
Setelah keduanya pamit pulang, Afna dan Zayen kini sudah dalam perjalanan pulang. Afna masih diam dan bersandar di jendela kaca mobil.
"Paagi pagi sudah melamun, apa kamu tidak takut terlihat tua?" Ucap Zayen yang tiba tiba membuyarkan lamunan istrinya.
Afna pun tidak merespon, dirinya tetap pada posisinya dan tanpa bersuara. Zayen yang merasa ucapannya tidak respon, tanpa pikir panjang langsung meninggikan kecepatannya.
"Stoooop!!!" teriak Afna sekencang mungkin.
Ssssttttttt Zayen menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Aaaaaaw" Afna meringis kesakitan pada keningnya.
"Kamu sudah gil*a ya! kamu mau membuat aku mat*i, hah!" dengan reflek Afna membentak suaminya tanpa disadarinya.
Zayen masih diam, entah kenapa dirinya emosi saat tidak di hiraukan.
Tiba tiba Afna tersadar dari bentakannya, dirinya langsung membekap mulutnya dengan telapak tangan. Seketika itu juga, Afna langsung menoleh kearah suaminya yang memegang setirnya sambil menatap kedepan dengan fokus. Hanya saja, Zayen tidak melajukan mobilnya.
"Maaf, aku reflek membentak kamu. Salah kamu, membuatku kaget dan jantungku terasa mau copot." Ucap Afna merasa bersalah saat melihat suami tanpa berucap sepatah kata pun.
Kemudian, Zayen pun menoleh ke samping. Keduanya saling beradu pandang.
"Kenapa kamu menatapku begitu." Ucap Zayen kemudian melajukan mobilnya, dan pandangannya kembali lurus kedepan.
"Aku kan mau meminta maaf denganmu, salah? maaf."
"Sudah lupakan, aku tidak suka sesuatu yang sudah lewat masih kamu ulangi lagi."
'Apa aku tidak salah dengar? sesuatu yang sudah lewat tidak dia sukai, yang benar saja. Buktinya, gara gara aku melihatnya yang sedang ritual dikamar mandi selalu diingatnya. Bahkan aku harus bertanggung jawab, maksudnya apa coba."
__ADS_1
"Kenapa masih diam, apa ucapanku kurang jelas?"
"Tidak, bahkan sangat jelas. Bagus lah, jika kamu melarangku untuk mengupas sesuatu yang sudah lewat. Aku pun tidak menyukai sesuatu yang sudah terjadi lewat begitu saja dan tanpa harus diingatnya kembali." Jawab Afna tanpa menyadari sudah menyindir Zayen, justru disaat itu juga suaminya teringat sesuatu yang sudah terjadi antara dirinya bersama sang istri.
Tanpa disadari juga, kini keduanya sudah sampai didepan rumahnya yang cukup sederhana.
Zayen maupun Afna segera melepas sabuk pengamannya, kemudian Zayen segera turun dan membantu istrinya untuk turun dari mobil.
"Ayo, aku gendong sampai kamar. Ada sesuatu yang belum kamu pertanggung jawabkan, kamu ingat."
Seketika itu juga Afna tercengang, Afna mengira bahwa suaminya tidak ingat sama sekali. Tetapi justru masih teringat dengan jelas dan menagih pada istrinya, Afna pun bingung dibuatnya.
Afna masih berusaha mengatur pernapasan nya dan juga mengatur detak jantungnya yang kini kian bergemuruh hebat.
Tanpa pikir panjang lagi, Zayen langsung mengangkat tubuh istrinya kemudian digendongnya. Entah angin apa, Afna sendiri pun tiba tiba terbawa suasana. Afna pun dengan reflek melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya, Zayen hanya tersenyum tipis.
Ceklek, Afna kembali menutup pintu dan langsung menguncinya kembali. Dan disaat itu juga, Afna semakin tidak karuan pikirannya. Detak jantungnya pun kini dapat dirasakan oleh Zayen, sedangkan Afna terasa malu saat detak jantungnya dapat dirasa oleh suaminya. Zayen sendiri hanya tersenyum.
Afna kembali lagi melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Kebetulan kamarnya tidak dikunci, dengan mudahnya Zayen hanya mendorongnya dengan kaki.
