
Afna maupun Viko masih dengan kekhawatirannya masing masing, sedangkan Zayen sendiri begitu santai dan tidak sedikitpun ada kekhawatiran.
"Bos, bagaimana ini?" tanya Viko yang sedikit cemas akan nasibnya yang dijadikan buronan.
"Tenang saja, Vik. Sudah cepetan buka pintunya, sayang ..." jawab Zayen dan meminta istrinya untuk membukakan pintunya.
Afna mengangguk, meski ada rasa takut dengan pikirannya.
Ceklek, Afna membuka pintunya dengan gemetaran. Disaat itu juga, Afna membelalakan kedua matanya.
"Afna, kakak mohon. Izinkan kakak untuk masuk kedalam, kakak ingin meminta maaf." Ucapnya memohon, Afna hanya diam dan melebarkan pintunya terbuka. Setelah itu, Afna langsung menyingkir dari hadapan saudara kembarannya.
Kazza yang mendapati perlakuan dari sang adik hanya bisa pasrah, dirinya menyadari akan kesalahannya. Kazza pun tidak menaruh benci dan kesal atas sikap sang adik terhadapnya.
Setelah pintu terbuka lebar, sosok Kazza kini benar benar terlihat jelas dari pandangan Zayen dan juga Viko yang masih dengan rambut palsunya.
Kedua mata Zayen dan Viko terbelalak saat melihat sosok laki laki yang tidak asing baginya. Zayen sendiri merasa heran akan sikap istrinya terhadap saudara kembarannya sendiri yang begitu dingin.
'Kenapa istriku terlihat kesal, dan juga begitu dingin. Padahal dulu sangatlah akrab dan terlihat hangat hubungan persaudaraannya. Tetapi, kenapa sekarang tidak. Apa mungkin sudah mengetahui permasalahannya, mungkin saja.' Batin Zayen mencoba menerka.
"Selamat malam Zayen, bolehkah aku masuk kedalam?" sapa Kazza dan bertanya.
"Malam juga, silahkan masuk." Jawab Zayen membalas sapaan dari kakak iparnya. Kazza pun segera masuk dan mendekati Zayen, sedangkan Afna masih duduk di kursi sambil melihat saudara kembarannya yang mendekati suaminya.
"Bos, aku pulang. Jaga emosi dan amarah, kendalikan semuanya dengan baik." Ucap Viko sambil berbisik.
__ADS_1
"Hem! pergilah, jaga diri kamu baik baik." Jawab Zayen mengingatkan.
"Siap, Bos." Jawabnya kemudian segera pergi tanpa pamit dengan Kazza dan Afna.
Setelah Viko pergi dan tidak lagi terlihat bayangannya, Kazza sudah berada di dekat adik iparnya.
"Silahkan duduk, Kak." Ucap Zayen berusaha untuk tenang, dan tidak menunjukkan kekesalannya. Meski sebenarnya sedikit kesal dan kecewa, Zayen berusaha untuk tidak membuat suasana menjadi gaduh.
"Terimakasih, untuk saat ini ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Jawab Kazza, kemudian duduk deka
Afna yang sedang duduk tidak jauh dari suaminya masih terlihat ada rasa kebencian dari raut wajahnya. Zayen yang melihatnya pun pura pura tidak mengerti, dirinya tetap dalam kepura puraannya.
"Katakan saja, apa yang ingin kak Kazza katakan." Ucap Zayen masih dengan sikap tenangnya.
"Sebelumnya aku mau meminta maaf denganmu." Jawab Kazza sambil mengatur nafasnya.
Afna masih fokus dengan pandangannya, dan masih setia mendengarkan obrolan saudara kembarnya dengan suaminya.
"Aku mengaku bersalah besar terhadapmu dan juga Afna, aku menyesalinya. Mungkin jika aku tidak terhasut oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dan pastinya kamu tidak akan mengalami hal buruk seperti ini. Maafkan aku, karena kecerobohanku dan kesalahanku kalian berdua harus menanggung akibatnya. Aku benar benar menyesalinya, sungguh aku menyesal." Jawab Kazza penuh sesal dan menunduk. Afna yang mendengarnya pun langsung bangkit dari tempat duduk, kemudian mendekati saudara kembarannya.
