Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kenyataan


__ADS_3

Didalam gedung masih terlihat jelas suasana yang semakin ramai dan juga dipadati tamu undangan.


Sedari tadi, Sasa masih terngiang ngiang akan siapa itu Adelyn. Sasa masih tidak percaya jika Adelyn adalah bagian dari keluarga orang terpandang.


'Kenapa sekarang giliran aku yang mendadak tidak percaya dengan penuturan orang tadi. Siapa sih Adelyn yang sebenarnya? apakah benar, ada sebuah nama yang kebetulan sama? sungguh membuatku bingung.' Batinnya yang masih dihantui rasa penasarannya.


Keseimbangan tubuh Sasa masih saja terasa sempoyongan, beberapa karyawan yang tengah melihatnya pun merasa heran dengan Sasa yang tiba tiba terlihat kekurangan cairan.


"Sa, kami kenapa?" tanya salah satu teman satu profesinya, yaitu OB.


"Iya, ada apa?" tanya balik.


"Kenapa kamu terlihat pucat begitu? kamu sakit?" tanyanya lagi yang masih penasaran.


"Aku tidak apa apa, mungkin kurang istirahat saja." Jawabnya beralasan.


"Bilang saja loh, jika kamu takut untuk bertemu Adelyn. Takut, jika dimintai hutang." Ledek seseorang yang tiba tiba sudah berada didekat Sasa dan seseorang itu masih terus mengejek, dan membuat Sasa merasa kesal.


"Tunggu!" ucap pak Ardi yang tiba tiba menghentikan langkah kaki semua rekan kerja di kantor.


"Ardi! ada apa lagi, sih! bikin lama saja kamu ini." Ucap temannya yang juga sudah tidak sabar ingin segera bertemu mengucapkan selamat pada sekretaris Viko dan segera pulang, pikirnya.


"Siapkan Amplopnya, dan jangan lupa berikan langsung pada Adelyn. Agar Adelyn puas menerimanya, kita pingin lihat seperti apa reaksinya.


"Jahat banget sih, pak Ardi. Tidak perlu segitunya juga kali, masih ada cara lain yang lebih pantas." Jawab Sasa yang merasa tidak terima jika sahabatnya dijadikan bahan ejekan.


Sedangkan tanpa semuanya sadari dari rombongan kantor, ada sosok yang sedang berdiri tegak tengah mengawasinya.


"Permisi, maaf sebelumnya." Ucap salah satu seorang yang menjadi juru pengawas diacara pernikahan Adelyn dan Viko.


"Iya boleh, silahkan." Jawab pak Ardi.


"Silahkan untuk membaca beberapa kalimat yang tertulis jelas disebelah kalian semua, disitu ada persyaratan sebelum menemui kedua pengantin laki laki dan perempuan." Ucapnya sambil menunjuk kesuatu yang sudah dijadikan peringatan sebelum bersalaman dan mengucapkan selamat kepada kedua pengantin.


Pak Ardi, Sasa, maupun yang lainnya mengikuti arah jari telunjuk seorang pengawas pada tulisan yang tengah ditunjukkannya.


"Dilarang memberi sumbangan berbentuk apapun, dan dilarang berfoto bareng dengan pengantin. Jika didapati foto pengantin di media sosial dan media apapun, akan mendapatkan hukuman yang sesuai." Ucap pak Ardi dengan membaca tulisan yang terlihat jelas.


Semua karyawan yang berada dibelakangnya pun saling menoleh silih bergantian, begitu juga dengan Sasa yang tiba tiba tercengang mendengar ucapan dari pak Ardi.

__ADS_1


"Belagu banget sih, di beri sumbangan saja tidak mau." Ucap salah seorang karyawan yang semakin kesal membaca tulisan yang ada dihadapannya itu.


"Sombong banhet tuh si Adelyn, palingan juga akan mengemis ngemis meminta pinjaman pada orang orang yang bisa dibohonginya. Untung saja, Adelyn sudah dipecat. Setidaknya kita semua aman, tidak ada lagi yang dimintai hutang. Jugaan yang dimintai hutang si Sasa, siapa lagi coba." Lanjut salah satunya ikut menimpali.


Sasa hanya meliriknya, kedua tangannya pun ikut mengepal kuat. Seakan ingin melayangkan kepalan tangannya dan menonjokkannya sekuat mungkin.


"Sudah, jangan diterusin. Lagi pula lumayan, kita datang ke pesta pernikahan gratis dan tidak mengeluarkan modal." Ucap pak Ardi dengan percaya dirinya, tanpa disadari banyak yang memperhatikan rombongan orang orang kantor.


Karena merasa sudah capek, pak Ardi dan yang lainnya segera naik ke pelaminan untuk memberi ucapan kepada sepasang pengantin baru.


Dengan pelan, semuanya melangkahkan kakinya dengan sangat hati hati, dikarenakan semakin padat oleh para tamu undangan.


Jarak pandangan dengan pelaminan lumayan cukup dekat, namun sulit untuk melihat sepasang pengantin di pelaminan dikarenakan banyak tamu undangan yang sedang mengantri untuk naik ke pelaminan.


Saat sedang mengantri untuk menaiki pelaminan, kedua mata para karyawan kantor tertuju pada sebuah foto keluarga dan juga foto sepasang pengantin yang bertuliskan keluarga pengantin.


Lagi lagi pak Ardi mengucek kedua matanya, begitu juga dengan yang lainnya. Semua membaca dan melihatnya dengan seksama untuk memastikan sebuah tulisan nama dan foto yang tidak asing.


"Adelyn Wilyam, Viko Sabondan." Ucap pak Ardi dengan lirih, namun masih terdengar jelas oleh teman kerja yang lainnya. Sedangkan Sasa hanya diam, ia terus mencoba mencerna sambil mengingat ucapan yang sempat ia dengar dari salah satu pengawas yang sempat menolongnya.


