Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Bahagia


__ADS_3

Afna kini sudah dipindahkan di ruang rawat, kondisinya pun baik baik saja. Hanya saja, Afna belum sadarkan diri pasca melahirkan dengan cesar.


Sedangkan Zayen dan kedua orang tuanya beserta keluarga, sedang berjalan untuk mendatangi ruangan NICU. Tempat dimana sang buah hati berada.


Setelah berada didepan ruangan NICU, Zayen mengikuti langkah seorang perawat yang menunjukkan posisi putranya didalam Inkubator bayi.


Senyum bahagia terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Zayen, begitu juga dengan yang lainnya ikut merasakan bahagia atas kelihatan Putra pertama Zayen.


Sang ibu akhirnya mendekati putranya yang tengah bahagia saat memandangi bayi kecilnya.


"Selamat ya, Nak. Sekarang, kebahagiaan kamu sudah lengkap. Meski lahir dengan keadaan prematur, putramu dapat diselamatkan serta ibunya. Sekarang, kamu tidak hanya berstatus suami. Tetapi menjadi sosok orang tua yang akan memikul tanggung jawab sepenuhnya. Mama hanya bisa berdoa dan selebihnya mengingatkan kamu. Semoga kamu selalu diberi kesabaran dan kemudahan untuk mendidik anak anakmu nanti." Ucap sang ibu sambil memandangi cucu pertamanya.


Zayen yang mendengarnya, ia menoleh kearah ibunya. Kemudian, menatap ibunya dan tersenyum bahagia.


"Iya, Ma. Zayen siap memikul semua tanggung jawab Zayen sebagai orang tua, sekaligus menjadi kepala rumah tangga."


"Lihatlah, putramu sangat mirip denganmu. Bahkan, kalian berdua seperti anak kembar." Ucap sang ibu, Zayen pun kembali tersenyum bahagia.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita temui Istri kamu. Afna juga butuh kamu untuk menemaninya." Ajak ibunya, Zayen pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki sang ibu dan mensejajarkannya.


Sesampainya di depan ruang rawat Afna, dilihatnya anggota keluarganya yang masih berdiri menunggu Zayen dan ibunya.


"Kenapa masih ada diluar?" tanya ibunya Zayen.

__ADS_1


"Afna belum sadarkan diri, kami tidak berani untuk masuk. Biarkan Zayen yang masuk dan menemani Afna, mungkin saja Afna sedang membutuhkan suaminya." Jawab ibunya Afna.


"Lalu, dimana Papa?" tanya Zayen yang tiba tiba mencurigai tidak adanya sosok anggota keluarganya yang laki laki.


"Papa mertua kamu dan Papa kamu sendiri sedang ada urusan yang lebih penting, sekarang temuilah istri kamu dan temanilah Afna." Jawab ibu mertua dan menyuruhnya untuk segera menemui putrinya. Zayen pun mengangguk dan segera masuk menemui istrinya.


Dengan pelan, Zayen menuju pintu dan membukanya dengan pelan. Kemudian, dilihatnya istri tercintanya tengah berbaring lemas diatas ranjang pasien.


Seketika, Zayen menarik nafasnya begitu berat. Serasa pada bagian dadanya seperti tertindih batu yang cukup besar, hingga membuatnya sulit untuk bernafas.


Setelah berada disebalah istrinya yang tengah berbaring, Zayen mengusap lembut pucuk kepalanya dan membelainya. Dengan lembut, Zayen mengecup kening istrinya penuh kasih sayang. Kemudian, ia duduk disebalah sang istri, lalu meraih tangan istrinya. Ditatap nya wajah sang istri dengan lekat, perasaan sedih tengah menyeruak didalam hatinya.


Sungguh, begitu besar pengorbanan seorang ibu demi sang buah hati untuk lahir ke Dunia. Bahkan, nyawa pun harus dijadikan taruhannya demi keselamatan sang buah hati.


Karena tidak mendapatkan respon dari sang istri, Zayen serasa menyerah untuk membangunkan istrinya. Karena prustasi, Zayen tertidur sambil memegangi tangan sang istri.


