
Selama perjalanan, Neyla tetap tenang. Sesekali ia mengeratkan pelukannya pada Seyn, ia tidak lagi canggung dengan siapa dia bersama.
Tidak lama kemudian, Seyn telah sampai disebuah Danau kecil yang tepatnya tidak jauh dari butik milik Zayen. Tepatnya, di Danau yang pernah akan dipersembahkan kepada mantan calon istrinya dahulu. Siapa lagi kalau bukan Afna, yang kini telah menjadi adik iparnya.
"Tunggu disini sebentar, aku mau memarkirkan motorku. Tidak jauh, kok." Ucap Seyn, kemudian melajukan kembali motornya menuju parkiran. Sedangkan Neyla menunggu Seyn didepan warung yang dimaksudkan oleh calon suaminya itu.
"Danau kecil, sepertinya tempat ini sangat nyaman untuk bersantai." Ucap Neyla dengan lirih dan menatap kesuatu arah yang telah mencuri perhatiannya.
"Ehem, bagamana dengan Danau kecilnya? apakah kamu menyukainya?" tanya Seyn mengagetkannya.
"Rupanya kamu pintar juga untuk memilih tempat yang terlibat indah untuk dipandang, ya ... walaupun disiang bolong begini. Tetap saja, pemandangannya masih terlihat indah." Jawab Neyla sambil memuji keindahan Danau yang ada pada pandangannya.
'Pasti Afna pernah diajaknya kesini, itu pasti. Bukankah Seyn dan Afna pernah menjalin hubungannya yang cukup lama, dan sekarang aku yang dibawa kesini. Aaah! kenapa aku merasa cemburu, padahal Afna sudah bahagia sekarang ini. Tapi kenapa aku merasa cemburu jika mengingat Afna ada hubungan dengan Seyn, aku merasa tidak rela. Meski dia sebenarnya duda, tapi itu lebih baik. Bagiku sangat berbeda ketika pernikahan digagalkan karena ambisi, pasti keduanya pernah saling menautkan hatinya satu sama lain.' Batin Neyla sambil menahan rasa cenburunya dengan masa lalu Seyn.
Sedangkan Seyn sedari tadi memperhatikan calon istrinya yang tengah melamun cukup lama, Neyla sendiri tidak merespon Seyn yang tengah menatapnya dengan lekat sambil memperhatikan dirinya itu.
"Ney, kamu melamun?" tanya Seyn sambil melambai lambaikan tangannya tepat didepan Neyla.
"Tidak, aku tidak melamun. Aku hanya sedang terbawa suasana Danau ini yang terlihat sangat indah, serius." Jawab Neyla mencoba meyakinkan calon suaminya itu.
"Ayo ikut aku, apa perlu aku gendong kamu?" ajaknya.
"Tidak perlu, aku masih bisa berjalan sendiri. Kamu tidak perlu repot repot menggendongku, tunggu aku sampai sah menjadi istrimu. Kamu berhak melakukan apapun padaku, tapi tidak untuk menyakitiku." Jawab Neyla, kemudian ia memberanikan diri untuk menggandeng tangan milik Seyn.
__ADS_1
Senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Seyn dan Neyla, dengan semangat Seyn langsung mengajaknya menuju tempat yang ia pesankan saat dirinya berapa di butik milik adiknya.
Sesampainya ditempat yang Seyn pesan, keduanya duduk bersebelahan. Sambil menatap Danau, keduanya saling bergurau.
'Apa yang harus aku lakukan untuk memulai pembicaraan tentang sesuatu yang tengah membuatnya ketakutan. Tidak mungkin aku bertanya langsung pada pokok intinya, itu akan membuat Neyla akan bertambah rapat untuk menyembunyikannya.' Batinnya terus berusaha untuk mencari ide.
"Perempuan mana saja yang sudah kamu bawa ke tempat Danau ini? jawab yang jujur." Tanya Neyla sambil menatap Danau.
Seyn yang mendengar pertanyaan dari Neyla pun tersenyum mengembang dan menoleh kearah calon istrinya itu. Neyla sendiri hanya menatapnya dengan menunjukkan muka masamnya.
"Kamu pasti tahu, dan tidak perlu aku beri tahu." Jawabnya sedikit mencoba untuk mengetahui ekspresi dari calon istrinya.
Neyla hanya diam, serasa ia malas untuk berucap.
"Tidak ada perempuan yang aku ajak datang ke Danau ini, hanya kamu dan seterusnya hanya kamu."
