
Zayen yang sudah mulai gelisah, berusaha untuk tenang. Berharap, semuanya akan baik baik saja. Meski dengan pikirannya entah kemana mana.
Zayen terus berusaha mencari ide untuk bisa pergi dari rumah orang tua Adelyn. Dengan cepat, Zayen langsung mengatur panggilan dadakan ke nomornya sendiri. Berharap, saat duduk beberapa menit akan mendapatkan panggilan. Yang tidak lain, hanya panggilan menipu.
"Nak Zayen, Afna. Mari, silahkan duduk." Ucap tuan Alfan dengan ramah. Zayen dan Afna segera duduk, sedangkan Zayen sedikit ragu untuk duduk.
'Kenapa Zayen begitu tenang, bahkan tidak sedikitpun ada kegelisahan. Apa Zayen belum mengetahuinya jika markasnya sudah didatangi anak buahku. Sayangnya, anak buahku belum mendapatkan informasi tentang barang apa yang berada ditempat tersebut. Sungguh, malang nasib kamu Afna. Bersuamikan yang tidak bagus dengan pekerjaannya, apa jadinya jika kamu mendapatkan keturunan darinya.' Batin tuan Alfan semakin penasaran dengan sosok suami keponakannya.
'Kenapa paman Alfan memperhatikanku seperti itu, apa karena perasaanku saja yang sedang banyak pikiran. Mau tidak mau, aku harus pamit untuk pergi dari rumah ini. Tapi ... bagaimana dengan istriku, tidak mungkin aku meninggalkannya.' Batin Zayen sedikit pusing.
Tidak lama setelah duduk, Zayen mulai mengatur pernapasannya sebaik mungkin. Agar yang sedang direncakan berjalan dengan mulus.
Drrrrttttt drrrttt ... suara getaran pada ponsel Zayen menandakan ada pesan masuk ataupun panggilan masuk. Dengan santai, Zayen mengangkatnya. Meski sedikit tidak nyaman, mau tidak mau hanya itu alasannya.
"Hallo, Pa. Ada apa, papa menelfon ku." Sapa Zayen sebaik mungkin dalam dramanya sendiri.
"Apa!! kak Seyn masuk rumah sakit?" tanyanya sebagus mungkin bermain dramanya yang terlihat seperti orang bo*doh.
"Baik, pa. Zayen akan segera pulang sekarang juga, papa tidak perlu khawatir. Percayalah dengan Zayen, Pa." Ucap Zayen semakin seperti orang bo*doh, bahkan melebihi dari orang gi*la dengan dramanya.
Afna maupun yang lainnya pun ikut kaget mendengar obrolan palsu yang penuh drama dan banyak berakting.
"Siapa yang masuk rumah sakit, Zayen?" tanya tuan Alfan penasaran.
"Kak Seyn, Paman. Mau tidak mau, Zayen harus pamit untuk pulang. Maafkan Zayen, paman." Jawab Zayen sebaik mungkin, berharap dramanya tidak lagi bermasalah.
"Aku ikut pulang, boleh?" tanya Afna sedikit tidak enak hati. Afna takut, jika membuat suaminya cemburu.
__ADS_1
"Sepertinya lebih baik kamu berada di rumah paman, aku tidak tega meninggalkan kamu dirumah sendirian." Jawabnya beralasan, Zayen tidak ingin dramanya akan terbongkar karena alasan yang tidak masuk akal.
"Kenapa Afna tidak kamu izinkan untuk ikut denganmu ke rumah sakit, ada apa?" tanya tuan Alfan heran.
"Maaf paman, Zayen hanya tidak ingin menjadi masalah. Kak Seyn adalah mantan kekasih Afna yang pernah membatalkan pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Dan sayalah yang harus menggantikan kak Seyn untuk menjadi suami Afna." Jawab Zayen mencoba menjelaskan, berharap tidak ada lagi prasangka buruk terhadapnya.
"Oooh! begitu ceritanya. Tante pun tidak pernah tahu permasalahan yang sebelumnya, semoga kalianlah benar benar sepasang suami-istri untuk selamanya." Ucap ibunya Adelyn.
"Semoga, aamiin." Jawab Afna dan Zayen bersamaan.
"Afna, kamu dirumah paman saja. Lagian kamu dan Adelyn sudah lama tidak pernah bertemu." Ucap tuan Alfan ikut menimpali.
"Bagaimana, sayang. Tidak apa apa, 'kan? jika aku pergi sebentar. Aku tidak akan lama kok, sayang. Aku hanya sebentar, setelah itu aku pun akan segera pulang." Ucap Zayen berusaha untuk meyakinkan sang istri.
"Iya, tidak apa apa. Aku mengerti maksud kamu, jangan khawatir." Jawab Afna yang juga meyakinkan suaminya.
"Tidak apa apa, jika ingin segera pergi ke rumah sakit, cepat pergilah."
