Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kaget mendengarkan


__ADS_3

Setelah mendapatkan buah mangga muda, Ketiganya berpamitan untuk segera pulang. Sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit, Ketiganya segera mendekati ibu pemilik pohon mangga.


"Bu, sebelumnya saya mau meminta maaf sudah merepotkan ibu. Dan, terima kasih atas kebaikan ibu yang sudah memberikan istri saya buah mangga muda. Sekali lagi maafkan kami bertiga yang sudah merepotkan ibu." Ucap Zayen merasa tidak enak hati.


"Iya, Bu. Maafkan kami bertiga yang sudah merepotkan ibu, dan terima kasih banyak atas buah mangga mudanya." Ucap Afna yang juga merasa tidak enak hati.


"Justru Ibu sangat senang dengan kedatangan kalian, jika berkenan sering sering lah main ke rumah ibu. Jika masih menginginkan buah mangga muda, datang saja kesini." Jawabnya dan tersenyum.


"Iya, Bu. Jika kami ada waktu luang, kita akan datang kesini lagi. Kalau begitu kami bertiga pamit pulang, ya Bu." Jawab Zayen dengan ramah.


Setelah berpamitan ketiganya segera keluar dari halaman rumah ibu tersebut, dan segera kembali masuk ke mobil.


Kini, Ketiganya dalam perjalanan pulang. Karena terasa lelah dan juga mengantuk, Afna menyandarkan diri pada sang suami. Zayen pun memeluk sang istri, Afna sendiri terasa nyaman hingga terlelap dari tidurnya.


Dengan lembut, Zayen mencium kening milik istrinya. Viko yang melihatnya pun ikut tersenyum mengembang sambil menyetir, dan kembali fokus pandangannya lurus kedepan.


'Sungguh beruntungnya mereka berdua, saling mencintai dan saling menjaga perasaan satu sama lain. Mungkinkah aku bisa seperti mereka berdua?seperti mustahil. Apa salahnya aku untuk bersabar, semoga saja aku bernasib baik seperti Bos Zayen.' Batin Viko penuh harap.


"Bos, kita mau langsung pulang atau mau mampir ke Restoran?" tanya Viko sambil fokus dengan setirnya.


"Kita pulang saja, Vik." Jawab Zayen sambil mengusap pelan lengan sang istri.


"Baiklah kalau begitu, Bos." Ucap Viko.


"Kalau kamu sudah lapar, beli saja makanan ringan. Kasihan perut kamu yang butuh pengganjal." Jawab Zayen yang masih memeluk istrinya.


"Tidak lah, Bos. Kasihan Nona Afna, sepertinya sangat kecapekan. Beli makanannya nanti saja sekalian pulang ke rumah." Ucapnya, kemudian menambahkan kecepatannya agar cepat sampai rumah.

__ADS_1


Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini telah sampai didepan rumah. Zayen segera melepaskan sabuk pengaman milik istrinya, lalu berganti miliknya.


Zayen segera turun dan menggendong sang istri sampai kedalam rumah, sedangkan Viko pulang kerumahnya.


Sesampainya di kamar, dengan pelan Zayen menurunkan sang istri diatas tempat tidur. Kemudian, Zayen segera melepaskan sandal dan tas milik sang istri yang masih menempel pada istrinya. Setelah itu, Zayen menyelimutinya agar tidak kedinginan.


Karena terasa gerah, Zayen langsung masuk ke kamar mandi dan cepat cepat membersihkan diri agar tidak terasa gerah.


Setelah selesai melakukan ritual di dalam kamar mandi, Zayen segera mengganti pakaiannya. Lalu, Zayen merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tepatnya berdekatan dengan sang istri, Zayen pun menarik selimut pada istrinya dengan pelan. Kemudian, Zayen menyelimuti dirinya sendiri.


Zayen maupun Afna terlihat nampak lesu dan juga lelah, hingga akhirnya Zayen ikutan terlelap dari tidurnya.


****


Pagi yang cerah, begitu juga dengan suasana hati sepasang suami istri yang terlihat jelas bahagianya. Afna maupun Zayen tengah membersihkan diri di dalam kamar mandi secara bersamaan, senyum mengembang tengah terpancar pada keduanya.