Dengan pelan, Zayen menuju tempat tidur. Afna benar benar takut, jika apa yang dipikirkannya pun akan terjadi. Berkali kali Afna bergumam dan berharap tidak akan terjadi sesuatu yang dirinya belum siap untuk menyerahkan semuanya kepada lelaki, meski statusnya adalah suami istri.
Zayen segera menurunkan Afna dengan pelan, dan kini tubuh Afna sudah tergeletak di atas tempat tidur. Keduanya saling beradu pandang, Afna yang ingin menghindar pun terbawa suasana yang tidak ia sadari. Afna pun ikut permainan suaminya, Afna tidak ada penolakan.
Zayen yang sudah tidak sabar, dirinya segera mendekatkannya pada istrinya. Afna semakin gugup jika suaminya benar benar akan meminta haknya, Afna semakin ketakutan disaat itu juga. Namun, Zayen tidak memperhatikan istrinya. Dirinya sudah terbuai oleh suasana yang sudah menggodanya.
Zayen dengan lembut menempelkan bi*birnya pada milik istrinya, seketika itu juga Afna tercengang. Afna membelalakan kedua bola matanya, sedangkan Zayen terus melakukan Aksinya. Afna hanya bisa pasrah, dirinya tidak kuasa. Berlari pun tidak kuasa, apalagi berteriak. Afna hanya pasrah dengan apa yang diinginkan suaminya, sedikitpun Afna tidak ada penolakan. Meski terkadang dirinya masih belum siap, tetapi Afna tidak memiliki pilihan lain selain pasrah.
Zayen semakin buas, apa yang sudah dimilikinya adalah milik seorang Zayen sepenuhnya. Zayen masih ada sedikit kesadarannya, dirinya mencoba membisikkan sesuatu pada istrinya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah siap? aku ingin meminta hakku sebagai suami kamu." Ucap Zayen berbisik di dekat telinga istrinya, Afna terasa geli saat suaminya berbisik sesuatu yang membuatnya sedikit ada rasa takut.
Afna masih diam, mencoba untuk berpikir agar tidak ada penyesalan diwaktu yang akan datang.
Dengan pelan Afna mengangguk, Zayen yang mendapati jawaban dari istrinya pun tersenyum penuh kemenangan. Zayen langsung melakukan Aksinya sudah tidak sabar ingin memenangkan hati istrinya.
Drrrrtttt drrrrttt drrrttt suara getaran pada ponsel milik Zayen tiba tiba mengagetkannya disaat puncak kemenangannya akan berhasil ia dapati.
Dengan geram, Zayen langsung mengangkat telfonnya.
"Apa!" bentak Zayen dengan kesal.
"Begini Bos, aku sudah ada didepan rumah dari tadi bersama tukang pijat yang sesuai Bos Zayen minta. Kenapa Bos Zayen tidak mendengar suara ketukan pintu dan juga belnya."
"Sial! baiklah, tunggu sebentar. Aku akan segera keluar." Ucap Zayen dengan kesal dan juga geram pastinya. Bagaimana tidak, apa yang sudah diinginkannya kini tiba tiba harus terputus ditengah jalan. Mana sudah kebelet, tiba tiba harus ditahan. Zayen semakin kesal dibuatnya, mau tidak mau harus menundanya.
Afna yang tadinya sangat takut tiba tiba sedikit ada kelegaan pada dirinya, Afna sedikit merasa tenang. Meski entah kapan akan ditagihnya lagi, tetapi untuk saat ini ada kelegaan meski sedikit.
"Siapa yang menelfon?"
"Siapa lagi kalau bukan Viko. Ingat, kamu masih berhutang. Aku akan terus menagihnya, karena hakku lebih penting dari segalanya." Jawabnya kemudian mengingatkan istrinya, Afna yang mendengar ucapan dari suaminya hanya bisa menelan salivanya.
"Benarkan pakaian kamu, kancing bajumu sudah aku lepas." Ucapnya mengingatkan, kemudian segera keluar dari kamar untuk menemui Viko yang sudah menunggunya dengan seorang tukang pijat sesuai permintaannya.
Ceklek, Zayen membuka pintunya. Dilihatnya seorang ibu paruh baya ada disamping Viko.
"Silahkan masuk."
Viko maupun ibu tersebut segera masuk kedalam rumah milik Zayen, setelah itu Zayen mempersilahkan untuk duduk.
__ADS_1