencang maka semua yang memasang pendengarannya akan menangkap suara teriakan dari Afna.
"Lepaskan! aku tidak bisa bernafas." Ucap Afna terasa sesak untuk bernafas, Zayen pun segera melepaskannya.
Dengan fokus, Zayen menatap wajah istrinya dengan lekat. Hingga membuat Afna tidak dapat berkutik, ditambah lagi keduanya sama sama tanpa berbusana. Membuat Afna salah tingkah untuk mengganti posisinya, ditambah lagi busa yang hampir habis. Membuat jantung Afna terasa mau copot, sedangkan Zayen hanya tersenyum mengembang.
"Tidak lucu, lihatlah kamu seperti lontong yang siap dinikmati." Ujar Afna tanpa berpikir panjang akan perkataannya yang dilontarkan kepada suaminya yang kapan saja bisa menerkamnya.
"Wow! siap dinikmati? tentu saja aku mau." Jawab Zayen sambil memainkan matanya dan meninggikan satu alisnya disertai senyum yang menggoda.
"Da*sar mesum!" ucap Afna sambil tersenyum, kemudian mengerucutkan bibir ranumnya. Dengan cepat, Zayen langsung mengambil kesempatan emas. Zayen langsung Menci*u*m bibir ranum milik istrinya dengan lembut. Tidak hanya itu, Zayen semakin buas bahkan keduanya menjadi semakin liar. Mereka tidak peduli dengan kondisinya masing masing tanpa rasa malu hingga sampai babak akhir. Hingga keduanya lemas, bahkan menjadi tidak bertenaga karena terkuras habis semua tenaganya.
Setelah melakukan ritual dikamar mandi yang sangat detail, kini keduanya segera membersihkan diri. Kemudian, keduanya segera bersiap siap mengenakan paksiannya masing masing.
Setelah mengenakan pakaiannya, Afna duduk didepan cermin sambil mengeringkan rambutnya dan menyisiri rambut panjangnya. Meski rumah terlihat sangat sederhana, tetapi tidak untuk kamar milik Zayen. Kamarnya pun begitu rapih, bersih dan fasilitasnya pun bisa dikatakan sempurna.
Setelah Afna selesai semuanya, kini giliran Zayen yang mengeringkan rambutnya yang gondrong. Lagi dan lagi, Afna kembali terpesona saat melihat rambut gondrong suaminya. Meski dengan rambutnya yang gondrong, Zayen tetap terlihat tampan. Apalagi dengan gaya rambutnya yang dikuncir, Afna semakin tergoda dibuatnya.
"Kenapa kamu memandangiku seperti itu, apakah aku terlihat tampan?" tanya Zayen sambil menguncir rambutnya.
"Hah! tampan? aku rasa tidak, justru kamu terlihat seperti tukang kredit." Jawab Afna asal.
"Enak saja dibilang tukang kredit, segitukah wajahku terlihat seram. Aku rasa tidak! lihatlah dengan jelas, mungkin kedua mata kamu butuh piknik. Hingga mengataiku tukang kredit, sungguh terla! lu!" ucap Zayen. Kemudian membungkukkan badannya, dan menoleh kearah istrinya. Dengan lembut Zayen men*cium kembali bi*bir ranum milik istrinya. Afna yang mendapati perlakuan dari suaminya merasa ketagihan, dan sentuhannya pun membuatnya luluh dan tidak dapat berkutik.
"Sudah siap? jika sudah siap, kita akan segera berangkat." Bisik Zayen dideket telinga istrinya, Afna yang mendengarnya pun hanya mengangguk.
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban dari Afna, Zayen pun langsung mengambil jaketnya yang berada di lemari pakaiannya. Begitu juga dengan Afna, dirinya segera mengambil tas bawaannya di lemari barang barang.
"Bawa tongkatmu, jangan sampai kamu lupa dengan sepeerti yang sudah aku katakan padamu."
"Iya, tetimakasih sudah mengingatkan."
Zayen yang melihat Afna sedang mengambil tongkat miliknya, Zayen mulai mencari ide untuk mengambil sebuah kesempatan.