"Gampang banget kakak meminta maaf, setelah suamiku terluka dan harus menjalani hukuman. Tidak hanya itu saja, suamiku harus berpisah dengan istrinya dan juga ada janin didalam rahimku." Ucap Afna dengan tatapan kebenciannya terhadap saudara kembarannya sendiri.
Zayen masih diam, dirinya berusaha untuk tenang. Lagi pula, Zayen tidak bisa berbuat apa apa selain mengingatkan dan melerai.
"Lalu, apa yang harus kakak lakukan untuk menebus kesalahan kakak kepada suami kamu dan juga denganmu. Apa kakak salah untuk mengakui kesalahan kakak dan meminta maaf dengan suami kamu dan juga denganmu. Kakak akui, kakak memang bersalah besar terhadapmu, suami kamu, dan juga calon anak kamu." Jawab Kazza yang sudah tidak tahu harus berbuat apa selain meminta maaf, Zayen yang mendengarnya pun masih diam.
__ADS_1
Afna pun hanya berdiam diri didekat suaminya, dirinya sendiri pun bingung. Ditambah lagi, sang suami yang juga ikutan diam tanpa berucap sepatah kata pun.
Zayen menarik nafasnya pelan, kemudian dikeluarkan dengan pelan pula.
"Zayen, apa yang harus kakak lakukan agar kakak mendapat kata maaf dari kamu dan juga Afna. Kakak mengaku salah, kakak pun siap menerima hukuman dari kalian berdua." Ucapnya lagi yang masih memohon untuk mendapatkan kata maaf dari adik iparnya dan juga saudara kembarannya.
"Duduklah, jangan gunakan emosi untuk menyelesaikan masalah. Bukankah disetiap masalah akan ada penyelesaian, dan semua itu butuh pikiran yang dingin. Dan kamu istriku, mendekatlah." Ucap Zayen, kemudian menggenggam tangan kanan milik istrinya dengan tangan kirinya.
"Sayang, aku minta denganmu. Jagalah emosimu, dan jangan kamu turuti amarahmu. Jangan sampai amarahmu telah menguasi egomu itu, sayang sekali jika sampai itu terjadi. Tenangkan pikiranmu, maka kamu akan mendapati ketenangan tanpa harus menggunakan emosi." Ucap Zayen berusaha untuk menenangkan, meski terkadang dirinya pun sulit untuk mengendalikan emosinya.
Kazza yang mendengar nasehat dari adik iparnya pun terasa teriris hatinya, seakan mendapat tamparan keras darinya. Kazza semakin malu akan perbuatannya sendiri tanpa menggunakan akal sehatnya, namun menuruti amarahnya.
Begitu juga dengan Afna, dirinya pun ikut merasa bersalah akan sikapnya sendiri yang tidak menggunakan pikiran dinginnya. Afna sendiri merasa malu dengan sikap suaminya yang begitu bijak menanggapinya.
'Suamiku saja tidak menunjukkan amarahnya, begitu juga dengan sikapnya yang tenang. Tidak hanya itu, suamiku tidak memperlihatkan kebenciannya sedikitpun, dan wajahnya masih terlihat teduh.' Batin Afna yang merasa malu sendiri akan sikapnya terhadap saudara kembarannya.
'Betapa malunya aku dihadapan adik iparku, dirinya tidak memperlihatkan kebenciannya terhadapku sedikitpun. Bahkan, sikapnya tetap seperti biasanya. Aku benar benar menyesal, atas perbuatanku terhadapnya.' Batin Kazza penuh penyesalan.
"Kenapa kalian berdua sama sama diam? apakah ada yang salah dengan ucapanku? katakan." Tanya Zayen yang merasa heran dengan sang istri dan juga kakak iparnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah kamu mau memaafkan aku? jawablah." Tanya Kazza yang masih kepikiran.
"Aku akan memaafkan kak Kazza, tetapi ada syaratnya." Jawab Zayen dengan santai.
"Syarat? katakan apa syaratnya. Aku pasti akan melakukannya, aku janji." Ucap Kazza dengan penuh yakin dan sedikit ada kelegaan, meski ada sebuah syarat yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Zayen yang mendengarnya pun hanya tersenyum, sedangkan Afna sendiri semakin bingung dibuatnya. Tidak biasanya dia bisa senyum dengan saudara kembarnya, tapi kini telah menunjukkan senyumnya didepan Kakaknya sendiri. Afna benar benar bingung dibuatnya.