Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Heboh


__ADS_3

Hari bahagia yang telah dinanti nantikan kini telah tiba waktunya, Adelyn tengah disibukkan dengan riasannya. Sedangkan Afna dan Zayen sedang sibuk dengan penampilannya masing masing.


Didalam ruangan khusus, semua sedang disibukkan dengan urusannya masing masing.


Di dalam Gedung Milik keluarga Wilyam terlihat begitu megahnya dengan tatanan yang terlihat sangat rapi dan bersih. Acara pernikahan yang benar benar terkesan sangat sempurna, bahkan acara pernikahan keluarga Tuan Angga pun belum pernah berada di dalam gedung istimewa miliknya sendiri.


Justru pernikahan dari kakek Angga sendiri sampai ke anaknya pun hanya secara sederhana, selain sederhana juga karena pernikahan paksa. Namun, tetap menjadi keluarga yang harmonis walaupun berawal tidak saling mengenalnya.


Berbeda dengan keluarga dari kakek Zio, anak dan cucunya menikah dengan saling mengungkapkan perasaannya masing masing. Hanya Zayen dan kakek Zio lah menikah yang harus menggantikan pengantin lelakinya. Meski demikian, tetap menjadi keluarga yang Harmonis dan saling menerima dan juga berani mengutarakan kejujuran atas perasaannya masing masing.


Sedangkan di Kantor milik Zayen, kini tengah heboh atas hari pernikahan Viko dengan Adelyn. Tidak hanya itu, pak Ardi maupun karyawan laki laki yang lainnya pun ikut penasaran dengan pernikahan sekretaris Viko. Dan sebaliknya, semua karyawan perempuan ikut heboh membicarakan pernikahan Adelyn yang hanya seorang OB.


"Sa, tunggu." Seru salah satu karyawan perempuan tengah memanggilnya, Sasa pun segera menghentikan langkah kakinya. Kemudian menoleh kebelakang, dan juga membalikkan badannya.


"Ada apa, ya?" tanya Sasa.


"Kenapa kamu tidak datang lebih awal di acara pernikahan sahabat kamu itu? si Adelyn." Tanyanya sedikit meledek.


"Oh itu, aku memilih untuk datang bersama orang orang kantor. Memangnya kenapa? ada yang salah?" jawabnya balik bertanya.


"Tidak, heran saja. Biasanya tuh, ya ... seorang sahabat itu spesial. Tentunya kamu harus menemaninya dari awal sampai akhir, bukankah begitu?" ucapnya mengejek.


"Aku rasa tidak juga, sahabat tetaplah sahabat. Lagian kedua orang tua Adelyn dan saudaranya pun masih ada dan juga bisa menemaninya. Bukankah pernikahan Adelyn adalah kebahagiaan keluarganya juga, tentu saja yang pantas menemaninya adalah keluarganya." Jawab Sasa mencoba membenarkan.


"Hem ... terserah kamu saja, memang susah ngomong sama kamu. Ah sudahlah, nanti lipstikku rusak gara gara mengajakmu mengobrol." Ucapnya dengan sinis, kemudian segera pergi meninggalkan Sasa.

__ADS_1


Sedangkan Sasa lebih memilih untuk bergabung dengan rekan OB nya, lebih nyaman dan tidak ada yang saling menghina maupun berkomentar buruk.


Berbeda dengan karyawan yang lainnya, semua sibuk dengan penampilannya masing masing. Ada yang sibuk dengan membicarakan Adelyn dalam segi yang positif, dan ada juga yang membicarakan hal yang tidak baik tentang Adelyn.


"Kalian semua penasaran tidak sih dengan Adelyn?" tanya salah satu karyawan kantor milik Zayen.


"Iya, aku penasaran banget sama Adelyn. Jangan jangan Adelyn bohong lagi, dan kenyataannya resepsinya tidak di gedung milik keluarga Wilyam. Bisa jadi di gedung olahraga bulu tangkis." Jawabnya yang sulit untuk percaya dengan kebenaran yang ada.


"Aku rasa juga begitu, Adelyn pasti sengaja membohongi kita. Meski gaji sekretaris itu besar, tetap saja tidak mampu menyewa gedung yang begitu besar dan juga megah. Bahkan hanya orang tertentu yang dapat menyewa gedung itu." Ucap karyawan yang satunya lagi ikut menimpali.


"Kenapa sih kalian itu selalu berpikiran buruk terhadap Adelyn, kalau kenyataannya benar kalian mau bicara apa? nanti kalian malu sendiri loh. Bisa jadi, sekretaris Viko memang mendapat hadiah dari pihak Kantor. Kita harus berprasangka baik, jangan sampai prasangka buruk kita menjadi celaka buat kita sendiri." Ucap Sasa yang tidak terima jika sahabatnya selalu dihina atau dikomentari yang buruk.