Setelah selesai, Afna membantu sang suami mengenakan baju kerjanya. Hari ini adalah hari pertama kalinya Zayen menginjakkan kakinya di Perusahaan orang tuanya.


"Kamu benar benar terlihat sangat tampan, pikiranku tidak bisa tenang walaupun hanya sebentar." Ucapnya dengan lesu dan tidak bersemangat.


"Kamu jangan khawatir, aku hanya fokus dengan pekerjaan. Lagian sekretarisku bukannya Viko, untuk apa kamu banyak pikiran. Disamping itu juga ada Adelyn yang menjadi mata mata besarku, kamu tidak perlu khawatir. Percayalah denganku, cintaku hanya aku labuhkan di samudra hatimu." Jawab Zayen mencoba meyakinkan istrinya.


"Aku percaya kok sama kamu, bahwa kamu tidak akan pernah ingkar dengan cintamu kepadaku." Ucap Afna berusaha untuk percaya pada sang suami.


Zayen segera mendekatkan dirinya dengan sang istri, kemudian segera memeluk istri tercintanya untuk tidak membuat sang istri selalu gelisah karena memikirkannya. Setelah itu, Zayen melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah istrinya.


Pelan pelan Zayen mendaratkan ciu*mannya pada kening sang istri dan pindah pada bi*bir manis milik istrinya dengan sangat lembut. Afna pun menerima dengan perasaan bahagia akan sikap suaminya begitu lembut memperlakukannya dari segi apapun.

__ADS_1


"Oh iya, sudah waktunya untuk sarapan pagi, ayo kita turun." Ajak Afna untuk tidak tidak terbawa suasana karena ditinggal bekerja oleh sang suami.


"Sebagai gantinya tidak bisa berada di rumah, aku akan menggendong kamu sampai di ruang makan." Jawab Zayen.


"Bukannya kamu masih terasa sakit di bagian pinggang kamu, jangan dipaksakan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, lebih baik aku jalan sendiri saja." Ucap Afna mengingatkan.


"Ah iya, aku sampai lupa. Kalau aku habis jatuh dari pohon mangga bersama Viko. Oh iya, buah mangga mudanya ada di dapur. Jika kamu ingin memakan nya, minta saja sama pelayan untuk mengupaskannya." Jawabnya yang baru tersadar jika dirinya habis terjatuh dari pohon mangga.


"Aku ingin membuat asinan mangga muda, sepertinya terasa kres di mulut." Ucapnya sambil membayangkan enaknya buah mangga muda.


Setelah itu, Zayen dan Afna segera keluar dari kamarnya. Sesampainya di ruang makan, Afna dan Zayen dikagetkan dengan sosok yang tidak asing oleh keduanya.


"Kakek, Omma ... Papa dan Mama, selamat pagi ..." sapa keduanya sedikit kaget. Kemudian Zayen dan Afna segera duduk berdekatan.


"Kapan kakek dan Omma datang kesini?" tanya Afna dengan ramah.


"Sebelum kamu pulang ke rumah, kakek sudah pulang. Dikarenakan, sebentar lagi kakek akan ikut berangkat ke Amerika. Kalian berdua dan Adelyn yang akur, ya ... kakek titipkan Adelyn bersama kalian berdua. Jika Adelyn melakukan kesalahan, tegur dia dengan baik baik." Jawab kakek Zio memberi pesan.


"Iya kek, Zayen yang akan bertanggung jawab tentang Adelyn." Jawab Zayen meyakinkan.


"Hem ... sepertinya sedang membicarakan aku, ayo jawab jujur." Ucap Adelyn secara tiba tiba mengagetkan.


"Sudah sudah, lebih baik kita sarapan pagi terlebih dahulu. Nanti kalian berdua telat pergi ke Kantornya." Ujar sang ayah.


"Iya, Pa ..." jawab Adelyn.


"Oh iya, buat Adelyn nanti berangkatnya kamu bersama Viko. Sedangkan Papa bersama kakak kamu, karena Papa ada kepentingan di kantor Seyn." Ucap sang ayah.

__ADS_1


"Apa!!" teriak Adelyn dengan reflek.


__ADS_2