"Ayo, cepat maju. Yang lainnya pun sudah mengantri untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai." Ucap seseorang paruh baya yang masih terlihat gagah dan juga mengenakan pakaian rapi dengan jasnya didekat pak Ardi, seketika pak Ardi dan yang lainnya kaget dibuatnya.


Disatu sisi, Adelyn dan Viko nampak bahagia. Zayen dan Afna beserta keluarga yang lainnya sedang mengambil momen bahagianya dalam sebuah foto.


JEDDUUAR!!!


Pak Ardi dan Sasa beserta karyawan yang lainnya benar benar tercengang melihatnya. Ingatannya pun kembali pada sebuah foto dan sebuah nama yang tertulis begitu sangat jelas.


Sekujur tubuh pak Ardi dan para karyawan yang selalu menghina Adelyn terasa ngilu, bahkan mulutnya terbungkam tanpa ada yang menyuruhnya. Badan yang terlihat sehat dan terlihat gagah dan cantik, kini berubah serasa paling kerdil dan tubuh yang gemetaran.


"Pak Ardi!!" teriak semua karyawan, termasuk Sasa yang juga ikut menyebut nama pak Ardi dengan kencang. Seketika itu juga, tubuh Pak Ardi lunglai dan terjatuh tanpa ada yang menduganya.


Adelyn dan Viko maupun Zayen dan tuan Alfan terperanjat kaget mendengarnya. Dengan cepat, ketiganya mendekati kerumunan. Seseorang yang sudah diperintahkan Zayen telah menolong pak Ardi dan dibawanya kedalam ruangan istirahat.


"A---de--lyn ..." panggil semua karyawan dengan terbata bata, termasuk Sasa yang sulit untuk memanggil sahabat dekatnya itu.


"Iya, ada apa tadi?" tanya Adelyn sambil menatap satu persatu para karyawan yang ada dihadapannya dengan penuh keheranan.


"Ka--mu ... adiknya Bos Zayen?" tanya seorang karyawan yang sering berprasangka buruk terhadap Adelyn mencoba untuk memastikannya lagi.

__ADS_1


Mau tidak mau, Adelyn harus berkata jujur.


"I----iya, aku saudara kembar Bos Zayen." Jelasnya.


JEDDDUARR!!!


BRUKKK!!!


"Safa!!!" teriak beberapa karyawan dengan kencang saat melihat Safa terjatuh dengan tubuhnya yang lunglai.


Dengan cepat, Viko langsung menyambar air minum diatas nampan disaat seorang pelayan lewat didepannya.


"Berikan minuman ini pada teman kamu," Ucap Viko memberikan air minum pada istrinya.


Adelyn segera menerimanya, kemudian memberikannya pada Sasa. Dengan tangan gemetaran, Sasa menerima satu gelas air minum dan meminumkannya pada Safa.


Bukannya sibuk membantu Safa, semua karyawan masih menatap lekat sosok Adelyn yang terlihat sangat cantik dan Anggun.


"Sayang, ada apa dengan teman kamu?" tanya sang ibu sambil memperhatikan putrinya.


"Ini Ma, tiba tiba teman Adelyn hampir jatuh pingsan. Adelyn juga tidak tahu kenapa? apa karena masuk angin, atau ... yang lainnya." Jawab Adelyn, lagi lagi semua karyawan kantor tercengang mendengar obrolan Adelyn dengan ibunya.


Begitu juga dangan Safa dan yang lainnya, semua merasa sangat malu dihadapan Adelyn dan juga keluarganya. Sungguh, benar benar tidak dapat menyangkanya. Jika Adelyn adalah saudara kembar Bosnya sendiri, bahkan semua tertipu dengan status Adelyn sebagai OB.


"Oh iya, aku sudah menyiapkan ruangan khusus untuk semua orang orang kantor. Mari, ikut lah denganku." Ucap Adelyn dan mengajak semua karyawan Kantor dan termasuk OB.


Semua hanya saling pandang satu sama yang lainnya, ingin rasanya menolak karena malu. Namun, disatu sisi tidak ingin bertambah malu. Mau tidak mau, tidak ada satupun yang berani menolaknya, termasuk karyawan laki laki yang lainnya.


Sedangkan Sasa membantu Safa untuk menuntunnya sampai ke ruangan yang disebutkan Adelyn.


Viko yang teringat dengan sosok pak Ardi yang telah pingsan. Dengan langkah kakinya yang cepat, segera ia menemuinya.


Adelyn dan yang lainnya kini sudah berada di dalam ruangan yang sudah di sediakan untuk teman kerja suaminya maupun karyawan saudara kembarnya.


Dengan percaya diri, Sasa mencoba menenangkan pikirannya. Kemudian, segera ia mendekati sahabatnya itu. Keduanya saling menatap serius dan Sasa tersenyum, Adelyn pun membalasnya.


"Adelyn, selamat atas pernikahan kamu. Kini, kamu tidak lagi sendiri. Aku hanya ada seutas doa kecil untuk kamu, semoga pernikahan kamu ini selalu membawa kebahagiaan untuk keluarga baru kamu bersama suamimu tercinta. Aku berdoa, semoga segera ada kabar bahagia selanjutnya untukmu dan suami kamu. Berbahagialah, selamanya." Ucap Sasa memberi sebuah ucapan yang membuat Adelyn serasa memiliki saudara perempuan.


"Terima kasih, Sasa. Kamu juga, semoga penantianmu akan segera datang padamu. Bahagia juga untuk kamu setelah ini, bersabarlah." Jawab Adelyn, kemudian tersenyum bersama dan keduanya saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2