"Apa apaan ini, bukankah aku sudah bisa berjalan." Ucap Afna Sambil mencoba menyingkirkan tangan suaminya, namun tenaga Zayen jauh lebih kuat.
"Aku sudah terbiasa menggendong kamu, biarkan aku melakukannya. Lakukan seperti yang kamu lakukan, jangan protes."
"Lantas, apa gunanya aku bisa jalan. Aku tidak ingin membuatmu kerepotan, tapi kenapa kamu masih menggendongku."
"Itu pekerjaan khusus untuk kamu, pakai tongkat jika di luar rumah. Tidak untuk di dalam rumah, kamu aku larang menyenggol tongkat penyangga. Terkecuali ada seseorang yang datang ke rumah ini, terkecuali kedua orang tamu. Itu hak mu untuk memberi kabar bahagiamu atau tidak." Jawab Zayen sambil menggendong istrinya, sedangkan Afna kembali melingkarkan kedua tangannya pada leher Zayen.
Zayen segera keluar dari rumah, kemudian mengunci pintunya saat sudah berada di teras rumah.
"Duduklah, aku akan mengambil motor. Ingat! lakukan seperti biasa yang kamu lakukan." Perintah Zayen kemudian segera mengambil motornya.
Seperti biasa, Zayen melakukan sesuatunya seperti yang sudah sudah. Termasuk memperlakukan istrinya pun masih seperti biasa, dengan tongkat penyangganya.
Setelah motor di keluarkan, Zayen menggendong Afna dan menurunkannya di atas jok motor miliknya.
"Wah wah wah .... romantis sekali, nak Zayen pada istrinya. Bikin ibu iri saja, namanya siapa neng?" ucap tetangga rumah dengan ramah menghampiri Afna yang sudah duduk diatas jok motor.
"Nama saya Afna, Bu ... salam kenal buat ibu." Jawab Afna seramah mungkin dan tersenyum pastinya.
"Salam kenal kembali dari saya ibu Murni, kalian berdua mau kemana sore sore."
__ADS_1
"Mau jalan jalan, Bu. sekalian mencari makanan untuk makan malam." Jawab Zayen menimpali.
"Ooh .... iya, hati hati dijalan." Ucap ibu Murni dan tersenyum.
"Baik, Bu. Kalau begitu, saya dan istri saya berangkat. Permisi .... " jawab Zayen dan berpamitan. Ibu Murni pun mengangguk dan tersenyum, tiba tiba di kagetnya dengan seseorang yang tidak lain tetangganya juga
"Ibu Murni, tadi itu istri Zayen?"
"Iya, kenapa? cantik kok istri Zayen. Aku lihat juga ramah, murah senyum lagi."
"Cantik, kalau tidak bisa berjalan untuk apa. Kasihan Zayen, seperti punya bayi. Apa apa digendong, kalau aku jadi Zayen males." Ucapnya sedikit menyakitkan.
"Gak papa, orang nak Zayen saja tidak keberatan. Lagian kamu ini, bukannya ngurusin anak perempuan kamu yang perempuan. Anak perempuan kamu saja belum laku lalu, Eeee palah ibuk mencerca istri orang lain." Jawab ibu Murni yang sudah kesal duluan.
"Tidak apa apa, yang terpenting putriku terkenal bak model yang sangat cantik. Tidak seperti kamu, sampai tua gini belum punya menantu. Mana lagi anaknya kutu buku, berkaca mata lagi." Ucapnya dan tertawa.
"Bukan urusan kamu, putraku juga tidak kalah tampannya seperti artis artis papan atas." Jawab ibu Murni yang tidak mau kalah.
"Sudah!! sudah! ngomongin orang didepan rumahnya." Bentak Viko yang tiba tiba sudah berada di dekat ibu ibu.
"Eeeh nak Viko, cari nak Zayen? sudah pergi barusan."
"Pergi? ibu tahu kemana perginya?"
"Tidak tahu, bilangnya sih mau jalan jalan."
"Kalau begitu, terimaksih." Ucap Viko yang langsung kembali masuk ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan rumah Zayen.
Didalam perjalanan, Viko nampak gelisah. Pikirannya kacau, seakan sudah tidak memiliki sisa umur untuk bertahan hidup.
__ADS_1