"Terimakasih, paman. Permisi ..." ucap Zayen berpamitan. Dengan langkahnya yang terburu buru, Zayen berusaha untuk tenang. Agar sang paman tidak begitu mencurigainya, dan semua akan menjadi baik baik saja.
'Zayen, Zayen. Langkah kakimu tidak dapat membohongiku, meski kamu coba untuk berakting sebaik mungkin. Semoga kamu segera meninggalkan pekerjaanmu itu, aku tidak bisa menjamin jika Kazza sudah bertindak.' Batinnya merasa kasihan. Meski tidak menyukai dengan pekerjaan Zayen, tuan Alfan tetap menilai Zayen adalah lelaki yang baik.
Dengan kecepatan tinggi, Zayen melajukan motornya tanpa melihat kendaraan lainnya yang lalu lalang. Zayen tetap fokus pandangannya kedepan, pikirannya pun kacau tidak karuan.
Setelah menempuh jarak yang lumayan cukup lama memakan waktu, Zayen telah sampai di tempat persembunyian yang menurutnya sangat aman. Meski kenyataannya dapat ditemukan dengan mudah.
Sssssstttttt Zayen mendadak menghentikan motornya, tepat didekat beberapa mobil yang sudah berjejer didepan markasnya. Sedangkan Viko sudah berada didepan markas, tepatnya tidak jauh dari pandangan Zayen yang baru saja turun dari motornya.
__ADS_1
"Sial!! rupanya kak Seyn yang mendatangi markasku. Mau apa lagi dia, berani beraninya mau membuat masalah denganku." Ucapnya menggerutu dan menendang ban mobil yang ada didekatnya.
"Bos! kemana saja dari tadi, kenapa aku telfon tidak ada jawaban."
"Aku sedang di perjalanan, apakah kak Seyn sudah ada didalam?" tanyanya yang mulai menunjukkan kekesalannya.
"Benar, Bos. Bahkan orang tua Bos Zayen pun sudah berada didalam. Soal yang semalam, aku rasa bukan Seyn. Tetapi memang orang baru dalam penyelidikan, kita tunggu saja kabar dari anak buah kita." Jawab Viko dengan jelas.
"Baiklah, ayo kita masuk. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh mereka berdua." Ucap Zayen sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam markasnya sendiri.
Prok prok prok, suara tepukan tangan terdengar menyakitkan ditelinga Zayen. Kedua tangannya mengepal kuat dengan rahangnya yang mengeras dan darahnya serasa mendidih sampai menjulur pada otaknya. Membuat Zayen ingin segera melayangkan tinjuannya kearah sang kakak.
"Ada perlu apa kak Seyn mendatangi tempat inu, apa kak Seyn perlu uang? mutiara? berlian? emas sekaligus tambangnya? atau ... senjata? ambil! semuanya. Aku tidak membutuhkannya, sekalian markas ini aku serahkan kepada kamu kak Seyn." Ucap Zayen sambil mengitari kakaknya yang sedang berdiri tegak.
"Aku tidak membutuhkan yang kamu miliki ini, sekarang yang aku minta hanya satu." Jawabnya, kemudian tersenyum sinis melihat sang adik yang sudah memasang wajah kesalnya.
"Katakan! jangan bertele tele, cepat!" Ucap Zayen yang semakin emosi.
"Tenang Zayen, permintaanku hanya satu. Aku tidak akan mengganggumu lagi, jika kamu mau menuruti permintaanku yang terakhir kalinya." Jawab Seyn dengan senyum sinisnya.
"Cepat! katakan, apa yang sebenarnya kak Seyn inginkan dariku. Aku akan penuhi keinginan kak Seyn, asal permintaannya itu benar normal dengan akal sehatku." Ucap Zayen yang tidak kalah kesalnya.
"Ceraikan istrimu, dan tinggalkan istrimu. Maka, aku tidak akan lagi mengganggumu." Jawab Seyn dengan entengnya.
"Cih!!" Zayen meludah ke samping. "Rencana apa lagi yang akan kak Seyn lakukan untukku dan Afna. Bahkan, nyawaku pun siap untuk menjadi taruhannya." Ucap Zayen yang sudah tidak sabar ingin menghabisi sang kakak yang sudah kelewat batas.
"Sudahlah, Zayen. ikutin saja kemauan kakak kamu ini, apa kamu lupa. Kamu hanya sebatas pengganti, dan kamu itu banyak berhutang budi kepada papa. Kamu itu anak terbuang, jika bukan papa yang merawat kamu, mungkin saja kamu sudah tidak tertolong." Ucap sang ayah dengan entengnya, hati Zayen terasa teriris mendengarnya.
__ADS_1
"Jika aku tahu papa yang akan merawatku, maka aku akan lebih memilih untuk menjadi anak gelandangan sekalipun. Bahkan mati pun akan aku pilih, dari pada aku hidup terasa dibunuh secara perlahan." Jawab Zayen yang juga semakin emosi saat mendengar ucapan dari sang ayah.