"Sasa, Sasa ... setia banget sih kamu itu, nanti kamu dihutangi untuk melunasi hutangnya Adelyn yang menyewa gedung untuk pernikahannya. Aku rasa tidak cukup kalau mengandalkan sumbangan dari semua karyawan di Kantor." Jawabnya yang terus mengejek, Sasa semakin geram mendengarnya.


Karena merasa berisik, Sasa segera pergi dari kerumunan yang suka menghina Adelyn. Sasa kembali berkumpul dengan teman teman OB nya, dan memilih untuk menjauhi karyawan yang suka menghina.


Selama perjalanan, semua masih membicarakan tentang pernikahan Adelyn dan Viko. Sedangkan Sasa sebisa mungkin untuk tidak menanggapinya, ia mencoba untuk tenang dan sambil mencari ide untuk membuat semua karyawan menjadi jera atas perbuatannya masing masing.


Berbeda dengan Asrama Rumah Bersama yang sedang sibuk untuk bersiap siap berangkat ke acara pernikahan Adelyn dan Viko.


Heni yang sedari tadi hanya bisa mondar mandir, perasaannya pun berat untuk mendatangi acara pernikahan Viko dan Adelyn.


"Heni, kenapa kamu belum bersiap siap?" tanya ibu Rani heran.


"Heni di rumah saja lah, Bu. Heni tidak bisa menyaksikan acara pernikahan Viko, Heni tidak sanggup." Jawab Heni penuh keraguan.

__ADS_1


"Kenapa mesti takut? buanglah perasaan kamu itu, masih banyak laki laki yang baik untuk kamu. Jangan buat perasaan kamu semakin dalam, kamu akan terasa sakit nantinya." Ucap Ibu Rani menasehatinya.


"Heni malu, Bu. Heni terlalu buta dengan cinta, hingga perasaan ini masih terasa sakit penuh harap." Jawab Heni sambil menunduk didepan ibu Rani.


"Percayalah, kamu pasti bisa melupakannya. Anggap saja, jika kamu salah mengagumi seseorang. Bisa jadi, setelah ini akan ada sosok laki laki yang cocok untuk kamu. Atau ... entah kapan tiba waktunya, tinggal kamu harus mempersiapkan diri." Ucap Ibu Rani mengingatkan serta menasehatinya.


"Terima kasih ya, Bu. Untung saja ibu selalu menasehati Heni, hingga tidak terjadi dendam yang berkepanjangan." Jawab Heni berusaha untuk tenang, agar ia tidak merasa sakit hati karena gagal untuk mendapatkan cinta dari Viko.


"Kalau begitu, cepetan bersiap siap. Nanti kita terlambat untuk menghadiri acara pernikahan Viko, ibu penasaran dengan acaranya." Ajak ibu Rani merayu.


"Baik, Bu. Kalau begitu Heni mau bersiap siap dulu ya, Bu." Jawab Heni, kemudian segera ia bersiap siap.


"Ibu tunggu di depan, ya. Jangan lupa, berpenampilan yang sopan." Ucap Ibu Rani mengingatkan, Heni pun mengangguk.


Sedangkan di kediaman keluarga Danuarta ikut sibuk untuk bersiap siap berangkat ke acara pernikahan Adelyn dan Viko.


"Kazza, tunggu." Seru sang ibu memanggilnya, Kazza pun membalikkan badannya.


"Ada apa, Ma?" tanya Kazza.


"Jangan lupa, Vella di jemput. Mama dan Papa mau berangkat duluan." Jawab sang ibu mengingatkan.


"Ah, Mama. Kenapa tidak berangkat sama kedua orang tuanya? nanti di acara juga bakal bertemu." Ucap Kazza yang merasa malas.


"Apa kata orang orang melihatnya? dan sebentar lagi kalian akan segera menikah dalam waktu dekat ini." Jawab ibunya, seketika itu Kazza tercengang mendengarnya.

__ADS_1


"Ma, yang benar saja. Kazza belum siap, Ma ..." ucap Kazza mengelak.


"Hem, terserah kamu saja. Jika ada sosok laki laki yang mendekatinya jangan salahkan Mama, jika kamu tiba tiba ada rasa dengan Vella. Lalu, Vella tidak lagi tertarik denganmu. Tentunya kamu akan menyesal dikemudian hari." Ancam sang ibu mengingatkan.


__ADS_2