"Bohong!" jawabnya dengan ketus dan terlihat kesal dan cemburu. Seyn tertawa kecil mendengar ketusan dari calon istrinya yang terlihat begitu jelas kecemburuannya.
"Untuk apa aku berbohong denganmu, tidak ada untungnya. Yang ada aku menyiksa diriku sendiri jika aku membohongimu, karena kamu pasti akan marah dan ngambek." Ujar Seyn, kemudian meraih tangan milik Neyla dan meletakkannya didada bidangnya.
"Hanya kamu yang pernah aku bawa ketempat Danau ini, tidak untuk yang lain. Aku tidak pernah bohong, cukup masa laluku yang penuh kebohongan. Aku tidak ingin mengulanginya lagi, itu sangat sakit. Begitu juga perasaanku terhadapmu, tidak akan goyah." Ucap Seyn mencoba meyakinkan Neyla, berharap untuk tidak berprasangka buruk terus terusan.
Neyla menatap lekat wajah Seyn, ia berusaha untuk mencari kebenaran akan kejujurannya. Dan benar saja, Neyla tidak mendapati kebohongan dari calon suaminya itu. Neyla pun mempercayainya, dan untuk tidak berprasangka buruk terhadap Seyn.
__ADS_1
"Aku percaya denganmu, sepertinya memang benar adanya kejujuran pada diri kamu. Namun, selebihnya aku hanya bisa pasrah. Karena kejujuran maupun kebohongan tetap akan terlihat sama bagi yang tidak mengetahuinya." Ucap Neyla berusaha untuk meyakinkan, meski pada dasarnya sedikit ada kecemasan.
"Kak Seyn, Neyney." Seru Zayen mengagetkannya. Tanpa ragu ragu, Zayen dan Afna duduk dihadapan Seyn dan Neyla.
Seketika itu juga, Perasaan cemburu muncul begitu saja pada diri Neyla saat melihat Afna yang sudah duduk di hadapannya.
'Tuh, kan ... Afna berada di Danau ini. Aku yakin jika Seyn pernah mengajaknya kesini, Seyn benar benar pembohong. Pembohong tetap saja pembohong, awas kamu Seyn.' Batin Neyla berdecak kesal saat tiba tiba didatangi saudara perempuannya.
"Ada acara apa kalian memberiku pesan untuk datang ke Danau ini?" tanya Zayen menatap serius sang kakak. Disaat itu juga, Seyn dan Neyla saling menoleh satu sama lain dan keduanya menggelengkan kepalanya masing masing seperti ada sesuatu yang aneh.
"Acara? sejak kapan aku memintamu untuk datang ke Danau ini?" tanya Seyn penuh rasa penasaran.
"Loh, bukannya kamu memintaku untuk datang kesini? tadi kamu memberiku pesan pakai nomor baru, aku percaya saja. Karena memang kak Seyn dari dulu suka ganti nomor, aku sih percaya saja. Ditambah lagi tadi aku bertemu dengan paman Ganan dirumah, menceritakan semuanya. Jadi, aku pikir memang benar jika kak Seyn memintaku datang kesini." Jawab Zayen yang tiba tiba juga merasa heran, keduanya sama sama menyangka ada sesuatu yang tidak beres.
Tidak hanya itu, Neyla ikut merasa curiga dengan apa yang di ucapkan oleh Zayen. Neyla kembali teringat, jika kecelakaan yang ia lihat adalah sebuah ancaman atau sejenisnya untuk memberi peringatan. Neyla semakin takut dibuatnya, ia terus berpikir siapa yang sebenarnya akan di incar. Apakah dirinya dan Seyn? atau ... kehamilannya Afna, pikir Neyla terus berpikir dengan keras, berusaha untuk bisa mendapatkan jawabannya.
Begitu juga dengan Seyn maupun Zayen dan juga Afna, ketiganya sama halnya mencoba mencerna.
"Ada yang tidak beres, aku yakin itu." Ucap Zayen langsung menebaknya.
"Benar, sepertinya memang ada yang diincar. Pernikahanku sendiri, atau ... kehamilannya istrimu." Jawab Seyn yang ikut menebaknya.
"Aku pun merasa ada keganjalan, saat pesan itu masuk. Tapi, suamiku tidak mau mendengarkan aku untuk mencoba menghubungi nomor kamu yang asli." Ucap Afna ikut menimpali.
__ADS_1