Disaat itu juga, dengan pelan pelan Afna membuka kelopak matanya. Pandangannya masih tertuju pada tembok yang dapat dijangkaunya, setelah itu ia celingukan disekitarnya.


Afna masih belum menyadari keberadaan sang suami yang tengah duduk disebelahnya. Afna masih mencerna keberadaannya yang menurutnya sangat asing dan sulit untuk dimengerti. Sebisa mungkin, Afna mengumpulkan kesadarannya hingga teringat pada suatu kejadian yang tengah menimpanya.


Seketika, Afna teringat saat dirinya terjatuh di anak tangga ketika akan menapaki anak tangga satu persatu. Namun naas, kecelakaan kecil tengah membuatnya jatuh pingsan hingga tidak sadarkan diri. Disaat itu juga, Afna langsung memeriksa kandungannya.


JEDDDUAAR!!!!

__ADS_1


Serasa tersambar petir disiang bolong, Afna pun tercengang saat mengusap perutnya yang tidak lagi besar. Seketika, bulir bulir air matanya lolos begitu saja.


"Anakku! anakku! dimana anakku! anakku!! dimana." teriak Afna, dengan reflek Afna langsung mengganti posisinya menjadi duduk sambil berteriak histeris.


"Sayang, tenangkan pikiran kamu, sayang. Anak kita baik baik saja, percayalah."


"Bohong! kamu bohong, aku tidak percaya denganmu. Dimana anakku, katakan. Aku tidak mau kehilangan anakku, dimana anakku." Teriak Afna dengan kencang, Zayen langsung memeluk istrinya mencoba untuk menenangkan pikirannya yang kondisinya sedang terguncang dan sok ketika dirinya teringat saat jatuh dari anak tangga.


"Anak kita baik baik, sayang. Tenangkan pikiran kamu, anak kita sedang berada di ruang NICU. Percayalah denganku, anak kita selamat. Sekarang bayi kita masih berada di dalam inkubator. Dikarenakan, anak kita lahir dengan prematur. Dan, kamu tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik baik saja, yang terpenting kesehatan kamu dulu. Jika kamu sudah kembli sehat, aku akan antarkan kamu untuk menemui Putra kita. Kamu tahu? aku sangat bahagia, kamu telah memberiku seorang Putra yang aku nantikan. Terima kasih, sayang. Aku tidak bisa berkata apa apa lagi, selain mengucap rasa syukur atas keselamatan kamu dan Putra kita." Ucap Zayen didekat telinga istrinya sambil memeluknya dengan erat.


Afna pun segera melepaskan pelukan dari suaminya, kemudian menatapnya dengan lekat.


"Benarkah yang kamu katakan? kamu tidak lagi bohong, 'kan?" tanya Afna yang masih terlihat lesu dan bersedih.


"Untuk apa aku membohongimu, aku sendiri tidak mampu jika harus kehilangan Putra kita. Sayang, percayalah denganku. Sedikitpun, aku tidak memiliki kebohongan terhadapmu." Jawab Zayen mencoba meyakinkan sang istri, berharap tidak lagi cemas dan banyak pikiran tentang putranya.


"Aku percaya denganmu, semoga selamanya kita akan terus saling percaya." Ucap Afna, kemudian Zayen mencium kening istrinya dengan lembut dan menatap wajah istrinya, lalu mengusap air matanya yang tengah membasahi kedua pipinya.


"Kalau begitu, aku mau memanggil Mama dan Adelyn sebentar." Ucap Zayen, Afna pun mengangguk. Setelah itu, Zayen segera membukakan pintu untuk ibu mertua dan ibunya dan saudara kembarnya.


"Afna ... bagaimana keadaan kamu, sayang?" sapa ibunya dan mencium pucuk kepala putrinya dengan lembut. Perhatiannya tidak pernah hilang, selayaknya putri kecil yang sering merajuk.


"Afna baik baik saja kok, Ma. Papa dimana?" tanya Afna sambil celingukan.

__ADS_1


"Papa kamu dan Papa mertua kamu sedang ada urusan, sebentar lagi juga akan kembali." Jawab sang ibu, kemudian Adelyn dan ibu mertuanya ikut mendekati kakak iparnya.


__ADS_2